
Tujuh hari telah berlalu. Yuki melakukan check-up lukanya di puskesmas dekat rumah. Dokter telah menyatakan bahwa lukanya sembuh dan ia bisa kembali masuk kuliah. Melakukan pekerjaan-pekerjaannya pun tak mempengaruhi kepalanya.
Dia bersiap berangkat ke kampus. Rangga selalu saja berangkat ke kampus cepat-cepat hingga tak sempat sarapan. Hanya sepotong roti dan keju yang dia kunyah saat berlari ke arah mobilnya. Seperti itu terus. Di mata Yuki, begitu giat lelaki itu untuk menyelesaikan kuliah dan mendapat nilai yang memuaskan.
Nana jarang sekali menghubungi Yuki selama satu minggu ini. Bahkan si Dhea sama sekali tak menghubunginya. Hanya Ferry sesekali mengirimkan pesan lewat ponsel, menanyakan hal-hal klasik seperti 'udah makan belum?' dan 'lagi ngapain?'. Namun, tak juga diberi balasan oleh Yuki.
Yuki menelan suapan terakhirnya, lalu mengalungkan tas ke lengan kiri. Pak Frans masih memerlukan dia untuk menyiapkan materi kuliah dan dia pun memerlukan uang Pak Frans. Setelah seminggu hibernasi dari perkuliahan, otak Yuki kembali mengingat hal-hal yang harus dilakukan.
"Bu Yayah, saya berangkat kuliah dulu, ya?" Yuki mencium tangan majikannya itu.
"Ya, jangan terlambat pulang. Ingat kerjaanmu!" pesan Bu Yayah ketus.
"Baik, Bu."
Yuki segera berjalan menuju ke kampusnya. Semalam hujan mengguyur kota itu. Jalanan becek dimana-mana. Yuki memakai celana jeans yang dilipat ke atas, menghindari cipratan lumpur.
"Ternyata selain miskin, udik juga lho!" teriak gadis-gadis di dalam mobil.
Yuki tak menghiraukan mereka. Dia mencontoh Rangga yang bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan kuliahnya dengan baik.
"Mereka hanyalah bakteri yang mencoba mengganggu, tapi aku tak akan terpengaruh! Aku tak akan terpengaruh oleh apapun!" desisnya.
Seperti biasa, dia masuk ke ruang dosen untuk mengambil buku dari meja Pak Frans lalu menyiapkannya di ruang kuliah semester lima, menyambungkan LCD, menyalakan laptopnya lalu menuju ke ruang kuliahnya sendiri.
"Kiki!!" teriak Nana dari dalam ruangan.
Yuki bergegas menghampiri temannya yang heboh melihat kedatangannya itu. Selain dia, tak ada lagi yang menyambut kedatangannya.
"Kamu udah sembuh??" tanya Nana.
"Udah," jawab Yuki.
"Ada berita baru yang pasti bikin kamu kaget!" ujar Nana.
"Apa sih?" Yuki meletakkan tasnya di atas kursi lalu duduk di sebelah gadis itu.
"Maaf ya, selama ini aku jarang hubungi kamu, karena aku ada urusan penting," jelas Nana.
"Eh, bentar ... bentar, Dhea mana ya, kok nggak pernah kelihatan??" Yuki celingukan sendiri mencari sosok Dhea yang biasanya udah duduk di kursi, mendahului siapapun. Mungkin dia datang tepat bersamaan pada saat tukang kebun membuka gerbang kampus. Namun kali ini dia belum kelihatan batang hidungnya.
"Dhea belum berangkat kuliah sejak pulang dari penginapan itu, Ki!" kata Nana manyun, karena apa yang dia sampaikan diputus oleh Yuki.
"Lho, kenapa??" tanya Yuki kaget.
"Ya nggak tau, lah .... Nomornya aja nggak bisa dihubungi, kok!" Nana menggaruk kepalanya yang memang gatal.
"Rumahnya dimana, sih?" tanya Yuki mengangkat alisnya.
"Nggak tau," jawab Nana mengangkat bahunya.
"Kenapa lagi tuh anak," gumam Yuki mengambil ponselnya lalu memencet nomor Dhea. Tak ada respon, nomor itu tak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Pasti ada yang nggak beres nih! Mungkin soal urusan keluarganya!" tebak Yuki.
"Mungkin juga!" jawab Nana.
Geng Queensya masuk dengan berjalan bak mafia. Seseorang dari mereka melempar tas ke kursi membuat suasana menjadi tak nyaman.
Klotak!
Sebuah ponsel meluncur dari tas yang dilempar itu.
"Ah! Ponsel terbarukuu!!" jerit Wenny.
Gadis itu meraih ponselnya yang telah menghitam tak mau menyala karena terantuk kaki kursi. Yuki dan teman-teman lain menahan tawa dibuatnya. Geng Queensya menjadi bungkam karena malu akan kejadian itu.
"Norak sih!" desis Yuki.
"Hooh!" jawab Nana yang ikut kesal lama-lama dengan geng tak mutu itu.
Bu Neneng masuk ke ruangan dan mulai memberikan materi kuliahnya, hingga jam perkuliahan berakhir. Anggota geng Queensya keluar duluan dari ruangan.
