
Yuki berdiri di kebun rumah Queensya dengan rasa puas. Dia menyesap minuman sembari melihat tontonan sepasang kekasih yang seharusnya bahagia di hari ulang tahun si perempuan, tapi malah bersitegang di pojok ruang tengah mengulas tentang nama mantan yang mereka anggap miskin ternyata setara dengan nama si perempuan.
Dia terbahak bersama dengan Dhea dan Nana di halaman belakang. Sementara geng Queensya pun tak dapat melakukan apapin karena menjaga image di pesta dengan ratusan orang itu.
"Psst, siapa itu yang datang?" ujar Dhea menyenggol lengan Yuki.
Ferry dan Candra, dua brengs*k di mata Yuki datang dengan tergesa membawa dua buah kado kecil dan meletakkannya di atas meja untuk kado.
Mereka berdua langsung mendekat ke cewek-cewek cantik di kebun belakang, tak menyadari kehadiran Yuki.
"Cap buayanya permanen," ujar Yuki membuat kedua temannya kembali tertawa.
Ferry menangkap sosok Yuki dan menatapnya dari jauh, sementara gadis itu tak memperdulikan tatapannya. Malah si Anggi yang bingung mencari perhatian Ferry.
"Ah, ini mah sama kayak nonton sinetron di rumah, yuk kita pulang! Kalian udah puas belum makannya? Kalo belum, kita mampir ke toko. Makanlah sepuas kalian!" ujar Yuki.
"Asyeek ... ditraktir bos!" kelakar Nana.
Mereka bertiga tertawa puas meninggalkan rumah yang entah akan seperti apa akhir dari cerita ulang tahun mewah itu.
*
"Index prestasiku tiga koma sembilan puluh lima, hampir empat!" seru Yuki pada kedua sahabatnya saat transkrip nilai ujian akhir telah keluar.
"Bagus banget! Aku tiga pas!" ujar Nana.
"Aku tiga koma lima puluh delapan, di bawah Kiki sedikit!" kata Dhea.
Ketiga gadis itu berkumpul di bawah pohon depam kampus sambil mengobrol.
"Ki, apa rencanamu selama liburan ini?" tanya Dhea.
"Biasa Dhea, aku kan harus mengurus usaha kecilku."
"Usahamu akan jadi besar, setelah pesta ulang tahun Queensya, sepertinya kamu makin sibuk, Ki?" tanya Dhea.
"Iya, ternyata banyak sekali yang tertarik karena papa Queensya pun orang yang cukup berpengaruh di kota ini," jawab Yuki bersemangat.
Ternyata Queensya berguna juga dalam hidup Yuki.
"Ah, masih kalah sama Tuan Bhanu, pengusaha nomor satu senegeri ini. Eh, Tuan Bhanu itu selalu disorot di media, tapi kenapa anaknya nggak pernah diekspos ya? Beda sama Queensya, dia sering nampang, jadi terkenal. Aku penasaran sama anak Tuan Bhanu! Papaku yang sering bertemu pun katanya nggak pernah lihat anaknya," celoteh Nana.
Yuki menelan ludah, bola matanya bergeser ke kanan dan ke kiri. Tak bisa menanggapi apapun.
"Ah, udah yuk! Ada cafe baru di depan kampus! Kamu sibuk nggak, Ki?" tanya Dhea.
Yuki menggeleng dengan cepat.
__ADS_1
"Yuk, kita nyobain nongkrong di cafe baru itu!" ajak Dhea menarik tangan Yuki dan Nana.
"Ayo aja!"
Yuki mengembuskan napas lega. Pembicaraan itu tak berlanjut. Selama di cafe baru, dia mendapatkan ide.
*
Yuki melangkah ke dalam toko rotinya membawa sekantong makanan dan minuman untuk ke delapan pegawainya.
"Ah, Mbak Kiki bawa oleh-oleh, pas banget lagi haus ....!" seru Rey.
Dia memanggil ketujuh temannya dan mereka mengerubuti makanan dan minuman yang dibawa oleh Yuki.
"Gimana, banyak pembeli hari ini?" tanya Yuki.
"Buanyak, Mbak! Ini juga baru istirahat karena tadi nggak sempat duduk!" ujar Irma, sang kasir.
"Wah, makasih ya atas kerja keras kalian. Oh ya nanti sore jangan pulang dulu. Kita meeting sebentar, ya?" pinta Yuki.
"Siap, Mbak."
