Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Datang ke Rumah Rangga Untuk Kedua Kalinya


__ADS_3

Mobil melaju ke toko roti karena sebelumnya Yuki meminta Rangga untuk mampir ke sana. Dia ingin membawakan buah tangan untuk kedua orang tua Rangga.


"Rey, bungkusin roti manis sama kue-kue, ya?" pinta Yuki.


"Oh ya, Mbak."


Dalam sekejap dua buah kotak besar berisi roti dan kue telah siap di atas meja. Kala itu toko agak ramai. Beberapa pembeli sedang mengantre di kasir.


"Makasih ya, Rey! Nanti aku mampir lagi. Sekarang aku mau ke rumah Mas Rangga dulu," ujar Yuki mengambil plastik berisi dua buah kotak roti.


"Cie ... mau ketemu camer nih!" goda Rey.


"Hahaha, doain ya, biar camer jadi mertua!" ujar Rangga yang tiba-tiba nyelonong masuk menarik perhatian para pembeli yang kebanyakan wanita itu.


"Iya donk Mas Rangga! Pokoknya kami mendukung kalian!" seru Rey membuat Rangga tersenyum-senyum dan mengacungkan ibu jarinya.


Bau roti hangat dari dapur atas yang dibawa turun oleh dua orang pegawai terasa sangat lezat.


"Eh, udah ah, nanti kesorean aku ke toko, yuk, Mas!" ajak Yuki.


"Selamat bersenang-senang!" teriak Rey.


Rangga membukakan pintu mobil untuk Yuki. Gadis itu masuk, disusul oleh Rangga di sebelahnya.


Lagu Nothing's Gonna Change My Love For You mengalun di dalam mobil. Rangga ikut menyanyi untuk Yuki. Gadis itu menyunggingkan sedikit senyumnya. Tak pelak, meski ini yang kedua kalinya dia mendatangi rumah Rangga, tapi rasa gugup masih juga tak bisa dia lawan.


Yuki menarik dan mengembuskan napas tertahan di pipi hingga pipinya menggembung sebentar, lalu ia lepaskan kasar.


Mobil sampai di depan gerbang rumah Rangga dalam waktu dua puluh menit. Cat rumah itu telah berbeda dari waktu Yuki datang ke rumah itu. Sekarang hijau muda menjadi pilihan para penghuni rumah.


Ah, kenapa aku setuju untuk datang ke rumah ini lagi, sih?


Yuki mengedarkan pandangan ke seluruh bagian depan rumah yang terlihat berbeda, tapi perasaan dia tak ada bedanya dengan tahun itu, dimana ia datang pertama kalinya.


"Ayo," ajak Rangga.


Yuki turun dengan sedikit gelisah. Sesekali ia menggerakkan jarinya dengan cemas.


"Udah dua kali kesini kok masih grogi sih?" tegur Rangga seolah menebak sikap Yuki.


Yuki hanya tersenyum kecut, dia memegang lengan Rangga dan masuk ke dalam rumah.


"Duduk dulu ya? Sebentar ...."


Rangga meninggalkan Yuki yang duduk perlahan di tempat dia duduk pertama kali. Zona nyaman di sudut sofa.

__ADS_1


Bola mata Yuki mengitari isi ruangan itu, bukan berpikir apa-apa tentang perabotan, hanya menunggu waktu kedua orang tua Rangga keluar dari dalam.


Rangga keluar bersama mamanya yang langsung mengulurkan tangan pada Yuki.


"Halo, Kiki. Apa kabar?" tanya Nyonya Selly ramah.


"Baik, Tante."


"Papanya Rangga sedang istirahat. Dia mengalami kelelahan setelah memulai untuk berolahraga lagi dengan rekan-rekannya. Jadi, maaf saat ini dia nggak bisa duduk bersama kita," terang Bu Selly sebelum Yuki sempat menanyakannya.


"Iya, Tante. Nggak apa-apa. Ini sekedar kudapan, Tante."


Yuki meletakkan dua plastik berisi kardus roti dan kue bertuliskan nama toko rotinya. Nyonya Selly mengamati sebentar, lalu melanjutkan perbincangan.


"Wah, repot-repot, makasih. Gimana kabarnya, Kiki?" tanya Nyonya Selly.


"Baik, Tante. Tante juga sehat, kan?"


Kegugupan Yuki lama-lama mencair. Wanita di hadapannya tak menunjukkan sikap yang buruk.Dia sungguh bermartabat, tapi entahlah nantinya di belakang gadis itu.


