
"Kiki ... kita putus!"
Yuki terperangah mendengarnya. Kalimat itu begitu menghujam ke jantung, membuatnya pusing hingga terhuyung. Dia mencoba berdiri tapi tak sanggup. Samar-samar dia mendengar teriakan Rangga. Namun, semuanya menjadi gelap seketika.
Yuki membuka mata perlahan, matanya melihat sekitar dan menyadari bahwa dia telah berada di kamar mewahnya. Dia melihat Rangga sedang memegang tangannya.
"Kiki ... Kiki! Kamu sadar?" tanya lelaki itu cemas.
"M-mas Rangga benarkah kamu mau kita putus??" Dienyahkannya tangan lelaki itu saat akan memberinya minum teh hangat yang dibuatkan oleh pelayan.
Rangga tersenyum, "Iya, kita putus, tapi kamu belum selesai mendengarkanku sudah pingsan."
"Jadi, apa yang mau Mas Rangga katakan sebenarnya?" tanya Yuki sambil mencoba duduk. Rangga dengan lembut membantu gadis itu untuk duduk.
"Kita putuskan untuk menyetujui perjodohan itu," jawab Rangga.
Yuki berbinar seketika, ternyata lelaki itu belum selesai bicara, tapi dia sudah ketakutan setengah mati.
"Mas, aku benar-benar takut kehilanganmu. Aku baru menemukan seseorang yang menerima aku apa adanya, bukan karena harta dan jabatan, tapi kamu mencintaiku karena diriku yang sebenarnya. Apa jadinya jika semua telah mengetahui siapa aku, tentu mereka akan berebut mendapatkanku hanya demi harta," ujar Yuki terisak.
"Maafkan aku, Sayang. Baru kali ini aku melihat Kiki yang lemah. Ternyata, akulah sumber kelemahanmu."
Rangga duduk di sisi ranjang, memeluk Yuki, menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya dan mencium keningnya.
"Mas Rangga ...."
"Iya ...."
"Baru kali ini juga ada lelaki yang masuk ke kamarku," ujar Yuki.
Rangga menyadari dan tertawa.
"Untung kamu pingsan, kalo nggak, aku nggak akan melihat isi kamarmu ini, begitu juga segitiga polkadot yang kamu lempar di sampingmu itu."
Yuki bergegas meluruskan punggungnya, menatap ke arah rak, tadi dia menarik dua segitiga dan tergesa karena keributan maminya menyuruh untuk cepat. Lalu dia lemparkan satunya begitu saja di atas tempat tidur.
"Kyaaa!! Tutup matamu Mas Rangga!!"
Yuki menarik segitiga itu lalu turun dari tempat tidur dan memasukkannya ke dalam lemari. Sementara Rangga tergelak melihat kelakuan gadis itu.
Suara ketukan pintu membuat tawa mereka terhenti. Yuki segera berbaring lagi di atas tempat tidur dan menyuruh Rangga untuk membukakan pintu kamar.
"Oh, Rangga, Yuki udah sadar ?" tanya Nyonya Marlina.
"Udah, Tante ...."
__ADS_1
Nyonya Marlina tersenyum dan masuk ke kamar Yuki diikuti oleh Rangga.
"Yuki, kamu kenapa, Nak? Kecapekan?" tanya Nyonya Marlina.
"Dia ...."
"Iya, aku kecapekan, Mi," jawab Yuki memotong ucapan Rangga.
"Kamu belum makan kan tadi pagi?? Dibilangin buruan, kenapa nggak segera makan malah mondar-mandir ke dapur!" omel Nyonya Marlina.
Yuki hanya meringis.
"Untung Rangga tadi langsung membopongmu dan pelayan meminta Rangga membaringkanmu di kamar."
"Pestanya gimana, Mi?"
"Udah selesai, para tamu udah pulang. Papi sedang menemui beberapa koleganya."
"Lalu para pembantu pelayan yang kuundang?"
"Mereka juga udah pulang diantar oleh sopir, makanan yang banyak itu Mami suruh mereka untuk membawanya," ujar Nyonya Marlina.
"Oh ... ya udah. Besok aku masih akan ke rumah Bu Yayah untuk mengurusi pesanan dan ke toko."
"Boleh."
"Besok saya antar, Nyonya," tawar Rangga.
"Kok masih panggil Nyonya? Tahun depan pertunangan kalian akan diumumkan lho," protes Nyonya Marlina pada Rangga.
