Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Rahasia


__ADS_3

Dhea memasang telinganya, dia berdiri agak mendekat ke balik tembok, hingga dengan jelas dia mendengar pembicaraan mereka.


"Bro! Mana janjimu!" kata lelaki itu dengan nada tinggi.


"Bentar ... bentar, kukira kamu bohongan mau deketin Kiki! Ya aku santai lah!" ujar lelaki satunya.


"Kita kan serius waktu membicarakan itu!"


"Iya, tapi buktinya apa kamu jadian sama Kiki selain foto selfie kalian??"


"Bentar." Si cowok itu mengambil ponselnya lalu menunjukkan pada cowok satunya video pengakuan Yuki.


Terdengar jelas oleh Dhea pengakuan Yuki bahwa dia telah jadian sama Ferry dari ponsel itu.


"Shit!" umpat cowok teman Ferry itu.


Ferry tertawa lebar.


"Trus, kamu mau jadian terus sama Kiki??"


"Anaknya cantik juga, meski yaah hanya asisten rumah tangga dan nggak modis! Lumayanlah buat ngisi waktu, tapi kalo aku dapet cewek yang lebih oke, aku putusin kok!" ujar Ferry.


"Nggak nyangka aku sama kamu! Kayaknya cool, tapi playboy juga!"


"Kamu sih, deketinnya kasar Ndra! Cewek itu kadang nggak suka sama cowok yang terlalu agresif!" ujar Ferry.


"Aku nggak sabar, hahaha!"


"Ya udah, kapan kamu kasih aku uangnya?? Taruhan ini deal ya, aku yang menang??" kata Ferry mengulurkan tangannya.


"Huh, deal. Berapa kemarin aku janjinya??" gerutu teman Ferry.


"Lima juta, kan? Janji harus ditepati, jangan sampe persahabatan kita rusak karena janji yang nggak ditepati, hahaha!"


"Kalo soal duit aja, pake kata 'persahabatan'! Iya, minggu depan kukasih kalo aku dapet kiriman uang dari bokap!"


"Janji lho ya!!"


"Iya! Sialan! Kukira aku yang bakal menang! Aku duluan yang deketin dia, cewek paling cantik di semester satu! Ternyata kamu! Huh!" gerutu cowok itu.


"Eh, jangan sampe semua ini sampai ke telinga yang lain, ya?" ujar Ferry.


"Kenapa?"


"Yaaa image-ku bisa hancur dong! Kamu mah udah terkenal! Candra si playboy cap bango!"

__ADS_1


Gelak tawa Ferry menggelegar.


"Sialan!" umpat Candra.


"Aku udah dikenal jadi cowok cool. Udah Bro, terima aja predikatmu itu!" Ferry merangkul Candra keluar dari sisi tembok itu.


Setelah suara kedua lelaki itu terdengar menjauh, Dhea mengintip, dia memastikan siapa yang berbicara.


"Kak Ferry dan Kak Candra. Nggak nyangka, mereka jahat sekali. Membuat Kiki sebagai bahan taruhan. Aku harus bilang sama Kiki!!" desisnya pelan.


Dia beringsut keluar dari tempat itu setelah semua dirasanya aman. Namun, jam kuliah telah berakhir karena adanya seminar bisnis makanan di auditorium. Dhea tak bisa mengikuti seminar karena dia belum terdaftar kemarin saat dia tak datang ke kampus.


Gadis itu memutuskan untuk pulang, "Ah, Kiki dan Nana pasti ada di dalam auditorium. Lebih baik besok saja aku menyampaikan apa yang kudengar pada mereka!"


Dia melangkah keluar dari kampus dengan pembicaraan kedua lelaki itu yang memenuhi pikirannya.


*


"Na, apa yang disampaikan pembicara tadi, kayaknya bagus deh. Bisnis makanan!" ujar Yuki bersemangat.


Sementara Nana tak begitu tertarik pada seminar itu, "Dulu mamaku juga suka bikin-bikin makanan, tapi setelah papa sibuk mengurusi usahanya, mama pun berhenti. Beliau memilih untuk membantu papa di kantornya."


"Ah, apa aku bisa belajar dari mama kamu, Na?" tanya Yuki.


"Ya kalo hari minggu waktu mereka libur, kamu bisa tanya-tanya sama mamaku! Alat-alatnya sampai nggak kepake gitu. Aku sendiri nggak minat kalo suruh bikin kue-kue, pasti bantat! Mendingan aku bantu papa juga untuk meubel-nya!" ujar Nana seraya mengencangkan ikatan rambutnya.


