Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Dhea Muncul


__ADS_3

Esok hari itu ayam berkokok saling bersahutan seolah memberitahu kepada semua manusia bahwa mentari sudah akan menampakkan sinarnya. Yuki menguap lebar dan menggeliat, merenggangkan otot-ototnya yang semalam lelah, karena setelah acara dies natalies, dia bekerja dari pagi hingga petang memberesi pekerjaan-pekerjaan rumah. Beberapa tumpuk baju orang serumah yang telah rapi dia tata di keranjang semalaman.


Gadis itu menarik keranjang baju lalu menaruhnya di luar agar nanti bisa ditata oleh Bu Yayah di dalam lemari kamarnya sendiri. Kemudian dia berjalan ke dapur dan memasak masakan yang sederhana untuk makan pagi keluarga. Setelah selesai menyiapkan sarapan di atas meja makan, dia menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi.


Yuki mengguyur tubuhnya dengan air dari bak mandi. Pagi itu udara sangat dingin menusuk tulang.


"Dingiiin ...." ujar Yuki setelah guyuran pertama. Namun, dia tak punya pilihan. Mau tak mau, dia harus mandi dengan air itu. Tidak seperti di rumah mewahnya, dia bisa mengganti air sesuai dengan kehangatan yang diinginkan.


"Brrrrr ...." Bibir Yuki bergetar saat kembali membilas tubuhnya. Gadis itu menyelesaikan mandinya lebih cepat dari biasanya.


Yuki mengeringkan tubuhnya lalu memakai baju ganti, kemudian membawa handuk keluar sambil digosok-gosokkan ke rambut basahnya.


Ketika membuka pintu kamar mandi, dia terperanjat dengan adanya seorang Rangga yang sedang berdiri menuggu di sampingnya.


"Eh, Mas Rangga, maaf nunggu lama, ya? Handuk ada di jemuran samping, kemarin aku yang taroh-...."


"Kamu jadian sama Ferry?" potong Rangga.


Yuki terperanjat, tak menyangka bahwa lelaki itu akan menanyakan perihal hubungannya dengan Ferry.


"I-iya," jawab Yuki bingung.


Mata Rangga menatap tajam pada Yuki, menelusuri kejujuran di kedua bola mata gadis itu. Dia memang polos.


"Apa kamu udah tau gimana cowok yang baru jadian sama kamu itu? Apa kamu udah benar-benar mengenalnya??" selidik Rangga.


"Udah, eh belum!"


Ish, kenapa aku kehilangan ketegasanku sih?


Sekarang Yuki bak adik perempuan yang ketahuan pacaran oleh kakaknya. Dia menunduk, takut untuk memandang ke arah Rangga.


"Kalo nerima cowok, harus tau dulu orangnya baik atau nggak, jangan asal terima aja!" Rangga melipat tangannya, masih menatap ke Yuki.


Yuki kelimpungan, dia seperti seekor anak kucing yang menghadapi harimau yang marah. Menciut nyalinya.


Ingin rasanya dia protes, apa sih urusanmu? Aku kan cuma ingin menyaingimu, masa kamu jadian sama Nana yang baru kamu kenal, tapi aku jadian sama Ferry kok diatur-atur! Eh, tapi bener juga sih omongannya.


"Denger nggak??" ujar Rangga.

__ADS_1


"I-iya Mas," jawab Yuki.


Rangga berjalan ke kamar mandi menyenggol sedikit lengan Yuki hingga gadis itu agak tersentak tapi tak sampai terhuyung. Lelaki itu nampak kesal sekali.


Yuki berjalan masuk ke kamar, setelah Rangga menutup pintu kamar mandi. Yuki merapikan rambutnya, lalu menyapukan bedak tipis ke wajah. Dia tak bisa tersenyum karena peringatan dari Rangga. Pikirannya campur aduk.


Yuki keluar dari kamar setelah selesai berganti baju rapi. Rencananya, gadis itu akan berangkat kuliah pagi-pagi untuk menghindari Rangga yang hari ini seolah berubah galak seperti harimau. Selain itu, dia harus menyiapkan peralatan kuliah Pak Frans.


"Bu Yayah, saya berangkat kuliah dulu, ya?" pamitnya.


"Ya, kamu nggak sarapan dulu?" tanya Bu Yayah.


"Nggak, Bu. Saya bawa bekal. Nanti siang saya ada kegiatan kampus, mungkin pulang sedikit terlambat dari biasanya, Bu."


"Oh ... eh, kalo denger kegiatan kampus, jadi inget malam minggu kemarin kamu dicari cowok, namanya Ferry kalo nggak salah. Siapa itu??" tanya Bu Yayah menyelidik.


