
"Halo?" sambut wanita di seberang.
"Gadis magang itu ternyata kenal dengan Pak Rangga, dia terus berada dibdekatnya. Bagaimana jika aku nggak bisa merebut posisi sekertaris??" keluh Melly di ruangannya.
"Perjodohan antara aku dan Rangga harus berhasil, mau tak mau mama Rangga akan mempercepat semua ini demi kelangsungan perusahaan itu. Tiga bulan ini kita telah berhasil menurunkan grafik perusahaan mereka! Kita tak boleh kehilangan kesempatan ini. Ancam saja si anak magang itu, agar tak mendekati Rangga! Lagian, dia hanya seekor semut kecil yang dengan mudah kita singkirkan!" ujar suara wanita bergaya bak model itu.
"Oke, lalu bagaimana kita menstabilkan turunnya penjualan sementara ini?" bisik Melly.
"Kamu turunkan lagi gaji karyawan, hingga mereka merasa malas untuk mengerjakan semua hal! Periksa bagian produksi, kurangi isi produk-produknya!"
"Setelah dua office boy yang bekerja paling lama itu dan penurunan kualitas bahan baku makanan??" tanya Melly tak percaya.
"Iya!!"
"Ooh, baiklah."
Wanita bernama Cecilia di ujung sana telah menutup teleponnya. Dia menggenggam ponselnya sambil menatap ke foto Rangga, "Sebentar lagi kamu akan jatuh ke pelukanku. Sikap dinginmu akan berubah saat semua keluargamu memohon agar kami menyelamatkan perusahaan kalian yang sedang akan di ujung tanduk itu!" geramnya.
*
"Cindy! Aku mau pergi ke bagian produksi! Ingat, jika ada yang mencariku, bilang kalo aku lagi sibuk memeriksa pabrik! Oh ya, catatan kemarin soal orang-orang yang telah resign dimana?" tanya Melly.
Wajah Cindy pias, "Apakah itu penting, Kak?" tanyanya polos. Selama satu tahun ini, dia didikte oleh Melly, karena Melly yang memasukkannya di perusahaan ini, menjadi bagian manager HRD adalah impian Cindy, tapi dia dibebani oleh pekerjaan-pekerjaan yang bukan pekerjaan HRD.
Melly sendiri adalah manager produksi yang telah bekerja selama sebelas tahun di perusahaan itu dan dia sering mengeluh pada Cindy bahwa dia tak pernah naik jabatan sebagai sekertaris. Tiga bulan, tepatnya saat Pak Lee sakit, entah kenapa beberapa orang termasuk sekertaris sebelumnya memilih untuk resign dari pekerjaan mereka.
"Tentu saja penting!! Itu daftar nama orang-orang yang harus disingkirkan. Gimana sih!?" bentak Melly kesal. "Kamu cari catatan itu! Kalo nggak, namamu yang akan dicentang!" ancamnya.
"I-iya, Kak!" jawab Cindy gugup.
*
"Kiki, apa kamu nggak menemukan keganjilan dalam hal produksi?" tanya Rangga tak perduli apakah gadis itu paham atau tidak.
"Keganjilan bagaimana, Mas? Aku nggak ngerti."
"Oh, iya. Kamu baru dua hari di sini," ujar Rangga menepuk jidatnya. Dia merasa dekat dengan gadis itu dan mengajaknya berbicara semua hal seolah gadis itu mengerti.
__ADS_1
"Kenapa Mas Rangga tak memeriksa bagian produksi saja?" usul Yuki.
"Oh, iya. Kamu benar! Aku akan langsung ke pabrik. Kamu jaga di ruanganku, ya?" pesan Rangga.
Yuki mengangguk sambil menunjukkan telunjuk dan ibu jari yang disatukan. Dia mengedarkan pandang ke sekeliling setelah Rangga keluar dari ruangan. Beberapa foto terpampang di sana. Seorang wanita yang terlihat cukup elegan dan Pak Lee terpajang di sana.
"Apa itu yang namanya Bu Selly?" gumamnya. Dia lalu mengabaikan pikirannya lagi. Kemudian memberanikan diri untuk membuka-buka file komputer. Agak lama dia membuka, ada sebuah file daftar nama pegawai sepuluh tahun terakhir.
Dia membuka file itu lalu mencocokkan dengan kertas yang disimpannya di saku.
"Oh, ini nama sekertaris dan beberapa pegawai yang dicentang resign di kertas ini, tapi semuanya berprestasi, kenapa mereka keluar dan sepertinya hampir bersamaan waktunya??" Yuki mengamati itu dengan curiga.
Dia mengambil gambar kertas itu sebelum hilang.
