
"Antar tepat waktu! Jangan sampai lelet!" bentak Queensya pada kasir dan pegawai yang ada di depannya.
"Iya, Nona. Makasih pesanannya."
Kasir memberikan pelayanan yang maksimal untuk seorang Queensya.
Queensya segera berjalan menggandeng kembali Putra, kekasihnya yang terbengong melihat kelakuan gadis itu.
"Kenapa kamu seperti itu, Honey?" tanya Putra.
"Kalo nggak dikerasin, mereka akan menyepelekan kita! Aku nggak mau lah kalo pestaku berantakan gara-gara keterlambatan pengiriman konsumsi!"
Putra tersenyum mendengar alasan kekasihnya itu.
"Kamu memiliki ketegasan seorang pemimpin. Kita akan memiliki dua perusahaan besar, kan? Jadi, kamu pantas jadi pemimpin."
"Ah, pujian yang berlebihan, Beb, tapi aku sukaaa!!"
Mereka berlalu dari toko roti itu. Semua pegawai merasa mual melihat kemesraan mereka berdua.
"Huh, nggak ada akhlak, bilang makasih pun nggak. Lagian cowoknya gantengan Mas Rangga, ceweknya cantikan Mbak Kiki!" ujar para pegawai.
"Eh, nggak boleh gitu, itu pelanggan juga borong banyak lho di kita!" sela Yuki tiba-tiba.
Wajah para pegawai nyengir seketika menyadari pemilik toko telah berdiri di belakang mereka.
"Ayo, kerja-kerja!" perintah Yuki membubarkan para pegawai yang berkumpul membicarakan Queensya dan Putra, karena melihat ada lagi orang yang datang ke toko mereka.
*
"Mbak Kiki, dijemput Mas Rangga tamvan itu, Mbak!" ujar Rey, salah satu pegawai.
"Oh ya, Rey nanti tolong tutup toko jam biasa, ya? Kalian yang akur! Ambil gaji kalian di kasir, ya? Bonus karena kalian udah ramah sama para pembeli udah kutambahin di amplop masing-masing! Jangan lupa tetep ramah meski se-Mak Lampir apapun si pembeli, oke?" pesan Yuki.
"Iya, Mbak. Siap."
Ponsel Yuki berbunyi saat akan menemui Rangga. Dia merogoh tasnya, menemukan nama Dhea memanggilnya di ponsel.
"Halo, Dhea!"
"Kiki, Mama pesen seratus parcel kue kering. Nastar, kastengel, chocolate stick, kue kacang dan pretzel untuk kantor Mama dan rekan-rekannya ya? Kirim tanggal dua puluh empat Desember atas nama Betsaida. Jangan lupa kasih pita natal."
"Ohh ... Oke, Makasih, Dhea. Noted."
"Sama-sama, Kiki."
Klik.
Telepon ditutup.
"Rey! Catet ya, seratus parcel kue kering dengan pita natal untuk tanggal dua puluh empat Desember kirim ke Nyonya Betsaida. Isinya Nastar, kastengel, chocolate stick, kue kacang dan pretzel. Makasih, Rey!"
__ADS_1
"Siap, Bos!"
Rey yang cekatan segera menulis apa yang dipesan oleh Kiki padanya.
Yuki segera berjalan ke arah Rangga yang telah menunggunya di tempat duduk depan.
"Kelihatannya banyak pesanan, Sayang?" tanya Rangga berdiri menyambutnya.
"Iya, lumayan banyak Mas Rangga," jawab Yuki.
"Yuk, kamu laper, kan? Kita makan lagi ya? Mau di mana?" tanya Rangga membukakan pintu mobil untuk Yuki.
"Makan bakso urat panas pake sambel yang pedes di warung pojok, masuk gang itu!" tunjuk Yuki ke sebuah gang.
"Siapa takut!" ujar Rangga.
"Mas Rangga nggak malu makan di emperan?" tanya Yuki.
"Kalo tempat dan makanannya bersih trus enak, aku mau banget!" jawab Rangga.
Tampaknya dia pun setuju dengan pilihan makanan Yuki. Perutnya seketika lapar membayangkan semangkuk bakso panas.
Yuki tersenyum menatap Rangga, Aku suka dengan orang yang sesederhana ini.
Mobil melaju ke arah tempat yang dimaksud.
*
"Hai, selamat datang, bersenang-senang, ya?" sambutnya.
Ketiga gadis, Yuki, Dhea dan Nana pun tidak absen datang. Queensya menyambut sinis kehadiran mereka.
"Masuklah," sambut Queensya dengan mata menatap tajam pada Yuki dari atas ke bawah.
Hey, dressnya cukup mahal. Tatanan rambutnya juga bagus. Sial! Awas kamu, gadis miskin!
"Makasih," jawab Yuki.
"Kamu lihat ekspresi si Queensya, nggak? Aku curiga dia akan melakukan hal yang buruk pada kita!" ujar Nana.
"Ah, biarin aja. Nanti kita bisa menghadapinya!" tukas Yuki.
Mereka memasuki kebun yang lumayan luas untuk seribu orang itu. Beberapa diantaranya memilih untuk mengikuti pesta di dalam rumah.
Putra memperhatikan Yuki dari jauh.
