Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Orderan dan Ujian


__ADS_3

"Lebih baik aku kehabisan uang yang kusimpan daripada harga diriku terjun sebebasnya!!" gumam Yuki saat meninggalkan ruangan semester lima menuju ke ruang kuliahnya sendiri. Puas rasa hatinya walau harus mengorbankan uang simpanannya.


Yuki mengikuti kuliah dengan perasaan yang sangat ringan. Bebannya telah berkurang sedemikian banyak. Dia tak perlu memaksakan perasaannya untuk orang yang tak dia cintai.


Dhea pun kembali bercengkerama dengan Yuki dan Nana.


"Kiki, jadi ya besok?" ulang Dhea tentang orderan nasi box.


"Oke," ujar Yuki memperlihatkan jari telunjuk dan jempol yang disatukan ujungnya.


"Kalian ngomongin apa?" tanya Nana tak paham.


"Rahasia kita," ujar Yuki dan Nana bersamaan.


"Main rahasia-rahasiaan lagi!" gerutu Nana sambil terus memainkan ponselnya.


Yuki dan Dhea tertawa, tapi raut wajah Yuki berubah saat mengingat pujaannya, Mas Rangga apa kabarnya, ya?


Dosen masuk ke kelas, kemudian memberitahukan bahwa ujian tengah semester akan dilaksanakan bulan depan.


"Lupakan apapun tentang cinta, sekarang fokus dengan ujian!!" tekad Yuki.


Usai kuliah, Yuki segera kembali ke rumah, menyiapkan kardus untuk orderan besok pagi. Malam nanti dia harus bekerja lembur menyiapkan masakan untuk lima puluh kardus makan.


"Ki, kita harus memperhitungkan semua, dari modal, hingga angkutan yang kita pakai untuk mengantar semua ini," kata Bu Yayah pada Yuki.


"Tenang, Bu. Saya udah memperhitungkan semua. Nanti kita tak usah mengambil untung terlalu banyak, sewajarnya saja, tapi yang jelas kita dapat pelanggan dulu, setuju?" jelas Yuki sembari melipat kardus-kardus kosong itu dan membentuknya lalu memberi lembaran kertas minyak di setiap kardusnya.


"Nanti saya bikin cap, biar mereka tau alamat kita dan nomor yang bisa dihubungi. Lalu kalo makin banyak pesanan, saya akan daftarkan perijinan Produk Industri Rumah Tangga ke Dinas Kesehatan, agar pelanggan mengetahui bahwa produk kita ini telah lolos uji kesehatan."


Bu Yayah melongo mendengar penjelasan Yuki, hingga hanya mengangguk-angguk pasrah pada gadis itu, "Rumit sekali, ya?"


"Nggak rumit, Bu. Asal kita tau prosedurnya, kalo dijalani nanti akan membuat pelanggan akan makin mempercayai kesehatan produk kita."


"Ya, terserah kamu lah. Aku nggak ngerti masalah itu," ujar Bu Yayah lirih.


Sore itu mereka selesai melipat semua kardus, lalu meletakkannya di tempat yang aman.

__ADS_1


"Kiki, aku udah belanja tadi sesuai dengan apa yang kamu tulis. Ayam, sayuran, mie, beras. Uang kembaliannya di bawah meja itu, ya? Ayamnya kita ungkep sore ini, besok tinggal goreng supaya menghemat waktu," ujar Bu Yayah.


"Untung aku juga punya panci yang besar-besar, jadi kita nggak perlu lagi pinjam RT, ya?" celoteh wanita itu lagi.


"Iya, Bu."


Yuki menyapu lantai. Selepas itu, dia menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dengan sigap, terkadang dia mengepel sambil membaca buku catatan kuliahnya. Gadis itu memiliki kemauan yang keras akan banyak hal.


"Kamu nggak boleh kemalaman tidurnya, besok pagi buta kita harus menyelesaikan lima puluh box nasi beserta lauknya, Ki!" pesan Bu Yayah.


"Iya, iya, Bu. Saya udah pasang alarm biar nanti bangun pagi-pagi," ujar Yuki sembari menyetrika baju-baju serumah dengan mata menatap ke arah bukunya.


"Awas itu bajunya jangan sampe gosong, kamu baca apa sih, Ki?" tanya Bu Yayah.


"Materi pelajaran, Bu. Bulan depan saya ujian tengah semester," jawab Yuki.


"Oalah, apa bulan depan kita stop dulu kalo ada orderan??" ujar Bu Yayah.