*
Cindy terburu-buru berlari ke ruang rapat. Dia mencari sebuah kertas coretannya dengan kelabakan.
"Tadi sepertinya di laci atau jatuh, ya??" Wanita itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dia punya ide untuk mencari Yuki, karena teringat bahwa orang terakhir yang berada di ruangan itu untuk bersih-bersih adalah Yuki. Cindy tau bahwa Yuki sedang berada di dalam ruangan Rangga. Sebenarnya wanita itu tak berani, tapi demi kariernya, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan presdir.
"Lho, Kak Cindy, Pak Rangga baru ke bagian produksi," kata Yuki tanpa menunggu maksud kedatangan wanita itu. Dia mengira Cindy sedang mencari Rangga.
"E-eh, aku bukan mencari Pak Rangga, tapi aku mencarimu. Apa kamu tau ...." Ucapan Cindy tercekat, dia ingin menanyakan tentang catatan kecil itu pada Yuki tapi takut kalau gadis itu curiga.
"Eh, nggak apa-apa. Mm ... kemarin setelah rapat, kamu membersihkan seluruh laci?" tanya Cindy.
Dari pertanyaan itu, Yuki telah paham bahwa wanita itu sedang mencari catatan, dan isi kertas itu sangat penting bagi Cindy atau mungkin bagi seseorang.
"Oh, Kak Cindy mencari ini?" tanya Yuki menunjukkan kertas itu.
"Nah! Iya!" Cindy terlihat sumringah melihatnya. Dia kira Yuki tak akan melakukan apa-apa selain menyerahkannya pada Cindy. Namun, kenyataannya beda.
"Tunggu, kertas ini isinya daftar nama dan beberapa yang dicentang telah keluar bertahap dari perusahaan. Bisa jelaskan, Kak?"
Raut wajah Cindy berubah pucat, Yuki menahan kertas itu di tangannya.
__ADS_1
"Itu bukan kertas apa-apa," jawab Cindy.
"Oh, kalo gitu aku simpan di laci Pak Rangga, ya?"
Yuki berlagak memasukkan kertas itu ke dalam sakunya, lalu akan menutup pintu. Di dalam kertas itu masih ada daftar beberapa nama yang belum dicentang.
"J-jangan, Kiki! Mana, siniin!" Cindy berupaya untuk membuka pintu ruangan yang masih terbuka sedikit.
"Jelaskan dulu, kenapa ada daftar nama yang telah dicentang di kertas ini? Apa ini daftar nama pegawai profesional yang dikeluarkan dari perusahaan? Atau mereka memilih resign karena suatu sebab??" selidik Yuki.
"Kamu karyawan magang! Kamu nggak perlu tau!" teriak Cindy.
Bersamaan dengan itu, seorang wanita yang tadi pagi Yuki lihat di depan kantor bersama dengan Melly, keluar dari lift.
Yuki menutup pintu ruangan Rangga. Dia tak menyadari kedatangan wanita itu.
"Cindy! Kamu kenapa di situ?? Rangga di dalam??" tanya Cecilia.
"Eh, aku ... nggak tau, Kak! Masuk aja, coba!" tukas Cindy. Setelah ketakutan, dia merasa agak senang karena setidaknya akan ada Cecilia yang akan menggertak Yuki.
"Oh ... baiklah."
Wanita cantik itu membuka pintu tanpa mengetuknya.
"Hey!! Siapa kamu?? Kenapa kamu ada di ruangan presdir??" gertak Cecilia pada Yuki. Wajahnya melihat Yuki dengan pandangan tak suka.
"Anda sendiri siapa? Kenapa masuk ruangan tak mengetuk pintu dulu?? Dimana norma kesopanan anda, Nyonya??" tanya Yuki berdiri menantangnya. Meski dia kalah tinggi dengan wanita itu, tapi keberaniannya melebihi tingginya.
"Nyonya?? Aku ini masih dua puluh lima tahun!! Jangan kamu panggil Nyonya!!" hardiknya kesal.
"Maaf, aku hanya menghitung jumlah kerutan di wajah anda!" Yuki ingin sekali terkikik saat mengucapkannya. Mengerjai wanita bertemperamen buruk seperti makhluk di hadapannya begitu menyenangkan.
"Uhh!! Mana Rangga??!" teriak wanita itu kesal, mengabaikan ucapan Yuki.
"Beliau sedang berada di bagian produksi, Nyonya!"
"Jangan panggil aku Nyonya!!" teriak wanita itu.
__ADS_1
Pintu terbuka, Rangga masuk ke ruangannya, "Ada apa teriak-teriak, Cecilia?!"