Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Ejekan Queensya


__ADS_3

"Yukii ... besok udah perayaan pestanya dan kamu masih tenang-tenang aja mainan ponsel??" ujar Nyonya Marlina Moon melihat kelakuan anak gadisnya.


"Apa sih yang mau dipersiapkan lagi, Mi? Ini aku pun nggak mainan, cuma cek toko aja!"


Yuki membaca pesan-pesan masuk dari Bu Yayah dan Rangga.


"Ayo kita ke salon! Facial, rawat rambutmu, bleaching! Kulit kamu menghitam itu, ih anak siapa sih sebenarnya??" omel wanita yang sedang memoles lipstiknya itu.


"I-iya, iya!"


Yuki mematikan kembali ponselnya dengan gugup membaca pesan-pesan itu. Tak berani dia membayangkan apa yang akan terjadi besok siang.


"Udahlah, aku me-refresh sejenak pikiranku ke salon," gumamnya.


"Mi, salon biasa, kan??"


"Iya, kamu mau terekspos media di salon lain??"


"Nggak!!"


Nyonya Marlina tertawa terbahak mendengar anaknya.


"Eh, besok pengusaha yang mau menjodohkan anaknya dengan kamu juga diundang, lho!" goda Tuan Bhanu.


"Ish! Pokoknya nggak ada jodoh-jodohan!" seru Yuki.


Kedua orang tuanya tertawa.


*


Yuki mencoba gaun berwarna putih sederhana di bawah lutut model sabrina yang sangat indah keluaran terbaru dari Dion, merk terkenal seharga lima puluh juta tiga ratus ribu rupiah sebagai sponsor acara itu.


Gadis itu mematut diri di cermin, lalu menganggukkan kepala menyetujui dress sederhana itu pada ibunya.


"Oke, itu aja?" tanya Nyonya Marlina Moon.


"Satu aja, Mami, emangnya aku mau nikahan gonta-ganti baju??"


"Iya, iya."


Malam hari itu, Yuki tak dapat memejamkan mata. Dia tau akan ada berita besar besok tentang hari ulang tahunnya. Di media saja sudah santer kabar itu sepanjang malam ini.


"Gimana kalo Mas Rangga tau?"


Yuki menutup wajahnya, cemas seketika membayangkan reaksi kekasihnya itu. Marah? Benci? Senang? Bahagia? Terkejut? Tentu saja salah satu dari itu semua akan terjadi.


Acara itu telah disusun oleh sebuah event organizer atas arahan ... biasa, Maminya. Semua hal akan diungkap besok.


Yuki merasa gelisah, kadang berbaring ke kanan, sebentar kemudian ke kiri, dia ulang lagi berkali-kali, hingga saat malam tiba, dia baru bisa memejamkan matanya, hanya tiga jam lalu dini hari dia membuka matanya dan menyadari bahwa hari ini akan mengungkap segalanya.


Gadis itu bergegas melihat ke kaca, lalu mencuci wajahnya yang berkantung mata. Terlihat sangat lelah.


"Ya ampun anak ini! Kenapa sampe ada kantung mata panda sih??" teriak Nyonya Marlina melihat anaknya yang bangun dari tidurnya semalam.


"Ah, Mami nggak tau cemasnya aku hari ini, aku gugup, tau??"


Yuki mengerucutkan mulutnya.


"Acara masih nanti, ini masih sangat pagi, kamu kompres matamu, pake masker mata juga! Mami nggak mau kamu terlihat jelek! Kemarin udah perawatan masa rusak gara-gara mata panda!" omel Nyonya Marlina Moon.


"Iya, iya! Aku boleh cek kesiapan dapur nggak, Mi?" ujar Yuki.

__ADS_1


"Ealah ni anak, udah terserah, pokoknya nanti kamu harus siap setengah jam sebelum acara!"


"Jangan kuatir, Mi!"


*


"Wuah Bu, ini rumahnya?? Buagus bangeeeett!!" teriak para asisten memasak Bu Yayah saat pagi itu sampai di depan gerbang yang dijaga dua orang satpam.


"Mewahnyaaaa ....!!"


Mereka berteriak-teriak di depan gerbang, mengamati rumah itu dua meter dari depan gerbang yang sangat kokoh dan megah.


"E-eh, mbuka sendiri lho!"


"Jangan norak!"


Mereka sangat kaget ketika gerbang terbuka sendiri. Yuki menyuruh satpam untuk membukakan gerbang karena dia melihat serombongan asisten Bu Yayah dari jendela atas.


"Silakan masuk," sambut satpam.


"I-iya m-makasih Mas Saptam," jawab mereka.


Satpam menahan senyum melihat kegugupan para ibu itu hingga salah menyebut satpam.


"Saptamnya aja guanteng, tegap, gimana ya orang-orang yang di dalam??"


Seorang pelayan keluar dari depan, menyambut mereka dan mengarahkan mereka ke dapur.


Keempat orang itu terbelalak melihat jalan ke dapur. Lebih terbelalak lagi ketika sampai di dapur yang luasnya tiga ratus meter persegi itu. Semua peralatan tersedia tak terkecuali, dari model kecil hingga besar. Semua bahan makanan tersusun rapi di sana. Bahkan orang yang belum pernah masuk pun akan dengan mudah menemukan sesuatu yang dibutuhkan.


