
"Kiki! Kamu di sini? Lama kita nggak ketemu, ya? Ditanyain mama tuh, kenapa kamu nggak pernah datang ke rumah?? Eh, kalian udah lama menunggu?" tanya Nana.
Yuki menunduk tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Nana. Rasa kecewa, takut dan menyesal berkecamuk di hatinya. Kenapa dia menerima ajakan pacar sahabatnya, yang sekarang berakhir dengan kecanggungan. Dia bakal hanya sebagai obat nyamuk belaka di sana.
Yuki membiarkan Rangga yang berbicara dengan Nana.
Aku janji, Na. Ini yang terakhir aku berkencan. Namun, kenapa baru sekali ini dan aku telah berjanji untuk tak mengulangi tapi malah kamu mengganggu kebahagiaanku yang cuma sekali ini saja??
Sejujurnya Yuki bahagia saat berangkat hingga sebelum Nana datang. Namun, kebahagiaan itu ternyata hanya diijinkan beberapa menit saja.
"Nana, maaf ya, aku bukan bermaksud untuk mengganggu kalian. Aku hanya ditraktir makan oleh Mas Rangga karena urusan kantor. Maafin aku ya, Na? Aku sama Mas Rangga hanya relasi kerja. Kamu jangan salah kira ya?" cerocos Yuki seraya menunduk tak menghiraukan kedua orang di depannya itu menatap bingung padanya.
"Hey!" Seseorang menepuk pundak Rangga. Membuyarkan kedua orang yang terbengong menganalisa ucapan Yuki, lalu mencium kening Nana.
Yuki segera mengangkat kepala, tertegun memandang drama di depannya. Siapa lelaki ini? Kenapa dia mencium kening Nana di depan Rangga?? Berani-beraninya dia!!
Yuki mengerutkan dahi menatap tajam pada lelaki itu.
"Maaf, lama. Nana kusuruh duluan nyari kalian. Aku cari tempat parkir. Parkiran penuh hingga aku harus menunggu sebuah mobil keluar."
Alasan lelaki itu membuat Yuki kebingungan.
Nana tertawa terbahak-bahak setelah menyadari itu, "Hahaha, Kiki ... aku bukan pacar Kak Rangga! Kamu ini salah sangka!"
"Oh ya, belum kukenalkan kalian," ujar Rangga menyadari kebingungan gadis itu.
"Kiki, ini Sonny, sahabatku."
Sonny mengulurkan tangan ke arah Yuki, gadis itu menyambutnya pelan.
"Aditya Sonny Dewanto," ujarnya.
"A-aku Kiki."
"Ki, aku pernah bilang kan, tentang Mas Aditya? Pacarku. Ini lho orangnya."
Nana melirik ke arah Sonny.
Yuki melihat adanya kecocokan wajah mereka. Nana yang berwajah oriental, putih, dengan rambut lurus panjang dan Sonny yang bermata sipit seperti oppa Korea dan rambut lurus menantang langit, malah seperti kakak beradik jika diperhatikan.
"Udah kubilang jangan panggil aku Aditya, dia juga mengandung unsur Aditya juga!" Sonny menunjuk Rangga dengan wajahnya.
"Aku suka nama itu!" protes Nana.
Yuki malu bukan kepalang, sekaligus merasa lega. Ada ruang yang terasa begitu longgar setelah tadi menyempit begitu sesaknya.
__ADS_1
"Ternyata ada kesalahpahaman," tukas Rangga tersenyum, melirik pada Yuki.
Yuki tersenyum kecut, wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat itu. Untunglah kedua pasangan di depannya sedang fokus memperbincangkan menu kesukaan mereka. Mereka mengobrol dan sebentar kemudian, seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Keempat orang itu langsung menyantap pesanan karena perut mereka memang telah keroncongan.
"Eh, Kiki kamu bisa bantu di perusahaan Pak Lee, apa kepala kamu udah sembuh benar? Malam itu, kami berdua mengantarmu ke rumah sakit, tapi yang paling cemas ya ... CEO baru kita ini!" celetuk Sonny menunjuk Rangga dengan lidah menonjolkan pipinya.
Yuki mengernyitkan dahi. Sementara Rangga tak menanggapi apapun yang dikatakan Sonny.
"A-apa??" desis Yuki meminta penjelasan pada Rangga.
Rangga hanya mengangkat bahu dan melanjutkan makannya, membiarkan Yuki dengan rasa penasaran atas apa yang dikatakan Sonny.
"Kak Sonny, maksudnya apa sih?"
Akhirnya Yuki tergelitik untuk menanyakan pada Sonny tentang apa yang dikatakannya.
"Kamu nggak tau, waktu kamu tergelincir di hutan pinus, kami yang menolongmu saat itu dan Rangga langsung membawamu ke rumah sakit! Dia sangat cemas sekali melihatmu pingsan!" jelas Sonny.
