
"Kiki, alhamdulillah kamu pulang juga! Kemarin, Rangga mencarimu! Maaf, aku ... eh, keceplosan kemarin bilang kamu pulang ke keluargamu!" sambut Bu Yayah atas kedatangan Yuki yang turun dari taksi.
"Aduh, Bu Yayah. Lalu gimana respon dia? Pasti marah?" ujar Yuki cemas.
Dia belum juga menyalakan ponselnya yang sengaja dia matikan dua hari ini.
"Sepertinya iya. Maaf Kiki!" sesalnya.
Yuki menghela napas kencang.
"Ya udah, nggak apa-apa lah, Bu. Udah terlanjur juga! Eh, Bu. Ada kabar baik! Kita bisa pindah usaha ke ruko yang strategis lho!" ujar Yuki sumringah.
"Kakak Kiki!!"
Teriakan gembira memanggil namanya menyongsong kedatangan Yuki. Aurel dan Wildan berhamburan memeluk Yuki, memotong pembicaraan Yuki dan Bu Yayah.
"Ah, anak-anak ini ...."
Yuki bersimpuh dan membiarkan kedua anak itu saling merengkuh lehernya. Dia balas memeluk kedua anak itu.
"Kakak kok lama?" tanya Aurel setelah puas memeluk gadis itu.
"Baru dua hari aja," jawab Yuki.
"Iya lama, kan?" protes gadis kecil itu.
"Oh iya, nih oleh-oleh buat kalian!"
Yuki mengeluarkan dua kantong plastik yang dia beli memakai uang lima ratus ribu rupiah dari Bu Yayah untuk orang tuanya.
Dua buah baju serta beberapa mainan untuk Wildan dan Aurel. Wildan telah duduk di kelas lima dan Aurel telah masuk ke kelas satu sekolah dasar dan Yuki telah mengira-ngira mainan apa yang mereka suka di usia itu.
"Kiki, kamu boroskan uang untuk mereka," kata Bu Yayah mengerutkan dahi.
"Nggak apa-apa, Bu!" tutur Yuki meliha keriangan kedua anak itu menerima hadiah-hadiah Yuki.
"Makasih, Kak Kiki!" ucap mereka setelah membuka kantong-kantong plastik itu.
"Oh ya Kiki, gimana tadi? Kita pindah kemana?" tanya Bu Yayah mengulangi apa yang dikatakan Yuki sebelum anak-anak datang.
"Ke sebuah ruko Bu, biar kita bisa kembangkan sayap ...."
"Di mana itu?" tanya Bu Yayah.
"Pusat kota, kebetulan saya dapet murah karena orangnya sangat butuh uang! Kita beruntung, Bu!" ujar Yuki bersemangat.
"Ah ... kamu emang pandai Kiki," puji Bu Yayah.
"Aku lihat Kak Kiki di pusat kota kemarin!" ujar Aurel.
__ADS_1
"Ah, kamu salah lihat, kali!" jawab Yuki. Kaget juga mendengar celoteh anak kecil itu. Dia kira anak itu akan lupa.
"Mungkin, ya?"
Gadis kecil itu menggaruk kepalanya, lalu kembali bermain dengan mainan barunya lagi.
Fyuh, untung saja dia tak memperpanjang pembicaraan tentang itu.
"Oh ya, mana foto keluargamu? Kenapa malah kamu matikan ponselnya?" tagih Bu Yayah.
Yuki menepuk jidatnya, seolah lupa, padahal dia sengaja menutupi foto keluarga.
"Lupa, Bu! Habisnya, kangen-kangenan jadi malah lupa foto-foto!" ujarnya.
"Ya udah, hanya mau aku kasihin ke Rangga supaya dia percaya. Nanti jangan lupa hidupin ponselmu, jelaskan sama Rangga sambil istirahat dulu. Mina masih kerja hari ini, kusuruh dia menggantikanmu sampai kamu datang."
"Ya, Bu Yayah."
Yuki melangkah ke kamarnya. Dia membersihkan kamar lalu berganti pakaian. Setelah itu, dia menghidupkan ponselnya. Ratusan pesan dan panggilan tak terjawab ada di layar ponselnya. Tentu saja kalian tau siapa pelakunya, kan?
*
"Sayang, jangan kamu ulangi lagi, ya?" pesan Rangga saat mereka makan di sebuah restoran jepang.
"Iya ...." ujar Yuki sembari memasukkan irisan daging ke dalam panci shabu-shabu dengan kuah panas itu.
"Aku bingung mencarimu sampai malam, tau?" keluh Rangga.
Mata Yuki menyiratkan penyesalan yang mendalam. Kalau udah seperti itu, Rangga tak akan bisa marah lagi pada gadisnya.
"Pokoknya jangan diulangi."
"Iya, Mas. Iya."
