
"Bik, Kiki kemana sebenarnya? Nomornya kuhubungi tapi nggak nyambung-nyambung!"
Rangga menyambangi rumah Bu Yayah karena sangat kesal beberapa hari ini ponsel kekasihnya itu seolah dimatikan dengan sengaja.
"Dia ke rumah temannya, nginep di sana, palingan besok Minggu pulang. Kamu tunggu aja, Ngga!" jawab Bu Yayah berbohong.
Kiki ... dasar! Kamu bikin mulut ini berkata dusta!
"Kenapa nggak bilang sama aku, Bi? Kenapa juga handphone-nya musti dimatiin?"
"Ya nggak tau, besok kamu tanya sendiri sama Kiki ...."
Rangga menghela napas. Beragam pikiran buruk mulai mempengaruhinya.
"Dia kelihatan sama cowok lain nggak, Bi, waktu pergi itu?"
"Iya," jawab Bu Yayah santai.
"Haah?? Kenapa Bibi diam aja??! Kayak apa ciri-cirinya??"
Rangga mulai memanas.
"Udah tua, kumisan, rambutnya agak gelombang gitu, kurus."
Rangga melotot, terbelalak.
"Serius, Bibi?"
"Iya, tiga belas rius, orang dia pergi naik taksi. Itu ciri-ciri sopir taksinya!"
"Aaah, Bibi!!"
Kening Rangga berkerut, sementara Bu Yayah tergelak.
"Kamu nggak usah kuatir, Ngga. Dia anak baik, nggak bakalan macem-macem. Eh, ngomong-ngomong, kamu bener serius sama Kiki?"
"Lima ratus rius, Bi."
"Gimana sama orang tuamu? Mereka sepertinya nggak setuju?"
"Ya pokoknya Kiki harus berhasil, aku janji sama kedua orang tuaku, kalo Kiki berhasil mengembangkan usaha, kita bakal bersatu, tapi kalo nggak, aku bakal terima kalo dijodohin!"
"Masa kamu nyerah gitu?"
"Aku paham potensinya Kiki, Bi! Dia bahkan bantuin aku mengatasi masalah perusahaan saat kritis! Kenapa juga papa sama mama nggak menghargai itu."
Bu Yayah menghela napas. Sebenarnya dia setuju dengan perkataan Rangga. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa, karena itu masalah intern keluarga. Jika dia ikut campur, maka malah akan terjadi perpecahan keluarga.
__ADS_1
"Sabar ya, Ngga."
Hanya itu yang terucap dari mulut Bu Yayah.
"Bibi kok nggak galak lagi?"
Pertanyaan Rangga mengagetkan Bu Yayah.
"Masa dulu aku galak??"
Wanita itu seolah amnesia dengan apa yang dia lakukan sebelum-sebelumnya.
"Iya," jawab Rangga.
"Mungkin karena pembantu-pembantuku dulu sangat malas. Mereka tak punya semangat kerja. Beda dengan Kiki yang semula dia tak bisa apa-apa, tapi lama kelamaan dia belajar memperbaiki pekerjaannya. Tambah lagi, sekarang dia malah mengajakku dalam usaha nasi box yang lumayan jalan, tanpa mengabaikan pekerjaan di rumah."
Bu Yayah menerawang, mengingat pembantunya yang giat itu. Semangat Kiki menjalar padanya, hingga dua asisten yang membantu mereka. Tak lagi dia bersikap galak, entah mungkin terlampau lelah untuk mencari-cari kesalahan, atau gadis itu memang tak punya salah sekarang.
"Semoga dia senang saat bertemu keluarganya," desis Bu Yayah.
"Apa, Bi?? Ketemu keluarganya??"
"Ups! Eh, keceplosan. Nggak, Rangga!"
"Bibi! Kenapa tadi bohong?? Kalian bersekongkol, ya? Bilang sama aku, dimana keluarganya??" tanya Rangga mengguncangkan kedua bahu wanita bertubuh gempal dan makin gempal itu.
Wanita itu menunjukkan dua jarinya tanda sumpah dia benar-benar tak tahu menahu.
"Aaarghh!! Tau seperti itu, aku bakal mengantarnya pulang! Kasian kan dia sendirian? Lagian, aku juga nggak akan mempermasalahkan jika keluarganya seperti yang dia bilang, pedagang kecil. Semiskin apapun, aku tak akan meninggalkannya! Bahkan jika usahanya tak berhasil, aku akan bawa dia kawin lari!"
"J-jangan gitu, Rangga ...."
"Ugh!"
