
Waktu istirahat tiba. Yuki membuka kotak bekal lalu mulai memakan apa yang ada di dalamnya. Sambal goreng kentang yang dia buat sendiri, dengan kerupuk sebagai pelengkapnya. Dia harus merelakan sakunya berkurang ketika mengcopy dokumen untuk rapat. Untunglah dia selalu membawa bekal, karena dia pikir belum tau lokasi kantin di kantor tempatnya magang. Namun, dia berniat akan selalu begitu. Lebih nikmat masakannya sendiri, masakan yang dia tawarkan pada para pelanggannya dengan kardus berlogo tanpa monosodium glutamat, dengan menu sehat.
Yuki mengedarkan pandang ke ruangan kantor, tak ada siapapun di situ. Hanya dia sendiri. Sepertinya semua sibuk makan di kantin. Tak ada juga yang mengajaknya makan. Dia malah teringat Rangga. Apa lelaki itu sudah makan?
Inginnya beranjak lalu mengetuk pintu ruangan putra presdir itu, tapi entah mengapa dia merasa ragu. Akhirnya seluruh makan siangnya dia lahap sendiri, acara lari-lari tadi pagi ternyata mampu menguras separuh energinya.
"Kiki, kamu ketik tulisan ini, ya?" perintah Cindy setelah jam makan siang. Sepertinya wanita itu mendominasi pekerjaan di kantor.
"Oh ya, Kak Cindy."
Yuki melirik jam tangannya. Dua jam lagi dia pulang. Memasak orderan menyesaki pikirannya, selain sosok Rangga.
"Fiuh, benar Bu Yayah, dia membayangkan kegiatanku saja pusing. Ternyata aku pun capeknya bukan main. Apalagi kalo caranya seperti ini, tak ada management yang teratur. Kasihan Mas Rangga."
Dia merasa capek, tapi kenapa yang terjadi malah rasa kasihannya pada Rangga.
Yuki segera mengetik apa yang diminta oleh Cindy. Laporan biasa. Wanita itu pun sibuk mengatur beberapa pegawai yang sedang mengerjakan laporan bulanan.
Jam kerja telah berakhir, tapi Rangga belum juga keluar dari ruangannya. Yuki berinisiatif untuk melihat keadaan sekaligus berpamitan pulang.
"Mas Rangga ... masih sibuk?" tanya Yuki.
Lelaki itu sedang menopang dagu memperhatikan layar komputer. Pikirannya dipenuhi oleh kritisnya perusahaan satu-satunya.
"Oh, Kiki. Iya, masih mikir ...." Ucapannya tercekat, dia tak bisa berbicara banyak.
"Maaf, lebih baik sekarang kita pulang dulu, karena jika terlalu diforsir, maka kesehatan Mas Rangga terpengaruh," saran Yuki.
"Kamu pulang dulu aja," ujar Rangga.
"Oh, baik Mas Rangga. Jangan lupa makan dan minum vitamin," ujar Yuki mengingatkan. Ingin hati dia menemani kesibukan lelaki itu, tapi kewajibannya di rumah sedang menanti.
"I-iya," jawab Rangga terbata-bata.
Setelah Yuki keluar, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu menatap layar komputer lagi. Kunci mobil yang dia pegang saat gadis itu berpamitan tak jadi dia genggam, terbersit nama Ferry di ingatannya dan menyesali betapa bodohnya dia sempat memuji pacar orang tadi itu.
Driver ojek datang, Yuki membonceng setelah pria itu mengkonfirmasi namanya. Sepasang mata mengawasinya dari lantai paling atas gedung kantor AR Foods. Sebuah penyesalan karena tak jadi memberi gadis itu tumpangan, terasa di dada seseorang.
__ADS_1
*
Yuki tiba di rumah dua puluh lima menit usai membonceng driver ojek online. Dia segera turun mengingat apa yang akan dia kerjakan. Bu Yayah telah siap mengupas bumbu-bumbu untuk besok pagi.
"Udah pulang, Ki? Ketemu Pak Lee, nggak?" tanya Bu Yayah.
"Pak Lee ... pemilik perusahaan itu, Bu?" tanya Yuki.
"Iya, kebetulan sekali ya, kamu bisa magang di perusahaannya papa Rangga," jawab Bu Yayah.
