Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Ambyar


__ADS_3

Kedua pasang sahabat itu berpisah dengan jalur dan mobil masing-masing. Yuki memasuki mobil Rangga, dia merasa lega sekarang. Semua telah jelas, pangeran hatinya itu adalah orang yang telah menyelamatkan dirinya dan juga bukan kekasih sahabatnya. Selain itu, Cecilia yang dijodoh-jodohkan dengan Rangga pun telah lari ke luar negeri. Diam-diam, Yuki meminta papanya lagi untuk memblokir jalan kembali Cecilia dari luar negeri.


Sekarang, tinggal hati Rangga saja. Yuki belum mengetahui kedalamannya. Seperti apa perasaan lelaki itu padanya.


"Mas Rangga, makasih karena telah menyelamatkanku malam itu. Maaf aku belum sempat berterima kasih karena selama ini yang kutau Kak Ferry yang mengaku menjadi pahlawan saat malam naas itu."


"Jadi, kamu masih percaya sama Ferry?"


"Nggak! Tentu aja, nggak!" Yuki menggelengkan kepalanya cepat.


"Dia ternyata membuatku jadi bahan taruhannya dengan mendapatkanku sebagai pacar," lanjut Yuki.


"Dia cuma taruhan, kamu suka beneran?" tanya Rangga.


"Nggak!!" seru Yuki kesal.


Tawa Rangga makin membuat Yuki kesal. Lelaki itu seperti mengoloknya. Dia membuang muka ke samping. Ngambeg.


"Kan udah kubilang kalo teliti dulu sebelum membeli," ujar Rangga di akhir gelak tawanya.


Yuki mendengus, lalu menatap ke depan lagi.


"By the way, aku kagum denganmu, Ki. Meski kamu seorang pembantu, tapi wawasanmu luas, ulet dan rajin. Jarang sekali aku menemui gadis sepertimu selama ini."


Pipi Yuki merona, dia lupa akan olokan Rangga tadi karena telah dibuai dengan pujian dari lelaki itu. Sebentar kemudian, dia menyadari sesuatu.


"Lho, Mas Rangga! Ini bukan arah jalan ke rumah Bu Yayah?? Mau kemana kita??" seru Yuki ketika Rangga membelokkan kemudinya.


"Bentar ...."


"Aku bisa dimarahi Bu Yayah kalo mampir-mampir lagi! Kita udah agak kemalaman!"


"Kalo kamu perginya sama aku, nggak bakal masalah ...."


Yuki terus menatap ke depan. Sesekali dia melirik jam di pergelangan tangannya.


Mobil berhenti di sebuah butik baju. Rangga turun dan membukakan pintu untuk Yuki.


"Ayo, turunlah. Bantu aku memilih baju," pinta Rangga.


"I-iya," jawab Yuki.


Mereka turun lalu masuk ke butik baju itu. Rangga meraih jemari tangan Yuki, menggenggamnya erat dan menariknya masuk ke bagian dress wanita.


"Tolong pilihkan untuk seseorang," pinta Rangga.


Rasa kecewa kembali menyayat Yuki.


Ini buat siapa lagi?


"Ukurannya?" tanya Yuki.


"Seukuran kamu," jawab Rangga.


Yuki memilih-milih baju dan pilihannya pada baju warna hitam.


"Biarin! Kupilihkan warna yang gelap-gelap!" gumamnya kesal.


"Pilihkan lima baju ya, sama setelan lima juga!" kata Rangga.


"L-lima? Tapi di sini agak mahal, Mas?"

__ADS_1


"Terserah aku lah! Aku yang bayar ...."


"O-oh, iya, iya, Mas CEO ...."


Yuki berputar-putar lalu dia memilih lima dress dan lima setelan. Dia sedikit heran kenapa Rangga membeli setelan juga.


"Mungkin cewek itu kerja juga," tebaknya lagi.


"Udah?" tanya Rangga.


"Udah. Ini, Mas. Buat siapa, kok banyak banget?" tanya Yuki penasaran.


"Kepo," jawab Rangga.


Yuki mendengus kesal, dia menyerahkan semua baju itu ke Rangga dengan cemberut.


Lelaki itu seolah tak peduli, dia membawanya ke pelayan butik kemudian membayar semua itu.


"Semuanya tujuh puluh delapan juta rupiah," ujar pelayan itu.


Yuki terbelalak, "Pemborosan!"


Rangga membayar semua dengan kartu kreditnya. Mereka membawa beberapa tas kertas dari butik itu ke mobil, hingga jok belakang dipenuhi oleh paper bag.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Yuki melihat mobil itu dilajukan lagi ke arah lain.


"Jangan ribut. Ikut aja, kok!" omel Rangga.


