
"Kiki, kamu jangan menyerah, ya? Aku akan berdoa juga demi kesuksesanmu, demi kita," ujar Rangga.
"Iya, Mas Rangga. Aku hanya perlu waktu. Jalannya udah ketemu."
"Aku percaya sama kamu, Ki."
Rangga memegang tangan kekasihnya itu. Makin hari, gadis itu makin cantik dan berani dengan usahanya. Dia menerima ratusan pesanan setiap hari hingga harus beralih kuliah ke kelas parallel. Berita Queensya dan kawan-kawannya pun jarang lagi terdengar.
"Kiki, kami kangen ...."
Dhea dan Nana menghambur memeluk Yuki saat bertandang ke rumah Bu Yayah. Kadang mereka membantu sekedar membungkusi pisang atau kerupuk saat datang.
"Aku juga kangen kalian, tapi banyak kerjaan yang harus kulakukan!"
"Iya, kami tau. Sekarang Dhea yang menggantikanmu jadi asisten pak Frans!" ujar Nana sambil menggigit kerupuk bantet yang tak dipakai untuk pesanan.
"Pak Frans itu baik kok!" ujar Yuki.
Gelak tawa mereka bertiga menghiasi rumah itu.
Bu Yayah pun tak kalah mengumpulkan uang di rekeningnya. Wanita itu salut pada Yuki yang berhasil membawa usaha di rumahnya. Gadis pembawa berkah. Itu yang dinobatkan pada Yuki setiap berbincang dengan suaminya.
*
Satu tahun berlalu, setelah bersusah payah Yuki mengumpulkan uang dari hasil pesanan dan juga gaji bulanan dari Bu Yayah, dia menghitung jumlah uang yang ada di bawah kasurnya. Dia telah menumpuk uangnya setiap satu juta rupiah.
"Satu, dua, tiga, ..., empat puluh dua juta!"
Mata gadis itu berbinar-binar. Dia segera akan menelepon kedua orang tuanya.
"Fyuh! Ternyata mengumpulkan uang tiga puluh juta tak semudah yang kubayangkan. Aku harus bekerja keras demi ini. Dua tahun ini aku tak memperdulikan apapun. Bahkan Mas Rangga pun jarang kuperhatikan. Namun, usaha, kerja keras dan doaku membawa hasil."
Gadis itu memencet nomor maminya.
Tuuuuut ... tuuuuut ....
"Ah, kemana sih? Sok sibuk amat!"
Setelah tiga kali Yuki menelepon, suara wanita yang sangat dia rindukan terdengar di seberang sana.
"Halo, anakku!! Selamat ya, kamu dapat IP hampir empat! Mami dengar dari Om Hari, dia memberitahukan tentang kemajuanmu selama kuliah secara intens!" seru wanita itu dari ponselnya.
Denger itu aja Mami girang sekali, apalagi dia dengar kalo aku udah ngumpulin misi.
"Mami, aku udah punya uang tiga puluh juta beserta bunganya."
Yuki menutup telinganya mendengar teriakan wanita di seberang sana. Entah apa yang dia lakukan hingga Yuki memanggilnya beberapa kali tapi tak ada jawaban. Mungkin juga ponselnya dilempar begitu saja dan melakukan selebrasi. Yuki mendengkus.
"Ha-halo, halo!!"
Akhirnya setelah beberapa saat, wanita itu kembali mengambil ponselnya dan menjawab anak gadis kesayangannya.
__ADS_1
"Iyaa ... Mami ngapain barusan?"
"Mami peluk-peluk si Sumi, abisnya seneng anak Mami mau pulang ke rumah!"
"Iya, Mami. Besok Jumat sore aku akan pulang bawa uang itu ...."
"Yess!!" teriak Nyonya Marlina lagi.
"Namun, ada hal yang harus kulakukan lagi," ujar Yuki.
"Apa itu?" tanya Nyonya Marlina.
"Rahasia," jawab Yuki berteka-teki.
"Terserah kamulah, yang penting besok Mami tunggu kedatanganmu di rumah."
"Iya, Mi."
Telepon ditutup. Wanita paruh baya itu membuang semua image-nya sebagai nyonya besar. Dia melonjak-lonjak kegirangan memeluk semua pelayan di rumah mewah itu.
"Kalian semua akan mendapat bonus besok saat kedatangan anak gadisku yang pandai itu!"
Semua bersorak kegirangan.
