
Yuki tercenung di depan pintu. Nana tersenyum sambil membawa tas berisi laptop dan tugas-tugas mereka.
"Kiki, aku nggak disuruh masuk nih?" tanya Nana beberapa menit mereka termangu di ambang pintu.
"Oh, iya. Yuk masuk, Na!" ajak Yuki. Dia menengok ke dalam. Tak terlihat sosok Rangga, tapi jantung Yuki berdegup sangat kencang, membayangkan apa reaksi Nana ketika tau Rangga berada serumah dengannya.
Nana masuk ke dalam, lalu duduk di kursi tamu.
"Kok sepi, Ki?" tanya Nana.
"Majikanku lagi keluar sama anak-anaknya."
"Jadi, kamu sendirian di rumah?"
"Err ...."
"Oh ya, gimana kepala kamu, Ki? Kata Kak Ferry, kamu udah pulang. Tadi ada tugas bikin laporan trus kuliah kosong, jadi aku kesini mau bikin tugas bareng sekalian jenguk kamu! Oh ya, ini baju-baju kamu yang ketinggalan di penginapan!" ujarnya lalu meletakkan tas Yuki di atas kursi.
"E-eh, iya. Aku nggak apa-apa kok, tinggal pemulihan aja. Makasih, Na."
Nana membuka tas lalu mengeluarkan laptop dari tasnya. Kemudian menyalakannya.
"Nanti sore harus dikumpulkan via e-mail. Trus bukti fisiknya besok paling lambat. Kalo kamu nggak tau kan harus mengulang lagi tahun depan, Ki?" jelas Nana.
"M-makasih, Na."
"Kamu kenapa sih, Ki? Kepalamu masih sakit, ya?" tanya Nana melihat kegugupan Yuki.
"Nggak, kok!"
"Kamu nggak amnesia, kan?" tanya Nana sekali lagi.
"Nggak, Na! Yuk, kita kerjain laporannya!" ujar Yuki mengalihkan kegugupannya, sambil berdoa supaya Rangga tidak keluar dari kamarnya.
Namun, doa Yuki sepertinya tak dikabulkan. Rangga yang sedang memegang alat pel tiba-tiba keluar dari dalam.
Nana sampai melihat dua kali ke arah lelaki itu sambil mengucek matanya.
"I-itu kan Kak Rangga??" tanya Nana.
"I-iya," jawab Yuki terbata-bata.
"Kak Rangga!" Nana memanggil lelaki itu. Rangga yang sedang mengepel lantai depan menengok ke arahnya.
"Kok kalian ada dalam satu rumah??? Kalian serumah? Kiki, kamu kok nggak bilang kalo kalian saling kenal??" ujar Nana bingung sekaligus senang karena idolanya berada di depan pandangannya.
"Iya, Mas Rangga keponakannya majikanku," jawab Yuki sejujurnya.
__ADS_1
Sementara itu, Rangga hanya diam saja sambil melanjutkan acara mengepelnya.
"Ihh, Kak Rangga itu cuek amat! Masih inget aku, 'kan? Nih, plester yang Kakak kasih masih nempel lho di tangan!" ujar Nana heboh.
"Iya, inget." Rangga tersenyum sedikit lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
"Lho, dia majikan kok dia yang ngepel, sih?" tanya Nana pada Yuki.
Yuki hanya mengangkat bahunya. Dia pasrah dan fokus pada ketikannya. Nana menghabiskan waktu memandangi idolanya itu.
Rangga telah menyelesaikan pekerjaannya, lalu masuk ke dalam. Bagi Nana, meski membawa tongkat pel tapi dia laksana model cowok yang mondar-mandir di catwalk.
"Kamu nggak bilang kemarin kalo kamu kenal sama Kak Rangga sih, Kiki! Kenapa??" bisik Nana pada Yuki yang sedang berkonsentrasi.
"Nggak apa-apa."
"Huh, kalian ini aneh!" gerutu Nana. Namun, senyumnya kembali mengembang saat Rangga membawakan dua gelas minuman dan beberapa cemilan.
Hanya Yuki yang menggerutu dalam hati, Ini cowok cari perhatian apa gimana, sih? Kenapa dia malah berseliweran nggak guna! Tau ditaksir malah tebar pesona!
"Makasih, Kak Rangga ...." ucap Nana menunjukkan kehalusan seorang perempuan Indonesia.
"Sama-sama," jawab Rangga melirik pada Yuki. Namun yang dilirik hanya terpaku pada layar laptop saja.
"Kak Rangga, nanti pulangnya anter aku, ya?"
"Iya tuh, kasian rumah Nana jauh, anterin lah!" imbuh Yuki kesal.
Makan tuh pesona! Biar sekalian aja! batin Yuki.
