Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Selangkah ke Depan


__ADS_3

Mobil melaju ke rumah Bu Yayah. Kali itu, Yuki ingin menghentikan waktu agar tetap berada di titik dimana pangeran tampan itu melamarnya. Namun, waktu tak menghiraukan keinginannya.


Gadis itu sedang memperhatikan cincin berlian di jari manisnya dan teringat kata-kata lamaran Rangga untuk memintanya jadi istri.


"Eh, tunggu! Mas Rangga nggak malu apa kalo menikah sama aku? Aku kan hanya pembantu?" ujar Yuki melirik lelaki yang sekarang resmi berstatus menjadi pacarnya itu.


"Aku tak mempermasalahkan status, yang kusukai darimu telah kujelaskan tadi ...." ujar Rangga.


Yuki tersenyum, meski begitu dia tetap merasa bersalah karena telah menyembunyikan status sebenarnya pada kekasihnya itu.


"Lalu, bagaimana dengan perjodohan keluarga Mas Rangga? Bukannya sebelum Cecilia, ada seseorang yang akan dijodohkan denganmu?"


"Aku punya hidup dan pilihanku sendiri," jawab Rangga singkat.


Yuki kembali tersenyum, dia menyukai pria yang berprinsip.


Mobil sampai di depan rumah Bu Yayah. Mereka turun dari mobil dengan sambutan dari wanita pemilik rumah itu.


"Wah, kalian ini dari mana aja?"


Dengan menatap beberapa tas yang ditenteng oleh Yuki, Bu Yayah menginterogasi mereka.


"Ini, tadi kan makan sama teman-teman, lalu aku belikan Kiki baju untuk kerja, Bi! Dia hanya punya tiga setel baju untuk kerja. Kasihan, kan?" jawab Rangga.


"Ooh ... wah beruntungnya Kiki memiliki CEO yang perhatian! Coba kamu kerja di perusahaan lain! Nggak akan dapet baju kerja! Palingan kaos!" celoteh Bu Yayah.


Rangga dan Yuki tertawa mendengarnya.


"Bi, itu juga aku berterima kasih sama dia, karena bantu menyelamatkan perusahaan kami!"


Ranga menatap Yuki dengan sayang yang hanya bisa diartikan oleh mereka berdua.


"Oh, Kiki kamu itu otaknya dibikin dari apa sih?" tanya Bu Yayah.


"Biasa aja, Bu. Saya cuma bantu sedikit, kok! Mas Rangga aja yang melebih-lebihkan."


Rangga mengerling pada Yuki.


"Mm ... aku pamit pulang dulu ya, Bi! Kalo misalnya aku sering jemput Kiki ke sini untuk pergi, jangan marah ...." ujar Rangga.


"Lah, apa yang terjadi dengan kalian??"


"Nggak apa-apa, Bi. Kami kan relasi kerja!" jawab Rangga mengedipkan mata ke Yuki. Yuki yang hanya menjadi pendengar hanya tersenyum-senyum.


"Ya udah, sana pulang."


Bu Yayah mengusir Rangga. Matanya sudah tak bisa diajak berkompromi. Rangga pun segera berjalan dan masuk ke mobilnya. Dia melambaikan tangan pada majikan dan pembantunya itu. Kemudian mobil putih mulai meninggalkan rumah Bu Yayah.

__ADS_1


"Rangga itu memang baik," ujar Bu Yayah seraya menguap.


Mereka masuk ke rumah. Yuki langsung masuk ke kamarnya dan meletakkan semua tas belanja di atas lantai dengan tertata rapi. Besok, dia akan membukanya.


Usai berganti pakaian dan mencuci mukanya, Yuki membaringkan tubuh di kasur. Wajah Rangga memenuhi angannya.


Pria itu mengirim pesan pada Yuki lewat aplikasi hijau. Mereka saling chatting hingga larut malam seperti pasangan baru pada biasanya. Beberapa kali ponsel terjatuh dari genggaman Yuki, menimpa wajahnya karena lelah dan mengantuk tapi hati masih ingin berkirim pesan, hingga mereka masing-masing terlelap dengan ponsel di tangan.


*


"Rangga, umurmu sudah pas untuk menikah," ujar Bu Selly mengingatkan.


Lelaki yang sedang menatap layar ponselnya itu hanya tersenyum, lalu menatap wanita yang melahirkannya itu. Sepertinya kejengkelan terhadap wanita itu sedikit sirna.


"Udah ada calon, Ma."


"Oh, lalu tentang ...."


Bu Selly menghentikan ucapannya tentang perjodohan lagi, mengingat hubungan dengan anak satu-satunya itu mulai membaik.


