
Sore hari setelah hari itu, mobil telah siap di depan rumah Rangga. Ketika itu Tuan Lee memikirkan untuk menuruti istrinya meski rasa kecewa menghinggapi. Pria paruh baya itu belum juga mengajak anak lelakinya berbicara.
Mereka telah bersiap untuk memasuki mobil mewah milik Tuan Lee.
*
Sementara itu, Yuki sedang berkutat di toko rotinya, mengaduk adonan dengan mixer baru yang mampu menampung banyak adonan.
"Bagus juga mixer ini, Lie!" seru Yuki pada Lie-lie, pegawainya yang membantu di dapur. Ada empat orang yang membantu di dapur. Namun, untuk kepala dapur, Lie lah orang yang tepat.
"Iya, Mbak. Bisa menampung beberapa kilo adonan. Kita bisa membuat banyak roti dalam waktu singkat. Oven yang kemarin beli juga bagus."
"Oh, iya? Kamu udah nyoba?"
"Udah, Mbak. Baru kemarin waktu Mbak Kiki pergi, aku nyobain. Bisa menampung banyak roti juga!"
"Bagus itu. Eh, Lie, kalo kita bikin roti baru gimana? Menu baru, pake isian kelapa enak nggak ya?"
"Coba aja, Mbak. Menu kita kan udah ada isian keju, coklat, daging, abon, pisang. Nggak ada salahnya kita coba! Sedikit dulu, Mbak. Lihat minat konsumen."
"Iya, Lie. Abis ini aku suruh Yana untuk belanja sekalian belanja kekurangan bahan roti."
Yana adalah pegawai yang melayani pembeli di depan sekaligus membantu belanja ketika ada bahan yang kurang dan tak diantar oleh supplier.
"Yana, tolong nanti sekalian mampir pasar, belikan kelapa yang agak muda, ya?" pinta Yuki.
"Buat apa, Mbak?"
"Mau bikin isian kelapa."
"Ada kan di toko bahan kue isian kelapa yang udah jadi, Mbak?"
"Konsep kita kan pake bahan murni homemade dan fresh, Yana ...."
"Oh, iya, Mbak. Siap kalo gitu ...."
"Nih uangnya, sekalian beliin batagor buat semua pegawai, ya?"
Yuki memberikan sejumlah uang pada Yana.
"Wah batagor! Enak! Iya, Mbak. Makasih, Mbak!"
__ADS_1
Yana segera berlari ke mobil yang juga telah dibeli oleh Yuki bulan lalu untuk menawarkan roti berkeliling. Agung, si sopir yang baru satu bulan bekerja itu pun sigap mengantar Yana sekalian mangkal di tempat-tempat keramaian untuk menjual roti dan kue dari Kiki's Bakery. Dengan usaha itu, alhasil pesanan makin merambah ke mana-mana.
*
Rangga mengerucutkan bibirnya ketika sampai di pertengahan jalan. Dia tak banyak bicara di dalam mobil karena merasa dialah sumber kekeliruan karena penolakan perjodohan dengan anak milyarder senegeri itu.
"Papa udah buat janji dengan keluarga Tuan Bhanu?" tanya Nyonya Selly.
"Udah, Ma."
Tuan Lee membuka ponselnya dan membuka kabar berita kenaikan harga saham terbaru di layar. Sementara Rangga masih tak acuh di jok depan sebelah sopir. Dia masih belum bisa menghilangkan badmood atas ajakan kedua orang tuanya ke rumah Tuan Bhanu.
"Nanti kalo sampai di rumah Tuan Bhanu bersikaplah yang baik, Rangga!" seru Tuan Lee pada anak lelakinya yang tak bersuara sedikit pun itu.
Rangga hanya diam, melirik ke belakang sebentar kemudian menatap lagi ke depan.
Tuan Lee hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak lelaki satu-satunya itu.
"Apa yang mau kita sampaikan, Pa?" tanya Nyonya Selly ketika mobil akan sampai di daerah rumah elit Tuan Bhanu.
"Ya ... entahlah, Ma. Yang jelas, kita minta maaf. Tuan Bhanu adalah orang yang menguasai pangsa pasar. Kita bisa tersingkir jika menyakiti keluarganya."
"Sepertinya mereka keluarga baik, tak akan menyingkirkan kita seperti itu, Pa."
Keduanya menghela napas pelan. Tuan Lee mengambil botol vitamin, lalu menelannya dengan sebotol air mineral.
Mobil telah sampai di depan rumah. Sopir Tuan Lee memperlihatkan sebuah kartu identitas untuk melakukan pengecekan di pos jaga satpam depan. Setelah selesai dan terkonfirmasi, mobil bisa masuk ke gerbang yang telah dibukakan oleh penjaga.
