Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Persoalan Rangga


__ADS_3

"Err ... maaf, ini dokumen-dokumennya," ujar Yuki menyadari keheningan di dalam ruangan dan kekagetan mereka berdua yang tak dimengerti oleh peserta rapat. Kegugupan gadis itu bertambah menyadari seluruh peserta rapat menyorot padanya.


Dia membungkuk lalu meletakkan tumpukan dokumen di atas meja begitu saja. Ingin rasanya segera pergi dari tempat asing yang baru dia masuki, jika mungkin, menggali lubang dan mengubur diri di dalam lubang itu. Saat dia mulai berbalik, suara yang begitu dikenalnya memanggil, "Tunggu! Kamu duduk di dalam ruang rapat! Kiki!"


Sejenak setelah Rangga menyebut namanya, suasana riuh peserta rapat membicarakan bagaimana anak magang itu bisa dikenal oleh calon pemimpin baru mereka.


"Diam!!!" Suara kesal Rangga menggelegar memenuhi ruangan. Seketika ruangan itu hening sudah, hingga hanya ada suara sepatu Yuki yang berjalan ke sebuah kursi kosong di belakang pintu.


Yuki mengangkat kepalanya lalu menghela napas panjang, "Kenapa mesti duduk di ruangan ini juga, sih? Penampilanku udah berantakan di depan Mas Rangga ...." gumamnya.


Beruntung, Rangga tak membahasnya lagi lalu menyuruh seluruh peserta rapat mengedarkan copian dokumen yang tadi dibawa Yuki. Satu setengah jam waktu rapat, gadis itu mendengarkan permasalahan yang terjadi di perusahaan yang makin menurun daya jualnya itu.


"Kiki, kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Rangga dengan senyum manisnya, membuat kerinduan Yuki yang telah mengering terguyur sudah. Puas.


"A-aku magang di sini, Mas Rangga."


"Oh, baguslah. Kamu bisa bantu aku. Kebetulan sekertaris papa telah berhenti bekerja. Entah kenapa banyak karyawan yang memilih berhenti dari perusahaan ini. Sedang aku selidiki," ujar Rangga berjalan ke ruang presdir. Papanya telah diantar oleh sopir kembali ke rumah karena masalah kesehatan dan tak memungkinkan untuk berlama-lama di kantor.


Apa aku harus mengikutinya? Kenapa dia terus mengajakku bicara sih?


"Mas Rangga, aku mau ke ruangan Kak Cindy dulu, ya?" ujar Yuki.


"Oh, Cindy? Manager itu? Baiklah, tapi aku butuh bantuanmu di ruanganku. Nanti kamu ke ruanganku setelah menemui Cindy, ya?"


"Eh, baiklah."


Yuki tak tau apakah ia harus bahagia atau tak enak pada yang lain jika bisa berdekatan dengan Mas Rangga lagi.


"Kak Cindy, apa lagi yang bisa saya bantu di sini? Maaf tadi saya terlambat mengantar copian dokumen," ujar Yuki setelah sampai di ruangan Cindy.


"Oh, kamu bisa bersihkan ruang rapat yang penuh debu," ujarnya tanpa menatap Yuki, tapi matanya menatap ke layar ponselnya sambil sesekali terkikik.


Yuki sedikit terkejut. Namun, ia tak akan menolak karena dia belum tau sifat-sifat karyawan di kantor itu, jadi dia mengalah dulu. Dia pun belum menemukan seorang office boy sesiang itu.


"Oh, baiklah."


Yuki melangkah kembali ke ruang rapat yang telah kosong. Dia mulai membersihkan ruangan itu dengan cekatan karena telah terbiasa bekerja di rumah Bu Yayah.


Setiap laci dia bersihkan dan di saat sampai ke laci ke delapan, tempat dimana tadi saat rapat Cindy duduk, ada sebuah kertas yang menarik perhatiannya. Dia mengambil kertas itu lalu meneliti setiap huruf yang tertera di dalamnya. Ada beberapa nama yang tercentang. Yuki melipat kertas itu lalu menyimpan di kantongnya.


Setelah selesai, dia menemui Cindy lagi, "Udah, Kak," ujarnya.

__ADS_1


"Oh, ya. Kamu dipanggil sama Pak Rangga!" kata Cindy.


"Baik," jawab Yuki.


"Apa kalian saling kenal sebelumnya?" tanya Cindy tiba-tiba.


"Eh, iya. Kami kenal. Ceritanya panjang," jawab Yuki.


