Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Usaha Yuki


__ADS_3

Sore itu terlihat sangat cerah. Hari terakhir Yuki berada di perusahaan John Lee tiba. Balon hias terpampang di depan kantor, sebagai ungkapan perpisahan. Dia berpelukan dengan Zahra dan mengucapkan selamat tinggal pada seluruh karyawan perusahaan itu. Hubungan mereka telah melekat seperti persaudaraan.


Sebenarnya Yuki merasa berat meninggalkan perusahaan yang orang-orangnya sangat ramah dan akrab. Namun, dia harus mewujudkan cita-citanya, mengembangkan usaha yang telah dia rintis.


Lambaian tangan semua karyawan mengantar Yuki masuk ke mobil sang CEO baru. Tetes air mata haru membasahi pipi gadis itu saat memandang gedung dengan beberapa orang yang berdiri di depannya terlihat semakin menjauh dan mengecil.


"Udah, Sayang, kamu bisa berkunjung kapan pun kamu mau, nggak usah sedih," ujar Rangga mengemudi mobil dengan mata menatap ke depan.


"Iya, tapi akan berbeda rasanya saat aku bekerja dan berkunjung," jawab Yuki pelan, menghapus air matanya.


Rangga hanya menghela napas, lalu membiarkan gadis itu dengan perasaannya, agar dia menenangkan diri dengan caranya sendiri.


"Kamu lapar nggak?" tanya Rangga.


Yuki hanya menggelengkan kepala. Rasa sedih telah menghilangkan rasa laparnya.


"Kamu belum makan," ujar Rangga membelokkan kemudi ke sebuah rumah makan yang terkenal mahal di kota itu.


Yuki mendesah, lelaki di sebelahnya pasti akan memaksa agar dia makan. Itulah Rangga. Tak mau melihat gadisnya sakit.


"Ayo, turun."


Rangga membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangan pada Yuki agar dia berpegangan pada jemari tangannya saat turun dari mobil.


Mereka terlihat sangat mesra. Sedikit demi sedikit kesedihan Yuki memudar. Entah kenapa lelaki itu selalu bisa membuatnya bahagia.


"Mau makan apa?"


Rangga menyodorkan menu ke depan Yuki saat mereka telah duduk di dalam rumah makan yang hanya dimasuki oleh orang-orang tertentu. Tentu saja dengan kocek tebal.


"Sup sarang burung walet di sini enak!" ujar Yuki tanpa melihat menu. Biasanya setiap kali selesai berbelanja, papi dan mami mengajaknya makan di rumah makan itu.


"Darimana kamu tau? Pernah makan di sini?" tanya Rangga mengerutkan dahi.


"Errr ... p-pernah diajak Dhea!" ujar Yuki gugup. Wajahnya pias seketika.


Yuki asal saja menjawab pertanyaan Rangga, dia menyadari kebodohannya, lupa bahwa yang Rangga tau hanya sebatas profesinya sebagai pembantu.


"Oooh ... Dhea temenmu itu royal ya, menu ini mahal banget lho!"

__ADS_1


"Iya ... iya, dia royal sama aku ...." jawab Yuki cepat.


Fiuh, sial, aku lupa, satu kebohongan akan menjalar ke kebohongan lain!


Mereka selesai memesan makanan. Sambil menunggu pesanan, Rangga mulai membawa Yuki ke pembicaraan serius tentang masa depan mereka.


"Kiki, apa usahamu lancar?" tanya Rangga.


"Lancar, Mas."


"Kira-kira berapa waktu lagi usahamu akan berkembang atau aku bantu agar kamu bisa cepat mengembangkannya?" tawar Rangga.


"Kurang tau juga, Mas, yang jelas aku pasti berusaha mengembangkannya dengan usahaku sendiri."


Pelayan membawakan menu pesanan mereka. Sesaat mereka mulai menyantap sebelum melanjutkan percakapan. Selera makan Yuki masih belum sepenuhnya kembali meski sup sarang burung walet itu menggiurkan setiap mata yang memandang. Bagaimana tidak, satu mangkuknya seharga emas Antam dua gram.


"Kalo mau kubantu biar cepat naik penjualannya, nanti kucarikan tempat dan pegawai untukmu," ujar Rangga lagi.