"Nggak usah sok imut gitu! Boleh lah! Nanti aku jemput pake motor, ya?" ujar Nana.


Yuki memeluki Nana. Entah mengapa dia begitu girang dengan temannya itu. Lupa akan masalahnya dengan Rangga dan hubungan mereka.


"Ki, tuh!" Nana menyenggol lengan Yuki lalu mengangkat kepalanya ke gerbang, seolah menyuruh Yuki untuk melihat ke arah yang dimaksud.


Yuki mengarahkan pandangan ke gerbang. Ferry membawakannya satu tangkai bunga mawar merah untuknya.


Gadis itu menghela napas, dia melihat ke sekeliling, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan.


"Fiuh, ancaman ...." gumamnya.


"Ancaman gimana, Ki? Bukankah itu romantis??" tanya Nana. "Pacarku pun belum pernah memberiku bunga seperti itu!" lanjutnya melipat tangan, protes dengan sikap Yuki.


Ah, Mas Rangga itu romantisnya membantu pekerjaanku saat aku sakit. Dia memang cuek, mungkin Nana tak pernah merasakan keromantisan dari Mas Rangga ....


"Hey! Hey! Ngelamun jorok lagi!" Nana menggoyangkan kelima jemarinya di depan mata Yuki.


"Ih, apaan sih! Ancaman, mereka semua akan menertawakanku." Yuki menampik tangan Nana.

__ADS_1


"Lagian, kamu itu mikirin siapa sih, orang pacar udah di depan mata, pikiran travelling aja!" gerutu Nana.


Mikirin pacar kamu itu!


"Kalo mereka tertawa itu karena iri sama kalian, iri sama kamu yabg punya cowok romantis ...." lanjut Nana.


Yuki mengerucutkan bibirnya, "Bilang aja kamu yang iri." Dia lalu berjalan ke arah gerbang kampus.


Nana mengikutinya sambil menggelengkan kepala, "Aneh, punya cowok romantis malah manyun! Dasar, Kiki!"


Dia melihat dari jauh, Yuki menerima setangkai bunga itu tanpa ekspresi dengan sorakan riuh para mahasiswa yang berada di sekitarnya. Terlihat wajah Yuki memerah karena malu, tapi tetap saja tanpa senyum. Dia lalu berbicara sebentar pada Ferry kemudian berjalan sendiri menuju arah pulang.


Nana berjalan menyusul Yuki yang sendiri, melewati Ferry.


"Siang, Kak Ferry!"


Ferry yang disapa hanya cuek saja. Akhirnya Nana melanjutkan larinya ke arah Yuki.


"Kiki!!" panggilnya.


Yuki berhenti dan menengok ke belakang, "Apa?"


"Kukira kamu mau bareng sama Kak Ferry, kenapa malah jalan sendiri?" tanya Nana terengah-engah.


"Males," jawabnya.


"Kamu itu ...." Nana geram dengan jawaban Yuki yang seenaknya.


"Kamu bener-bener suka sama Kak Ferry nggak, sih?" tanya Nana.


Yuki tak menjawab pertanyaan Nana. Ojek online Nana datang.


"Eh, Kiki, aku pulang ya, kamu hati-hati jalannya, jangan sampe kesandung, ya?"


Gadis itu segera mengambil helm dari tangan driver, kemudian naik membonceng. Dia melambaikan tangan pada Yuki saat driver mulai melaju.


Tinggal Yuki yang berjalan sendiri pulang ke rumah majikannya.


"Hufft, kurasa kamu benar, Na. Sebuah hubungan tak akan bahagia jika salah satu pihak tidak memilik rasa cinta pada pasangannya."


Gadis itu teringat hubungannya dengan Ferry. Dia melanjutkan langkahnya. Pekerjaan-pekerjaan menanti di rumah. Juga seseorang yang dia cintai setiap hari ada satu rumah dengannya, tapi tak juga berdekatan. Mereka bahkan seperti kucing-kucingan. Yang satu ada, yang lain tak ada.


"Apa aku dan Mas Rangga itu seperti ini juga, cinta bertepuk sebelah tangan? Fiuh ...."


Yuki memasuki rumah, mengganti pakaiannya, lalu memulai pekerjaannya di rumah Bu Yayah.

__ADS_1


*****


Gimana gaes sejauh ini, suka atau nggak ya sama ceritanya hehehe ....


__ADS_2