Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kelicikan Queensya


__ADS_3

Pak Hari sebenarnya ingin menghubungi Pak Bhanu, sahabatnya yang juga ayah dari Yuki, gadis keras kepala di depannya itu, tapi dia melihat kemauan Yuki dengan tampang memohonnya dan lagi dia terlihat baik-baik saja, maka dia menyetujui permintaan gadis itu.


"Baiklah, Om pegang janjimu. Om minta maaf karena sekarang Om nggak bisa nemenin kamu, karena masih ada urusan kampus. Biar Ferry yang nemenin kamu, ya? Urusan biaya, kamu nggak perlu memikirkan. Universitas yang akan menanggungnya."


Pria yang berambut coklat itu berdiri di hadapan Yuki.


"Iya, Om! Makasih!" ucap Yuki senang.


"Jaga diri baik-baik, ya! Om Hari permisi dulu, Yuki."


Yuki mengangguk mantap. Pak Hari segera berbalik lalu melangkah keluar dari ruangan. Yuki memegang kepalanya yang masih sakit, yang dia tahan sewaktu berbincang dengan Pak Hari. Dia tak mau terlihat sakit agar pria itu tidak mengadu pada kedua orang tuanya.


Pak Hari keluar dari ruang perawatan. Hatinya merasa lega saat mengetahui bahwa Yuki dalam keadaan yang baik, tinggal menunggu pemulihan di kepalanya.


"Ferry, tolong jaga Kiki selama di rumah sakit, ya?" pesan Pak Hari pada Ferry.


"I-iya, Pak!" jawab Ferry berbinar.


"Jangan lupa kamu hubungi saya jika besok Kiki sudah boleh pulang."


"Baik, Pak."


Pak Hari segera pergi dari rumah sakit. Ferry tersenyum senang dan kembali masuk ke ruang perawatan.


"Gimana, Ki?" tanya Ferry sambil duduk di samping gadis itu.


"Kepalaku masih agak pusing. Aku mau beristirahat dulu, Kak! Kak Ferry bisa pulang ke penginapan dulu."


"Aku bisa menjagamu di sini. Tidur aja kalo kamu pusing," ujar Ferry meyakinkan.


"Baiklah," jawab Yuki.


Gadis itu memejamkan matanya karena hari sudah larut malam. Sementara dia memejamkan mata, Ferry menatapnya, "Sebentar lagi kamu akan luluh," gumam lelaki itu pelan.


Tak lama, lelaki itu tertidur di kursi.


*


Sementara itu di penginapan, bersamaan dengan masuknya Yuki ke rumah sakit, terjadi kehebohan di dalam kamar Queensya dan geng.


"Queensya! Gawat!"


Queensya yang sedang meringkuk kedinginan, terlihat malas mendengar teriakan Anggi, Wenny dan Rachel.


"Apa sih?? Berisik amat!!" gerutunya.


"Gadis miskin itu cedera! Dia tergelincir ke dalam hutan dan dibawa ke rumah sakit! Katanya dia sampai nggak sadar!" teriak Anggi berlari ke dalam kamar mereka setelah melakukan briefing, dan wakil ketua BEM mengumumkan bahwa ada mahasiswi yabg bernama Kiki mengalami cedera di hutan pinus.

__ADS_1


"Hah?? Padahal kan niat kita cuma bikin dia ketakutan terjebak di hutan pinus!!" Queensya terperanjat mendengar berita itu. Mereka berempat saling mendekat, duduk di atas tempat tidur.


"Hmmm ... udah,udah! Kalian tenang aja! Cewek culun itu nggak akan berani membocorkan ulah kita!" ujar Wenny menenangkan teman-temannya.


"Iya, apalagi aku denger tadi kalo Kak Ferry udah jagain Kiki di rumah sakit. Kita nggak perlu kuatir, 'kan?" kata Rachel polos, melebarkan bola matanya sambil mengangguk-angguk tersenyum.


"Shit!" umpat Anggi. "Kita malah makin mendekatkan mereka!" lanjutnya kesal.


"Gadis itu memang sialan!" umpat Queensya.


"Trus, apa rencana kita selanjutnya?? Aku nggak ingin Kak Ferry berlama-lama di sana!" ujar Anggi.


"Queensya! Kamu telepon Kak Ferry agar pulang ke penginapan! Suruh dia bantu kita mengatasi program besok pagi!" ujar Wenny.


"Lalu, siapa yang jaga Kiki??" tanya Rachel.


"Kamu sebenarnya memihak siapa sih?? Dasar pe'a!!" seru Anggi pada Rachel.