"Iya," jawab Nyonya Selly.


Kedua wanita itu berbincang, sementara Rangga sibuk membuka ponsel, mencari video dan gambar di galerinya.


"Ma, aku membawa Kiki ke sini untuk menyampaikan rasa syukur karena Kiki telah berhasil mendirikan usahanya sendiri. Ini ...." tunjuknya ke layar ponsel.


Setelah mengambil kacamata dari tangan pelayannya, wanita itu memakai kemudian menatap layar ponsel dan mengamati gambar serta situasi pada video. Ramainya orang berkerumun di dalam toko, antre untuk membayar roti dan kue yang mereka bawa, dengan para pegawai yang berbaju khas bakery itu.


Yuki hanya menunduk. Sejujurnya dia tak suka dipamerkan seperti itu, tapi demi kelanjutan hubungan mereka, Rangga harus melakukannya.


"Bagus sekali usahamu, Kiki."


Nyonya Selly mengembalikan ponsel ke anak lelakinya usai memutar video dan melihat-lihat foto.


"Kalian nikmati waktu, ya? Aku mau menemani papanya Rangga, mungkin dia butuh sesuatu."


Yuki mengangguk, "Makasih, Tante."


Ada gurat kecewa di wajah Rangga, sedangkan Yuki hanya mengelus lengan lelakinya. Dia mengerti usaha lelaki itu untuk bersamanya, selain usahanya sendiri.


*


"Mama, Ma!" panggil Rangga setelah mengantar Yuki pulang sore itu.


Satu jam yang lalu, Yuki berpamitan karena masih akan mengurusi kedua toko rotinya.

__ADS_1


Nyonya Selly yang sedang berbincang dengan suaminya itu keluar dari kamarnya.


"Kenapa, Rangga?" tanya Nyonya Selly.


"Ma, aku mau bicara dengan kalian berdua, boleh?"


"Boleh," jawab Tuan Lee yang telah bangun dari pembaringannya.


Mereka berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sana.


"Pa, Ma, sebelumnya aku minta maaf kalo terlalu mendesak kalian. Syarat kalian telah Kiki penuhi. Gimana sekarang, apa kalian bisa memberi kami restu?" desak Rangga.


Keduanya menghela napas.


"Memang dia sudah berhasil. Kami senang. Hanya ... satu hal yang belum kita ketahui, kan? Identitasnya."


Tuan Lee menyandarkan punggung ke sofa dan menjawab desakan Rangga.


"Huh, apa itu penting?" tanya Rangga merasa usaha kekasihnya agak sia-sia dalam perjuangan cinta mereka.


"Tentu saja, Rangga! Kita adalah keluarga terhormat, terlebih lagi, ada perjanjian yang belum terselesaikan dengan Tuan Bhanu, pengusaha nomor satu di negeri kita ini," jelas Pak Lee.


"Perjanjian apa?"


Nada suara Rangga sudah akan meninggi karena kesal. Orang tuanya bergerak tanpa persetujuan darinya.


"Perjodohan itu. Mereka belum memberikan jawaban. Lebih baik kita menunggu dulu, kami akan-...."


"Tak bisakah kita bertemu mereka untuk membatalkan perjanjian itu??" tanya Rangga memotong ucapan papanya.


"Kami merasa tidak sopan pada mereka. Janji adalah janji, Rangga."


"Tapi kalian berjanji tanpa aku ketahui!!"


Habis sudah kesabaran Rangga menghadapi kedua orang tuanya.


"Diam kamu! Mereka itu keluarga terhormat! Kami tak punya alasan untuk menolak mereka, Rangga!"


Nyonya Selly menengahi perdebatan itu.


"Sudah, sudah. Begini saja, lebih baik kita pergi ke sana untuk menemui Tuan dan Nyonya Bhanu untuk meminta maaf pada mereka."


"Tapi, Ma ...."


Tuan Lee mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Sudah, Pa. Kalo anak kita nggak mau, gimana lagi ...."


Tuan Lee beranjak dari duduk, melangkah ke ruang baca, dimana dia menghabiskan waktu jika merasa bosan. Rasa malu menghinggapi pikirannya, bahkan sebelum dia bertemu dengan keluarga Tuan Bhanu. Pikirannya kacau. Apa yang akan mereka sampaikan untuk menolak perjodohan kedua anaknya itu? Apakah keluarga Tuan Bhanu akan marah pada mereka? Segala pikiran buruk berkecamuk di otaknya.


__ADS_2