Rangga meremas topinya. Dia merasa sangat kesal karena telah dikelabui oleh kedua wanita itu.
Setelah beberapa saat, Rangga berpamitan pulang.
"Aku pulang dulu kalo gitu, Bi!"
"Rangga, maafkan Bibi, ya? Kamu juga jangan marah sama Kiki, dia pasti punya maksud tertentu untuk tidak jujur padamu. Mungkin belum saatnya dia siap untuk menunjukkan keluarganya."
"Iya!"
Rangga menaiki mobilnya. Mobil melaju dan meninggalkan rumah itu. Lelaki itu menelusuri jalanan, berharap dia akan menemukan gadisnya di sana. Namun, pencarian yang sia-sia. Hingga malam tiba, dia tak juga menemukan kekasihnya.
*
__ADS_1
"Mami, Papi, aku kembali lagi hari Minggu ini, ya?" pamit Yuki.
"Kenapa musti kembali? Kan kamu udah menyelesaikan misi?" tanya kedua orang tuanya itu.
"Iya, hanya misiku yang belum selesai. Aku harus berhasil untuk membangun usahaku menjadi besar agar mereka menyetujui hubunganku!"
Kedua orang tuanya saling berpandangan.
"Yuki sayang, siapa sebenarnya kekasihmu itu?" tanya Nyonya Marlina berhati-hati.
"Sebelum aku bisa membuktikan, aku belum akan membuka identitasnya, yang pasti dia adalah seorang lelaki yang tak memandang status apapun dalam mencintai seseorang. Dia juga pekerja keras, tak malu melakukan pekerjaan rumah, meski dia anak orang kaya. Dia juga menjaga kehormatanku, menjagaku saat sakit. Jadi, Papi sama Mami nggak usah kuatir!"
"Kalo dari laporan bawahan Papi, namanya Rang-...."
"Cukup! Aku nggak suka dimata-matai, itu sama aja melepas kepala tapi mencengkeram ekornya! Aku akan bisa mengatasi kesulitan hidupku, bukankah itu yang kalian inginkan?" tanya Yuki.
Laporan bawahan Tuan Bhanu hanya sebatas nama dan status Rangga sebagai keponakan majikan Nonanya. Tentang siapa Rangga, mereka belum menyelidiki karena hanya keamanan Nonanya yang diperintahkan oleh Tuan Bhanu.
"I-iya, kamu pasti bisa, Yuki," ujar Nyonya Marlina Moon menganggukkan kepala dan mengacungkan jempol.
"Oke, kamu hampir berhasil. Sekarang buktikan keberhasilanmu agar Papi sama Mami makin bangga."
Tuan Bhanu menyunggingkan senyumnya. Dia memang menginginkan pribadi seperti itu.
"Oke, dalam waktu dekat, aku pasti berhasil. Sekarang, aku mau bersiap untuk kembali ke rumah Bu Yayah."
Yuki berbalik menuju ke kamarnya. Dia menyiapkan sisa uang yang akan dia gunakan untuk membeli modal. Rencana, dia akan membuat ruko itu menjadi sebuah bakery, selain menerima pesanan nasi box.
Beberapa resep kue dari Nyonya Tri, mamanya Nana, telah dia kuasai. Sekarang dia akan menjualnya ke pasaran, setelah sebelumnya banyak juga yang memesan kue kering dan basah pada Yuki. Pemesan itu bahkan berkali-kali melakukan transaksi.
Yuki yakin dia bisa menarik customer lain.
"Papi, Mami, Yuki pulang ke Bu Yayah dulu. Besok kalau udah berhasil, aku pulang, kok!"
"Lebih cepat lebih baik ya, Nak! Kami selalu mendoakan untuk kebaikanmu," ujar maminya.
Kerinduan mereka hanya terobati dua hari, dan kini mereka harus melepas anaknya kembali demi cita-citanya sendiri.
"Lho, kok naik taksi?" tanya wanita itu.
"Apa majikanku nggak kaget kalo aku naik mobil pribadi? Bisa stroke dia karena kaget, Mami!" gelak Yuki.
"Ya udah, hati-hati ya, Nak! Sukses untuk usaha dan cintamu!" seru kedua orang itu.
Yuki masuk ke taksi yang menunggunya di depan. Semua pelayan mengintip dari balik jendela. Melihat kepergian Nona mereka untuk yang kedua kalinya.
Taksi meluncur meninggalkan kedua orang yang sedang terpaku tak dapat menahan besarnya keinginan seorang anak gadis satu-satunya demi mengejar sebuah impian. Usaha dan cintanya.
__ADS_1