
Hari selanjutnya ketika Yuki masih rawat jalan, pagi-pagi Rangga sudah berangkat ke kampus. Ada kegiatan kampus yang harus disiapkan pagi. Apalagi dia tak bisa meninggalkan mata kuliah hari itu yang begitu penting, tambah lagi dia selalu mengingat pesan mamanya untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu agar dia bisa meneruskan perusahaan papanya. Jadi, hari itu dia tak bisa menemani Yuki di rumah.
"Bi, aku berangkat dulu, ya!" teriak Rangga sambil berlari menyambar kunci mobilnya.
"Ya! Hati-hati!!" Bu Yayah tak kalah jika lomba berteriak. Mungkin dia akan menjadi juara pertama yang sukses membuat telinga para juri budeg.
Yuki telah bangun dan hanya memasak di dapur. Urusan kebersihan semua ruangan telah dibereskan oleh Rangga. Lelaki itu selalu bangun pagi-pagi benar untuk mendahului pekerjaan Yuki.
"Huh, kamu itu kapan sih sembuhnya? Aku kan nggak enak sama keponakanku itu! Gimana kalo orang tuanya tau dia di sini mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga!" omel wanita itu setelah Rangga pergi.
"Kalo aku tau aku bakal jatuh, mungkin aku bisa menghindar dari kecelakaan itu. Bu Yayah, Bu Yayah .... Aku kan asisten rumah tangga, bukan paranormal!" desis Yuki.
"Apa kamu bilang??" bentak Bu Yayah yang sudah berpindah di belakang Yuki.
"Ealah, Bu Yayah udah ada di belakang saya aja! Bikin kaget .... Saya bilang Bu Yayah itu cantik kalo pake kerudung merah, bajunya kuning trus rok plisket warna hijau!" jawab Yuki asal.
"Huh!" Wanita itu mendengus lalu pergi dari tempatnya berdiri.
Yuki mengelus dadanya, "Fyuh! Untung aja percaya, aku ngomong warna apa aja tadi, ya? Ah, nggak penting, yang penting dia nggak marah aja."
Gadis itu kembali dengan kegiatannya, memasak sup sayuran, ayam goreng dan sambal. Tentu dengan catatan resep dari Bu Yayah. Karena Bu Yayah suka menuliskan sembarangan, kadang di sobekan kertas, kadang di sobekan kardus, pernah juga di bekas bungkus tempe, jadi semua catatan itu Yuki tulis rapi kembali di buku notesnya, bisa dibuka jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Yuki mencicipi masakannya sendiri, "Hmm, enak!"
Dia mematikan kompor usai masakan matang, lalu memindahkannya ke mangkuk-mangkuk besar, kemudian menghidangkannya di atas meja makan. Dia menggoreng ayam seperlunya agar tetap hangat saat dihidangkan.
"Ah, sayang sekali Mas Rangga udah berangkat ke kampus! Kalo nggak, dia kan bisa sarapan dulu ...." gumamnya.
Setelah masakan siap di atas meja, semua anggota keluarga bermunculan. Pak Hendra sudah bersiap ke kantor, anak-anak pun telah mandi dan berbaju rapi. Yuki menaikkan anak-anak di kursi mereka. Tinggal menunggu Bu Yayah.
Sebentar kemudian, wanita bertubuh gemuk itu keluar dari kamarnya memakai kerudung warna merah, baju kuning dan rok plisket warna hijau. Pemandangan itu membuat Yuki ingin tertawa.
Bu Yayah udah kayak lampu rambu lalu lintas aja!
"Ibu kok pakai baju bagus, mau kemana?" tanya Aurel yang senang melihat warna-warni baju ibunya.
"Mau ketemuan sama teman arisan, nanti Wildan sekolah dianter ayah, Aurel sekolah dianter Kak Kiki, ya?" jawab Bu Yayah.
__ADS_1
"Itu pake seragam arisan apa seragam kuda lumping, Bu?" tanya Pak Hendra sambil memasukkan ayam ke mulutnya.
Yuki ingin meledakkan tawa, tapi apalah daya nanti Bu Yayah murka.
"Ah, yang penting meriah! Ya kan, Ki! Oh ya, Aurel nanti Ibu jemput, ya? Tunggu Ibu datang, ya? Jangan lari kalo lihat odong-odong lewat! Kamu kira odong-odong bakal nganterin kamu ke rumah? Masa kemarin Ibu belum sampai, kamu cegat itu tukang odong-odong, trus naik sampe habis lima puluh ribu?? Kamu nggak mau turun, katanya belum sampe rumah!" omel Bu Yayah sambil meneliti isi dompetnya.
"Iya," ujar Aurel dengan suara kecilnya.
Yuki tertawa lalu bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian. Sekolah Aurel agak dekat, hanya perlu berjalan kaki saja. Namun, walau hanya mengantar, perlu busana rapi untuk menghormati para guru di sekolah. Jadi, Yuki tidak asal-asalan memakai baju.