"Aahh, iya, iya ...." jawab Rachel mengerucutkan bibirnya.


"Oke, aku telepon Kak Ferry."


Queensya segera menelepon Ferry malam itu juga.


*


"A-aku nggak tau, Na. T-tadi katanya mau keluar sebentar, se-sepertinya ada janji dengan Kak Ferry," jawab Dhea terbata-bata. Dia tak cukup nyali untuk mengatakan hal yang sebenarnya, meski dia kuatir dengan keadaan Yuki. Gadis itu berbaring dengan memunggungi Nana. Dia tak juga bisa memejamkan matanya.


Kabar tergelincirnya Yuki cepat tersebar setelah wakil ketua BEM mengumumkannya. Pintu kamar Dhea dan Nana diketuk oleh seorang panitia.


Tok! Tok! Tok!


Nana segera beranjak membukakan pintu.


"Kiki, teman satu kamar kalian, kan?" tanya seorang panitia kegiatan.


"Iya, Kak."


"Tolong besok bawakan barang-barangnya kalo pulang dari sini. Tadi dia tergelincir di hutan pinus dan tak sadarkan diri hingga harus dibawa ke rumah sakit. Jadi dia nggak bisa mengikuti kegiatan sampai selesai."


Nana dan Dhea sangat kaget. Terutama Dhea yang sangat merasa bersalah.


"L-lalu, bagaimana keadaan dia sekarang, Kak??" tanya Dhea cemas.


"Dia mengalami cedera kepala ringan. Namun, kondisinya tidak buruk. Dia udah sadar. Kak Ferry yang menemaninya di rumah sakit."


"Oh, makasih Kak, atas informasinya," ujar Dhea menunduk lemas.

__ADS_1


Setelah panitia itu kembali ke ruangannya, pintu ditutup.


"Dhea, besok kita jenguk Kiki, yuk!" ajak Nana.


Namun, apa yang diharapkan Nana tidak seperti kenyataan. Dhea menggelengkan kepalanya.


"Kamu aja ya, Na. Kayaknya aku nggak enak badan."


Dhea naik ke atas tempat tidur, lalu menarik selimutnya. Memejamkan matanya yang sulit untuk terpejam.


"Ya udah, kamu istirahat dulu. Aku juga mau tidur, moga Kiki segera sembuh, ya?"


Dhea hanya mengangguk lemah.


*


Ferry tersentak dan terbangun saat ponselnya berdering. Cukup nyaring di dalam kamar yang sepi itu.


Dia segera beranjak dan mengangkat panggilan dari Queensya.


"Halo," jawabnya.


"Kak Ferry, bisa pulang ke penginapan sekarang, kan? Tolong aku, aku harus mengatur program besok pagi. Sorenya kan kita udah pulang ke kampus, jadi malam ini kita harus udah susun program untuk besok!" jelasnya panjang lebar.


"Kan ada wakil ketua, lagian kemarin kan kita udah menyusun program ...." jawab Ferry.


"Nggak bisa, Kak! Program yang ini harus kita susun lagi karena adanya kecelakaan seorang mahasiswi di hutan pinus! Semua mahasiswa jadi ribut karena hal itu! Kita harus menyusun program yang sekiranya bisa diterima oleh mereka. Untuk program menyusuri hutan harus kita ganti. Tolonglah, Kak! Malam ini pulang, ya??" pinta Queensya.


Ferry menghela napas. Malam udah larut. Misinya malam ini agaknya harus gagal untuk menarik perhatian Yuki.


"Baiklah," jawabnya.


Keempat gadis itu bersorak gembira mendengar jawaban Ferry.


"Makasih, Kak! Kutunggu malam ini, ya!"


Gadis itu menutup teleponnya tanpa menunggu persetujuan Ferry.


"Yes! Kak Ferry mau pergi dari rumah sakit malam ini juga!" seru Queensya pada Anggi yang mulai tersenyum.


Ferry kembali mendekati Yuki yang sedang tertidur pulas. Obat tidur di dalam infus mampu membuatnya terlelap begitu dalam.


"Kiki, maafkan aku, aku janji akan segera kemari kalo urusan kampus udah selesai. Aku akan pulang dulu ke penginapan malam ini, karena tugasku belum selesai."


Lelaki itu memakai jaketnya, lalu beranjak keluar dari kamar, meninggalkan rumah sakit itu, membiarkan Yuki sendiri di sana.


***

__ADS_1


Maaf ya gaes, kalo update lama, karena ponsel udah sakit-sakitan hehe, jadi terpaksa tertunda-tunda...


__ADS_2