"Hmm, baiklah." Cindy mengalihkan matanya ke arah komputer. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Yuki ingin menanyakan perihal kertas yang dia temukan, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk bergegas ke ruangan Rangga.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Suara Rangga dari dalam menyuruhnya masuk. Yuki membuka pintu lalu menunduk dan melangkah masuk.


"Ki, bisa kamu tolongin aku untuk cek grafik ini?" tanya Rangga.


"Oh, ya, Mas."


Gadis itu mendekat lalu duduk di samping Rangga yang sedang berdiri, bau parfum khas Rangga membuai Yuki, dada Rangga begitu dekat mengingatkannya saat pertama kali dia terjatuh di pelukan Rangga.


"Ki ...."


Otakku bener-bener nggak sehat kalo deket-deket Mas Rangga!! Huuft!


"Kamu perhatikan ya, dari kapan grafiknya menurun, kemudian catat di buku ini. Berapa nilai penurunannya jangan sampai terlewat!" perintah Rangga.


"Aku mau hubungi bagian produksi, apa mereka bekerja dengan baik sesuai dengan permintaan pasar!"


"Oh, ya. Baik Mas Rangga."


Bau parfum itu memudar seiring menjauhnya Rangga dari dekatnya, tapi masih tercium di hidung dan melekat di otak Yuki.


Sadar, Ki! Sadar!!


Dia segera melakukan apa yang diminta oleh Rangga. Penurunan itu memang mencurigakan.


"Mas Rangga, kenapa ya kantor ini office boy-nya kesiangan?" tanya Yuki mengalihkan kebosanan saat setengah jam melihat ke layar komputer.


"Apakah begitu?? Huft, ternyata mereka malas-malasan! Selama Papaku berada di rumah sakit, ini semua terjadi." Rangga mengendikkan bahunya.

__ADS_1


"Aku senang dengan adanya kamu, Ki! Kamu bisa membantuku di sini. Ada banyak persaingan di kantor, untuk itu aku membutuhkan orang luar yang netral untuk menyelidiki semua ini," ujar Rangga masih meneliti sebuah buku dan layar komputer juga.


"Oh, jadi begitu masalahnya. Aku juga merasa aneh, Mas. Hari ini hari pertama aku bekerja, tapi semua hal tak tersusun dengan baik!"


"Sebenarnya sekertaris papa dulu bisa bekerja dengan baik, tapi entahlah kenapa dia malah resign!"


"Oooh .... Kalo Kak Cindy itu? Apa kerjaannya bagus?" tanya Yuki.


"Kurang tau, dia itu baru satu tahun kerja jadi manager di sini, aku belum begitu paham kerjanya."


"Ooh ...." Yuki melanjutkan catatannya. Sesekali dia melirik, mencuri pandang ke lelaki yang bertambah keren di matanya itu. Baru kali ini dia melihat Rangga memakai kemeja dan dasi. Dulu biasanya dia melihat Rangga hanya memakai kaus dan celana jeans.


"Ini, Mas Rangga," ujar Yuki menyodorkan catatannya ke meja Rangga.


"Cepat sekali kamu kerjanya," puji Rangga.


Yuki tersipu, "Aku rasa pekerjaan ini agak ringan, Mas. Hanya mencatat saja," ujarnya.


"Fiuh, ya kalo nggak sambil mengecat kuku pasti kerjaan cepat beres!" kelakar Rangga mengingat kelakuan pegawai papanya dulu.


Yuki tertawa, "Mas Rangga, ada yang bisa aku bantu lagi?"


"Sementara ini cukup, kamu boleh istirahat dulu. Aku akan memeriksanya dulu."


"Kalo gitu, aku mau kembali ke ruangan Kak Cindy ya, Pak Rangga!"


"Jangan panggil Pak, kesannya tua!" seloroh Rangga.


"Hahaha .... Iya, Mas. Aku permisi dulu."


Rangga mengangguk, tapi sebelum Yuki sampai di depan pintu, dia memanggil gadis itu.


"Kiki!"


"I-iya, Mas?"


"Kamu cantik pakai setelan itu," pujinya sambil tersenyum menatap Yuki.


"Eh, makasih, Mas."


Yuki makin tersipu dengan pujian Rangga. Namun, raut wajahnya berubah cepat saat keluar dari ruangan, menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Huh, dia kan pacarnya Nana! Kenapa ganjen sih!" gerutunya.


__ADS_2