Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Ungkapan Terima Kasih


__ADS_3

Tanpa terasa satu bulan berlalu usai penangkapan Cindy dan Melly, perusahaan itu mulai membaik, meski harus menjalani pemulihan nama baik karena produk mereka telah dikenal karena kecurangan. Sekertaris lama dan sebagian para pegawai terbaik pun mau kembali ke perusahaan dan Rangga tinggal menyaring pegawai baru.


"Kiki, apa kamu mau bekerja di perusahaanku?" tawar Rangga melihat potensinya.


Yuki tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Makasih atas penawarannya, tapi ada hal lain yang akan kulakukan Mas Rangga."


Rangga mendesah pelan, sedikit kecewa tapi itu pilihan gadis di depannya.


"Oh, baiklah. Semoga pilihan hidupmu yang terbaik. Kalo gitu, nanti malam aku traktir makan ya?" Mata Rangga penuh harap menatap gadis itu, membuat pipinya merona.


"Baiklah, Mas."


Nggak usah terlihat berharap seperti itu aku pasti mau, kok! batin Yuki.


Hari Sabtu itu hati Yuki berbunga-bunga, dia bekerja lembur dengan senang selama di kantor karena ajakan makan malam oleh Rangga.


"Kiki, kenapa menolak kerja di sini sih?" tanya Zahra. Dia telah merasa dekat dengan gadis itu selama satu bulan ini.


"Aku mau fokus kuliah dulu Kak Zahra, lagian ada sebuah usaha yang baru aku jalani sekarang. Jadi, aku harus memilih salah satu."


"Padahal kami butuh orang sepertimu untuk membantu perusahaan ini," harap Zahra.


"Kak, orang seperti kakak udah sangat baik bekerja di perusahaan ini. Aku hanya seorang anak magang yang kebetulan melihat kecurangan di dalam kantor," kata Yuki meyakinkan Zahra.


"Baiklah, apapun itu, kudoakan yang terbaik untukmu, Kiki! Makasih atas segalanya."


Yuki mengangguk. Badai yang menerpa perusahaan itu lama-lama menghilang, seiring menghilangnya Cecilia.


*


"Pa, perusahaan kita telah membaik. Ternyata, anak kita satu-satunya bisa mengatasi kegoncangan perusahaan. Sayang, Cecilia itu bukan anak yang baik. Sebetulnya jika dia tak jahat, aku setuju Rangga berjodoh dengannya."


Pak John Lee menelan obat dalam genggamannya, setelah itu dia menanggapi istrinya, "Iya, Ma. Rangga juga dibantu oleh Zahra dan satu lagi, anak magang."


"Anak magang?? Bagaimana dia bisa membantu Rangga? Bahkan dia tak memiliki banyak pengalaman, kan?" Mata Bu Selly terbelalak mendengarnya.


"Entahlah, mungkin suatu kebetulan saja, yang jelas kita perlu berterima kasih pada mereka. Zahra sudah diberi mandat naik jabatan ke manager produksi. Lalu untuk anak magang itu, kita tawari pekerjaan di perusahaan kita."


"Oh, begitu. Baguslah."


Mobil Rangga tiba di rumah pada sore hari ketika mentari mulai turun dari peraduan.


Bu Selly menyambutnya dengan gembira, "Rangga, sudah pulang, Nak? Hari ini pasti kamu lelah. Ayo, kita makan dulu. Makanan udah disiapkan!"


"Ma, Rangga nggak lapar."


"Oh, gitu. Kamu mandi dulu biar segar. Setelah itu kami mau berbincang denganmu."


Rangga mengangguk tak acuh, dia melewati wanita yang sedikit membuatnya kecewa karena pernah menyetujui perjodohan dengan wanita sejahat Cecilia. Itu berarti, sama saja menukar anaknya dengan keselamatan perusahaan, kan?

__ADS_1


Air dingin yang segar mampu meluruhkan rasa capek yang Rangga rasakan seharian ini. Beberapa hari ini memang menguras otak dan tenaganya di perusahaan. Namun, dia pikir itu masih beruntung, karena persoalan genting perusahaan bisa terselesaikan dalam waktu singkat. Bukan bertahun-tahun menunggu kebobrokan pada apa yang telah mereka bangun selama tiga puluh tahun.


Rangga berjalan ke arah kedua orang tuanya di ruang makan. Papanya melemparkan senyum, sedangkan mamanya menuangkan teh hangat di cangkirnya.


"Rangga, hanya dua kata yang ingin kami sampaikan, kamu hebat!" ujar Pak Lee mengawali pembicaraan mereka.


"Pa, ini pun tak lepas dari bantuan seorang gadis magang. Dia hebat, Pa!" ujar Rangga.


"Dia yang membuka pikiranku saat semua terasa kusut. Masuk ke perusahaan yang ternyata sudah akan kritis! Aku benar-benar dibuat pusing, tetapi gadis itu membuka pikiranku dan mengarahkan apa yang harus aku lakukan. Bukankah dia hebat, Pa??" oceh Rangga lagi, mengabaikan teh hangatnya.


"Iya, sudah kamu tawari dia pekerjaan di perusahaan kita?" tanya Pak Lee.


"Sudah, sayangnya dia menolak, yaa ... mungkin dia punya pilihan lain untuk hidupnya."


Gurat kecewa kembali terlihat sebentar di wajah Rangga.


Sementara tak banyak yang dibahas oleh Bu Selly. Wanita itu memilih untuk hanya menjadi pendengar. Dia tau, anak lelakinya telah kecewa akan keinginannya untuk menikahi Cecilia yang ternyata seorang penghancur licik.