*
Hari Jumat setelah pulang kuliah, Yuki menemui majikannya.
"Oh, iya, iya. Orang tuamu pasti juga merindukanmu! Dua tahun kamu nggak pulang, kan?"
"Iya, Bu!"
"Lalu, kapan kamu akan kembali? Pesanan akan menunggu kita!"
"Hari Senin saya udah kembali, Bu."
"Oh, ya. Kutunggu."
"Tolong jangan bilang ke Mas Rangga kalo saya pulang. Nanti dia kuatir dengan saya," pinta Yuki memohon.
"Kalo dia tanya?"
"Bilang aja saya baru nginep di rumah Dhea."
"Oh ... baiklah, tapi kamu pulang beneran, kan?"
"Iya, Bu. Nanti saya kirim foto sama keluarga."
"Iya. Ya udah sana siap-siap dulu. Kamu pasti tak sabar ingin bertemu orang tuamu, kan? Ini kuberi uang tambahn untuk diberikan ke orang tuamu, ya?"
Bu Yayah mengulurkan lima lembar uang merah ke tangan Yuki.
__ADS_1
"Eng ... nggak usah repot-repot, Bu!" tolak Yuki.
"Ssssh ... terima aja! Katamu mereka pedagang kecil, kan? Uang segini bisa untuk tambah-tambah buat mereka."
Bu Yayah tak tahu jumlah uang yang Yuki kumpulkan dengan teliti dan menghemat. Dia pun memaksa Yuki untuk menerima uang itu.
"Mungkin sekarang kamu punya banyak uang untuk kamu berikan ke kedua orang tuamu, tapi aku juga boleh kan menambahinya?" tanya Bu Yayah.
Akhirnya Yuki mengangguk dan menerima uang itu. Dia akan membelikan baju untuk Wildan dan Aurel sepulang dari rumahnya nanti.
"Makasih, Bu Yayah, saya mau bersiap dulu," ujarnya.
"Ya, sana ... sana."
Yuki menyiapkan uang di dalam tasnya, lalu memencet aplikasi taksi online untuk mengantarnya pulang. Dia tak menyiapkan bermacam barang, karena di rumahnya sudah pastu tersedia banyak barang yang dia butuhkan. Dalam waktu lima menit, taksi itu telah berada di depan rumah Bu Yayah.
Yuki segera berjalan membawa tasnya dan berpamitan pada Bu Yayah.
"Bu, saya pamit dulu, ya?" ujar Yuki.
"Ya, hati-hati, ya? Sementara aku akan ambil si Mina anak Bu Rofi yang baru saja di-PHK buat gantikan sementara dua hari kamu libur."
"Iya, Bu."
Yuki masuk ke taksi. Mobil itu melaju ke kota tempat rumah mewah Yuki berada.
*
"Kita harus menyambut Nona Muda, ah ... dia seperti apa sekarang?" tanya para pelayan.
Taksi telah memasuki kawasan rumah elit yang berukuran empat ribu meter persegi itu.
"B-bener, Mbak rumahnya sini?" tanya sopir taksi takjub melihat kawasan rumah itu.
Bagaimana tidak, dari gerbang depan sudah terlihat kemewahannya, dijaga oleh dua satpam di dalam dua buah pos satpam.
"Belakangnya kok, Pak!" jawab Yuki dusta agar tak memperpanjang masalah.
"Ooh ... kirain Mbak rumahnya itu yang mewah banget! Wah kalo rumah kayak gitu, nggak bisa tidur saya," kelakar sopir taksi itu.
Yuki tertawa mendengarnya. Dia mengulurkan uang ke sopir taksi itu. Lalu berjalan pelan bersama kepergian taksi. Gadis itu berdiri sebentar menatap rumah tempat ia dibesarkan.
Satpam membukakan gerbang melihat nonanya datang. Semua pelayan berjajar rapi menyambut kedatangan Yuki.
Sopir taksi melaju dengan kencang. Sejenak dia berpikir dan mengamati rumah mewah itu dari belakangnya.
"Belakang rumah itu nggak ada apa-apanya, si mbak itu bohong kali, ya? Padahal cuma satu-satunya rumah di kawasan itu. Ah, nggak tau lah, yang penting bayar!"
******
Hai ... hai, kesayanganku semua ... masih sabar kan?? Kasih komentar donk biar aku tau seberapa kalian suka sama cerita ini .... Hehehe
__ADS_1