"Gimana rencana kamu untuk mengembangkan usaha?" tanya Rangga mengalihkan topik.
"Oh ya, Mas, aku udah sewa ruko di pusat kota. Tempatnya strategis kok! Harganya murah juga untuk satu tahun! Beruntunglah aku dapet ruko itu."
"Hah? Kamu sewa ruko nggak bilang-bilang?? Uang kamu habis donk buat sewa?" Rangga melahap seiris daging asap panas, kemudian menunjuk-nunjuk Yuki menggunakan sumpitnya.
Yuki melawan sumpit Rangga dengan sumpitnya hingga mereka seolah bermain anggar mini.
"Mas, untuk melompat lebih tinggi, kadang kita harus mengorbankan sesuatu!"
"Ah, kan kamu bisa bilang ke aku, aku bisa sewakan untukmu!" sewot Rangga, merasa harga dirinya sebagai lelaki tak berguna saat itu.
"Maaf, Mas. Ini usahaku, jadi aku ingin berusaha menurut kemampuanku sendiri. Mas Rangga nggak usah ikut campur dulu," ujar Yuki.
"Iya, tapi ...."
__ADS_1
"Pssst ... udah, pokoknya Mas Rangga nonton aja, ya? Nanti kalo aku perlu bantuan, pasti aku hubungi Mas Rangga di nomor pertama."
Yuki tersenyum semanisnya ke Rangga, hingga Rangga merasa gemas lalu mencubit hidung gadis keras kepalanya itu.
"Ya deh, Nona Keras Kepala!"
"Aah, sakit!" teriak Yuki.
Rangga tertawa melihat Yuki yang cemberut kesal.
"Mas, aku mau beli peralatan untuk toko rotiku. Anterin ya abis makan?" pinta Yuki.
"Iya, apa sih yang nggak buat kamu?" ujar Rangga gemas, membuat Yuki tersenyum-senyum malu.
Sisa uang yang Yuki miliki, dia pakai untuk melengkapi ruko yang akan ditempati. Masih sederhana. Namun, dia yakin, rasa dan pelayanan akan membuat para pelanggan merasa puas dan senang.
Bagaimana bisa mencapai semua hal besar jika tidak dimulai dengan langkah kecil?
*
Tiga bulan berlalu.
Usaha Yuki meningkat pesat. Dua sahabatnya turut membantu mempromosikan usaha bakery-nya. Sedangkan Bu Yayah mengurusi nasi box.
Dua asisten bertugas melayani pelanggan dan menempati ruko sekalian menjaga tempat itu. Mereka tidur di kamar atas ruko itu. Aman lah sudah. Toko roti itu dia beri nama 'Kiki Bakery'. Yuki pun mulai mendaftarkan ijin usahanya.
"Kiki, aku kewalahan dengan pesanan nasi box ini. Apa kita nggak bisa cari pegawai lagi?"
Bu Yayah sedang membersihkan daun pisang saat menyampaikan keluhan pada Yuki.
"Bu, saya pernah bilang kalo bisa ibu-ibu sini boleh disuruh kerja dalam usaha kita untuk membantu dua orang sebelumnya. Mm ... Mina yang gantikan saya untuk menjadi pembantu di rumah Ibu, bisa juga kan diminta bantu menyiapkan bumbu-bumbu kalo selesai kerja, Bu? Kerjaan dia bagus, kan, Bu?"
"Iya, begitu aja. Nanti aku rekrut pegawai lagi. Trus, si Mina bagus kok kerjanya, tapi kamu tetap tidur di rumah ini ya, Ki? Ruko kan udah ada yang jaga, kan?"
"Iya, Bu Yayah. Saya kan pantau dua-duanya, nasi box sama bakery. Jadi saya kesana-kemari."
Bu Yayah mengangguk-angguk. Yuki melipat kardus-kardus untuk nasi box. Kardus yang telah memiliki logo namanya juga. Dia sedikit tersenyum melihat gambar di kardus itu.
"Bu Yayah, jika bukan karena ibu, saya pun mungkin tak bisa seperti ini. Bu Yayah yang memacu saya untuk berkembang menjadi lebih baik."
Bu Yayah terharu mendengar kata-kata Yuki. Dia tak menyangka, ada seorang pembantunya yang malan berterima kasih karena kegalakannya selama ini. Ternyata, kegalakan itu berguna juga.
"Hhh ... udah Ki, yang penting sekarang kita udah sampai di titik ini. Tinggal melakukan pelayanan yang terbaik, maka kita akan mendapat hasil yang baik pula."
"Iya, Bu."
Yuki membeli sebuah laptop dengan aplikasi media sosial di dalamnya untuk mempromosikan toko roti dan nasi box. Hasilnya, pesanan membanjiri catatan orderan.
******
__ADS_1
Maap beribu maap yee Sayang2ku, telat updatenya ....