"Rangga ...." Bu Selly akan berbasa-basi untuk sedikit berbaikan dengan anaknya itu, tapi bola mata Rangga melirik cepat ke jam tangan Rolex yang melingkari pergelangan tangannya.


"Pa, Ma, aku ada janji menraktir Kiki, gadis yang telah membantuku itu. Aku takut dia telah menunggu!"


Rangga segera beranjak, tak memberi kesempatan pada kedua orang tuanya untuk menanyainya lebih lanjut. Dia berlari keluar rumah, menyambar kunci mobil, tanpa menyentuh sedikit pun cangkir berisi teh yang mulai mendingin.


Bu Selly mendengus keras. Anaknya mewarisi sifat kerasnya juga.


"Pa! Gimana anak itu bisa tak acuh padaku ...."


Bu Selly mengerutkan dahi mendengar deru mobil anak satu-satunya menjauh dari depan rumah.


*


Yuki berjalan mondar-mandir di kamarnya. Semua pekerjaan rumah telah selesai dikerjakan, agar tak ada ganjalan saat pergi bersama Rangga. Namun, hatinya berdebar-debar. Ini selayaknya berkencan dengan seorang pacar.


Menunggu jemputan seorang lelaki dengan berdebar, meski lelaki itu pernah serumah dengannya, tapi degup jantungnya selalu saja tak bisa berirama dengan baik saat bertemu.


Yuki duduk di tepi kasurnya, dia melihat lagi ke cermin untuk belasan kalinya. Dia berdecak melihat bedak yang terasa begitu tebal walau telah diusapkan setipis mungkin. Sebisanya dihapus lagi dan mengusapkannya lebih tipis dari yang tadi. Lipstik pink dirasa telah cukup dioleskan ke bibirnya. Dia membiarkan rambutnya tergerai.


Yuki berdiri dan mematut dress sabrina emboss warna putih tulang yang menempel sempurna di tubuhnya. Dress itu dia beli mendadak tadi sepulang bekerja lembur di sebuah toko baju seharga tiga ratus ribu rupiah. Sangat murah dibandingkan dengan baju-bajunya di rumah. Namun untuk saat ini, harga dress itu sangat mahal bagi Yuki. Meski sayang uangnya, tapi gadis itu tak ingin tampil biasa saat berkencan dengan lelaki pujaannya, dengan baju-baju yang dia miliki.


Tak apalah merelakan uang tiga ratus ribu demi menarik Mas Rangga. Menarik?? Menarik lelaki yang telah memiliki kekasih? Aku termasuk pelakor bukan, ya?


Sedikit penyesalan dalam hati Yuki pada sahabatnya itu. Dia berjanji dalam hatinya, ini yang pertama dan terakhir dia menampilkan sisi menawannya pada Rangga.


"Maafin aku, Nana."


Yuki meletakkan kedua telapak tangannya di pipi sembari melihat dirinya di cermin. Suara klakson mobil membuatnya tersentak.


"Kiki! Ada Rangga tuh!" ujar Bu Yayah di depan pintu kamar Yuki, membuatnya kelabakan. Jantungnya sudah berdentum lagi.

__ADS_1


"Iya, Bu!"


Yuki keluar dari kamar. Bu Yayah yang masih berdiri di depan pintu terbelalak melihat gadis itu.


"K-kalian berkencan??" tanya Bu Yayah melihat Yuki dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Eh, nggak Bu. Hanya traktir makan karena saya telah bantu Mas Rangga."


"Tapi kamu berpakaian lain dari biasanya?"


Pandangan kagum Bu Yayah pada pembantunya itu belum juga sirna.


"Ya ... masa pergi sama CEO pakai pakaian biasa, Bu. Saya kan menghormatinya," ujar Kiki.


"Ooh ...."


Yuki meninggalkan Bu Yayah yang masih menatapnya. Sepertinya wanita itu berpikir untuk memulai dietnya lagi.


"Ayo, Mas Rangga."


Rangga berbalik, menatap gadis yang keluar dari rumah itu. Tak berkedip.


"Mas Rangga??" Yuki menggoyangkan tangannya di depan mata Rangga.


"Eh, i-iya, ayo."


Rangga bergegaa membukakan pintu mobil dan mempersilakan Yuki untuk masuk. Seperti seorang putri.


Yuki tersenyum, lalu masuk ke mobil. Rangga berpamitan pada Bu Yayah kemudian masuk ke mobil.


Selama perjalanan, Rangga tak mengajak Yuki berbicara. Lidahnya terasa kaku. Entah mengapa. Dia hanya sesekali menatap ke samping, mencuri pandang ke Yuki.


Keduanya salah tingkah.


Sesampainya di restoran, mereka menuju ke meja yang telah dipesan.


"Kamu bisa pesan dulu, Ki."


Rangga menyodorkan menu yang diberikan oleh pelayan.


"Iya, Mas."


Yuki menyebutkan nama makanan dan minuman disusul oleh Rangga.


Keduanya menunggu dengan saling membisu. Canggung rasanya.


"Mas, kalo Nana tau kita di sini gimana?"


Iseng-iseng Yuki membuka percakapan agar mencairkan suasana.

__ADS_1


"Itu maksudmu?" Rangga menunjuk ke belakang Yuki.


Yuki menengok cepat ke belakang. Seorang gadis yang begitu dikenal oleh Yuki sedang berjalan dengan pelan mendekati mereka berdua. Kaki Yuki mendadak terasa lemas. Senyum kaku menyambut kedatangan sahabatnya itu.


__ADS_2