
Keesokan harinya, Yuki benar--benar akan mencari sebuah ruko yang disewakan. Tuan Bhanu memerdekakan dia untuk mencari sendiri.
"Hati-hati ya nanti, Papi berangkat dulu."
Pria itu mengusap kepala anak gadisnya. Sopir pribadi telah menunggu pria itu di depan.
Yuki mengangguk mantap. Tak ada keraguan lagi akan tekadnya, hingga Tuan Bhanu tidak lagi merasa kuatir akan putrinya.
"Iya, aku akan berhati-hati, Papi! Don't worry!"
Dia mengacungkan jempolnya pada pria itu.
Tuan Bhanu memasuki mobilnya, dengan diiringi tatapan istri dan anaknya, mereka melambaikan tangan pada pria itu.
"Mami, Yuki mau cari tempat buat disewa dulu, ya?" ujarnya.
Nyonya Marlina mengangguk, "Mami ikut boleh?" tanyanya.
"Boleh, Mami, tapi jangan bawel, ya?"
"Ugh, ini anak! Iya, iya."
Yuki mengambil kunci mobil jaguarnya, membukanya lalu masuk dan menyalakan mobil yang terawat dengan sangat baik itu.
"Tunggu, Mami mau bawa dompet!!"
"Ish, Mami, nanti nggak bakal belanja ... bisa gawat kalo kelihatan publik!"
Yuki memakai masker dan kacamata hitamnya, seraya menunggu maminya itu.
"Yuk!"
Nyonya Marlina telah bersiap duduk di sebelah Yuki, lalu memakai sabuk pengamannya.
"Iya, Mami pegangan, ya?"
"Eh, eh, masih aja mau hobby ngebut, Yuki!!" teriak wanita itu.
"Hahaha, nggak Mami ...."
Nyonya Marlina memegang erat handle di atasnya, teringat dulu anaknya itu selalu mengemudi dengan kencangnya. Mobil melaju keluar dari pintu gerbang. Klakson menandai bahwa mereka pamit dan berterima kasih pada satpam di depan karena telah membukakan pintu gerbang.
"Mau cari di mana, Nak?" tanya Nyonya Marlina setelah merasa lega karena anak gadisnya tak mengendarai mobil dengan ugal-ugalan dan terlihat lebih tenang mengendarai mobil. Emosinya terasa telah stabil dibandingkan sebelum datang ke rumah sendiri.
"Dekat sama pusat kota. Tempatnya harus strategis, dekat dengan kantor-kantor, dekat dengan sekolah-sekolah, dekat dengan kerumunan pokoknya."
"Alun-alun aja," jawab Nyonya Marlina asal.
"Ya kalo boleh, aku sewa juga tuh alun-alun!" jawab Yuki.
Mereka tertawa di dalam mobil.
Perjalanan memakan waktu lima dua puluh menit hingga sampai ke pusat kota. Yuki mengemudi mobilnya pelan-pelan, mencari tempat yang telah dia lihat di akun media sosialnya.
"Nah, itu dia Mami! Itu ruko harga sewanya nggak murah tapi juga nggak mahal, kalo dilihat tempatnya strategis juga!" seru Yuki bersemangat.
__ADS_1
"Terserah, Nak."
Mobil menepi. Yuki mematikan mesin lalu keluar dan mencari pemilik ruko itu. Dia minta agar maminya tetap berada di dalam mobil. Bisa gawat kalo wanita itu dibiarkan keluar. Dia akan membayar berapa pun kalo Yuki menginginkan tempat itu. Padahal, gadis itu sekarang telah memikirkan bagaimana menghemat uang.
"Permisiii!!" kata Yuki di depan pintu rumah belakang. Ruko itu berada di gang depannya rumah pemilik rumah.
Yuki melihat banyak sekali orang dan mobil yang melintas di jalan itu.
Seorang pria datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah.
"Iya, Mbak. Cari siapa?"
"Dengan Pak Irwan, ya?" tanya Yuki sambil membuka masker dan kacamata hitamnya.
"Oh, iya, saya. Gimana, Mbak?"
"Saya baca di postingan media sosial, katanya ruko di depan itu mau disewakan?"
"Oh, iya, Mbak. Silakan masuk," ujar pria itu.
Yuki melangkah masuk, lalu memasukkan kacamata dan masker ke sakunya.
"Begini, saya tertarik dengan ruko itu. Boleh saya melihat dulu seperti apa dalamnya?" tanya Yuki.
"Oh, boleh ... boleh."
Pak Irwan berdiri lalu masuk ke dalam mencari kunci rukonya.
