
Pertengahan tahun yang berat. Sepertinya ini berat untuk sebagian mahasiswa yang sedang menjalani skripsi.
Yuki sedang berkutat bab awal skripsinya. Setelah disetujui oleh pembimbing, maka bisa melanjutkan ke bab akhir. Pembimbing tak pandang bulu. Semua mahasiswa, siapapun itu tak terkecuali akan menjalani bimbingan dengan jujur dan obyektif. Yuki, Dhea dan Nana sering berdiskusi bersama dalam skripsi mereka. Hari-hari kebanyakan mereka habiskan di dalam perpustakaan untuk membaca buku referensi.
Usai kuliah, mereka memilih untuk mengobati haus di cafe biasa, depan kampus.
"Nana, apa rencanamu setelah lulus?" tanya Yuki sembari menyeruput vanilla latte.
"Kerja di perusahaan papaku, Nona Muda. Andai empat tahun yang lalu aku membangun usaha sendiri, mungkin hari bisa berkembang seperti usahamu ya, Nona Muda!" goda Nana.
"Hey, setiap orang memiliki nasib sendiri-sendiri, syukuri aja!" ujar Yuki.
"Nasib bisa diubah dengan usaha, Nona Muda!" tutur Nana lagi.
"Iya, betul!" tukas Dhea yang telah melepas kacamatanya dan mengganti dengan contact lens. Dia tampak cantik dengan rambut yang tergerai tanpa kacamatanya.
Dhea lebih percaya diri sekarang.
"Eh, gimana hubungan kamu sama Kak Sony, Na?"
"Masih jalan, Nona Muda!"
"Bisa nggak berhenti memanggilku seperti itu??"
Yuki melempar Nana dengan sebatang cheese stick.
"Jangan marah, Nona Muda, nanti kerutan akan terbentuk di wajah mulusmu!"
Mereka tertawa bersama.
Seorang lelaki berbaju safari hitam mendatangi meja mereka. Yuki terbelalak melihat lelaki itu. Dia meyakinkan diri, mengucek matanya.
"Fikri??" tanya Yuki.
Lelaki itu salah tingkah, malu. Beruntung kulit hitamnya tak menampakkan wajah merona di depan Yuki.
"Kamu kenal dia, Yuki?" tanya Dhea.
"Iya, dia kan tetanggaku waktu kerja di rumah Bu Yayah!"
Fikri semakin salah tingkah. Namun, tugasnya untuk menjemput majikan harus dijalankan.
"Ooh ... kalo gitu, aku pulang dulu, ya? Aku ada pelatihan membuat tas dari enceng gondok di rumah! Mama yang panggil tutornya," pamit Dhea.
"Oh ya, Dhea. Hati-hati. Daagh Fikri! Kerja yang bener!"
"I-iya, Mbak."
Yuki melambaikan tangan pada kedua orang itu.
Ternyata Fikri sekarang jadi sopir Dhea. Bagus juga, jadi nggak suka ngecer rokok di warung!
__ADS_1
"Yuki, aku nebeng, ya? Anterin aku ke tempat kerja Kak Sony!"
"Nebeng tapi mendikte, bagus itu!"
Nana terkekeh. Dia langsung menarik tangan Yuki untuk masuk ke mobil jaguarnya.
"Kak Sony itu punya bengkel motor sendiri. Namun, dia sepertimu. Memiliki usaha sendiri dari tangannya sendiri."
Nana berceloteh saat di dalam mobil. Yuki menyalakan mobil sambil mendengarkan celotehannya.
"Besok kalo udah lulus, kita jadi ya kencan bersama!" ajak Yuki.
"Iya, ada pantai yang bagus!"
"Oke ...."
Mereka sampai di depan sebuah bengkel yang lumayan besar.
"Udah, Ki. Kamu boleh pulang! Makasih, ya?"
Yuki mencibir, tapi seketika sumringah saat Nana meletakkan tiga batang coklat besar di jok depan.
"Itu upahnya."
Gadis itu menutup pintu mobil dan tertawa.
Yuki menjalankan mobilnya. Melihat Nana berkunjung ke bengkel Kak Sony, dia mendapat ide lalu melaju ke tempat yang ingin dia kunjungi. Kantor Rangga. Sudah lama dia tak berkunjung, sekalian mengantar makan siang ke kantor itu, karena ada sisa dua nasi box dari tempat Bu Yayah yang dia bawa pulang.
