Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Menelepon Papi


__ADS_3

Minggu pagi datang dengan penuh keceriaan dua anak kecil yang saling berkejaran di dalam rumah. Gelak tawa mereka memenuhi ruangan. Yuki terbangun setelah mendengar kedua anak itu menabrak pintu kamarnya.


Usai mengistirahatkan tubuhnya sehari kemarin, makan teratur dan menelan vitamin yang diberikan oleh Bu Yayah, dia merasa lebih baik hari ini. Namun, hatinya belum baik. Lekuk wajah Cecilia masih mengendap dalam ingatannya. Cemburu? Mungkin.


"Kak Kiki!" teriak Aurel saat melihat perempuan itu membuka pintunya. Mentari telah mulai meninggi, tapi Bu Yayah memperbolehkan Yuki untuk bangun siang sampai badannya sehat. Hak istimewa untuk seorang asisten yang berhasil dalam usaha nasi boxnya melebihi usaha toko majikannya.


"Tangkap bolanya, Kak!" Aurel melemparkan bola ke arah Yuki. Refleks, dia menangkapnya dengan dua tangan, lalu melemparkannya lagi ke arah gadis itu. Aurel tak bisa menangkap, bola terlempar jauh hingga gadis kecil itu harus mengejarnya. Yuki mengambil kesempatan itu untuk berjalan ke kamar mandi, berniat membersihkan tubuhnya dengan wangi sabun mawar kesukaannya.


Saat melewati dapur, dia melihat tumpukan piring dan panci kotor yang seolah melambai, menyapanya.


"Fiuh, kerjaan. Semangat, Yuki!!"


Gadis itu segera masuk untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Terasa segar dan baru kali itu Yuki bangun jam delapan pagi. Usai mandi, dia mengambil spons lalu meremasnya dalam cairan sabun dan mulai menggosok peralatan dapur yang merindukan tangannya sehari kemarin hingga pagi ini.


"Kiki, udah sehat?? Wah iya, itu menumpuk, ya kotorannya??" kata wanita tambun itu berbasa-basi.


"Iya, Bu."


Yuki masih merasa beruntung mendengar basa-basi sang majikan, karena bukan amarah yang keluar dari mulut wanita itu.


Dengan cekatan dia menyelesaikan semua pekerjaannya. Seperti saat pertama datang, semua kotoran saling bertumpukan, tapi gadis itu telah berpengalaman, hingga semua begitu bersih tanpa pemborosan.


"Ki, berapa lama kamu magang?" tanya Bu Yayah.


"Tiga bulan, Bu!"


"Cepat juga, ya? Kukira tahunan."


Bu Yayah kembali memainkan ponselnya, kembali membaca gosip artis di layar.


Mendengar kata 'cepat', Yuki tersadar bahwa dia harus membantu Rangga secepat mungkin. Perusahaan itu harus diselamatkan. Dia harus menempatkan diri sebagai pegawai profesional, walau hanya magang.


"Aku nggak boleh lambat atau lengah! Aku harus menyelidiki yang terjadi di perusahaan itu!" gumamnya.


"Ki, lihat ini, seorang model yang posting saat dirinya berbagi uang ke orang jalanan. Cantik, ya?"

__ADS_1


Bu Yayah menyodorkan layar ponselnya agar dilihat oleh Yuki. Gadis itu membulatkan matanya lebar-lebar melihatnya. Cecilia! Ya, kenapa dia nggak stalking di ponsel?


"Oh, iya Bu, cantik tapi berkerut ...." jawab Yuki seraya berlalu.


Bu Yayah mengernyitkan dahi, lalu memperbesar tampilan gambar dan mendekatkan ponsel ke matanya, "Kerutannya nggak kelihatan, kok!"


Dia menggelengkan kepala, "Apa mataku udah minus, ya?" gumamnya sendiri.


Yuki mengambil ponselnya di dalam kamar yang telah ia kunci rapat, lalu mencari berita tentang Cecilia di internet. Gadis itu menemukan beberapa berita bahwa Cecilia adalah seorang gadis yang lembut dan baik. Berbeda terbalik dengan sosok yang dia temui di kantor Rangga. Yuki menerka bahwa Cecilia adalah wanita bermuka dua.


"Huft, kali ini aku perlu orang-orang papi untuk menyelidiki siapa Cecilia! Aku nggak rela jika dia berjodoh dengan Mas Rangga! Mm ... apa Cecilia ada kaitan dengan kemunduran perusahaan Mas Rangga? Kenapa dia dijodohkan dengannya?"


Yuki merasa aneh dengan semua itu. Dia memencet nomor papinya. Lama panggilan itu tak diangkat, tapi sebentar kemudian, seorang wanita paruh baya yang begitu merindukannya menjawab telepon itu.


