Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kebaikan Mama Nana


__ADS_3

Geng Queensya yang ketahuan dengan kecurangan mereka saat ujian, harus mengulangi kuliah tahun depan. Sementara itu, Yuki yang mendapat nilai terbaik mulai menjadi sorotan publik.


"Ternyata, walau hanya pembantu tapi dia cantik dan pintar juga!" bisik para mahasiswa.


Tak ada lagi yang mengatainya miskin atau mencemooh pekerjaan Yuki lagi. Mentalnya pun semakin baja, dia telah banyak luka akibat disepelekan orang, dicemooh, dikhianati, bahkan dibuat bahan taruhan. Namun, semua itu tak menjadikannya terpuruk. Yuki membangkitkan dirinya sendiri. Ya, hanya diri kita sendiri yang bisa membangkitkan semangat hidup di saat sedih.


Setiap hari Yuki fokus pada orderan dan kuliahnya. Dia sedikit melupakan Rangga.


"Pak, apa Kiki itu benar-benar anak yang nggak jelas, ya?" tanya Bu Yayah berbisik pada suaminya yang sedang melahap makan malamnya saat Yuki berada di kamar.


"Kenapa, sih? Yang penting dia nggak macam-macam dan bisa masak enak!" jawab pak Hendra sembari mengambil lagi secentong nasi dan sayur opor kesukaannya.


"Bukan gitu, maksudku dia itu kok pemikirannya beda sama remaja kebanyakan, ya? Apalagi kalo soal bisnis ...." Pandangan Bu Yayah menerawang, terbersit pundi-pundi rupiah yang mereka hasilkan selama beberapa bulan ini.


"Ya ... mungkin orang tua dia juga dagang juga! Jadi, bisnisnya lancar!" Dengan mulut penuh Pak Hendra menjawab omongan Bu Yayah.


"Bisa juga, ya? Eh, tapi dia pinter juga lho, Pak! Nilai dia nomor satu di angkatannya."


"Ya dia kan tekun!"


"Iya, bisa jadi contoh Wildan sama Aurel, nggak sia-sia dia datang ke rumah ini .... Pak, kalo dia ternyata anak orang kaya gimana?"


"Ah, Ibu ini, kebanyakan nonton sinetron. Anak Yang Terbuang, apa Putri Yang Tertukar?" kelakar Pak Hendra.


"Istri Yang Tertukar, kali!" tukas Bu Yayah.


"Mauuu ...." seloroh Pak Hendra.


"Tertukar Kambing."


"Huh, Ibu ini ...."


*


Hari-hari perkuliahan Yuki terasa begitu cepat. Setiap hari Minggu gadis itu pergi ke rumah Nana untuk belajar membuat cake dan kue kering.

__ADS_1


"Kiki, kemauan belajar kamu sangat tinggi. Bagus, kamu bisa nerusin Tante untuk membuat cake dan kue kering! Si Nana itu nggak minat sama sekali! Apalagi dia udah pacaran sama ... namanya siapa ya kok Tante lupa?" celoteh Mama Nana, yaitu Mama Tri.


Beberapa bulan Yuki mendatangi rumah Nana, beliau udah anggap seperti anak sendiri. Nana anak tunggal seperti dirinya. Gadis itu pun menceritakan Yuki yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Bu Yayah. Mama Tri sangat antusias mengajarinya.


"Adit ...." jawab Yuki, tapi terpotong oleh kedatangan Nana.


"Udah selesai belum bikinnya?? Nggak sabar pengen icip-icip! Hmmm ... baunya harum!"


"Ah, kamu itu, jadi anak perempuan harus bisa masak juga, nggak cuma icip-icip! Belajar tuh kayak Kiki!" tegur Mama Tri.


"Mama, aku kan minatnya jualan meubel kayak papa, hehehe ...." kelakar Nana sambil mencomot kue nastar yang pulen.


"Emm, enak banget! Ki, kamu pake aja alat-alat Mama yang nggak kepake di lemari itu! Daripada berkarat!" celetuk Nana.


Yuki tersenyum malu, tapi betapa girangnya ketika Mama Tri menyetujuinya, "Oh iya, kalo Kiki mau, bawa aja ke rumah! Ada mixer baru, oven tangkring yang nggak pernah Tante pake! Daripada nganggur, bawa aja Ki!"


"Wah, beneran Tante??" Mata gadis itu tak bisa berbohong bahwa dia senang sekali dengan penawaran Mama Tri.


"Iya, itu mixer belum pernah Tante pake, trus kalo oven, Tante udah punya yang listrik. Jadi nggak dipake lagi yang tangkring. Kamu pake aja, kali-kali ada yang pesen kue kering, kan jadi berguna?" ujar Mama Tri mengerling.


