
"Kayaknya kalian saling suka," bisik Nana pada Yuki saat mereka sedang berjalan ke kamar.
"Apaan sih? Nggak, Na. Kamu tau kan aku hanya berutang pada Kak Ferry?" jawab Yuki pada Nana.
"Beneran suka juga nggak apa-apa, 'kan? Lagian Kak Ferry keren juga lho, Ki!" ujar Nana menggoda Yuki.
"Nggak, Na ...." Yuki capek menjelaskan pada temannya itu. Sementara Dhea lebih banyak diam mendengar pembicaraan mereka.
Ketiga gadis itu masuk ke kamar, lalu berbicang sembari menunggu waktu. Tanpa terasa, mereka mengobrol hingga hampir pukul dua siang.
"Eh, ayo kita siap-siap pake jas almamater! Kegiatan akan segera dimulai!" ujar Dhea menyadarkan kedua temannya.
"Oh, iya! Ayo!" seru Yuki dan Nana serempak melihat ke jam dinding.
Mereka bergegas mengambil jas almamater lalu memakainya dan berhias diri, lalu segera keluar dari kamar.
Para mahasiswa baru telah berbaris rapi di aula penginapan, memperhatikan apa yang akan diarahkan oleh Dekan, Pak Hari. Beliau memberikan pengarahan agar para mahasiswa mencatat kegiatan untuk dibuat laporan dan berperan aktif dalam kunjungan ke usaha-usaha kecil di desa. Uang hang mereka kumpulkan akan diserahkan pada kepala desa sebagai modal untuk para warga yang membutuhkan.
Queensya telah berjalan kembali ke aula. Dia berhasil merayu Putra dengan ciuman untuk lelaki itu. Namun, tetap saja saat melihat Rangga lewat, matanya tak kuasa berkedip. Untung saja saat itu Putra tak berada di sampingnya kala berjalan kembali ke aula.
"Sialan, kenapa dia harus cakep dan keren banget sih?" gumam Queensya sambil menatap ke Rangga hingga cowok itu menghilang dari pandangannya.
Ketika sampai di pintu aula, ketiga temannya telah menunggu.
"Dari mana aja sih, kamu?" tanya ketiga pengikut Queensya kompak pada ketuanya.
"Iya, kita kewalahan tau, mengatur para mahasiswa baru kalo nggak ada kamu!" timpal Wenny.
"Ugh, merayu Putra, lah! Dia marah sama aku!" jawab Queensya dengan bibir yang mengerucut.
"Kenapa?" tanya Wenny.
"Gara-gara aku memandangi cowok terrrr-keren sepanjang abad itu! Rangga ... Rangga ... Rangga ...."
__ADS_1
Queensya menyebut nama Rangga berkali-kali dan memejamkan mata sambil membayangkan wajah idola barunya itu, seperti sedang benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ketiga temannya mendengus kesal, lalu kembali memperhatikan arahan Dekan.
Setelah selesai, kegiatan dimulai. Para mahasiswa mulai berjalan keluar penginapan untuk menyusuri desa-desa dan berhenti di rumah-rumah yang memiliki usaha kecil seperti pembuatan kerupuk rumahan dan sebagainya. Rupanya, para mahasiswa kampus elit pun melakukan kegiatan yang sama. Dengan berdebar, Yuki mengedarkan pandangan, mencari sosok Rangga. Ternyata, Rangga berada jauh di belakang mahasiswa baru kampus elit. Lelaki itu menyadari adanya Yuki.
"Eh, itu kan Kiki! Dia ikut kegiatan bakti sosial juga di desa ini dan rombongan mahasiswa kampus, ternyata kampus dekat rumah! Ah, baru tau aku ...." desis Rangga. Dia tersenyum dan melambaikan tangan pada Yuki. Wajahnya sedikit memerah teringat kebodohannya malam itu. Sedikit lagi dia berciuman dengan Yuki. Rangga menundukkan kepalanya karena malu. Namun, setelah Yuki kembali memperhatikan penjelasan pemilik usaha, dia menatapnya kembali.
"Hey, Bro. Lagi ngeliatian siapa?" Tepukan di pundak Rangga membuyarkan pandangannya.
"Ah, nggak siapa-siapa, Son!" kilah Rangga menjawab pertanyaan Sonny, temannya itu.
Sonny menggoda Rangga, "Pasti diantara ketiga cewek kampus X itu, kan?"
