
"Papi yakin untuk memasukkan Yuki ke perusahaan John Lee?? Mereka sedang terpuruk seperti itu?" protes Nyonya Marlina Moon pada suaminya yang sedang duduk di sofa kesayangannya. Melepas penat karena seharian dia berada di perusahaan besar mereka.
"Yakin," jawabnya singkat.
"Papi, kasihan Yuki!"
"Kita coba lihat kemampuannya! John Lee juga mengandalkan anaknya untuk menyelesaikan masalah, kan? Yuki bukan anak-anak lagi, Mi! Dia harus bisa ikut mengatasi masalah seperti itu!"
Nyonya Marlina kembali mendesah, dia sedikit menyesal menyetujui untuk melepas anaknya ke dunia luar yang penuh liku tanpa identitas jelas, karena dari kecil Yuki terlalu dimanjakan. Dia kuatir akan keselamatan anaknya.
"Tenang saja Mi! Orang-orang kita pasti mengawasi Yuki. Dia aman!" ujar Tuan Bhanu sedikit melegakan istrinya.
******
Wajah kesal terpampang di depan ruangan melihat wanita cantik yang seharusnya orang akan terkesima melihatnya, tapi tidak dengan Rangga. Dia sangat kesal dengan wanita itu.
Yuki bahkan bertanya-tanya, siapa wanita yang tak sopan ini? Apa ada kaitannya dengan lelaki pujaannya itu?
"Mendingan kamu sekarang keluar! Dengan adanya kamu, aku tambah pusing soal kerjaan!" ujar Rangga pada Cecilia.
"Dia siapa?" tunjuk Cecilia pada Yuki.
"Dia hanya anak magang! Nggak perlu kamu ganggu, karena dia membantuku di sini!!" kata Rangga.
Hanya anak magang?? Benar kan, aku nggak istimewa di mata Mas Rangga? Bahkan dia tak menyebutkan namaku ....
Yuki menunduk, kepercayadiriannya tadi menurun karena ucapan Rangga.
"Oh, jadi hanya anak magang? Berani-beraninya mengataiku berkerut!"
Rangga hampir meledakkan tawa mendengarnya, dia melirik Yuki yang masih menunduk. Dalam hatinya senang juga karena gadis itu berani melawan seorang Cecilia.
"Udah, sekarang kamu pergi dari ruangan ini. Aku mau bekerja!" perintah Rangga.
"Ohh, iya Rangga, calon suamiku. Baiklah. Selamat bekerja, ya?" Cecilia memilih untuk mengakhiri pertikaian itu, menegaskan kata 'calon suami' dan melirik pada Yuki.
Apa wanita ini yang akan dijodohkan dengan Mas Rangga??
Napas Yuki hampir sesak mendengarnya. Wanita itu sukses membuat seluruh tubuhnya lemas kali kedua setelah dulu dia menebak Nana jadian dengan Rangga.
Sepertinya memang Mas Rangga bukan untukku. Yuki, tetaplah fokus pada hidupmu!
Yuki menguatkan dirinya sendiri. Dia meremas baju setelannya dan tak menyadari bahwa Cecilia telah berlalu dari ruangan itu.
__ADS_1
"Kiki, produksi menurun karena .... Kiki, kamu kenapa??" tanya Rangga melihat gadis itu pucat.
"Nggak apa-apa, Mas Rangga."
Rangga mendekati gadis itu, memegang dahinya, lalu memapahnya duduk.
"Pasti karena kecapekan, kan? Kamu pucat, aku ambilkan teh dulu, ya?"
"Nggak usah, Mas. Aku hanya perlu sendiri dulu," ujar Yuki. Dia berdiri dan melangkah keluar dari ruangan lalu berjalan ke kursi tempatnya biasa duduk. Panggilan Rangga tak dia hiraukan.
"Mbak, kenapa?" tanya seseorang memegang pundaknya.
Yuki membaca namanya, salah satu dari orang yang ditulis namanya di kertas, tapi belum dicentang, namanya Zahra.
"Nggak apa-apa, Kak ... Zahra! Maaf, baca name tag!"
Zahra mengangguk lalu memberikan segelas air mineral untuk Yuki. Gadis itu lalu meminumnya sedikit, kemudian meletakkan sisanya di atas meja.
"Yuk, aku antar pulang aja, Ki!" Tiba-tiba Rangga telah berada di dekatnya.
"Aku udah nggak apa-apa, Mas Rangga!" jawab Yuki.
"Zahra, bantu dia masuk ke mobilku, ya?" pinta Rangga.
"Baik, Pak."
"Makasih, Kak Zahra."