"Ah, makasih banyak, Tante. Iya, Kiki mau bawa dan pasti berguna buat Kiki!"


Yuki membawa pulang semua alat yang diberikan oleh Mama Tri. Tak hanya itu, dia pun membawa satu toples kue nastar dan kastangel keju yang dia praktekkan bersama mamanya Nana, kebaikan mereka sampai mengantar Yuki dengan sopir dan mobil pribadi.


"Makasih Pak!" ucap Yuki pada sopir pribadi Nana setelah menurunkan barang-barang pemberian di teras rumah.


"Sama-sama, Mbak. Saya permisi dulu!"


"Hati-hati ya, Pak!"


Sopir itu melambaikan tangan lalu berlalu dari depan rumah Bu Yayah.


"Kiki, bawa apa itu?? Banyak sekali yang kamu beli??" tanya Bu Yayah sambil menyuapi Aurel.


"Ini dikasih mamanya Nana, Bu. Peralatan ini nggak pernah dipake, jadi beliau memberikannya pada saya!"

__ADS_1


"Wah, baik sekali mereka! Ki, nanti kalo lebaran kita bisa terima pesanan bikin kue-kue!"


"Iya, Bu! Ini Bu, kalo mau nyicip!" Yuki mengulurkan dua toples kue yang dia bawa.


Bu Yayah langsung membuka toples itu karena penasaran, dia mengambil satu kue nastar lalu melahapnya dengan sekali masuk ke mulutnya.


"Pulen, ini pake selai nanas fresh ya?" Dia memasukkan lagi sebuah nastar ke mulutnya.


"Iya, Bu."


Bu Yayah sudah asyik memasukkan lagi sebuah nastar ke mulutnya.


"Bu, tiga buah nastar setara dengan sepiring nasi, lho!" ujar Yuki mengingatkan.


"Aih!! Ummm ... kalo gitu aku ambil tiga lagi biar jadi dua piring! Enak sih! Nggak perduli timbangan ke kanan lah!"


Yuki menggelengkan kepalanya melihat kelakuan majikannya itu. Belum lagi kalo Pak Hendra pulang, bisa-bisa mereka berebut toples kue. Dia membawa peralatan-peralatan itu masuk dan menempatkannya dengan rapi di sisi dapur.


"Ki! Jangan lupa orderan besok pagi ya??" ujar Bu Yayah.


Begitulah kegiatan Yuki sekarang ini disibukkan dengan semua itu, terkadang dia merasa lelah, tapi semakin tebal dompetnya membuat rasa lelah itu sirna. Bayangannya pulang ke rumah membawa tak hanya tiga puluh juta selalu dalam angan.


*


"Kiki, belum lebaran malah ada yang pesan kue nastar sama kastengel, sama nasi box kita harus jalan juga! Aku senang kita bisa dapat orderan terus, tapi rasanya kemampuan kita berdua hanya sebatas tenaga kecil, Ki!" keluh Bu Yayah meregangkan ototnya. Dia merelakan tokonya diubah menjadi tempat untuk membuat dan membungkusi pesanan. Sehari mereka bisa membuat seratus lima puluhan pesanan nasi box, ditambah dengan pesanan kue kering yang mulai berkembang.


"Gimana kalo kita cari karyawan, Bu?" tanya Yuki. Matanya menatap ke arah buku yang dia gunakan untuk me-manage orderan.


"Nah, itu juga boleh, tapi siapa?" tanya Bu Yayah seraya mengupasi bawang merah dan bawang putih.


"Ibu-ibu kampung sini juga boleh, Bu! Daripada mereka kehabisan waktu untuk gosip hal-hal yang nggak jelas, mereka bisa bantu mengemasi nasi box sama parcel kue! Untuk siapa-siapanya, Bu Yayah kan bisa pilih, dua orang dulu saja, Bu!"


"Nanti kita gaji sesuai dengan pekerjaannya, lumayan lah daripada bengong di rumah kan, Bu! Itung-itung kita memberdayagunakan mereka," usul Yuki.


"Oh, iya. Ada kok, Bu Ima sama Icha! Kedua orang itu rapinya nggak ketulungan kalo soal pengemasan! Yakin deh!" ujar Bu Yayah bersemangat.

__ADS_1


"Bagus lah, Bu! Jangan lupa bilang bayaran mereka sekalian ya, Bu? Biar jelas, mereka mau per hari atau per bulan, terserah mereka aja, Bu!"


"Oke, Ki!"


__ADS_2