"Mari, Mbak."
"Ada dua tingkat, Mbak, yang atas bisa untuk tempat tinggal jika mau ditempati untuk menjaga ruko," ujar Pak Irwan.
"Oh ya, Pak. Saya lihat dulu."
Yuki menaiki tangga lalu melihat ruangan atas, dia merasa tertarik.
"Berapa harga sewanya, Pak?" tanya Yuki.
"Murah aja, Mbak. Empat puluh juta per tahun. Di sini sekitaran enam puluhan juta. Saya kasih murah aja karena butuh uang," ujar Pak Irwan.
"Boleh kurang, Pak? Tiga puluh lima juta, ya?" tawarnya.
"Belum boleh, Mbak."
"Yaah, Pak, kan buat awal saya juga perlu modal untuk beli peralatan. Kalo boleh, saya bayar cash sekarang juga," ujar Yuki membujuk pria itu.
"Mmm ... sebentar ya, Mbak, saya telepon istri saya dulu," ujar Pak Irwan.
"Ya, Pak."
Sejenak Pak Irwan terlihat menghubungi istrinya lewat ponsel. Setelah beberapa saat, Pak Irwan mendekati Yuki lagi.
"Baik, Mbak. Boleh karena kami memang lagi butuh uang."
Senyum manis Yuki menghiasi wajahnya. Dia segera melakukan pelunasan uang sewa ruko yang terbilang murah itu.
__ADS_1
Mereka berjabat tangan sebelum Yuki berpamitan.
"Sukses ya, Mbak, usahanya?"
"Makasih, Pak."
Gadis itu membawa bukti pembayaran dan kunci ruko, kemudian dia masuk lagi ke mobilnya.
Di seberang jalan, seorang anak kecil memperhatikan Yuki. Sekilas, Yuki melihatnya, wajahnya seketika pucat.
"Aurel!!" desisnya.
Anak itu menarik-narik seorang wanita yang begitu dia kenal di seberang jalan sana. Bu Yayah!
"Kenapa sih? Takut amat lihat anak kecil?" tanya Nyonya Marlina Moon.
"I-itu majikan Yuki dan anaknya!" jawab Yuki gugup karena keduanya melihat ke mobil.
"Baguslah, Mami bisa berterima kasih padanya!"
"Mami! Aku belum siap, besok aku masih akan kembali ke rumah dia, pokoknya sampai aku berhasil membesarkan usahaku!"
Meski mereka tak bisa melihat lewat kaca mobil, tapi Yuki masih saja gugup karena Aurel memergokinya, dia lupa memakai kacamata dan masker. Untung saja Bu Yayah tak sempat melihatnya.
Saking gugupnya, Yuki tak menemukan kunci mobil. Ternyata terjatuh saat dia akan masuk.
"Mami, tolong ambilin kunci, sekalian Mami yang sopirin! Itu mereka menyeberang ke sini!"
Yuki melompat ke belakang bersamaan dengan gelengan kepala Nyonya Marlina.
"Iya, deh!"
Nyonya Marlina membuka mobil dan berjalan memutar ke depan, mengambil kunci mobil di bawah.
"Eh, halo, Nak!" sapanya pada Aurel yang digandeng oleh Bu Yayah di belakangnya.
"Nenek, apa ada Kak Kiki?" tanya anak kecil itu sambil melongok ke dalam mobil.
Ne-nenek katanya??! Grr ....
"Oh, Kak Kiki siapa, ya? Di mobil ini hanya ada saya, Nak!" dusta Nyonya Marlina.
"Tuh, kan? Aurel dibilangin nggak percaya sih! Masa Kak Kiki naik mobil mewah ini, sembilan milyaran lho ini? Bisa diare dia buat beli mobil kinclong kayak gini .... Kamu jangan ngeyel, Rel!" omel Bu Yayah.
"Eh, maaf ya, Nyonya. Anak saya ini mungkin kangen sama pembantunya, namanya Kiki, mungkin sekilas anda mirip dengannya, jadi anak saya salah lihat!" lanjutnya.
"Nggak apa-apa, Nyonya!"
"Maaf telah mengganggu waktu anda, mari, Nyonya ...."
Nyonya Marlina mengangguk dan tersenyum, kemudian Bu Yayah mengajak Aurel yang terus menatap ke dalam mobil hingga mobil itu melaju.
"Udah! Aman! Keluar, Yuki!" seru Nyonya Marlina seraya mengemudi mobil.
"Duh .... untung aku ajak Mami!"
__ADS_1
Yuki duduk lemas di jok belakang, sambil mengelus dadanya.