Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kekacauan Kantor


__ADS_3

"Oh, selamat datang," sambut seorang manager wanita di sebuah ruangan.


"Makasih, Kak. Saya karyawan magang dari kampus X, ini data diri saya."


Yuki menyerahkan map yang berisikan curriculum vitae-nya.


"Ya, biar saya periksa."


Wanita dengan name tag bertuliskan Cindy itu memeriksa lembaran yan dibawa oleh Yuki.


"Namamu Kiki saja?" tanya Cindy, wanita berkacamata itu membenahi letak kacamatanya dan menatap ke arah Yuki tak percaya.


"Iya," jawab Yuki mantap.


"Ooh, baiklah. Hari ini kita ada rapat. Namaku Cindy. Kamu bisa bertanya padaku jika ada kesulitan, Kiki. Sekarang, tolong cetak dokumen ini untuk bahan rapat. Office boy belum datang. Sebentar lagi CEO kita datang. Kamu cepat, ya?"


"Oh, baik Kak Cindy!"


Begitulah ... jadi belum apa-apa, Yuki sudah diminta untuk menggandakan dokumen-dokumen penunjang rapat.


Tak begitu masalah untuk Yuki, dia senang mendapat tugas, daripada harus bengong. Namun, office boy belum datang?? Seharusnya kan dia datang awal? Ada berapa office boy di sini?


"Kak Cindy, dimana aku bisa mencetak dokumen ini??" tanya Yuki.


"Eh, di ruangan pojok. Ada Kak Melly di sana, kamu bisa tanya-tanya sama dia," jawab Cindy yang memang sedang sibuk mempersiapkan semua bahan rapat. Bahu dan telinga menghimpit sebuah ponsel sambil berbicara entah dengan siapa.


"Baik," jawab Yuki lirih.


Ternyata enak kerja di rumah dengan management sendiri daripada ikut sebuah perusahaan orang.


Yuki melangkah ke ruangan pojok. Beberapa orang menatapnya, ada yang kagum, ada juga yang memandangnya sinis. Gadis itu hanya mencoba tersenyum pada semua karyawan di sana.


Ia sampai di sebuah ruangan. Di sana memang ada seorang wanita. Yuki ragu untuk mengetuk pintu, tapi wanita itu telah memergokinya di depan pintu.


"Ya, ada yang bisa aku bantu?" tanya wanita itu datar.

__ADS_1


"Saya Kiki, karyawan magang, Kak. Saya disuruh menggandakan dokumen-dokumen ini."


Yuki menunjukkan beberapa berkas yang dia bawa.


"Oh, ya. Aku Melly. Kamu bisa mencetak dengan mesin pengganda itu, di pojok," tunjuk Melly pada Yuki.


"Saya belum bisa pakainya, Kak."


"Oh, maaf. Kamu coba sendiri, ya? Aku harus menyiapkan ruangan rapat hari ini!"


Yuki membulatkan mulutnya, "Oh ... ya."


Dia pun melangkah ke mesin yang ditunjuk oleh Melly yang telah keluar begitu saja dari ruangan itu. Sesaat dia nekat memencet tombol power lalu mesin itu segera menyala. Namun, apa lagi yang dia pencet, dia tak tahu. Ingin bertanya tapi seolah semua orang sedang sibuk-sibuknya di luar ruangan itu.


Akhirnya dia hanya berusaha sendiri mencari cara agar dokumen itu berhasil digandakan.


"Ini kan mesin fotokopi, aku sering melihat beberapa pegawai fotokopian. Sepertinya begini," gumamnya memencet salah satu tombol. Alhasil, karena keliru, dokumen yang tadi dia selipkan malah rusak terhimpit di dalam mesin.


"Gawat!!" ujarnya. Detak jantung Yuki tiba-tiba menjadi cepat. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai bercucuran.


Kaki Yuki lemas, semua tulang seolah lolos dari tubuhnya.


"Bagaimana ini??" Yuki menutup wajahnya. Rapat akan segera dimulai, lima belas menit lagi. Dia segera berlari ke ruangan Cindy.


"K-kak Cindy, a-aku minta maaf, d-dokumen itu rusak karena aku belum bisa mengendalikan mesin penggandanya ...." ucap Yuki terbata-bata.


"Apa??!! Haduh, gimana sih!! Lima belas menit lagi kita harus rapat. Bos segera akan datang! Buruan kamu cetak lagi!!" teriak Cindy.


