Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Persiapan Perayaan


__ADS_3

Tak ada satu pun yang mengetahui bahwa dua hari lagi adalah hari ulang tahun Kiki, tapi ribuan orang mengetahui bahwa dua hari ke depan adalah ulang tahun Yuki Amaranggana, putri tunggal Tuan Bhanu Tungga Jaya, pengusaha tersohor di negeri itu.


Semua orang ramai membicarakannya, terutama para pengusaha, tua maupun muda. Karena Tuan Bhanu tak pernah memunculkan anaknya di media apapun. Bahkan rumah mewahnya dijaga ketat dari para wartawan.


"Undangan kepada semua orang. Tuan Bhanu telah memberitakan ke media bahwa dia akan mengadakan acara ulang tahun di sebuah gedung mewah dekat rumah yang menjadi milik keluarga mereka!"


"Wah, nggak sabar aku kepengen lihat wajah putri pengusaha nomor satu!"


"Pestanya pasti sangat mewah, semua orang diundang!"


"Jelek apa ya anaknya kok ditutup-tutupi identitasnya?"


"Makan, makan, makan gratiss ...."


Dan banyak lagi ribuan komentar dari netizen atau citizen di sana. Untuk yang tak bisa datang pun, akan ada live streaming acara ulang tahun itu di aplikasi yutup dan ditayangkan live di semua channel televisi besar.


*


"Papi! Kenapa pake perayaan segala??" protes Yuki.


"Udahlah, kapan semua orang tau bahwa kamu anak Papi kalo nggak diumumin?" jawab Tuan Bhanu.


Yuki menghela napas, dengan begitu berakhirlah penyamarannya. Undangan telah diumumkan di media. Gadis itu pasrah.


"Apalagi anak Mami udah nggak manja lagi, dia bahkan bisa memiliki usaha sendiri!"


Nyonya Marlina Moon memperlihatkan sebuah majalah yang mengulas tentang toko roti Yuki.


"Besok pas ulang tahunmu, kami pesan kue dan roti dari tempatmu, ya?" ujar wanita itu.


Mata Yuki berbinar, lupa akan kekesalannya, membayangkan puluhan ribu kue yang akan diborong oleh Maminya. Tentu saja akan banyak uang yang mengalir ke kantongnya.


"Ah, boleh!" jawabnya bersemangat.


"Diskon, ya?"


"Nggak, Mami. Pengusaha nomor satu minta diskon? Mami mau aku jadiin berita di headline news majalah?"


Mereka tertawa.


*


Queensya mematut dress terbarunya, rancangan Evan Gunavan, perancang terkenal. Dia menghabiskan lima puluh juta untuk dress berwarna kuning gading itu.


"Mama, acara ulang tahun big boss pasti sangat meriah. Aku harus tampil cantik, donk!" teriaknya.


"Iya! Kakakmu mana Queen? Jas barunya pun telah siap, dicoba dulu!" ujar Nyonya Aini, ibu Queensya.

__ADS_1


"Kak! Kak Candra! Tuh dipanggil Mama!"


Sahabat Ferry itu merayap turun dari sofa yang dia tiduri dengan malas.


"Apa sih, Ma? Apa aku harus ikut dengan pesta konyol itu?"


"Kamu itu! Ini undangan besar! Kamu selalu aja malas, apa-apa malas, kuliah bolos, ke perusahaan bantu Papa pun tak pernah! Clubbing aja yang rajin! Cih!" omel Nyonya Aini.


Dengan malas Candra mengambil jasnya kemudian mematutnya di cermin.


"Sekali item tetap item ya, Kak?" ledek Queensya pada lelaki itu.


Candra menggerutu sambil membuang jasnya ke wajah Queensya.


"Awas kamu!"


"Eh, sialan! Kamu nggak akan kurestui sama Wenny! Nggak bakal!"


"Taruhan, aku akan dapetin si Wenny itu! Taruhan sepuluh juta rupiah!!"


"Emangnya dia gadis miskin yang kamu bikin taruhan itu!" geram Queensya.


Setelah itu, mereka berdebat sengit, membuat mamanya pusing mendengar teriakan mereka setiap hari.