"Iya, ketemu Mas Rangga juga," jawab Yuki sambil meletakkan tasnya.
"Sehatkah mereka?"
"Pak Lee sepertinya masih agak sakit. Selepas rapat, beliau pulang ke rumah. Kalo Mas Rangga sih sehat, Bu!" jelasnya.
Bu Yayah mendesah pelan, "Bu Selly mungkin mengabaikan kesehatan Pak Lee," ujarnya.
"Bu Selly ... siapa Bu?" tanya Yuki.
Yuki sebenarnya telah tau, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya, Bu Yayah ini seperti mengingatkan aku. Meski sebenarnya aku ini anak siapa, tapi kenapa aku merasa nggak pantas, ya? Lalu, gimana nasib Nana?
"Bu, saya ganti baju dulu, ya?"
Banyak hal yang akan Yuki lakukan, melihat rumah itu telah berantakan dari depan hingga belakang, membuat lamunannya buyar.
"Iya, Ki. Rumah berantakan sekali!"
Hmm ... iya, aku tau, Bu!
*
Keesokan hari setelah menyelesaikan pesanan, Yuki bersiap kembali dengan setelan warna birunya. Kali ini dia hanya mengepang rambut panjangnya. Semangatnya sedikit kendor saat mengingat sikap semua orang di kantor, tapi kembali terbangun saat teringat ada seseorang yang dia sukai, walau entah bisa memiliki atau tidak.
Dia berpamitan pada Bu Yayah. Dalam waktu dua puluh menit, dia sampai di depan kantor Rangga lagi. Hari masih sangat pagi. Dia melihat di dekat pos satpam, dua wanita sedang berbincang asyik.
"Eh, itu kan Kak Melly, sama siapa itu? Cewek cantik banget kayak model!" gumam Yuki terperangah melihatnya.
__ADS_1
"Ah, mungkin temennya, sepertinya bukan pegawai kantor ini!" gumamnya lagi.
Seketika kedua wanita itu berhenti tertawa saat melihat kedatangan Yuki. Mereka berpisah begitu saja setelah Melly membisikkan sesuatu pada wanita cantik itu.
Yuki merasa aneh, dia bergegas masuk ke kantor. Dua orang office boy baru saja datang dan menggerutu, "Bayaran kita dipotong, masih disuruh datang awal!"
Sekilas Yuki mendengar percakapan mereka. Baru kali ini dia bertemu dengan dua office boy itu.
Apa Pak Lee sepelit itu pada kedua office boy ini? Berapa sih gaji mereka? Hingga mereka malas-malasan berangkat kerja?
Pagi itu, ada banyak pertanyaan di benak Yuki. Dia merasa aneh dengan kantor itu. Hawa persaingan seperti tajam dirasakannya.
"Selamat pagi, Kak Cindy," salam Yuki pada Cindy.
"Pagi, Kiki. Hari ini kamu ...." Ucapannya terpotong dan dia langsung berdiri melihat sosok Rangga di belakang Yuki. Tak menyangka Rangga akan datang sepagi itu.
"Pak Rangga, selamat pagi!" ucapnya.
Yuki menengok ke belakang, begitu lamanya dia berpikir hingga tak menyadari kehadiran Rangga di belakangnya.
"Pagi. Mm ... Kiki, kamu ke ruanganku, ya?" suruh Rangga.
"Baik, Mas eh, Pak eh ...." Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, sungkan pada yang lain jika memanggil atasan mereka dengan 'Mas'.
Rangga menarik tangan Yuki dengan cepat masuk ke lift hingga gadis itu tersentak.
"Mas Rangga buru-buru aja!" omelnya.
"Biar kamu selamat dari perhatian orang!" ujarnya di dalam lift. Yuki menghela napasnya.
"Kalo pake setelan biru tua seperti itu ...." Rangga menahan ucapan pujiannya.
"Apa, Mas?" tanya Yuki penasaran.
"Nggak apa-apa. Tugasmu banyak hari ini!" ujar Rangga kemudian, tak jadi melanjutkan kalimatnya, membuat Yuki mendengus dan memutar bola matanya.
Dari jauh, seorang wanita memperhatikan mereka berdua. Dia sangat kesal, karena Kiki yang hanya seorang karyawan magang bisa selalu masuk ke ruangan presdir. Dia mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan ke seseorang.
__ADS_1