Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Usai Acara


__ADS_3

Semarak acara makin terasa saat sang artis datang. Dia menyapa rektor, para dosen, staff, dan para mahasiswa kemudian baru mulai bernyanyi di depan mereka.


Yuki dan Nana terhanyut dalam alunan lagu yang dinyanyikan, kadang mereka ikut berjoget, lupa akan masalah yang ada. Namun, kadang Yuki ingin menonjok Nana saat lagu yang mengalun mengungkapkan kesedihan karena ditinggal pas sayang-sayangnya.


Sementara Ferry hanya melipat tangan, membawa dua botol air mineral yang belum mau diterima oleh pacar barunya itu.


"Ki, seru banget ya?" ujar Nana.


"Iya," jawab Yuki singkat.


Seorang gadis berlari-lari dan melongok di kerumunan. Dia merengut kesal saat melihat ketiganya di depan panggung. Gadis itu mendekat dengan cepat, lalu menarik tangan Ferry dengan kasar.


"Kak Ferry! Aku cariin ternyata di sini! Kita banyak tugas!! Ayo ke balik panggung!!" ujar gadis yang tak lain adalah Anggi. Dia melirik tajam pada Yuki.


Gadis miskin sialan! Jadi dari tadi Kak Ferry hanya menemani dia!!


Anggi melengos saat Yuki hanya meliriknya sebentar, melihat siapa yang datang, kemudian menatap lagi ke arah panggung.


"Iya, bentar! Jangan tarik-tarik!" ujar Ferry.


Anggi melepas tangannya, lalu hanya berdiri menunggu Ferry berjalan. Tak disangka, lelaki itu malah berbisik di telinga Yuki.


"Aku ke balik panggung sebentar, ya?" pamitnya.


"Ya," jawab Yuki agak menjauh karena Ferry berbisik terlalu dekat ke telinga, membuatnya risih.


Anggi tambah meradang melihat hal itu. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa selain menjauhkan Ferry dengan membuatnya sibuk.


Ferry berjalan mendahului Anggi, menerobos kerumunan orang-orang lalu berjalan ke balik panggung. Gadis itu mengikuti Ferry.


Queensya dan geng membuat Ferry terlalu sibuk malam itu hingga acara hampir usai. Namun, tak berpengaruh juga pada Yuki.


"Na, kita pulang yuk, sebelum semua bubar! Nanti pintu keluar macet kalo kita pulang pas bubaran!" ajak Yuki.


"Kamu duluan aja, nanti aku nunggu jemputan. Lagian, lagunya masih satu lagi kok mau pulang aja!" tolak Nana.


"Ya udah, aku pulang duluan. Aku udah bilang sama Bu Yayah kalo nggak akan pulang kemalaman. Ini udah jam sebelas malam."


Yuki menatap layar ponselnya, melihat jam.

__ADS_1


"Nggak minta dianterin Kak Ferry?" tanya Nana.


"Nggak ah, deket juga tinggal jalan," jawab Yuki.


"Mm ... ya udah deh, kalo gitu. Hati-hati ya, Ki?" pesan Nana.


"Iya, kamu juga hati-hati ya, Na?"


Yuki memasukkan tangan ke dalam jaket. Udara dingin terasa berembus setelah dia berhasil keluar dari kerumunan orang-orang. Dia melangkah keluar dari gerbang kampus. Di depan gerbang, banyak panitia semester atas yang beberapa adalah teman Ferry.


"Lho, pasangan baru kok nggak dianterin?" celetuk salah satunya.


Yuki tak menanggapinya. Dia malah mempercepat langkahnya agar cepat sampai di rumah. Gadis itu berbelok ke gang belakang kampus yang sepi, lalu beberapa saat kemudian sampailah dia di rumah Bu Yayah. Dia tak menemukan mobil Rangga di depan rumah, begitupun di garasi.


"Buat apa juga aku mencari Mas Rangga, dia udah milik orang lain, aku pun begitu," gumamnya.


Yuki memutar slot pintu yang belum dikunci. Lampu ruang tamu telah padam. Dia menutup kembali pintu itu kemudian masuk melewati ruang tengah. Lampu di ruang tengah masih menyala. Bu Yayah masih duduk di depan televisi sambil tidur, sementara Pak Hendra masih menatap layar televisi.


"Pulang, Ki?" tanya Pak Hendra.


"Iya, Pak."