"Oh, siapa gadis itu?" tanya Bu Selly.


"Nanti Mama akan tau sendiri," ujar Rangga berteka-teki.


"Hmm ... baiklah, tapi janji secepatnya akan mengenalkan pada Papa dan Mama ya, Ngga?"


"Iya, Ma."


*


Yuki menutup wajah Rangga yang terus memandangi gadis itu saat membantu mengetik laporan di mejanya.


"Abisnya kamu cantik dengan baju yang kamu pilih sendiri. Apalagi rambutmu yang dikucir ekor kuda, bikin gemes!"


"Udah, aku mau kerja dulu. Sana keluar dari ruangan ini!" usir Yuki.


"Iya ...."


Rangga beranjak dari kursi yang tadi dia tarik ke depan gadisnya itu, membenahi dasi, lalu berjalan keluar melewati pintu. Saat di ambang pintu, dia berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Nanti malam kuajak ke rumah, ya? Siap-siap jam tujuh kujemput!"


Kemudian lelaki itu meninggalkan Yuki yang mendadak kelabakan.


"Mas Rangga emang penuh kejutan! Aku kan belum siap bertemu dengan keluarganya? Duh, gimana ini?"


Baru kali itu Yuki berpacaran seriua dan baru kali itu dia akan dikenalkan oleh pacarnya ke keluarganya.

__ADS_1


Yuki mulai gugup. Konsentrasinya mengetik buyar hingga sering salah ketik. Dia menghentikan kerjaanya lalu memilih untuk membuat minum di dapur kantor.


Sembari mengaduk segelas teh di cangkirnya dia menatap ke kaca, pemandangan kota yang sering dia lihat saat jenuh bekerja. Sebulan lagi kegiatan magangnya selesai. Dia tak akan bisa menikmati pemandangan itu lagi. Rangga menempatkan dia di ruangan khusus itu agar tak berbaur dengan karyawan lain setelah acara jadian mereka. Sebenarnya Yuki senang saat melihat ke luar, tapi kali ini dia tak menikmati pemandangan dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku sudah sering ketemu banyak orang, menghadapi mereka. Namun, sekarang aku akan menghadapi orang tua Mas Rangga, ooh!"


Yuki menepuk jidatnya sendiri. Hubungannya dengan Rangga baru terhitung beberapa hari, tapi sudah akan melangkah jauh. Sepertinya dia belum siap. Misinya pun belum tercapai. Bagaimana dia membawa Rangga ke keluarganya? Lalu, apa yang akan terjadi jika Rangga mengetahui identitasnya yang sebenarnya?


Yuki pusing.


Seharian gadis itu hanya berpikir dan berpikir. Masalah perusahaan yang besar mampu dia atasi, tapi masalah hati tak bisa mencari jalan keluarnya.


Yuki menghela napas dengan keras.


"Mau tak mau aku harus bertemu dengan keluarganya, tapi kalau disuruh nikah cepat-cepat, aku akan bilang kalo aku mau menyelesaikan kuliahku dulu," ujarnya.


*


Yuki kembali mondar-mandir di kamarnya. Lima menit lagi, Rangga akan menjemput. Dia telah siap dengan gaun hitam selutut yang dia pilih sendiri di butik malam itu.


"Kenapa tiap mau dijemput aku selalu galau?"


Yuki mengamati penampilannya di kaca. Cukup sopan dan elegan. Dia pun mengikat rambutnya dengan rapi.


Mobil Rangga tiba di depan rumah. Gadis itu segera keluar dari kamar dan menyambutnya.


"Kamu cantik, pacar siapa dulu dong!" puji Rangga.


"Bi, aku pinjem Kiki dulu, ya?" pamit Rangga berteriak dari depan.


"Ya!" teriak Bu Yayah.


"Pinjem?? Berasa barang aja," gerutu Yuki.


"Eh, maaf, Sayang .... Kalo barang, kamu barang terindah di dunia ini, yuk!"


Rangga menarik tangan Yuki lalu membukakan pintu mobil seperti biasanya.


Yuki hanya diam di dalam mobil selama perjalanan.


"Kenapa sih diam?" tanya Rangga.


"Nggak apa-apa, Mas."


Gadis itu memutar-mutar cincin di jari manisnya demi menghilangkan rasa gugup.


"Kamu nervous?" tanya Rangga.

__ADS_1


Yuki hanya tersenyum dan menghela napasnya. Rangga menggenggam tangan Yuki dengan erat.


"Apapun yang terjadi, aku akan di sampingmu," ujarnya mencoba membuat gadisnya itu tenang.


__ADS_2