Yuki semakin bingung. "Lho, kenapa saat aku sadar, kalian nggak ada di rumah sakit?"
"Kami harus kembali ke penginapan, karena ... yaah biasa lah, para mahasiswa-mahasiswi itu nggak betah dengan suasana dingin pedesaan. Banyak dari mereka yang sakit," jelas Sonny lagi. Sementara Rangga memilih untuk diam.
Yuki tak menangkap adanya kebohongan dalam ucapan Sonny. Dia meletakkan sendok dan garpu lalu meminum vanilla latte-nya, lalu menatap ke Rangga yang sibuk menghabiskan makan.
"Benarkah itu, Mas Rangga?"
"Lho, kenapa Kak Ferry yang menungguiku malam itu?" tanya Yuki lagi.
"Aku nitipin kamu ke Ferry," jawab Rangga singkat.
"Kenapa kamu nggak bilang, Na??" semprot Yuki pada Nana yang sedang asyik menyuapi Sonny.
"Lho, kukira kamu tau??" jawab Nana menatap Yuki dan menarik sendoknya, membuat Sonny kecewa karena makanan tak jadi masuk ke mulut lelaki itu.
"Aku bener-bener nggak tau kejadiannya! Setahuku, Kak Ferry yang menyelamatkan aku di hutan pinus!"
"Bukan!" jawab Sonny tak terima.
"Rangga yang masuk dan turun ke hutan pinus lalu menggendongmu ke mobil," lanjutnya lagi.
"A-aku baru tau ...." Suara Yuki tercekat, selama ini di dalam pikirannya lain karena ucapan Ferry yang menyatakan bahwa dirinyalah yang telah menyelamatkan Yuki malam itu.
Setelah lega karena Nana bukan pacar Rangga, sekarang dia dikejutkan fakta lain mengenai kejadian beberapa bulan lalu. Dia menerawang, pikirannya kembali campur aduk. Antara kesal dan kecewa atas ketidakjujuran Ferry, hingga dia tak sempat mengucapkan terima kasih pada Rangga, pahlawan sebenarnya, dengan perasaan senang karena Ranggalah yang ternyata penyelamat yang dia harapkan saat itu.
Kak Ferry harus diberi pelajaran suatu saat nanti!
__ADS_1
Yuki mengepalkan tangannya, dia berharap Ferry akan jera dan tak mengulangi perbuatannya pada korban lain.
"Kiki, kapan kamu selesai magang?" tanya Nana memecah suasana kaku yang tercipta antara Yuki dan Rangga.
"Oh, dua bulan lagi, Na." Yuki mengambil cangkir, menghabiskan minuman di dalamnya.
"Mama udah nunggu di rumah, katanya ada resep baru yang harus kamu coba. Beliau bersemangat membuat kue kembali setelah kamu sering datang."
"Oh ya, Na. Aku akan datang kalo selesai magang."
"Kamu bisa bikin kue?" tanya Rangga.
Yuki mengangguk.
"Bisa coba bikin buatku?" tanya Rangga.
"B-bisa, Mas Rangga."
Keduanya saling menatap.
"Ehem! Kapan kita akan KB lagi??" tanya Nana membuyarkan tatapan mereka.
Yuki terperanjat dan melotot pada Nana, "Apa KB??"
"Kencan Bersama!" jawab Nana disambut tawa lelaki di dekatnya.
Yuki tambah terbelalak, "K-kencan? Bersama? Tapi aku dan Mas Rangga ...."
"Setelah urusan kantor selesai, kita berempat bisa pergi bersama ke suatu tempat!" janji Rangga, memotong perkataan Yuki.
Yuki hanya menghela napas tapi tersenyum lebar juga mendengarnya, ada celah untuknya dan Rangga.
"Asyiiiikk!! Mungkin liburan semester depan kita bisa menjalankan rencana! Ya, Beb?" ajak Nana menggelayut manja pada Sonny.
"Iya, apa sih yang nggak buatmu, Say?" jawab Sonny mencolek hidung Nana.
"Aku ...."
Yuki menutup mulutnya melihat drama itu.
"Apa??" tanya Nana penasaran dengan apa yang akan dikatakan Yuki.
"Mau muntah ...." jawab Yuki tergelak.
"Ih, iri bilang Bos!!" ujar Nana melempar sedotan ke arah Yuki.
__ADS_1
Suasana romantis di rumah makan itu terasa sesyahdu hati Yuki yang berdekatan dengan Rangga, kehangatannya memanas saat melihat sepasang kekasih di depannya sengaja memamerkan kemesraan mereka. Wajah Yuki dan Rangga memerah, siapa yang mesra, siapa juga yang malu.