"Eh, iya. Mami ...." kata Rangga.
Nyonya Marlina tersenyum dan mengelus lengan Rangga.
"Cita-citaku untuk memiliki anak laki-laki akan tercapai juga," ujarnya.
"Ah, Mami ...."
Yuki tersipu malu mendengar ucapan maminya. Sementara Rangga hanya tersenyum.
*
Bu Yayah menyandarkan diri di kursi setelah selesai memasak untuk pesanan. Beberapa pembantu langsung memasukkannya ke dalam mika dan kardus.
Tiga ratus dua puluh kardus sehari itu mulai di proses. Bu Yayah memakan snack yang kemarin dibawakan dari rumah mewah Yuki. Sudah dibagi-bagikan ke tetangga pun sekarang masih ada saking banyaknya. Aurel pun membawa beberapa untuk dibagi rata ke teman-teman dan para guru.
__ADS_1
Matanya masih menerawang sambil mengingat hari kemarin bahwa Kiki adalah anak seorang miliarder nomor satu senegeri itu.
"Ternyata cerita sinetron ada di dunia nyata."
Bu Yayah tak habis pikir dengan kejadian kemarin.
Suara riuh para ibu-ibu yang membicarakan kejadian kemarin juga tak mampu menarik perhatiannya. Dia malah takut untuk mendengarkannya dan ikut membicarakan Nona Yuki karena hari kemarin satu kampung telah gempar dengan berita itu.
Wanita itu memilih untuk duduk menjauh di depan televisi dan menyalakan televisi dengan keras agar tak mendengar pembicaraan ibu-ibu itu. Namun, yang terjadi malah acara televisi menayangkan tentang ulang tahun Yuki Amaranggana kembali. Dia segera mematikan televisi lagi.
Bu Yayah memejamkan mata sejenak. Setelah beberapa saat pagi itu sopir angkot langganan membawa kotak-kotak itu dan diantar ke kantor-kantor.
"Bu Yayah, kami pulang dulu."
Ibu-ibu itu berpamitan pulang.
"Maaf ya, kemarin belum ada upahnya," ujar Bu Yayah.
"Nggak apa-apa, Bu! Makanan yang kami bawa sudah sangat cukup, bahkan kebanyakan, tapi enak-enak semua!" seru mereka.
Bu Yayah mengangguk-angguk. Ibu-ibu itu kembali ke rumahnya masing-masing untuk beristirahat, karena nanti siang sudah kembali lagi ke rumah Bu Yayah.
Wanita itu berbalik, ketika sebuah mobil datang dari arah depan gang. Dia kembali menengok arah suara mobil.
"Oh, mobil Rangga datang."
Mobil sampai di depan halaman rumah Bu Yayah. Ketiga orang, Rangga, Yuki dan Nyonya Marlina Moon turun dari mobil membuat Bu Yayah menjadi gugup. Satu orang laki-laki lagi masih berada di dalam mobil.
"N-nona, Ny-nyonya, k-kenapa, a-da a-pa, ya?"
Dia ketakutan saat melihat keduanya. Dikiranya mereka akan menindak perlakuannya pada Yuki di awal kedatangan nona muda itu.
"Bu Yayah, kami mau bertamu," ujar Nyonya Marlina lembut dan penuh wibawa. Dress merah dan sepatu high heels merahnya pun membuat wanita cantik itu semakin mempesona.
Begitu juga Yuki yang sekarang berbeda penampilannya dengan keseharian saat di rumah Bu Yayah. Ya meski memakai baju biasa pun dia tampak cantik, tapi kali ini tatanan rambutnya tampak indah dan memakai dress juga walau tak segemerlap ibunya.
"Si-silakan duduk, Nyonya! Nona! Rumahnya sangat berantakan."
"Aku bereskan, Bu Yayah!" seru Yuki.
"Haish, Nona! Jangan begitu! Saya ... saya yang terlalu lancang menyuruh-nyuruh anda selama di rumah ini!"
Wanita itu menepuk-nepuk pipinya sendiri, menunjukkan penyesalannya. Menunduk lesu.
Dia sungguh takut akan kekuasaan keluarga itu, keluarga pengusaha yang hanya dia lihat di televisi, tapi sekarang dia melihat mereka nyata, bahkan mempekerjakan anak mereka menjadi asisten rumah tangganya.
__ADS_1