"Aurel, makannya dihabiskan dulu, ya?" Yuki menyuapi gadis kecil itu sampai suapan akhir. Semua penghuni rumah telah pergi. Hanya tinggal Yuki dan Aurel.
"Yuk, kita berangkat dulu! Udah jam tujuh lebih seperempat," ajak Yuki sambil membawakan tas pink milik Aurel.
Gadis kecil itu mengangguk lalu mengikuti Yuki. Perban di kepala Yuki sudah dilepas semalam. Jadi tak ada yang menarik perhatian orang yang melihatnya lagi seperti sebelumnya. Hanya tinggal luka yang mulai mengering.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke taman kanak-kanak, tempat Aurel sekolah. Aurel terlihat riang saat bertemu dengan teman-temannya, lalu bersalaman dengan bu guru yang menyambut di depan gerbang TK.
"Halo, Aurel! Selamat pagi ...." sambut guru itu ramah.
"Selamat pagi, Bu Astin!" jawab Aurel akhirnya. Bu guru itu mengangguk tersenyum pada Aurel lalu mengajak bicara Yuki.
"Mbak, apa Aurel dibawakan bekal?" tanya guru yang bernama Bu Astin itu pada Yuki.
"Oh nggak, Bu. Kata Bu Yayah, setiap Kamis anak-anak dikasih makan siang di sekolah," jawab Yuki.
"Iya Mbak, tapi karena yang biasa masak untuk anak-anak hari ini sakit dan baru pagi tadi dia bilang, jadi kami nggak bisa menyediakan makan. Gimana, ya?" Bu Astin terlihat bingung.
"Kasihan juga anak-anak, ya? Apa saya masakin aja, Bu?" tawar Yuki nekat memberanikan diri.
"Mbak bisa?? Kalo bisa, saya berterima kasih sekali! Ada bahannya di dapur sekolah! Ah, ternyata ada yang mau membantu! Para wali murid kebanyakan adalah pekerja, jadi mereka nggak bisa bantu kami ...." ujar Bu Astin berbinar-binar.
"Ya udah, saya masak sekarang atau nanti, Bu?" tanya Yuki.
"Sekarang aja, Mbak. Yuk kita ke dapur. Makasih banyak lho Mbak, karena mau bantu. Namanya siapa, Mbak?"
"Kiki, Bu."
__ADS_1
"Oh, Mbak Kiki. Masih muda tapi jiwa penolongnya hebat, jarang lho ada yang seperti itu!"
"Ah, Bu Astin bisa aja!"
Mereka masuk ke sebuah ruangan.
"Nah, ini dapurnya. Maaf saya nggak bisa bantu karena harus mengajar ya, Mbak. Anak TK nggak bisa ditinggal barang sebentar saja. Oh ya Mbak, menunya sayur bayam sama tempe goreng ya? Nanti untuk jadwal makan jam sepuluh pagi. Yaa hanya mengenalkan makanan sehat pada anak. Sekali lagi, makasih lho, Mbak Kiki!" ujar Bu Astin.
"Iya, Bu. Ibu tenang aja. Gampang juga kok menunya. Nanti disiapkan di tempat-tempat makan itu kan, Bu?" tunjuk Yuki pada tumpukan tempat makan plastik di atas meja.
"Iya, benar Mbak Kiki! Murid kami empat puluh enam anak. Jadi harus menyiapkan sebanyak itu."
Yuki terbelalak, Ah kamu bisa Yuki! Semangat! Siapa lagi yang bantu selain kamu?
"Baiklah, Bu. Pasti beres!" ujarnya yakin.
Yuki mulai mengerjakan pekerjaan memasaknya. Hingga pukul setengah sepuluh, dia telah selesai memasukkan ke tempat-tempat makan untuk anak-anak.
"Ah, akhirnya selesai."
"Mbak Kiki, makasih ya? Saya udah nyicipin, rasanya enak sekali walau hanya sayur bayam dan tempe! Anak-anak pasti suka!" ujar Bu Astin saat mengecek kesiapan makan.
"Syukurlah kalo cocok di lidah, Bu! Kalo gitu, saya mau pulang dulu karena telah selesai," pamit Yuki.
"Oh ya, Mbak. Ini sekedar terima kasih karena telah membantu kami!" Bu Astin menyelipkan selembar uang ke saku Yuki.
"Bu, saya ikhlas bantu kok!" Yuki akan mengembalikan uang itu tapi Bu Astin memintanya agar menerima pemberian sekolah.
"Terima saja ya, Mbak. Itu udah jatah untuk tukang masak anak-anak dari para wali murid!"
"Aah, baiklah, Bu. Makasih, Bu. Saya pamit dulu."
"Ya, Mbak Kiki. Besok kalo ada halangan lagi, kami minta tolong lagi, ya?"
"Siap, Bu!"
Yuki berjalan meninggalkan TK dengan hati riang. Ada hal yang menyenangkan hatinya, dia merasa dibutuhkan oleh orang lain yang begitu membutuhkan pertolongan.
__ADS_1