"Itu - ...."


"Pacarnya, Bi!" potong Rangga yang juga telah bersiap masuk ke mobilnya.


Bu Yayah telah melotot ke arah Yuki yang sedang kebingungan menjelaskan bagaimana pada wanita itu.


Sementara Rangga telah berpamitan dan masuk ke mobilnya, melaju meninggalkan mereka berdua. Yuki menunduk pasrah.


"Katamu mau nonton konser sama temen?? Kamu bohong sama aku, ya!! Pergi kemana kamu sama cowok itu??!" teriaknya di telinga Yuki.


"S-saya nggak bohong, Bu!"


Ugh, sialan Kak Ferry ngapain juga sih pake dateng-dateng ke rumah ini segala?? Benar kan ini jadi bencana!


"Buktinya, cowok itu kemari mau jemput kamu!!" bentak Bu Yayah.


"Tapi saya emang nonton sama temen, kalo cowok itu cuma nonton bareng-bareng sama saya dan temen perempuan, Bu! Saya udah terlambat, saya berangkat dulu ya, Bu!" pamit Yuki lalu berlari menjauh dari wanita itu.


"Aku nggak mau kamu hamil sebelum nikah, Kiki!!!" teriaknya.


"Amit-amit, Buu!!" jawab Yuki dari kejauhan, mengelus dadanya dan mengetuk-ngetuk kepalanya.


Yuki berjalan cepat agar tidak terlambat untuk menyiapkan materi Pak Frans. Dia segera masuk ke ruangan dosen itu setelah sampai lalu melakukan tugasnya. Kali ini, dia menyiapkan peralatan dan buku di ruang kuliahnya sendiri.

__ADS_1


Gadis itu duduk di kursi pojok. Belum banyak mahasiswa yang datang pagi itu. Sebentar kemudian, mereka bermunculan. Dhea datang menunduk lalu duduk agak jauh dari Yuki.


Raut wajah Yuki yang ceria berubah menjadi bingung saat dia akan sedang menyapa Dhea tapi gadis itu malah menjauh darinya.


"Aku salah apa, ya? Apa kejadian di penginapan itu membuatnya marah?" gumam Yuki. Lamunannya buyar saat Nana menepuk pipinya.


"Kenapa, Ki? Pagi-pagi ngelamun jorok, ya?" goda Nana yang langsung duduk di sebelahnya.


"Eh, nggak lah! Itu, Dhea udah datang, tapi kenapa ya dia bersikap seperti itu? Kayaknya dia sengaja menjauh dari aku," ujar Yuki lirih.


Nana melihat ke arah Dhea, "Iya, dia menunduk terus gitu, kayak nggak mau diganggu."


Nana melihat ke Yuki. Mereka menghela napas bersamaan.


"Ya udah, nanti kita samperin aja, ya? Coba kita ajak bicara," ujar Yuki.


Pak Frans masuk ke ruang kuliah setelah geng Queensya masuk terburu-buru.


"Queensya, kamu lama amat pake bedaknya!" omel Anggi.


"Iya, kita jadi terlambat, 'kan?" imbuh Wenny.


"Alah, bawel! Nggak terlambat juga!" elak Queensya.


"Empat mahasiswi yang baru masuk kalo masih ribut sendiri, keluar saja!!" Suara Pak Frans memenuhi ruangan, membuat keempatnya diam tak berkutik.


Pak Frans memulai materinya setelah semua tenang.


*


Ketika kuliah selesai, Dhea langsung keluar tanpa menunggu kedua temannya dan menghilang entah kemana.


"Ki! Dhea langsung pergi aja! Kita nggak bisa mengajaknya bicara!" ujar Nana mencari keberadaan sahabatnya itu setelah sibuk mengemasi buku-bukunya.


"Ah, pokoknya kita harus mengajaknya bicara! Nggak harus sekarang, besok masih ada kesempatan, Na!"


Dia masih merasa menyesal dan bersalah atas kebodohan dan ketakutannya dengan ancaman Queensya. Gadis itu menjadi gadis yang semakin penyendiri.


Dia duduk di belakang tembok kampus. Tak akan ada yang menyangka ada seorang gadis duduk di tempat itu. Sambil membenahi kacamata, dia memilih untuk mengambil sebuah buku dan membacanya. Itu hari pertamanya masuk ke kampus, tapi dia merasa tak nyaman yang dibuat sendiri. Baru membuka lembaran pertama, tiba-tiba gadis itu dikejutkan dengan pembicaraan dua orang di samping tembok.

__ADS_1


__ADS_2