
Mobil Rangga melaju bersama senyum dan lambaian tangan bahagia Nana. Namun, senyuman dan lambaian itu bukan menyiratkan kebahagiaan untuk Yuki, tapi terasa bagai sebuah ancaman. Ancaman bahwa sesuatu yang dia incar sekarang dekat dengan temannya sendiri.
Apakah mereka akan dekat??
Yuki mulai menyesali kenapa dia memberi kesempatan pada Nana untuk bersama Rangga.
"Kiki ...."
Gadis itu tersentak mendengar namanya dipanggil. Karena terlalu serius memikirkan kedua orang itu, dia lupa akan adanya Ferry di ruang tamu.
"Eh, iya Kak Ferry!" jawabnya, lalu duduk di kursi depan Ferry. Tak ada lagi gairahnya untuk apapun.
"Cowok tadi siapa?" tanya Ferry hati-hati. Dia masih takut kalau dustanya ketahuan oleh Yuki.
"Dia keponakan majikanku," jawab Yuki menunduk.
"Oh, apa dia tau kejadian malam itu saat kamu terjatuh?" tanya Ferry.
"Sepertinya dia tau sedikit, tapi entahlah mungkin dia tau dari kabar kampus. Waktu itu, penginapan kampusnya dan kampus kita bersebelahan, 'kan?" jelas Yuki.
"Oh, iya, apa dia tau aku yang menyelamatkanmu?" desak Ferry. Dia tak tau lagi apa yang ingin ditanyakan.
"Kak Ferry kenapa gusar gitu, sih? Apa perlu aku bilang padanya kalo Kakak yang menyelamatkan aku?" tanya Yuki kesal dengan sikap Ferry.
"Eh, nggak usah, nggak perlu. Mm ... gimana keadaanmu, Kiki? Apa udah sehat benar?" tanya Ferry melihat kepala Yuki yang masih terbungkus.
"Udah sih Kak, tinggal pemulihan aja."
"Mm ... oh iya, ini buah jeruk untukmu! Segar-segar, lho!" Ferry menyerahkan sebungkus jeruk berwarna oranye pada Yuki. Gadis itu menerimanya, tapi hanya meletakkan di atas meja.
"Cobalah!" ujar Ferry.
"Makasih, nanti aja, lagi nggak mood," ujar Yuki singkat.
Ferry membuka plastik, kemudian mengambil sebuah jeruk lalu mengupasnya. Dia memakan jeruk itu sendiri.
Aneh, kirain mau ngupasin untukku, meski aku pun nggak akan mau kalo dikupasin dia! Eh, ternyata dia makan sendiri. Ugh, apa yang diberikan ke orang kenapa dia makan sendiri??
"Laporanmu udah selesai, Kiki?" tanya Ferry sambil menghabiskan jeruknya.
"Udah. Tadi udah ngerjain laporan sama Nana."
"Ooh ...."
Kapan sih orang ini pulangnya?? Aku sengaja nggak buatin minum biar cepet pulang, eh nggak pulang-pulang ....
Ferry berdehem, "Ehm, Kiki ... tentang apa yang kuutarakan waktu itu ... gimana jawaban kamu?"
"Aku kan bilang seminggu lagi, Kak?" Yuki mulai sangat kesal. Dia bukanlah orang yang suka ingkar janji. Namun, lelaki di depannya ini terus menagih jawaban yang masih ia pikirkan, dan menjurus ke tolakan.
__ADS_1
"Oh, iya. Kirain kamu amnesia trus lupa kalo ada waktu seminggu, hahaha."
Ferry meletakkan kulit jeruk ke asbak. Yuki menghela napasnya. Walau dia menunjukkan ketidaksukaan, entah kenapa lelaki itu masih betah berada di dekatnya.
*
"Kak Rangga, berhenti di rental komputer depan situ, trus tungguin ya? Aku mau cetak lalu menjilidkan laporan dulu!" pinta Nana memaksa.
Rangga menghela napasnya, "Ya, baiklah."
Kenapa juga tadi nggak sekalian dicetak di rumah sih?
Sekitar satu jam Rangga menunggu di dalam mobil. Cowok itu memainkan ponselnya, hingga sebuah bunyi klakson mengagetkannya.
Din!
Rangga membuka kaca jendela, lalu melihat ke spion. Dia tertawa melihat siapa di belakangnya. Sonny turun dari mobilnya dibarengi oleh Rangga. Mereka saling tos persahabatan.