"Cantik banget Kiki, lama aku nggak ketemu sama dia! Eh, dari mana dia punya gaun yang bagus itu? Ah, mungkin nabung!"
Mata Putra tak lepas dari pandangannya ke arah Yuki yang menawan malam itu.
Sepuluh menit kemudian, sebagian besar tamu undangan datang. Acara akan dimulai. Seorang pembawa acara membuka acara ulang tahun Queensya dengan meminta seluruh undangan menyanyikan lagu 'Happy Birthday' lalu meniup lilin ulang tahun di atas kue taart yang juga dipesan menyusul di toko roti milik Yuki.
__ADS_1
Queensya memberikan potongan roti pertama kepada Putra. Dia pun dengan percaya diri mengumumkan pertunangannya dengan Putra. Pastinya dengan embel-embel keduanya anak pengusaha.
Ketiga anggota geng Queensya terlihat sibuk mengunyah makanan yang mereka ambil dari atas meja.
"Untuk temen-temen yang kuundang, ehm, spesial untuk seseorang yang mungkin belum pernah mendapatkan undangan mewah seperti kali ini, karena dia seorang ... biarkan nanti dia memperkenalkan dirinya dan profesinya sendiri. Silakan maju untuk memberikan kesan pada pesta ini. Kiki!"
Suara panggilan Queensya pada Yuki mengagetkannya sejenak. Namun, dia masih tetap tenang menghadapi si bodoh Queensya itu.
"Kiki, sebaiknya kamu nggak usah melayani Queensya!" bisik Nana.
"Tenang aja, Na. Hanya memberikan kesan, kan?" ujar Yuki.
Nana menghela napas melihat ketenangan sahabatnya itu. Dia bahkan tegang tingkat provinsi dengan situasi itu. Dia berniat akan menarik tangan Yuki turun dan mengajak pulang jika pada akhirnya Yuki akan diperolok.
"Apa ini ada di daftar acara?" tanya Putra.
"Hiburan aja, lihatlah dia sungguh polos dan cukup menarik untuk kita jadikan bahan olokan di depan sini!" desis gadis itu pada kekasihnya yang justru memandang Yuki takjub selama berjalan ke depan.
Semua orang memandangi Yuki dengan iba. Sebagian ada yang mencemooh, termasuk ketiga pengikut Queensya.
Semua orang diam menunggu Yuki yang berbicara di depan.
"Makasih sebelumnya, suatu kehormatan saya, Kiki, diminta untuk memberikan kesan di dalam acara yang mewah ini. Beri tepuk tangan yang meriah untuk penyelenggara acara ini."
Suara tepuk tangan meriah mengikuti instruksi Yuki memenuhi ruangan. Setelah beberapa saat, semua berhenti usai Yuki memberi kode agar mereka menghentikan tepukannya.
Hening.
"Selamat ulang tahun untuk Queensya, semoga panjang umur dan selalu diberikan rejeki melimpah, hingga suatu saat nanti pertunangan kalian akan saya tunggu di Kiki's Bakery, tempat di mana kalian memilih kudapan-kudapan mewah ini. Di tempat snack ada nomor ponsel saya, bisa kalian hubungi nomor itu, atau bisa datang sendiri ke toko yang saya rintis dengan usaha sendiri selama ini, alamatnya juga tertera di tempat snack. Di sana anda semua akan ditemui oleh delapan pegawai saya yang ramah-ramah, bahkan menghadapi seorang yang arogan sekalipun."
Seketika ruangan menjadi riuh. Mereka melihat ke tempat snack dan tak menyangka gadis semuda itu bisa merintis usaha sendiri.
"Bohong!!" seru Queensya tak percaya.
"Oh, jika kalian tidak percaya, mungkin Mas siapa namanya, em ... Putra? Mungkin masih menyimpan nomor saya dulu? Coba dicocokkan ya, Mas Putra jadi buktinya."
Putra segera mengeluarkan ponselnya, penasaran juga dengan apa yang dikatakan Yuki. Gadis itu sengaja menunggu agar semua orang terpusat pada lelaki itu.
Sebentar kemudian, ponsel Yuki berbunyi.
"Nah, benar kan? 08131234XXXX ini nomor Mas Putra? Wah bahkan saya udah hapus nomor anda, anda masih aja nyimpen nomor saya, ya? Coba dicocokkan, Mas."
Putra melihat ke tempat snack, kemudian menganggukkan kepalanya. Queensya segera mengambil tempat snack dan melihat ke layar ponsel kekasihnya yang masih diberi nama 'Ayank'.
Queensya mengerutkan dahi dan mengepalkan tangannya. Deru napasnya tak teratur karena merasa sangat kesal. Hasil bertolak belakang dengan apa yang dia rencanakan. Pacarnya bahkan masih menyimpan nomor gadis yang dia anggap miskin itu. Makin kesal dengan kenyataan yang tak dia ketahui, bahwa dia memesan kudapan dan kue taart di bakery milik Yuki!
Apalagi para tamu undangan bahkan malah mengambil snack dan mengangguk-angguk menikmati rasanya dan sebagian besar mencatat nomor yang tertera ke dalam ponsel mereka.
Yess! Promosi berhasil!
Yuki menutup 'pidato' dan turun dengan santai kembali ke dua sahabatnya yang tersenyum melihat ulahnya.
__ADS_1