
Angin pantai berhembus membawa hawa sejuk tapi panas saat mereka berlima bersama tiba di tepian.
Riak air menerpa lembut menyapa kaki-kaki telanjang para gadis yang saling berpegangan tangan, merasakan turunnya pasir pantai di bawah kaki mereka.
Dua lelaki hanya mengobrol duduk di pinggir beralaskan tikar dan payung pantai, menjagai tas para gadis yang mereka juluki dengan tas ribet karena begitu besar dan banyak isinya itu. Entah dipakai atau tidak, para gadis itu selalu membawa semua barang ketika akan pergi.
"Hey! Foto-foto kita donk!" teriak para gadis pada kedua sahabat, Rangga dan Sonny.
"Kamu yang bagus motoinnya, Ngga! Kalo aku, paling kuambil gambar kaki doank!" gelak Sonny.
"Okelah, kamu jaga barang-barang mereka, jangan sampai lari!"
Kedua orang itu tertawa.
Rangga mengambil foto-foto ketiga gadis itu sepuas mereka. Setelah itu, mereka bermain air pantai dengan riangnya, melepas kepenatan selama kuliah dan menyelesaikan skripsi mereka yang memeras otak.
Pantai yang masih sepi. Tempat itu mereka kunjungi, melihat belum banyaknya pengunjung yang datang ke pantai baru itu.
"Yuki, akhirnya tercapai juga keinginan kita untuk berkencan bersama!" ujar Nana.
"Iya, benar!"
"Wah, aku sebagai obat nyamuk, ya?" celetuk Dhea.
"Hahaha, anggap aja ini pesta lajang."
"Benar!" seru mereka serempak.
Tiba-tiba Sonny mendatangi mereka, kemudian dia memegang tangan Nana dan mengecupnya.
"Ah, apa sih!" Pipi Nana merona. Cewek iseng itu bisa malu juga.
"Would you marry me?" ujar Sonny bersimpuh di hadapan kekasihnya sambil menunjukkan sebuah cincin emas putih.
Pipi Nana makin memerah bak tomat.
"Romantisnyaaa ...." seru kedua gadis itu.
"Terima! Terima!"
Nana mengangguk dan memeluk Sonny. Rangga mengambil gambar acara lamaran kecil itu. Mereka semua terlarut dalam kegembiraan.
"Gimana sama Dhea? Kapan kamu akan menambatkan hatimu pada seseorang, Dhea?" tanya Nana saat itu. Saat mereka duduk di tikar dan menyeruput air kelapa muda.
Dhea memandang ke arah laut. Sejenak dia menghela napas.
"Saat ini, menjadi jomlo pun tak masalah. Nanti jika pada saatnya, aku pun akan merasakan apa yang kalian rasakan saat ini. Menemukan seseorang sebagai pendamping hidup."
__ADS_1
Yuki memeluk Dhea, "Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menemukannya, Dhea. Tenang aja, kami pun tak akan melupakanmu begitu saja. Kalo kamu butuh teman, kami masih akan bersamamu."
"Iya," ujar Nana.
"Kita akan masih terus berteman meski kalian akan sibuk dengan hidup masing-masing. Kita akan terus saling berteman, dalam hatiku kalian udah kuanggap saudara sendiri," kata Dhea menatap kedua sahabatnya.
"Aah ... Dhea!" Mereka memeluk Dhea.
"Semoga nantinya yang jadi jodohmu adalah orang yang baik sepertimu, Dhea!"
Dhea mengangguk, "Semoga kalian pun akan berakhir di dalam pernikahan bahagia bersama orang yang kalian sayangi."
"Aamiin ...." seru mereka.
Saat mentari telah bergulir ke barat mereka mengakhiri pesta lajang itu. Semua sibuk membersihkan diri dan bersiap untuk masuk ke mobil dan kembali ke rumah masing-masing.
Dhea tersenyum menatap foto mereka bertiga di pantai dan memasang sebagai wallpaper ponselnya.
*
Malam itu, seminggu sebelum pernikahannya, Yuki memegangi kepalanya yang pusing. Undangan untuk puluhan ribu orang telah disiapkan oleh wedding organizer yang ditunjuk oleh Tuan Bhanu.
"Istirahat dulu, Sayang. Biar Mami panggilkan dokter, ya?"
