
Yuki membuang tasnya ke kamar. Perasaan kalut menyelimutinya. Rasa kecewa, sedih dan menyesal karena telah menyuruh Rangga mengantar Nana campur aduk jadi satu. Dia membanting tubuhnya ke kasur, lalu menumpahkan air mata ke bantal.
"Tau seperti ini, kemarin aku nggak akan mencegah Om Hari untuk memberitahu papi sama mami ... hiks, hiks ...."
"Aku memilih di sini biar dekat sama Mas Rangga dan berat hati meninggalkan dia, mana tau kalo jadi begini ...."
Yuki mendesiskan banyak kalimat penyesalan di kamarnya. Beberapa saat dia menangis, lalu tertidur karena lelah.
Bu Yayah pulang menjemput Aurel. Dia mendapati rumah terbuka lebar dengan sepatu Yuki di depan rumah, tapi tak ada seorang pun terlihat di ruang tamu atau teras. Toko masih tutup.
"Kikiii!!!" teriak Bu Yayah mampu membangunkan Yuki yang sedang terlelap.
Gadis itu bergegas merapikan bajunya lalu beranjak keluar kamar menemui sumber suara. Seorang wanita gemuk dengan gamis warna peach sedang berkecak pinggang di depan pintu.
"Woi!! Kamu tidur jam segini?? Aku membayarmu bukan untuk tidur!! Makin malas, ya?? Si Rangga itu lakukan pekerjaanmu dan memohon padaku agar jatah bulananmu nggak dipotong, tapi kamu malah enak-enak tiduur!" omelnya, tapi wanita itu tak berani menjewer telinga Yuki karena luka di kepala Yuki masih berbekas.
"M-maaf, Bu Yayah ...." ujar Yuki memelas.
"Huh! Untung abis sakit, kalo nggak, lepas itu telingamu kujewer!! Itu pintu juga kamu biarkan terbuka lebar, apa jadinya kalo ada maling masuk??" makinya sambil berjalam masuk ke kamar lalu mengecek barang-barang berharganya.
"Untung masih utuh!" desisnya.
Yuki makin sedih dengan makian Bu Yayah. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
Dia mulai mencuci piring kotor yang telah menumpuk lagi di tempat cuci piring.
Deru mobil Rangga datang. Lelaki itu masuk ke rumah sebentar untuk berganti baju dan ke kamar mandi, lalu pergi lagi sebelum Yuki menyapanya.
"Aah ...."
Raut wajah senang Yuki berubah jadi murung lagi. Dia segera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahnya. Gadis itu mencoba melepas rasa yang selama ini dia pendam. Setelah semua pekerjaan selesai, Yuki masuk ke kamar lalu mengambil buku diary yang tak pernah ia sentuh selama di rumah Bu Yayah ini.
Dibukanya buku itu, lalu dia menuliskan tentang isi hatinya di lembaran kosong buku diary berwarna ungu muda bergambarkan bunga-bunga. Tak lama usai tulisannya selesai, ia pun tertidur karena kelelahan.
*
Yuki terbangun pukul lima sore. Dia tersentak saat melihat ponselnya berdering-dering kencang. Masih dengan mata yang merah, dia meraih ponselnya di atas nakas.
"Nana ... ngapain dia telepon sore-sore gini??" gumamnya.
__ADS_1
"Halo," sambutnya.
"Kiki, jangan lupa ya, nanti datang ke acara dies natalis kampus! Jam tujuh mulai lho, Ki!"
"Ohh, iya, iya. Hampir lupa juga aku!" Kiki menepok jidatnya.
"Ya udah, sekarang kamu siap-siap dulu! Bersihin tuh iler kamu!" goda Nana, tergelak.
"Enak aja! Iya, nanti aku dateng. Ketemu di depan auditorium ya?" ujar Yuki.
"Oke."
"Eh, kamu datang sama sia-...."
Klik.
Tut ... tut ... tut.
Baru saja Yuki menyadari satu hal dan akan menanyakan Nana akan datang dengan siapa, tapi telepon sudah ditutup.
Pikiran Yuki melayang-layang lagi. Dia jadi takut untuk datang dan menghadapi situasi yang tak dia inginkan.