Gadis itu hanya melipat tangannya, mendengus lagi. Memang, dia menjamin Bu Yayah tak akan memarahi. Namun, dia kesal kalau harus mengantarnya hanya untuk urusan seorang gadis lagi.


Mobil berhenti di sebuah toko berlian. Rangga kembali mengajak Yuki turun.


Meski di rumah pun maminya tukang koleksi berlian, tapi naluri wanita terpukau juga saat melihat benda berkilauan itu.


"Apa, Mas?"


"Siniin jarimu," pinta Rangga.


"Ish!" Yuki menyodorkan jari manisnya ke arah Rangga.


Lelaki itu memasangkan cincin bermata berlian putih di jari manis itu. Terlihat pas dan cantik.


"Bagus, nggak menurutmu?" tanya Rangga.


"Hmm ... bagus," jawab Yuki tanpa melihat ke jarinya.


"Yang lain, Mbak. Kayaknya kurang bagus," ujar Rangga melihat ekspresi gadis itu.


"Eh ... fyuh!" gerutu Yuki.


"Ini," tawar penjaga tokonya.


Sebuah cincin bermata berlian kecil terlihat pas juga di jari manis Yuki.


"Gimana yang ini?" tanya Rangga.


"Bagus yang ini," ujar Yuki. Kali ini dia melihat jarinya.


Kasih tuh berlian yang kecil aja! Kalo yang tadi kegedean! Bisa terlalu senang tuh cewek!!


"Oh ... yang ini, Mbak!"

__ADS_1


Cincin berlian kecil seharga tiga puluh juta telah dibawa Rangga lagi.


"Kok kamu pilihnya yang kecil, tadi yang besar kan bagus!" ujar Rangga.


"Hmmm ... itu pun udah cukup mahal, kan??" jawab Yuki kesal.


"Oh, bukan masalah mahal atau nggak, tapi gadis itu suka nggak sama cincinnya??" tanya Rangga lagi.


"Hampir semua wanita suka kalo dikasih cincin, Mas. Cincin kan bentuk pengikat, berarti seorang lelaki mau mengikat wanita itu jika udah menyematkan cincin di jarinya!"


"Tadi aku udah menyematkan cincin di jarimu?" ujar Rangga.


"Iya, tapi nyoba doang!" gerutu Yuki pelan.


"Hahaha, apa kamu bilang? Kamu mau disematkan cincin sama cowok?"


Yuki mendengus, dia sangat kesal sekali, ingin rasanya segera pulang. Namun, lelaki tampan ini terus bermain-main.


Gadis itu terkejut saat jemarinya dipegang oleh Rangga. Lelaki itu menyematkan cincin yang dia pegang ke jari manisnya lagi.


"M-mas Rangga, aku ...." Kalimat Yuki tercekat di kerongkongan. Jantungnya mulai berdebar lagi.


Apakah ....


Apakah ....


Apakah ....


"Kiki, maukah kamu jadi calon istriku?"


Tak disangka lelaki itu melamarnya sekarang. Ambyar sudah pertahanan hati Yuki. Matanya Yuki mulai menghangat, bulir air mata terasa menetes tak tertahan. Haru. Dia hanya bisa mematung di depan Rangga yang telah berdiri di depannya, memegang kedua tangannya dan menatap penuh harap. Bukan bersimpuh menyerahkan kotak cincin seperti drama di TV.


"Mau, Mas!"


Gadis itu langsung memeluk Rangga beberapa saat. Lelaki itu membalas pelukannya.


"Eh, ini bukan prank kan, Mas??" tanya Yuki.


"Iya, ini prank, selamanya aku akan nge-prank kamu ...." ujar Rangga tertawa.


"Aku mau di-prank selamanya ...."


Yuki merasa sangat bahagia. Penantiannya selama ini terjawab dengan manis.


"Trus, baju-baju butik itu buat siapa, Mas??"


"Ya buat kamu lah, siapa lagi??" ujar Rangga menjawab gadis polosnya itu.


"Tau gitu aku pilih yang warnanya cerah ...." rengeknya.


"Lho, tadi kan udah kusuruh milih?"


"Iya, kirain buat cewek lain! Ya kupilihin yang warna gelap-gelap!"


"Jangan-jangan cincin itu juga ...." Rangga menatap jengkel pada gadis yang sekarang meringis di depannya.


"I-ini cincin yang kusuka, kok! Tenang aja, Mas." Yuki mengelus lengan Rangga agar tak kesal.


"Huh, awas ya kali bohong! Yuk, kita pulang sekarang!" ajak Rangga.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Tau gini aku pilih cincin yang tadi!


Yuki sedikit menyesal, tapi semua itu tak ada artinya setelah dia menyadari bahwa berlian sesungguhnya telah berada dalam genggamannya.


__ADS_2