"Kirain siapa bunyiin klakson! Aku udah minggir, masa sih suruh minggir lagi ke got!" kelakar Rangga.
"Hahaha, ngapain kamu di sini, Ngga?" tanya Sonny.
"Nganter temen," jawab Rangga santai.
"Temen apa temen?" lirik Sonny pada sahabatnya itu.
"Tadi abis dari bengkel, pasang kampas rem," jawab Sonny.
"Ooh," Rangga hanya membulatkan mulutnya.
Pada saat mereka asyik berbincang, Nana datang dengan dua jilidan di tangannya.
"Kak Rangga, udah nih," ujarnya.
"Siapa lagi tuh, Ngga?" tanya Sonny.
"Kenapa harus pake 'lagi'?? Kayak aku buaya darat aja!" gerutu Rangga. Sonny tergelak mendengar gerutuan Rangga.
"Eh, kenalin Na. Ini Sonny, temenku," lanjutnya.
"Nana," ujar gadis itu mengulurkan tangan.
"Sonny," jawab Sonny menyambut uluran tangan Nana. Mereka bertiga berbincang di depan mobil Rangga. Nana lebih banyak diam karena nggak tau apa yang mereka bicarakan.
Setelah agak lama berbincang, Rangga menyudahi, lalu mengajak Nana pulang.
"Udah, yuk! Tar kesiangan lagi!" kata Rangga.
"Mau ngapain, sih??" tanya Sonny.
__ADS_1
"Ini kan aku mau nganterin Nana. Nana kan tadi main ke rumah. Dia itu temen asistennya Bibiku. Trus si asisten itu lagi sakit, nggak ada orang di rumah ...."
"Oh, okelah!" jawab Sonny.
Mereka saling berpamitan lalu masuk ke mobil masing-masing.
"Kak Rangga, Kak Sonny itu temennya, ya?" tanya Nana di dalam mobil.
"Iya, sahabatku. Ya mungkin kayak kamu sama Kiki."
"Trus rumahnya mana? Kenapa dari tadi dia di belakang kita, sih?" Nana menoleh ke belakang.
"Rumahnya di utara sana, tapi ya nggak tau kalo dia mau kemana dulu," jawab Rangga.
Nana mengangguk-angguk sambil sesekali memandangi spion dalam mobil. Mobil Sonny tak kelihatan setelah mereka sampai di gang rumah Nana.
Sesampainya di rumah Nana, dia menyuruh Rangga untuk mampir, "Kak Rangga masuk dulu, yuk? Minum-minum teh gitu."
"Mm ... nggak, ah! Makasih, aku pulang dulu, ya?" Rangga berpamitan masih di dalam mobilnya.
Nana tersenyum kecewa, lalu terpaksa menganggukkan kepalanya dan merelakan lelaki tampan itu pergi dari halaman rumahnya. Rangga melajukan mobil kembali ke rumah dengan perasaan lega. Dia telah mengantar anak orang dengan selamat sampai ke rumahnya tanpa kurang suatu apapun.
"Untung aja orang tuanya nggak keluar, bisa-bisa diinterogasi aku, padahal nggak ngapa-ngapain!" gumamnya.
Dia melayangkan pikiran ke rumah, "Ah, semoga anak orang satu itu juga nggak macam-macam di rumah dengan cowok!"
*
"Kiki, aku pulang dulu, ya?" ujar Ferry melihat ke jam tangannya.
"Oh ya, Kak Ferry. Makasih, ya?" ucap gadis itu. Dia bisa sesenang itu dengan kepergian seseorang.
"Sama-sama, moga cepat sembuh."
"Makasih," ujar Yuki sambil berdiri, seolah mengharap lelaki itu pun segera berdiri dan pergi.
"Kamu kayaknya nggak suka aku di sini?" tanya Ferry mengerutkan dahi.
"Eh, nggak Kak, aku cuma agak pusing aja dari tadi," jawab gadis itu.
"Oh, pantes nggak ceria gitu. Ya udah kamu istirahat dulu, ya?"
"Iya, Kak."
Ferry segera beranjak keluar dari ruang tamu, lalu menaiki motor sport-nya. Dia memakai helm kemudian menyalakan mesin motor. Klakson berbunyi seiring kepergiannya. Yuki merasa sangat lega.
"Ah, untung Bu Yayah belum pulang! Bisa-bisa aku diceramahi habis-habisan sama dia!" ujar Yuki lega.
Gadis itu mengemasi gelas-gelas kosong dan piring saji di atas meja. Lalu membawanya ke dapur dan membersihkannya.
__ADS_1