Kedelapan pegawai Yuki tak banyak protes karena selain tegas, Yuki pun memberi kenyamanan dalam pekerjaan, juga bonus jika mereka rajin. Jadi mereka pun betah berada di toko meski para pelanggan rewel dengan pesanan.
Yuki menelepon Bu Yayah dan mengecek pesanan hari itu.
Sore harinya saat para pegawai telah menutup toko, Yuki mengumpulkan mereka untuk membicarakan sesuatu.
"Sore, Mbak Kiki!"
"Aku hanya akan menyampaikan sebuah rencana, bahwa kita akan memiliki sebuah cabang. Nanti aku cari tempat yang strategis lagi, yang dekat keramaian. Untuk itu, nanti aku akan merekrut lagi beberapa pegawai, dan kuminta sebagian dari kalian untuk pindah ke cabang agar ditangani oleh pegawai yang berpengalaman. Nah, yang di sini tolong untuk membimbing pegawai yang baru, ya? Ada usulan atau pertanyaan?" jelas Yuki.
"Untuk kasir, apa kita membutuhkan pegawai baru, Mbak?" tanya Irma.
"Iya, aku udah punya bayangan tempatnya. Nanti tolong kasir baru kamu ajari dulu, ya Irma?" pinta Yuki.
"Siap, Mbak."
"Kaliam boleh ikut merekrut pegawai, ya? Yang jujur, cekatan, dan ramah tentu saja. Kalo soal menghafal produk, bisa sambil jalan. Karena hanya butuh empat, pegawai, nanti aku seleksi, oke?"
"Iya, Mbak Kiki," jawab semua pegawai serempak.
Meeting sore itu selesai sudah dengan beberapa pertanyaan dan usulan yang dapat diterima.
*
Sebulan kemudian, Yuki berhasil mendapat tempat untuk disewa lagi. Dia menempatkan empat orang pegawai di tempat itu. Kios yang terletak di dekat area sekolahan dan perkantoran.
__ADS_1
Yuki menghela napas lega setelah mendapatkan tempat sewa lagi. Meski tak luas seperti di ruko utama, tapi dia bisa lebih mendekat ke konsumen.
*
"Kiki, hari ini kita ke rumahku, ya?" ajak Rangga.
Yuki tak menjawab ajakan kekasihnya yang telah mendampingi dan mendukung semua kegiatannya itu.
"Ayolah, Sayang. Kamu sudah menunjukkan keberhasilanmu. Kita bisa menunjukkan pada mereka!" ujar Rangga meyakinkan.
"Fiuh, baiklah, Mas Rangga!"
"Nah, gitu donk, senyum ya?"
Rangga memegang dagu gadis cantiknya itu, hingga senyum merekah di wajah Yuki.
"Aku siap-siap dulu ya, Mas?"
Rangga mengangguk menatap Yuki yang beranjak ke kamarnya.
"Rangga, hati-hati ya bicara dengan kedua orang tuamu! Jangan sampai Kiki sakit hati lagi!" pesan Bu Yayah mendekati Rangga setelah Yuki masuk ke kamarnya.
"Iya, Bi."
"Ikut aja kata orang tuamu daripada jadi masalah."
"Ya, tapi aku akan perjuangkan Kiki, Bi."
Bu Yayah menghela napas.
"Anak muda jaman now, tak mempan jodoh-jodohan gini," gumam wanita itu.
"Ya udah, pokoknya jaga hati Kiki, ya?" pesan Bu Yayah lagi.
"Iya, Bi."
Yuki keluar dari kamarnya memakai dress sopan. Dia memoles tipis wajahnya dengan bedak.
"Yuk, Mas!" ajak Yuki.
"Tumben semangat?"
"Lebih cepat lebih baik," jawab Yuki. Berlama-lama pun tak akan mengubah keputusan kedua orang tua Rangga hari itu. Jadi, Yuki akan menghadapi apapun resikonya.
Rangga berpamitan pada Bu Yayah. Mereka kemudian memasuki mobil dan melaju ke rumah Rangga.
"Semoga kalian bisa bersatu, ya?" gumam Bu Yayah pelan.
__ADS_1
"Ugh, kayak Ibu dulu, kan! Nggak mau dijodohkan!"
Tiba-tiba Pak Hendra telah berada di samping Bu Yayah, membuyarkan lamunan wanita itu. Bu Yayah tersenyum dan mencubit pinggang suaminya.