
Wanita berdaster import yang harganya sekitaran lima jutaan berlari ke halaman rumah setelah seorang pelayan setianya memberitahukan kedatangan Nona Muda.
"Nak!! Yuki sayang ... maafin Mami, ya? Kamu gemukan? Banyak makan kamu? Harusnya kan kamu kurusan karena jauh dari Mami?? Kulitmu agak item, lagi!" sambut wanita itu memberondongnya dengan kicauan.
"Ngapain aku harus menderita, udah kayak sinetron berjudul Anak Yang Terbuang, masih suruh kurus! Kalo item, biar aja lah, asal sehat! Mami aku kangeen!!"
Gadis itu menghambur ke tubuh wanita yang melahirkannya itu. Mereka saling berpelukan di depan rumah. Setelah lama berpelukan, Yuki melepaskan pelukannya. Semua pelayan yang berjumlah lima belas orang, masih berdiri di depan gerbang dengan tersenyum-senyum melihat ibu dan anak itu.
Yuki menyapa para satpam, sopir dan pelayan yang berdiri sedari tadi di depan gerbang. Mereka pun rindu pada majikan mudanya.
"Pak Tono, Pak Edi, Mas Yudhi, Mbak Nita, Mbak Ninik, Bik Sar, Mbak Pur, Bik Dar, Mbak Ratri, Mbak Uki, Bik Jum, Mbak Puput, Mbak Koneng, Mimin, Luluk, Rere, Cici, Sumiii!!"
Yuki memeluk mereka satu per satu.
"Maaf, aku pulang nggak bawa uang banyak. Mami yang akan melipat-gandakan bonus kalian!" ujar Yuki melirik Maminya yang melotot karena telah janji memberi bonus dan sekarang harus dilipat gandakan.
Yuki tertawa melihat Maminya.
"Non Yuki, sehat kan?" tanya Sumi mewaliki semua pelayan. Sumi lah pelayan yang paling dekat dengan Yuki.
"Iya, sehat!"
"Gimana misinya, Non?" tanya Rere.
"Ah, itu mah kecil, Re!" jawab Yuki menjentikkan jari.
"Kecil kok dua tahun!" sewot Nyonya Marlina.
Giliran Yuki melotot pada Maminya. Semua tertawa melihat kedua orang itu saling berdebat.
"Aku mau masuk dulu ah, gerah! Tadi belum mandi. Aku mandi dulu."
"Biar saya siapkan, Nona!" ujar Bik Sar.
"Eh, nggak usah Bik! Aku bisa sendiri, kok!" tolak Yuki.
Semua pelayan saling berpandangan. Belum selesai kebingungan para pelayan, gadis itu sudah berlari mencari handuk di tumpukan dalam lemari handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi bawah.
"Eh, di dalam kamar Nona kan juga ada kamar mandi? Biasanya Nona suka berlama-lama di bath tub!" desis para pelayan.
"Waktu adalah uang!" seru Yuki tertawa.
"Sepertinya hidup Nona terlalu keras di luaran sana!" bisik para pelayan.
Nyonya Marlina hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"Sumi, biarkan Yuki yang sekarang berubah lebih mandiri. Nanti suruh Nona duduk di ruang makan setelah dia mandi, ya?" titah wanita itu.
"Baik, Nyonya."
Tak seperti biasanya, Yuki lebih cepat beberapa menit di kamar mandi. Para pelayan melihatnya sangat amazing.
Setelah itu barulah Yuki pergi ke kamarnya di lantai tiga. Ruangan yang mewah dengan segala fasilitas tersedia di sana. Namun, tak disangkal, dia sering merasa bosan di ruangan itu. Hidupnya lebih berwarna saat proses menyelesaikan misinya. Dia bisa menemukan orang tua kedua, dua adik kecil yang lucu, sahabat yang benar-benar tulus tak memandang derajat, dan lagi seorang kekasih yang juga tak memandang harta. Dia bersyukur orang tuanya memberi misi itu.
Suara ketukan pintu mengagetkannya saat selesai memakai baju santai branded dengan harga jutaan rupiah.
__ADS_1
"Iya!" jawabnya.
Yuki membuka pintu kamar. Rambutnya masih basah, dengan handuk di tangannya.
"Ada apa, Sumi?"
"Nyonya ingin agar Nona turun ke ruang makan setelah mandi."
"Oh ya, Sumi. Bilang pada Mami kalo aku mau turun setelah merapikan baju di dalam lemariku. Aku menguncinya selama dua tahun," ujarnya tergelak.
"N-nona, itu tugas saya! Biarkan saya merapikannya!"