"Nggak, nggak, Bu. Nanti kita kehilangan pelanggan. Udah, saya bisa, kok!"


"Huft, ternyata kalo ada kemauan, kamu keras kepala juga, ya? Ya udah terserah kamu!"


Pagi-pagi benar sekitar dini hari, Yuki terbangun dan bergegas turun dari kasur usai menata sprei dan selimutnya. Dia keluar dan mengguyur wajahnya dengan air dingin supaya kantuknya hilang. Bu Yayah pun terbangun saat itu. Mereka mulai memasak menu yang akan dibuat untuk nasi box.


Mereka bekerja dalam keheningan dini hari. Kedua orang itu seolah memiliki kekompakan dalam mengemasi nasi box, padahal sebelumnya mereka tak pernah sedekat ini. Nasi box penyatu majikan dan asistennya.


Ketika matahari telah mulai nampak, mereka telah menyelesaikan lima puluh lima box nasi beserta sayur dan lauknya. Baunya tercium sangat harum.


"Aku udah icipin semua, Ki! Enak!" Bu Yayah membawa sepiring nasi, sayur dan lauk saat Yuki telah mencuci semua peralatan dapur yang digunakan.


"Iya, Bu. Syukurlah. Kita juga bisa sekalian memasak untuk rumah, masih sisa lima box, nanti dikasihkan ke sopir angkotnya ya, Bu!" ujar Yuki.


"He'em, Ki! Udah sana, kamu mandi dulu, aku panggilkan sopir angkot langganan ibu-ibu kampung sini, kebetulan aku yang punya kontaknya!"


Wanita itu sibuk mengunyah sambil mencari nomor angkutan langganan di ponselnya. Yuki mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang telah bau minyak dan bumbu.


Namun, dia merasa sangat puas. Ternyata dia dan Bu Yayah bisa menyelesaikan orderan tepat waktu. Hari itu ia belajar untuk mengatur waktu jika mendapat banyak orderan.

__ADS_1


Semua keluarga telah berkumpul di ruang makan saat sopir angkot datang. Pak Hendra pun mau ikut mengangkuti kardus-kardus nasi.


"Pak, nasi-nasi box ini diantar ke Pabrik Sepatu Bintang Jaya ya? Ini alamatnya, nanti ketemu sama Bu Betsaida," pesan Yuki.


"Oh ya, Mbak!"


Yuki mengulurkan satu lembar uang seratus ribu pada sopir, "Ini ongkosnya ya, Pak!"


"Wah, banyak sekali, Mbak!" ujar sopir angkot itu senang sekali.


"Semoga besok saya dapat orderan lagi ya, Pak!"


"Semoga, Mbak! Berkah juga buat saya! Hehehe ...." kelakar sopir itu.


"Ya udah, saya antarkan dulu ya, Mbak!" pamitnya.


"Ya, hati-hati Pak!" pesan Yuki.


Yuki menelepon Dhea, memberitahukan bahwa dia telah menyuruh sopir angkutan mengantarkan orderan nasi box untuk perusahaan mamanya.


"Halo, Dhea sopir angkot sedang menuju ke kantor pabrik, ya?


"Ya, ini mamaku akan menunggu di kantor!" ujar Dhea.


"Oke," jawab Yuki.


Bereslah sudah sebuah pesanan. Yuki kemudian melanjutkan makan paginya, masih dengan tekun membaca buku catatannya.


Bu Yayah menggelengkan kepala melihat kelakuan pembantunya itu.


"Udah kamu hitung kira-kira kita dapat untung berapa, Ki? Jangan sampai kita rugi," ujar Bu Yayah membenahi topi Aurel dan menyalami Wildan yang akan berangkat ke sekolah.


"Udah, Bu, tenang aja. Nggak akan rugi," jawab Yuki dengan pandangan mata yang masih melekat ke tulisan di bukunya sembari memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.


"Jangan capek-capek, Ki! Itu di lemari obat ada vitamin! Nanti kamu minum, ya?" pesan Bu Yayah. Luluh juga wanita itu melihat ketekunan Yuki.


Yuki mengangguk dan tersenyum, "Iya, Bu. Makasih!"

__ADS_1


*****


Hai gaes, kemungkinan karya ini akan pindah ya... Hehehe jangan cemberut dulu, bukan pindah platform tapi pindah judul, ganti judul maksudnya, hihihi... Masih nunggu polling untuk judul yang bagus ya... Muach muach buat kalian yang setia pantengin Yuki....


__ADS_2