"Mas Rangga kenapa sih? Ngebet banget lihat usahaku maju. Aku juga niat Mas usahanya maju, tapi dengan cara dan usahaku sendiri, bukan campur tangan orang lain!"


"Maaf, Kiki, aku hanya ingin segera meminangmu."


"Memangnya kenapa? Apa ada syarat untuk menikah? Apa yang terjadi, Mas?"


"Nggak apa-apa, Kiki."


Rangga meminum jus yang ada di sebelahnya. Matanya tak menatap Yuki. Gadis itu menangkap sesuatu yang disembunyikan.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi. Apa yang terjadi di rumah Mas Rangga? Kedua orang tuamu?"


"Nggak, Kiki ...."


"Udah, Mas bilang aja!"


"Kiki, aku ingin jujur tapi aku takut kehilangan kamu," ujar Rangga.


"Bilang aja, Mas Rangga ...."


Yuki memelankan suaranya, menandakan bahwa dia tak akan marah dengan apa yang akan dikatakan Rangga.

__ADS_1


"Kalo kamu berhasil dengan usahamu, kita bisa menikah ...." ujar Rangga tercekat, tak berani melanjutkan kalimatnya.


"Kalo nggak? Apa konsekuensinya?" tanya Yuki.


"Aku akan dijodohkan," jawab Rangga lemas.


"Hahaha, Mas Rangga mungkin akan dijodohkan dengan anak pengusaha nomor satu senegeri ini! Bagus, kan? Kalo gitu, aku santai aja promosi usahaku," goda Yuki.


"Kiki!! Kamu mau aku gigit?? Pokoknya usahamu harus maju pesat!Bagaimana pun caranya!"


Sekarang malah Rangga yang kelabakan melihat respon santai gadis itu.


"Iya ... aku pasti bisa, Mas. Kasih waktu aku dua tahun lagi, ya? Ada rencana yang sedang kususun. Kamu tenang aja, Mas!"


"Ugh, anak ini! Ini soal masa depan, mana bisa tenang?? Trus, dua tahun? Lamaa ...." rengek Rangga.


Yuki hanya tertawa. Entah kenapa sekarang dia ingin menghabiskan semangkuk sup, salad dan minumannya. Tiba-tiba semangatnya membara. Dia ingin membalas orang-orang yang mencemoohnya dengan kesuksesan, dan bukan didapat dari warisan papinya saja.


*


Wanita di sebuah rumah yang sangat mewah sedang menerima telepon di sebelah kolam renang rumahnya. Dua pohon kelapa menghiasi taman di sebelah kolam. Seorang pelayan membawakan sebutir kelapa muda yang baru saja dia petik di pohon itu untuk nyonya cantik yang sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Oh, ini Nyonya Selly. Gimana?" jawab wanita itu.


"Nyonya, mohon maaf saya belum bisa datang ke rumah anda, karena kesehatan suami saya yang belum stabil. Maaf, ada hal yang ingin saya sampaikan melalui ponsel, tentang perjodohan kedua anak kita ...." ujar Nyonya Selly.


"Oh, itu. Mmm ... bisa saja, asal kedua anak kita setuju. Ijinkan saya bertanya dulu pada anak saya, karena kami menjunjung kemerdekaan dia untuk mendapatkan jodohnya sendiri."


"Baik, Nyonya. Terima kasih! Harapan kami semoga mereka berdua setuju. Sampaikan salam kami pada keluarga. Semoga makin sukses perusahaan kita!" ujar Bu Nyonya Selly gembira.


"Selamat ya, Nyonya Selly, karena perusahaan anda telah bangkit kembali. Kami menanti kalian di pasar internasional."


"Semoga. Anak kami akan berusaha menjangkaunya."


"Kami juga berharap seperti itu."


Telepon ditutup. Wanita itu menyeruput air kelapa muda yang telah disediakan oleh pelayan rumahnya. Merenungi perjodohan yang akan dia sampaikan pada suami dan anaknya. Dia sangsi apakah anaknya akan setuju, tapi atas permintaan istri relasi suaminya, dia tetap akan menyampaikannya.


Sembari menunggu suaminya pulang, wanita itu berposisi rebahan di sebuah kursi santai setelah acara berenangnya selesai. Menikmati cahaya matahari pagi yang sehat untuk kulitnya. Dia membenahi kacamata hitamnya, lalu tak lama dia pun terlelap kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2