"Yuki Sayang! Kenapa kamu baru menelepon, Nak?? Gimana kabar kamu? Kenapa telepon Mami nggak pernah kamu angkat?? Mami kangen, Nak!" sambut wanita itu memberondongnya.


Air mata Yuki hampir menetes mendengar suara maminya, tapi diteguhkan hatinya agar kuat. Masih banyak yang harus dia kerjakan.


"Mami, aku kangen juga sama Mami, tapi aku harus menyelesaikan misiku. Mami nggak perlu kuatir, aku baik-baik aja dan bersemangat! Mami, aku perlu bantuan ...." rengeknya. Gadis itu kembali dengan kata manja saat berbicara dengan ibunya.


"Mami, aku cuma ingin tau informasi seorang model yang bernama Cecilia, itu saja!"


"Oh, mudah sekali, hanya itu? Apa kamu nggak ingin Mami transfer uang??" tawar Nyonya Marlina Moon.


"Helloo Mami, aku bukan lagi anak Mami yang selalu membutuhkan uang kalian! Kalo soal uang, tunggu aja Mi, dalam waktu dekat, aku kirim uang syarat misi beserta bunganya lima puluh persen!" ujarnya yakin dan mantap.


Nyonya Marlina melirik ke arah suaminya yang tersedak mendengar perkataan anak satu-satunya di telepon yang telah di-loudspeaker.


Wanita itu menahan senyum sembari menutup mata dengan telapak tangan, "Oh, optimis sekali anak Mami, baiklah. By the way, untuk apa kamu mencari tau tentang wanita itu?" tanya Nyonya Marlina.


"Aku sangat memerlukannya untuk membantu kesulitan seseorang. Perusahaannya kritis, perasaanku bilang kalo dia ada hubungannya dengan semua itu, Mi!"


"Kesulitan seseorang atau kesulitanmu untuk mendekati seseorang? Ehm!" ujar wanita itu sengaja berdehem.


"Mami apaan sih," jawab Yuki merengut.

__ADS_1


Nyonya Marlina Moon tertawa, kerinduan menggoda anaknya agak terbayar di telepon.


"Jika hanya itu yang kamu butuhkan, sepuluh menit lagi kamu akan mendapat informasinya," ujar Nyonya Marlina yakin.


"Baik, Mami. Thank you, I miss you so bad," ucap Yuki.


"We miss you too, Dear! Take care yourself!"


"Salam ci*pok untuk Papi!"


"Yukii! Mami nggak pernah menci*pok Papi!"


Telepon ditutup. Yuki tertawa sambil menatap layar ponselnya, menunggu informasi yang akan dikirimkan dalam waktu sepuluh menit. Tuan Bhanu segera menyuruh asisten khususnya untuk menemukan informasi tentang Cecilia.


Tujuh menit kemudian, Yuki mendapat kiriman beberapa lembar informasi tentang Cecilia di ponselnya. Dia terhenyak ketika melihat bahwa ternyata orang tua Cecilia memiliki perusahaan yang cukup besar, sedangkan Cindy dan Melly disebutkan sebagai para sepupunya. Dia makin yakin akan adanya kecurangan di perusahaan itu berkaitan dengan perjodohan. Naluri kepemimpinannya menguat saat menganalisa permasalahan yang terjadi. Apapun bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu.


Yuki meletakkan ponselnya. Dia mulai berpikir bagaimana menguak kebusukan mereka.


*


"Papi, ternyata Yuki bisa membeli ponsel baru dengan usahanya sendiri, kenapa dia tak melakukan video call dengan Mami, ya?" Dahi wanita itu berkerut memikirkan hal itu.


"Mungkin dia tak ingin terlihat sedih saat melihat Mami."


"Ah, anak itu cepat sekali perkembangannya ya, Pi?? Dia mau menutup kesedihannya di depan Mami. Eh, kenapa Papi nggak mau angkat teleponnya?"


Tuan Bhanu kembali tersedak, "Nggak apa-apa, Mi!" ujarnya setelah beberapa saat meredakan diri.


"Papi pasti menghindar agar tak terlihat sedih juga kan?? Huh! Ternyata!!"


Pria itu tersenyum simpul mendengar kata-kata istrinya yang tepat sekali ditujukan padanya.


******


Hay kesayangan-kesayanganku semua .... Makasih udah mendukung cerita perjuangan Yuki ini ya? Semoga nggak bosan, hehehe .... Makasih yang udah beri rating lima, like, komentar, vote bahkan tip! Juga yang selalu memberi semangat! Semoga kita semua selalu sehat ya? Aamiin. TBC ....

__ADS_1


__ADS_2