Yuki mengangguk. Dia masuk ke kamar lalu berbaring di atas tempat tidur.
"Duduk dulu, dokter Rina," titah Nyonya Marlina.
"Baik, Nyonya."
Nyonya Marlina mendekati Yuki lalu membangunkan anak gadisnya.
"Yuki, Sayang, bangun .... dokter Rina udah datang," ujarnya.
Yuki mengerjapkan mata, kemudian berusaha duduk di ranjangnya. Nyonya Marlina membantunya untuk duduk.
"Dokter, Yuki udah siap diperiksa," kata Nyonya Marlina.
"Iya, Nyonya."
Dokter beranjak dari duduknya, kemudian mendekati Yuki. Dokter keluarga itu menyapanya.
"Hai, Nona Yuki. Lama kita tak berjumpa, ya? Coba, dokter periksa, ya?"
Yuki mengangguk. Dokter itu masih saja memperlakukannya seperti anak-anak. Padahal seminggu lagi, dia akan menikah. Yuki geli dibuatnya.
Dokter Rina mengeluarkan tensimeter, kemudian memeriksa tekanan darah Yuki.
__ADS_1
"Seratus sepuluh per delapan puluh, normal. Coba buka mulut," perintahnya.
Yuki membuka mulut, lalu dokter memperhatikan bagian dalam mulut menggunakan senter, lalu memeriksa mata Yuki.
"Oh, hanya kelelahan saja. Nanti dokter kasih vitamin, diminum, ya? Istirahat. Jangan terlalu banyak begadang, Nona Yuki!"
"Ah, iya, dokter!" jawab Yuki.
"Nah, sekalian dipingit, ya? Ini anak nggak boleh memegang pekerjaan apapun dan nggak boleh pergi kemana-mana," ujar Nyonya Marlina.
Yuki terbelalak.
"Nurut aja, demi kesehatan! Kamu itu kalo kecapekan, nanti pas hari H, sakit gimana?" tanya wanita itu.
"Iya, Mi."
Nyonya Marlina Moon menghela napas. Anak sekarang memang berbeda dengan anak dulu. Dengar dipingit saja mereka kaget. Seperti dipenjara.
Dokter berpamitan setelah memberi beberapa vitamin untuk Yuki. Nyonya Marlina mengantarkannya sampai di depan rumah dan menyuruh Yuki untuk beristirahat.
Sementara di kamar, Yuki hanya memilih bersandar di tempat tidur dan mengirim pesan lewat aplikasi hijau pada Rangga, menyuruh lelaki itu untuk istirahat juga mengingat seminggu lagi adalah hari pernikahan mereka.
Lelaki itu langsung meneleponnya.
"Halo," sambut Yuki.
"Kamu juga jangan lupa makan, ya? Lagi apa sekarang?"
"Tiduran, Mas. Tadi aku agak pusing, kata dokter cuma kelelahan." .
"Kiki ... kamu itu dibilangin jangan capek-capek, jaga stamina, biar besok pas kita nikah sehat semua! Aku juga nggak minta kamu ngurusi urusan pernikahan, kan? Udah diserahkan pada wedding organizer, kamu nggak usah kecapekan!" omel Rangga.
"Iya, iya, Mas. Ini aku juga lagi istirahat! Mami bilang aku dipingit seminggu."
"Iya, biar sampai hari H besok masih fit dan tak ada kejadian yang nggak diinginkan!"
Fyuh, tau gitu, aku diem aja! Diomelin lagi.
"Ya udah, Mas. Aku mau tidur dulu. Jangan lupa hati-hati ya, Mas?"
"Iya, met bobok, Sayang!"
Yuki menutup teleponnya lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia menurunkan kepalanya di bantal kemudian terpejam.
******
Hai hello hello sayang-sayang author yang belum sempat kebalas komentarnyaa .... Maapkeun ya, tapi udah aku baca semua-muanya, makasih banyak komentar kalian sungguh bikin semangat, mengingatkan untuk up, kalo deket aku peluk satu-satu, uwu uwu .... Maaf kalo pas kena penyakit writer's block ceritanya kurang menarik. Cerita Yuki dan Rangga akan berakhir ya, huhuhu .... Jangan kangen ya, hehehe ....
__ADS_1