Rumah mewah terpampang di depan mata. Membuat takjub semua mata yang memandangnya. Begitu pun Nyonya Selly dan Tuan Lee. Meski mereka menempati rumh mewah, tapi melihat rumah yang begitu besar itu pun tercengang. Baru kali itu mereka menapakkan kaki di rumah pengusaha nomor wahid.
Agak lama mereka berdiri di depan, menunggu anak lelakinya yang masih melipat lengan di dalam mobil, terlihat sengaja memperlihatkan kemalasannya dengan acara itu.
Dua pelayan telah berdiri menyambut mereka agak lama menunggu untuk membukakan pintu depan.
Rangga turun dari mobil dan membarengi kedua orang tuanya itu masuk ke ruang tamu rumah keluarga Bhanu.
"Silakan duduk, dulu. Kami panggilkan Tuan dan Nyonya. Mohon menunggu."
Kedua pelayan itu kemudian masuk ke dalam untuk menemui tuan dan nyonya mereka.
"Rangga, tolong tersenyumlah. Ini pertama dan terakhir kita di rumah mewah ini. Beri kesan yang baik pada tuan rumah."
__ADS_1
Nyonya Selly membujuk Rangga untuk tersenyum dan bersikap dengan baik.
"Iya, Ma."
Rangga mulai agak mencair setelah duduk dan menunggu. Dia menyadari bahwa kedua orang tuanya telah mengalah untuk hubungannya meski tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Suara langkah kaki datang dari dalam. Sepasang suami istri yang bersahaja dikawal oleh dua orang pria bodyguard di samping kanan dan kirinya, masuk ke ruang tamu dengan perabotan mewah itu. Paling tidak, ruangan itu dipenuhi oleh benda-benda dengan harga milyaran rupiah.
"Tuan John Lee, apa kabar?" tanya Tuan Bhanu lalu menyalami ketiga tamunya itu.
"Baik, Tuan Bhanu."
"Silakan, silakan ...." ujar Tuan Bhanu mempersilakan mereka untuk duduk kembali setelah berdiri menyambut tuan rumah.
"Ada apa gerangan keluarga Tuan John Lee kemari?" tanya Tuan Bhanu.
"Ehm, begini Tuan Bhanu, kami kemari bersama dengan anak kami, dengan rendah hati akan memohon maaf yang sebesarnya pada keluarga ini."
Pria itu menghentikan kalimatnya sejenak. Rasa cemas merajainya. Dia takut akan keselamatan perusahaan jika perasaan keluarga Tuan Bhanu dilecehkan atas pembatalan perjodohan yang mereka janjikan saat pertemuan beberapa CEO di saat lampau itu.
Nyonya Marlina Moon membisikkan sesuatu pada suaminya sebelum pria yang terlihat cemas itu melanjutkan pembicaraan. Tuan John Lee semakin ragu ketika melihat istri Tuan Bhanu berbisik-bisik mengatakan sesuatu. Tuan Bhanu mengangguk-angguk setelah mendengar bisikan istrinya.
"Oh ya, Tuan John Lee, kami sebelumnya mohon maaf atas perjodohan yang kita rencanakan saat itu, mungkin lebih baik kita batalkan saja, karena anak saya satu-satunya itu menolak perjodohan ini. Saya dan keluarga memohom maaf yang sebesarnya pada keluarga John Lee."
Usai mengatakan hal itu, Tuan Bhanu menunduk, merendahkan dirinya untuk memohon maaf pada keluarga di depannya.
Rangga mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan perkataan pria yang terlihat sangat berwibawa di hadapannya itu.
Begitu juga kedua orang tuanya, mereka sedikit merasa lega meski agak kecewa karena tak jadi berbesanan dengan orang nomor satu senegeri ini.
"Oh ya, maaf memotong pembicaraan. Saya tidak enak pada keluarga John Lee karena anak saya memang keras kepala. Namun, kami pun tak pernah mengekang kemerdekaan anak kami dalam memilih jodohnya sendiri. Tadi, apa ya yang akan Tuan Lee sampaikan?"
Tuan Lee sedikit tersenyum. Apa yang ingin dia sampaikan ternyata sama dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Bhanu.
"Oh, tidak jadi soal Tuan Bhanu. Kami hanya ingin bersilaturahmi. Jika begitu, bolehkah anak kami berkenalan dengan anak anda sekedar menjalin persahabatan, tidak lebih."
Rangga mengerutkan dahi mendengar ucapan spontan ayahnya. Terlebih lagi saat Tuan Bhanu menyetujuinya.
"Boleh saja Tuan Lee. Kami akan mengundang kalian saat pesta ulang tahun putri kami. Kebetulan dia pun telah berhasil memiliki usaha sendiri, dia-...."
Nyonya Marlina Moon menyenggol lengan suaminya agar tak banyak membicarakan kelebihan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Oh, maaf ...."
Tuan Bhanu menghentikan pembicaraan itu dan meminta ketiga tamu untuk menyantap hidangan yang telah dibawakan oleh para pelayannya.