"Wenny! Kenapa sih kamu?? Ngapain pake lempar-lempar tas? Malah bikin ponselmu kebanting, 'kan? Dasar pe'a!!" umpat Queensya marah.
"I-iya, maaf!" ucap Wenny mengelus handphone-nya.
"Hih! Udah, sekarang kita ke ruang BEM aja! Pantengin Kak Ferry-mu tuh, Nggi! Si Miskin udah datang ke kampus! Jangan sampai kecolongan lagi!" ujar Queensya lagi.
"Iya, yuk!!" jawab Anggi seolah diingatkan.
*
"Kiki, ayo kita ke kantin! Aku mau lanjutkan obrolan tadi!" ajak Nana menarik tangan Yuki.
"Iya, iya! Bentar aku mau beresin buku-buku sama alat di ruang semester lima punya Pak Frans!"
"Ya udah, kutunggu di kantin ya!" seru Nana.
"Oke!"
Yuki bergegas naik ke ruang semester lima. Seorang lelaki yang paling dia benci tiba-tiba membiarkan tubuhnya ditabrak oleh Yuki yang sedang terburu-buru.
"Aih!!" teriaknya.
"Kiki ... Kiki .... Kok kamu malah seringan sama Ferry? Aku juga mau dong sama kamu!"
Candra terkekeh sendiri dengan apa yang dia ucapkan, terdengar menyepelekan.
"Gila!" umpat Yuki lalu melanjutkan langkahnya ke ruang semester lima. Untung masih ada Pak Frans di sana.
"Kiki, kamu udah sembuh?" tanya Pak Frans.
"Udah, Pak!" jawab Kiki tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah!" ucap Pak Frans.
Yuki mengangkat tumpukan buku lalu membawanya mengikuti dosen killer itu ke ruang kantor bawah, lalu meletakkan di atas meja Pak Frans.
"Makasih ya, Ki!"
"Sama-sama, Pak!"
Gadis itu berjalan ke kantin cepat-cepat sebelum Candra mendatanginya lagi. Setelah sampai, dia mencari sosok Nana di keramaian kantin. Nana melambaikan tangannya ke atas agar Yuki melihatnya. Yuki tersenyum lebar lalu mendekati Nana yang telah duduk dengan dua gelas jus jeruk dan sepiring kentang goreng keju di atas meja.
"Kamu mau minum dua gelas jus?" tanya Yuki melotot, heran.
"Ya nggak lah! Ini buat kamu satu gelas. Kamu boleh pesan makanan apa aja, aku yang traktir."
"Oh beneran nih? Siap kalo gitu."
Yuki memesan satu roti bakar dengan keju mozarella.
"Dua!" ujar Nana cepat ketika Yuki menyampaikan pesanan pada pelayan.
"Ya ampun selera makan kamu banyak banget!" decak Yuki melihat selera makan temannya itu.
"Maklum, aku kan lagi seneng!" kata Nana tersenyum-senyum.
"Kenapa ... cerita dong!" kejar Yuki.
Yuki mulai merasakan Nana adalah teman kedua yang tak membeda-bedakan status setelah Dhea. Bahkan dengan Nana dia bisa bersikap selayaknya teman yang saling membantu dan mendukung, sedangkan Dhea, walau Yuki pun sedikit introvert tapi Dhea lebih introvert menjurus ke pendiam. Jadi untuk curhat-curhatan cinta seperti ini jauh blak-blakan Nana ketimbang Dhea.
"Dari tadi aku mau cerita, kamu ngacir aja! Mm, aku jadian ...." ujar Nana membuat Yuki tersedak saat menyeruput jus jeruknya.
"Uhuk! Uhuk!!"
Pelayan membawa nampan berisi roti bakar pesanan mereka, lalu meletakkannya di atas meja, membuat kalimat Nana kembali menggantung. Hanya pikiran Yuki yang menjadi tak karuan. Selama ini Mas Rangga jarang di rumah dan Nana jarang menghubunginya.
Apakah mereka ....
"Jadian sama siapa, Na?" tanya Yuki dengan jantung berdegup kencang.
"Sama Mas ... Aditya," jawab Nana tersenyum.
Aditya ... Aditya Rangga. Benar kan, dia jadian sama Aditya Rangga. Apa mungkin mereka mulai saling suka saat mengantar pulang Nana??
Pikiran Yuki mulai tak karuan. Wajahnya memucat.
"Emm ... Nana, aku ikut seneng, tapi aku kok pusing ya? Nana, aku minta maaf nggak bisa nemeni kamu makan. Makasih traktirannya. Aku mau pulang dulu."
"Lho, Kiki! Aku anterin, ya?"
Yuki melangkah keluar dari kantin melambaikan tangan tanda tak ingin diantar oleh Nana. Dia berjalan dengan cepat menuju jalan pulang sambil menutup mulutnya. Hatinya terasa sakit. Matanya menghangat dan tak kuasa menahan bulir-bulir yang mengalir dari kedua matanya. Beberapa orang memandangnya tapi dia tak perduli. Dia terus berjalan pulang.
"Yuki, katamu tak akan ada yang mempengaruhimu! Nggak ada yang akan mempengaruhimu apapun itu! Camkan, Yuki!!" gumamnya sendiri menguatkan hati sepanjang jalan.
__ADS_1