"Mmm ... okelah." Rangga mengiyakan.
Nana berbinar-binar, hatinya berbunga-bunga, sementara Yuki mengerutkan dahi, dikiranya Rangga akan menolak, tapi ternyata dia mengiyakan permintaan Nana. Gadis itu cepat-cepat menyelesaikan ketikannya.
Rangga masuk ke dalam, diiringi tatapan Nana. Tak lama, Yuki menyelesaikan juga ketikannya.
"Udah selesai tuh!" kata Yuki menyerahkan laptop ke Nana. Entah kenapa kalo sedang kesal, dia bisa mengerjakan sesuatu dengan makin cepat.
Nana mengalihkan pandangan ke layar laptopnya lalu meneliti semua laporan yang mereka buat.
"Wah, kamu benar-benar jenius, Ki! Nggak ada yang tertinggal sedikitpun! Walau kepalamu sempat terantuk batu, tapi ingatanmu benar-benar top!" puji Nana.
"Aku kirimkan sekarang, ya?" lanjut Nana mulai membuka e-mailnya, kemudian Yuki pun mengirimkan lewat e-mailnya sendiri.
"Eh, gimana sama Dhea?" tanya Yuki teringat sahabatnya itu.
"Dhea tadi nggak masuk, kayaknya dia ada urusan keluarga selama beberapa hari. Mungkin dia udah ngirim tugas laporannya!" ujar Nana.
__ADS_1
"Coba aku hubungi, ya?" kata Yuki.
Nana hanya mengangguk. Sesekali bola matanya memandang ke dalam, berharap bahwa lelaki idolanya akan keluar lagi.
Yuki berkali-kali memencet nomor Dhea, tapi tak ada jawaban.
"Nomor Dhea kenapa ya? Aku telepon kok nggak bisa?" tanya Yuki mengernyitkan dahi menatap layar ponsel jadulnya yang retak sedikit layarnya karena ikut terjatuh di hutan pinus.
Nana hanya mengangkat bahunya, tanda dia tak tahu juga.
"Nah, udah kekirim. Besok kamu masih belum boleh berangkat kuliah, 'kan? Nanti aku cetakin sekalian kujilidkan!" ujar Nana.
"Makasih, Na! Aku ambilkan uangnya, ya?"
"Ah, udah nggak usah, Ki! Itung-itung aku nolong temen! Kamu juga kan yang bikin laporannya!" ujar Nana tersenyum.
Meski kesal dengan kejadian tadi, tapi Yuki pun merasa senang karena Nana adalah teman yang baik.
"Makasih banyak ya, Na!" ucapnya.
"Permisi!"
Saat akan mengemasi laptopnya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara berat khas yang muncul di depan pintu. Yuki beranjak membuka pintu. Seketika wajahnya pias melihat siapa yang datang.
"K-kak Ferry? E-eh, k-kenapa ya?" tanya Yuki gugup. Rasa cemas yang tadi mulai memudar, sekarang kembali lagi dengan adanya Ferry yang tiba di depan rumah itu.
"Mau nengok kamu," jawab Ferry.
"Oh, Kak Ferry datang! Ya udah, aku pulang dulu aja ya, Ki? Nanti mengganggu. Eh, mana Kak Rangga?" tanya Nana usai mengemasi barang-barangnya.
Ferry masuk tanpa disuruh, lalu mendudukkan pantatnya di sofa Bu Yayah. Yuki masuk ke dalam, pikirannya kacau karena dua orang yang datang ke rumah itu bersamaan.
Ah, gimana sih ini!! Dua orang itu merusak suasana damai aja! Huh! Udah Nana mau berduaan sama Mas Rangga, Kak Ferry datang. Pasti aku dimarahi Bu Yayah! Sial! Kacau semua!!
Yuki mengerutkan dahinya, kesal. Dia mencari Rangga di dapur. Lelaki itu sedang minum air dari kulkas.
"Mas Rangga udah dibilangi nggak boleh minum air kulkas!" omelnya mengagetkan lelaki itu.
"Dikit Ki, dikit ...." ujarnya memelas.
"Tuh, ditungguin Nana, suruh nganterin!" Yuki menyandarkan lengannya sambil melipat tangan. Malah macam majikan pada asistennya.
"Iya, Nona ...." Dua jari dia letakkan di pelipis lalu dilepaskannya.
Rangga mengambil kunci mobilnya, lalu berjalan ke depan. Ferry kaget melihat Rangga. Kedua lelaki itu saling berpandangan. Ferry menundukkan kepalanya, kebingungan karena pengakuannya pada Yuki.
Duh, kok ada cowok ini?? Apa Kiki tau yang sebenarnya??
__ADS_1
Ferry bingung sendiri hingga dia mengabaikan Nana yang berpamitan padanya.