Awal yang menyedihkan untuk Yuki, sepagi itu dia harus berupaya keras untuk mencetak lagi dokumen-dokumen yang berjumlah dua puluh lima lembar setiap bendelnya.


"Fiuh ... tenanglah Yuki ...." gumamnya pada diri sendiri. Yuki menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya pelan. Dia mulai membuka file di komputer lalu mengikuti suruhan Cindy.


Pelan-pelan printer mulai mencetak lembaran materi rapat. Yuki tak sempat membaca materi itu. Dia hanya berusaha agar cepat. Satu dokumen tercetak.


"Mana itu dokumen yang udah jadi, yang lain kamu cetak satu lagi trus gandakan lima puluh bendel, ya? Jangan rusak lagi! Kutunggu di ruang rapat! Ketuk aja nanti!" perintah Cindy.

__ADS_1


"Kenapa kantor ini nggak teratur gini sih?? Apa selalu seperti ini jika ada rapat semua serba dadakan??" keluh Yuki.


Yuki trauma dengan mesin fotokopi yang tak dia mengerti cara penggunaannya. Dia memilih untuk keluar mencari toko fotokopian. Sedari tadi Yuki masih berada di lantai pertama. Hanya ada tiga lantai kantor itu. Ruang rapat ada di lantai dua.


Yuki berlari keluar membawa berkas-berkas, semua orang seolah sedang sibuk. Dia lalu bertanya pada satpam yang mengantarnya tadi pagi, "Pak, ada toko fotokopian, nggak, ya?"


"Oh, itu di seberang, Mbak!" tunjuk satpam ke seberang jalan.


"Oh ya, makasih."


Yuki segera berlari ke seberang. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil putih berhenti di depan kantor. Seorang pria paruh baya dengan anak tunggalnya turun dari mobil. Mereka berjalan cepat menuju ke lantai kedua.


Semua orang menyapa mereka, tak seperti saat Yuki datang, semua tak acuh pada gadis itu.


"Selamat pagi, Pak Lee."


Pria paruh baya itu hanya tersenyum sedikit pada para karyawannya, lalu bersama putranya berjalan masuk ke lift.


"Kamu siap memimpin rapat perdanamu, Nak?" tanya pria itu.


"Iya, Pa."


Lelaki muda itu menghela napas, tak menyangkal, dia merasa gugup karena baru kali ini dia akan memimpin sebuah rapat. Ketidakhadiran pemimpin di kantor itu karena sakit untuk satu bulan terakhir membuat penurunan kualitas produksi barang disertai penurunan penjualannya. Pria muda itu harus membangkitkan kembali perusahaan satu-satunya yang mereka miliki.


Lift terbuka, mereka berjalan melewati beberapa ruangan sebelum sampai ke ruang meeting.


Sementara itu, Yuki sedang berjibaku menunggu selesainya dokumen tercopy, dia menggigit bibir melirik ke jam tangannya. Dia membeli jam tangan itu dua hari yang lalu, tak ada merk, tak masalah. Pastinya benda yang melingkar di pergelangan tangannya itu bisa berfungsi menunjuk angka melingkar dan dia gunakan untuk menghitung waktu seperti saat ini.


"Ayolah, cepat ...." gumamnya.


Akhirnya tumpukan lima puluh bendel telah Yuki bawa dari tempat itu. Andaikan dia bisa memutar waktu, tapi nyatanya keberuntungan tak berpihak padanya. Sepuluh menit terlambat, bahkan bisa bertambah keterlambatannya hingga ia bisa sampai di ruang rapat. Dia berlari sekencangnya.


Yuki mengetuk pintu dengan pelan dan takut-takut. Degup jantungnya berdetak cepat. Ini bukanlah tanggung jawabnya, tapi apalah daya konon anak magang yang sering menjadi tempat salah.


Dia memutar slot pintu ruangan rapat, anak rambutnya telah acak-acakan demi berkas-berkas itu.

__ADS_1


Pemimpin rapat menghentikan sejenak kalimatnya, lalu saling berpandangan dengan Yuki. Meski seluruh mata manusia dari semua divisi yang berada di ruangan sedang menatap ke arah gadis itu, jantung Yuki semakin akan copot saat menatap lelaki muda yang sedang berdiri di depan sendiri. Ya, tampan dan pastinya dia ... Rangga!


__ADS_2