Lama mereka tertegun ketika sebuah tepukan menyadarkan kekaguman mereka.


"Hai Ibu-ibu!" sambut suara yang begitu mereka kenal.


Bu Yayah segera menarik tangan Yuki untuk masuk ke dapur.


"Ayo, Ki. Kita dapat undangan untuk membantu para pelayan. Kita siapkan dulu bahan-bahannya. Itu, di sana ada bahan makanan yang telah disiapkan!" seru Bu Yayah gembira.


Semua pelayan asli di rumah itu melongo melihat keberanian seorang wanita berpakaian warna warni. Jilbab pink, baju coklat dan celana putih, udah mirip getuk, sedang menyuruh-nyuruh Nona mereka.


"Siapa wanita itu?" tanya salah seorang pelayan.


"Entahlah!" ujar pelayan lain mengangkat bahu.


Mereka semua bergegas menyiapkan semua bahan makanan.


"Nona, tak usah ...."


Pelayan itu terdiam ketika Yuki menaruh telunjuk ke mulutnya dan tersenyum. Pelayan itu mengangguk dan meringis kebingungan. Namun, aktivitas tetap berjalan.


Yuki mendengar suara ramai lagi mendekati dapur.


"Ah, mereka pasti para pegawai toko!"


Gadis itu segera berjalan keluar dan menyambut mereka.


"Wah ... makasih kalian datang awal!"


"Iya, Mbak Kiki ... kita kan mau menyiapkan puluhan ribu snack! Ya jadi kita awal donk! Wah hebat ya dapurnya!!"


Mereka berseru saat melihat peralatan dapur seperti yang diucapkan oleh ibu-ibu yang tadi datang.

__ADS_1


"Wuih, kalo peralatannya besuar dan lengkuap seperti ini, hasilnya akan cepat dan buanyak!" seru mereka mantap.


"Ya, ya. Sekarang boleh langsung kerja, ya? Jangan lupa cuci tangan dulu, pakai celemeknya!" titah Yuki.


"Iya, siap, Mbak!" seru mereka kompak.


Mereka pun segera menyerbu bahan dan peralatan di dapur yang luas itu dengan senang.


Setelah melihat keasyikan semua dengan dapur, Yuki pelan-pelan meninggalkan dapur dan masuk ke kamar mandi kamarnya untuk membersihkan diri dengan air hangat dan berendam agar rileks. Tak terasa, karena mengantuk, dia tertidur di dalam bath tub.


*


Suara ketukan pintu mengagetkan Yuki. Dia bergegas menarik handuk kimono dan memakainya keluar.


"Iya!"


Yuki melirik ke dinding. Jam menunjukkan pukul delapan pagi.


"Hah?? Aku tertidur di bath tub lama sekali!! Konyol!!" teriaknya.


Nyonya Marlina Moon telah berdandan cantik di depan pintu seraya melipat tangannya.


"Anak bandel, apa yang kamu lakukan di kamar selama tiga jam?? Jangan bilang kamu berendam!!" ujarnya.


"I-iya, Mami ...."


"Ayo cepat! Tamu udah mau ada yang datang!"


"Pagi sekali?? Jam sepuluh kan acaranya??"


"Baguslah mereka nggak akan ngaret! Malah tuan rumah yang ngaret!"


"Iya, aku pakai daster dulu, mau ambil dress di mobil!" ujar Yuki.


"Eh, biar Sumi yang ambil!" sergah Nyonya Marlina.


"Sumi kan sibuk menyiapkan segala sesuatu biar aku sendiri, Mi!"


"Terserah, cepat ya! Perias udah ada di ruang ganti!"


"Iya ...."


Perdebatan itu memakan waktu sepuluh menit dan lima menit Yuki berlari ke arah mobil yang terparkir di depan.


"Ah, rumah ini besar banget sih! Jadi lama sampe depan!"


Yuki baru akan membuka mobil, sebuah suara membuatnya terkejut.


"Wuee ... gadis miskin!! Kamu di sini ngapain?? Pindah kerja? Baguslah gaji gede kan?"


Queensya melipat tangan melihat ke arah Yuki. Papa dan mama Queensya akan membicarakan sesuatu dengan kedua orang tua Yuki. Jadi mereka mampir dulu ke rumah itu. Kedua orang tua Queensya dan Candra langsung masuk, sedangkan anak-anaknya memilih di luar untuk mencibir Yuki. Candra hanya menatap gadis itu tersenyum-senyum.


"Oh, ternyata kalian itu kakak beradik??" tanya Yuki.


"Kalo iya, kenapa?" jawab Queensya.


"Pantas aja, sama otaknya nggak ada akhlak!"


"Hey, kamu kucium tau rasa!" ujar Candra.


Yuki tak menghiraukan. Dia segera mengambil dress lalu berlalu meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Huh!! Kalo udah nyerahin dress itu ke majikanmu, minta pecat, ya!!" seru Queensya kesal.


"Aku nggak akan kerja di sini lagi, tenang aja!" teriak Yuki tertawa.


__ADS_2