Senyum ketulusan terbingkai di wajah wanita itu. Yuki yakin, dia adalah salah satu pegawai yang terbaik dari perusahaan Rangga.
"Katamu, kalo sakit jangan dipaksakan!" ujar Rangga seraya menjalankan mobil.
Yuki sedang mengingat kenangan saat dia menaiki mobil itu bersama Rangga. Menghirup aroma khas coffee di dalam mobil itu.
"Eh, iya Mas, tapi aku nggak sakit!"
"Kamu pucat gitu! Pasti sakit!"
Rasa cemas dan perhatian Rangga yang dulu pernah Yuki rasakan, sekarang terulang lagi. Diam-diam dia menikmati rasa cemas lelaki itu. Dia tersenyum mengingatnya.
"Kok malah senyum-senyum?? Gadis aneh! Aku bawa ke dokter ya?"
"Pulang aja, Mas."
__ADS_1
"Ke dokter jiwa," jawab Rangga.
"Iih ...." Ingin rasanya Yuki mencubit lelaki itu. Namun, diurungkan niatnya melihat Rangga tertawa lepas, melupakan masalah di kantor tadi.
"Mas Rangga, boleh aku tanya sesuatu?"
"Ya kalo aku bisa jawab, boleh aja," ujar Rangga.
"Apa Cecilia itu gadis yang dijodohkan dengan Mas Rangga seperti yang diceritakan kamu dulu?" tanya Yuki hati-hati.
Rangga menggelengkan kepalanya, "Dulu aku pernah cerita bahwa aku akan dijodohkan. Namun, bukan dengan Cecilia, entah dengan siapa, anak sahabat papa dan mamaku. Setelah perusahaan terpuruk tiga bulan ini, keluarga Cecilia datang untuk menawarkan kerja sama dengan syarat perjodohan kami. Dia model sebuah majalah," jelas Rangga panjang lebar.
"Oh ...." Yuki ingin menanyakan hubungan Rangga dengan Nana, tapi dia takut terlalu menelisik dan lelaki itu merasa risih. Akhirnya dia memilih untuk diam.
"Hubungan kamu sama Ferry, lancar?" tanya Rangga tiba-tiba.
Yuki menggelengkan kepalanya, "Kami udah putus, Mas!"
"Hmm ...." Tak disangka Rangga hanya mengucap itu. Dia tak lagi mengungkitnya.
Mereka terdiam di dalam mobil hingga sampai di depan rumah Bu Yayah.
"Aku langsung ke kantor, ya? Sampaikan salamku untuk Bibi dan Om! Kamu juga jaga kesehatan, ya? Tak usah dipaksakan jika sakit," pesan Rangga.
Yuki mengangguk, dia mengharapkan lelaki itu turun sebentar tapi masalah perusahaan pasti masih mengganggu pikirannya. Akhirnya Yuki hanya merelakan Rangga untuk pergi lagi.
Setidaknya Mas Rangga punya perhatian walau sedikit padaku. Saat aku sakit, dia meninggalkan pekerjaannya demi mengantarku pulang!
Seutas senyum terbentuk di bibir gadis itu seiring bunyi klakson dari mobil Rangga. Rasa pusing masih kembali menghinggapi kepalanya. Dia segera masuk ke kamar, lalu merebahkan diri. Bayangan tentang Cecilia yang membuatnya pusing tadi, masih menari-nari di benak Yuki.
"Kiki! Kamu pulang awal?? Kenapa? Sakit kah??" tanya Bu Yayah di depan pintu kamar Yuki.
"Hanya sedikit pusing, Bu!" ujar Yuki.
"Pasti kamu kecapekan! Aku udah bilang kan! Minum vitamin! Kamu keras kepala banget sih! Untung ini hari Sabtu! Jadi, nggak ada orderan! Kamu banyak istirahat dulu! Nanti sore aku antar ke dokter!" omel Bu Yayah.
Yuki kembali tersenyum padahal dia sedang dimarahi oleh majikannya. Namun, ada rasa kasih sayang di balik omelan itu. Meski dia jauh dari kedua orang tuanya, dia tak merasa sendiri.
"Nggak usah ke dokter, Bu! Saya hanya capek aja ...." ujar Yuki membuka pintu melongok Bu Yayah.
"Ya udah, kamu tidur dulu! Nanti kalo kamu masih capek, biar nanti aja soal kerjaan rumah, yang penting kamu nggak boleh sakit!"
"Iya, Bu, makasih!"
__ADS_1
Yuki tersenyum lalu kembali merebahkan diri dan terlelap.
"Kalo dia sakit, pemasukan dari orderan bakal tersendat!" gumam Bu Yayah yang mulai menikmati hasil dari pesanan nasi box selama beberapa bulan ini.