Sumi membungkuk ketakutan. Setiap hari dia membersihkan kamar nona mudanya, tapi hanya satu lemari yang terlewat karena memang dikunci, dan kuncinya disimpan oleh Yuki.
"Kamu banyak kerjaan kan, Sumi? Ayolah, aku nggak apa-apa. Aku biasa melakukan hal ini selama dua tahun. Kamu nggak usah kuatir gajimu akan dipotong. Ini salahku, Sumi. Aku mengambil baju dengan tergesa dan asal menyeretnya. Jadi, ini tanggung jawabku. Semua barang di sini adalah tanggung jawabku."
"M-maafkan saya, Nona!"
Berkali-kali Sumi membungkukkan badan tanda penyesalan.
"Sumi! Nggak usah seperti itu ... udah sana, bilang sama Mami!"
"Baik, Nona."
Sumi berbalik dan turun melewati tangga dengan dahi berkerut, heran sekali dengan perubahan nona manja dua tahun yang lalu. Dia jadi gadis yang mandiri sekarang.
Bruk!
Sumi menabrak pelayan yang lain.
"Eh, Sumi, kenapa kamu jalan sambil melamun?"
"Lebih kejam? Manja?"
"Bukan .... Dia mengerjakan pekerjaanku, merapikan lemarinya sendiri."
"Haaa?? Berita besar!"
Nita segera berlari ke dapur dan memberitahukan soal itu ke pelayan lain.
Sementara Sumi menghadap ke Nyonya Marlina.
"Nyonya, Nona bilang kalo dia akan turun setelah ...."
Wajah Sumi pucat, dia takut jika dimarahi oleh Nyonya Marlina.
"Setelah apa?" tanya wanita itu penasaran.
"Nyonya nggak akan marah kalo Sumi bilang?"
"Ya apa dulu?"
"Nyonya janji, ya?"
"Iya! Apa sih Sumi penuh teka-teki!"
__ADS_1
"Setelah Nona merapikan lemarinya sendiri," jawab Sumi menunduk.
"Oh, nggak apa-apa, Sumi! Dia anak gadisku yang manis!!" seru Nyonya Marlina senang mendengar perubahan itu.
Bersamaan dengan itu, Tuan Bhanu pulang. Langkah kakinya terdengar dari dalam ruang makan. Sumi segera memohon diri dengan sangat lega. Nyonya Marlina menghampiri Tuan Bhanu untuk menyambutnya.
"Papi! Papi! Ada kejutan besar!" seru Nyonya Marlina Moon berbinar-binar.
"Apa ... Mami dapet arisan?"
Nyonya Marlina menggeleng.
"Beli tas?"
Wanita itu kembali menggeleng dan tersenyum.
"Sepatu?"
"Iih, memangnya kalo aku beli-beli itu kejutan buat Papi?"
"Iya lah, harganya mengejutkan ...."
"Uugh!! Papi, anak kita! Yuki pulang!"
"Aah yang bener Mami??"
Kali ini wanita itu mengangguk. Tuan Bhanu segera menggendong wanita itu dan berputar-putar kesenangan. Nyonya Marlina berteriak-teriak ngeri takut jatuh, tapi juga terselip tawa saat itu.
"Papi sama Mami ngapain, sih??"
Tiba-tiba Yuki muncul di hadapan kedua orang tua yang sedang tertawa-tawa itu. Kekanakan.
Bum!
"Aduhh! Papi!!"
Wajah Tuan Bhanu pias, dia melepas gendongannya begitu saja hingga istrinya terjerembab ke lantai.
"Ehem! Kamu pulang? Misinya gimana, udah bawa uangnya??" tanya Tuan Bhanu menyembunyikan perasaan bahagianya, mengabaikan istrinya yang bangun dengan pinggang kesakitan.
Yuki mengangguk. Lalu berbalik ke kamar untuk mengambil uang yang dia simpan di dalam tasnya.
Tuan Bhanu menghela napas.
"Ugh, sok cool, padahal hatinya pasti trenyuh lihat kedatanganku," gumam Yuki.
"Papi, tega amat. Masa, Mami dijatuhin begitu aja!?" ujar Nyonya Marlina mengusap pinggangnya.
"Maaf, Mi. Jaga image di depan anak! Masa dia lihat kita gendong-gendongan?"
"Ya tapi nggak usah pake nyakitin pinggang gini! Lagian salah Papi juga pake gendang-gendong!"
"Iya, iya ... maaf Mami sayang!"
Sebuah kecupan mencairkan emosi wanita cantik itu.
__ADS_1
******
Maaf kalo telat update, maaf kalo ceritanya receh Zeyenk2 semua ....