"Ah, gimana ya kalo dia dateng sama Mas Rangga??" Yuki menggigit bibirnya, cemas.
"Semoga Nana datang sendiri, aku belum bisa melihatnya bersama Mas Rangga," harapnya.
"Kikiii!!" Suara Bu Yayah membuatnya terperanjat, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas kembali.
Gadis itu bergegas menuju ke sumber suara. Sementara ponselnya berdering lagi. Ferry meneleponnya. Namun, Yuki telah sibuk dengan permintaan Bu Yayah untuk membersihkan gudang belakang rumah.
"Bu, nanti saya ijin jam tujuh, ya? Ada acara kampus," mohon Yuki sambil membenahi maskernya.
"Huh, tadi tidur, sekarang ada acara. Kayak pejabat aja kamu itu, banyak acara!" omel wanita itu.
"Maaf, Bu. Tadi saya capek banget, daripada pusingnya kumat, jadi saya istirahat. Nanti boleh ya, Bu?" Yuki memohon lagi pada wanita yang makin melengos ketika ada yang memohon padanya.
"Ya! Tapi jangan malem-malem pulangnya!! Trus kamu mau ke kampus ngapain, sama siapa??"
"Ada dies natalis, Bu. Sama Nana, temen saya."
__ADS_1
"Kamu itu kuliah jurusan manajemen apa tehnik mesin sih?? Kenapa bikin teralis??" tanya Bu Yayah mengerutkan dahi.
"Hahaha, dies natalis, Bu. Ulang tahun kampus," jelas Yuki.
"Oalah, ya bilang aja ulang tahun! Das dis das dis, nggak paham jadinya!"
"Iya, maaf Bu."
Yuki mendorong kardus-kardus ke pinggir ruangan lalu membersihkan bagian lantai yang kosong. Bu Yayah masih menjadi pengawas di ambang pintu.
"Trus kalo ulang tahun gitu, ada potong-potong kue nggak di kampus??" tanya Bu Yayah. Sepertinya wanita itu masih penasaran dengan acaranya.
"Ya nggak, Bu. Paling acara konser musik. Kampus mengundang Dia Ballen. Penyanyi dangdut itu, Bu," terang Yuki seraya meraup kotoran menggunakan pengki.
"Hah?? Masa??" jerit Bu Yayah tak percaya.
"Iya, Bu. Biasanya penyanyi pop Rejeki Februarian yang diundang, tapi warga kampus pengen aliran musik yang lagi hits sekarang. Jadi, yang diundang penyanyi dangdut."
"Gratis itu?" tanya Bu Yayah.
"Ya gratis lah, Bu, buat para mahasiswanya. Nggak tau kalo orang luar yang dateng." Yuki terkikik dalam hati.
"Huh, nggak jadi kalo nggak gratis! Mending liat Bawang Merah Bukan Bawang Bombay di rumah aja!" sungutnya.
Yuki tersenyum.
"Eh Kiki, nanti videoin Dia Ballen kalo pas nyanyi lagu 'Sayang', ya?" pinta Bu Yayah akhirnya.
"Nanti saya mintain kaset CD rekamannya aja, Bu! Ponsel saya jadul, nggak bisa buat ambil video ...." ujar Yuki.
"Ah, ya udah, nggak apa-apa deh!"
Wanita itu akhirnya pergi berlalu dari ambang pintu. Yuki bersiap untuk pergi ke kampus memakai kaos pink dan celana kainnya.
"Masa harus pake celana kain gini sih?? Nggak apa-apa lah, malam juga!" ujarnya menenangkan diri sendiri.
Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat menit. Dia bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Bu, saya berangkat dulu, ya?" pamitnya pada majikannya yang sedang mengomeli televisi.
__ADS_1
"Iya!" jawabnya keras.
Yuki segera pergi ke kampus berjalan kaki. Sepanjang jalan kampus telah dipenuhi oleh banyak sepeda motor dan mobil yang ingin masuk ke dalam kampus. Beberapa orang juga berjalan dan memilih untuk meninggalkan mobilnya di pinggir jalan demi melihat seorang biduanita cantik bernama Dia Ballen.