"Diem!" Rangga mulai kesal pada temannya itu. Mereka menatap ke arah Yuki dan kedua temannya.
Yuki kembali mengikuti kegiatan dan tak menyadarinya. Sementara, malah Nana menyadari pandangan Rangga ke arah mereka.
"Cowok keren itu melihat ke sini terus!" seru Nana pada kedua temannya, memecah konsentrasi.
Acara berlanjut, hingga sudah dua jam mereka mengitari pedesaan. Yuki sangat menyukai desa itu. Penduduknya ramah-ramah dan mau menjawab pertanyaan yang diajukan para mahasiswa dengan sabar, meski terkadang mereka menjawab menggunakan bahasa daerah.
Mereka telah sampai kembali di penginapan pada pukul empat sore. Ferry sebagai ketua BEM, memberikan pengarahan.
"Nah, selamat datang kembali di aula penginapan, adik-adik para mahasiswa baru. Sekarang kita bisa merangkum semua kegiatan yang baru saja kita lakukan. Kalian bisa beristirahat," kata Ferry melirik jam di tangannya.
"Minggu depan, laporan harus udah dikumpulkan dalam bentuk ketikan, mengerti??!" lanjutnya.
Terdengar suara jawaban mengerti para mahasiswa baru, ricuh menjawab arahan Ferry.
"Sekarang, kalian boleh kembali ke kamar kelompok masing-masing dengan tertib. Kalian bisa beristirahat dan beribadah. Untuk makan malam nanti, pukul setengah tujuh telah siap di aula."
Para mahasiswa kembali ke kamar masing-masing. Ferry mencegat Yuki saat sedang berjalan melewatinya.
__ADS_1
"Nanti malam setelah makan, bisa nggak kita ngobrol berdua aja?" tanya Ferry.
Yuki menghela napasnya, "Bukankah Kak Ferry bisa mengirimkan pesan aja lewat ponsel?"
"Aku berkali-kali mengirim pesan dan meneleponmu, tapi tak juga ada balasan. Please, nanti kutunggu di samping penginapan," ujar Ferry memohon.
"Hmmm ... baiklah, tapi hanya sepuluh menit saja!" tukas Yuki memberi syarat.
"Kenapa hanya sepuluh menit??" protes Ferry.
"Kita di sini kan di desa orang, maka kita harus menjaga perilaku. Jangan sampai lama-lama mengobrol di luar hanya berduaan!" jelas Yuki. Tambah lagi, dia malas untuk bertemu cowok itu.
"Oh, begitu. Oke, lah! Tapi apa sepuluh menit nggak terlalu singkat??" tanya Ferry memelas.
"Memangnya, apa yang mau diobrolkan begitu lama?" tanya Yuki mulai kesal.
"Eh, nanti aja. Ya udah, sepuluh menit nggak apa-apa, deh!" ujar Ferry. Pada akhirnya dia mengalah.
"Aku mau ke kamar dulu, Kak!" pamit Yuki menerobos ke arah Ferry yang menghalanginya.
"Oke, maaf mengganggu waktumu, Kiki yang cantik!" Lelaki itu memberi jalan pada Yuki.
Adegan itu ternyata diperhatikan oleh empat gadis yang sedang melipat tangan mereka.
"Dia membuatku kesal!" ujar Anggi saat melihat Ferry mengobrol dengan Yuki.
"Siapa yang nggak kesal pada gadis miskin itu??" Queensya menambah bara api yang membakar hati Anggi. "Kita berdua pernah dibuat kesal olehnya, 'kan?" lanjutnya lagi.
Anggi hanya mengerucutkan bibirnya, mengepalkan tangan lalu menghantamkan ke tembok. Kasar.
"Gimana kalo kita kerjain aja?" usul Wenny disambut dengan pandangan bingung ketiga temannya itu.
"Gini ... gini, kalo ada kesempatan, malam nanti kita ancam si culun itu untuk memintanya keluar kamar. Lalu kita bawa ke kamar, suruh dia menelepon gadis miskin itu mencarinya di hutan pinus! Dia akan tersesat semalaman di sana!" Keempat gadis itu tersenyum licik.
__ADS_1
"Boleh juga idemu!" puji Queensya tersenyum menyeringai.
Mereka tertawa sambil berjalan kembali ke kamar mereka di atas.