Lima belas menit kemudian, Yuki sampai ke kantor Rangga, memarkir mobil, kemudian menelepon kekasihnya agar tak membeli makan siang. Ternyata Rangga habis rapat dan dia memang sedang beristirahat di ruangnya.
Semua mata memandangnya kikuk. Yuki menyapa semua orang yang dia kenal, membuat suasana menjadi nyaman walaupun mereka menyadari sedang berbincang dengan anak konglomerat nomor satu. Kemudian dia bertemu dengan Zahra.
"Nona Yuki," ujarnya lirih.
"Kak Zahra ... apa kabar?"
Yuki memeluk wanita itu, lalu wanita itu pun lama-lama memegang punggung Yuki juga setelah semula takut.
"S-saya baik, Nona," jawab Zahra.
"Kenapa kalian melihatku seperti hantu, sih? Jangan pake 'Nona' juga donk, Kak Zahra!" protes Yuki.
"Maaf kalo selama mengenal kami, ada sikap yang tak berkenan di hati Non ... eh, maksudku, Yuki," ujar Zahra lirih.
"Kak Zahra, nggak ada yang membuatku kesal, kalian semua baik!"
Zahra mulai tersenyum.
"Mas Rangga di dalam ruangannya?" tanya Yuki.
"Iya, silakan masuk aja. Udah ditunggu, kok!" jawab Zahra.
__ADS_1
"Baik, makasih Kak!"
"Sama-sama."
Yuki melangkah memasuki ruangan Rangga, lalu mendapati lelaki itu sedang duduk menunggu.
"Mas, maaf nunggu. Tadi aku ketemu dulu sama para karyawan trus kangen-kangenan!" ujar Yuki.
"Iya, nggak apa-apa."
"Yuk, kita makan siang bareng, ya?"
Yuki membuka nasi box, kemudian menyerahkan untuk Rangga. Dia juga mengambil dua gelas kemasan air mineral dan meletakkan di depan Rangga.
"Trus, kapan wisudanya, Sayang?" tanya Rangga di sela makan siang.
"Enam bulan lagi, Mas."
"Kenapa lama? Apa kita tunangan dulu, lalu habis wisuda, kita nikah aja?" ujar Rangga.
"Mm ... aku juga kepikiran begitu, Mas."
Mata Rangga berbinar.
"Oke, nanti malam keluargaku akan datang ke rumah Tuan Bhanu. Kita tunangan nanti malam!"
Yuki terbelalak.
Sore itu, meski mendadak, tapi Tuan Bhanu menghargai kemauan Rangga. Dia salut dengan kesungguhan lelaki muda itu. Keluarga Yuki bersiap-siap untuk menyambut kedatangan keluarga Rangga. Para pelayan mempersiapkan ruangan sebagai tempat acara. Hiasan dari sebuah Wedding Organizer, rekan Tuan Bhanu. Namun, Yuki menginginkan bahwa acara pertunangan itu diadakan secara intern agar terasa khidmat.
"Ah, anak Mami udah dewasa ...." ujar Nyonya Marlina terharu.
Anak satu-satunya sudah akan bertunangan dan menikah begitu saja.
Yuki memeluk wanita yang melahirkannya dua puluh satu tahun yang lalu.
*
"Rangga, akhirnya jodohmu adalah gadis yang benar-benar Papa dan Mama harapkan. Papa sekarang percaya bahwa kamu bisa menjalani hidup dengan baik dan hebat bersama istrimu nantinya."
Pria paruh baya itu menepuk pundak anaknya.
"Mama juga minta maaf Rangga. Terlalu mengekangmu dalam mencari pendamping. Namun, ternyata kamu bisa mendapatkan seorang gadis yang begitu hebat. Tegar dalam hinaan, cercaan, dan sabar meski dia sebenarnya memiliki segalanya."
Nyonya Selly membenahi krah kemeja anak lelaki satu-satunya itu sambil menahan air mata.
"Aku juga telah yakin dengan Kiki, walaupun jika pada kenyataannya dia bukan anak konglomerat, tapi aku tetap akan menikah dengannya sejak semula mengetahui sikap dan sifatnya, Pa, Ma."
Kedua orang tua itu mengangguk mantap.
Mobil telah siap menunggu mereka untuk berangkat ke rumah Tuan Bhanu. Menyatakan ikatan yang lebih kuat dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Hanya keluarga inti yang datang ke rumah Tuan Bhanu karena ini hanyalah sebuah pertunangan dan lamaran akan mereka bicarakan nanti dengan keluarga Tuan Bhanu.
Mobil mulai melaju, Rangga mengamati cincin yang telah dia persiapkan untuk Yuki.