"Pintu depan nggak kamu kunci, kan? Rangga belum pulang," ujar Pak Hendra lagi.


"Ya udah," jawab Pak Hendra kembali menatap layar televisi. Setoples kacang hampir habis dengan tangan pria itu nangkring di mulut toplesnya.


Yuki masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu masuk ke kamarnya, berniat untuk memejamkan mata. Namun, matanya tak juga mau terpejam. Dia belum mendengar kepulangan sang pujaan hati. Alhasil, gadis itu hanya mengerjapkan matanya, menatap langit-langit kamar.


*


Sementara itu di kampus.


"Fer! Cewek kamu pulang sendirian, tega kamu!" Sebuah tepukan di punggung mengagetkan Ferry yang sedang akan membagi dooprize.


"Kamu lihat?" tanya Ferry pada temannya itu.


"Iya, dia jalan sendiri. Baru aja kamu posting foto kalian berdua, ehh dibiarin aja sendiri, mentang-mentang ...."


"Pssssttt!!" potong Ferry melotot.

__ADS_1


Ferry lalu tertawa dan mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu lalu dikirim ke nomor Yuki.


[Kiki sayang, kenapa pulangnya nggak nunggu aku, sih?]


Ferry berhasil mengirimkan pesan itu. Namun, masih seperti biasa, tak ada jawaban dari si penerima meski status mereka telah berpacaran.


Lelaki itu memasukkan kembali ponselnya ke saku kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.


Di sudut lain, ketiga anggota geng Queensya telah melipat tangannya. Mereka menunggu Anggi membuka-buka aplikasi hijau dan melihat postingan status Ferry. Dia mengerutkan dahi melihat apa yang baru diposting lelaki itu.


"Hah?!?" teriaknya.


"Eh, kenapa, kenapa?" Mereka berdesakan melihat ke layar ponsel Anggi.


Rachel membaca status Ferry di layar ponsel Anggi, "Akhirnya, dapet juga, hahaha!"


"Dapet apa sih??" tanya Rachel.


Ketiga temannya tak menghiraukan. Mereka berusaha menenangkan Anggi yang sudah sangat murka.


"Tenang, Nggi. Mereka bakalan putus, kok!" ujar Queensya.


"Putus gimana?" Mata Anggi mulai memerah. Lelaki itu adalah lelaki pujaannya sejak duduk di bangku SMP. Pertama kali dia menyukai seseorang.


"Nggak bakal lama, masa Kak Ferry suka tipe cewek yang nggak modis gitu, sih??"


"Buktinya, mereka jadian!!" teriak Anggi. Hampir saja ponselnya terbanting jika Wenny tak menahannya.


Anggi menangis sejadi-jadinya, "Aku benci cewek miskin itu!!!"


*


Yuki membuka pesan dari Ferry, lalu menutup ponselnya kembali. Dia masih berbaring dan berguling ke kanan, lalu sebentar ke kiri. Gelisah.


"Kenapa sih aku menunggumu!! Dasar cowok menyebalkan! Punya orang masih kutunggu aja!" Dia mengubah posisi menjadi duduk di atas tempat tidurnya, kemudian membaca buku apapun yang ada di atas nakas. Buku pengembangan bisnis.


Dia menatap ke arah jam di dinding, "Udah mau jam setengah satu, kalo dihitung-hitung, pas ini waktunya mengantar Nana sampai ke rumah. Acara kampus paling kelar jam dua belas malam. Lalu berdesakan lima belas menit, trus perjalanan ke rumah Nana lima belas menit. Harusnya dia udah sampai ke rumah. Kecuali kalo mampir-mampir! Ah, kenapa sih aku memikirkan itu?? Uuuugh!!"


Yuki mengacak rambutnya sendiri. Dia merasa kesal dengan pikiran dan perasaannya. Kenapa dia jatuh cinta dengan pacar sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Sebentar kemudian, suara Rangga terdengar. Dia berbicara sebentar dengan Pak Hendra dan tak jelas apa yang mereka bicarakan, lalu suasana kembali hening malam itu.


Yuki memasang telinganya. Meski begitu, dia tak juga bisa mendengar jelas, karena mereka berbicara sangat pelan. Gadis itu mulai menguap lebar. Dia merenggangkan otot-ototnya, lalu berbaring lagi dan mematikan lampu kamar. Baru Yuki mulai bisa tidur pulas setelah tau Rangga telah pulang.


__ADS_2