*


"Ma, apa aku boleh mengajak Kiki ke pesta itu?" pinta Rangga.


"Rangga, tolong deh, kamu nggak jadi dijodohkan, tapi bukan berarti bawa-bawa Kiki ke pesta itu. Masa baru minggu lalu kita ke rumah mereka dan kamu udah bawa pacar?"


"Ya udah! Aku ke kantor dulu, Ma!"


"Eh, hati-hati, Nak!"


Rangga merasa kesal dan keluar rumah, bersiap kembali ke perusahaan untuk lembur siang itu. Nyonya Selly menggelengkan kepala, membiarkan anaknya untuk pergi. Dia tau sejak kecil Rangga akan melakukan kegiatan yang baik sekesal apapun. Hanya saja dia tak akan memperhatikan waktu.


*


"Mbak Kiki kok nggak ke toko, ya?" tanya Rey pada teman-temannya sesama pegawai.


"Iya, tadi telepon katanya ada pesanan roti dan kue sebanyak puluhan ribu pesanan untuk keluarga Tuan Bhanu. Duh, kita harus totalitas!" ujar Lie-lie.


"Tuan Bhanu ... yang pengusaha terkenal itu?" tanya semua pegawai terbelalak.


"Iya! Dan berita heboh dari Mbak Kiki, kita semua diundang untuk membuat roti dan kue di sana! Makanya kita harus melakukan yang terbaik! Semua dalam arahanku, ya?" ujar Rey.


Semua wajah pegawai pias dan mengangguk menurut apa kata ketua mereka.

__ADS_1


*


Rumah Bu Yayah sangat ramai setiap hari. Pesanan demi pesanan datang. Yuki berpamitan untuk pulang pada Bu Yayah selama waktu yang tak ditentukan. Karena Bu Yayah telah menguasai resep, maka dia mengijinkan gadis itu untuk pulang selama apapun yang dia mau.


"Bu, katanya itu di tipi, Bhanu Tungga Jaya mau ngadain pesta ulang tahun anaknya!" ujar salah satu pembantu catering Yuki.


"Ah, pas itu ya kita nonton aja di televisi, kan? Habisnya, kita tuh banyak kerjaan, kalo nggak kerja ya nggak dapet uang!" ujar pembantu satunya sambil melipat daun pisang membungkus nasi gurih.


"Eh, iya! Kita nggak penting datang ke acara itu. Yang datang tu pengusaha-pengusaha dan para artis beken! Kita mah apa atuh!"


Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Bu Yayah keluar dengan wajah datar, dia membawa sebuah amplop.


"Nggak datang apanya? Nih baca undangan dari pak Pos!"


Semua berkerubung membaca undangan yang dibuka oleh salah satu pembantu Bu Yayah.


"Nama kita semua ada di undangan ini!"


"Lho, kok bisa ya??"


Mereka mengerutkan dahi. Terkejut serta bingung dan tak percaya dengan undangan itu hingga membaca berkali-kali, membolak-baliknya mengamati keaslian undangan itu.


"Iya, tapi ini dalam undangan kita diminta untuk membantu mempersiapkan hidangan untuk para tamu. Kebetulan hari itu hari Minggu. Kita harus merelakan waktu libur kita untuk datang ke sana," ujar Bu Yayah.


"Iya, meski kita di dapur, tapi pakaian kita harus bagus!"


"Pakai kebaya atau kaftan?"


"Hey, kita kesana mau masak, tau! Bukan kondangan! Baju yang bagus dan nggak ribet! Ini kehormatan untuk catering kita karena diberi kesempatan untuk menghidangkan masakan kita ke para tamu undangan! Pengusaha-pengusaha dan para artis!" ujar Bu Yayah.


"Ah, iya, kesandung kaftan malah berabe!"


"Sayang ya Kiki baru pulang kampung .... Nomornya juga belum bisa dihubungi! Padahal dia yang punya catering ini ...."


Pandangan Bu Yayah menerawang.


"Iya, tapi nggak ada juga nama Mbak Kiki di undangan ini."


"Masa, sih?"


Kembali para ibu itu heboh mencari nama Kiki dalam undangan itu.


"Memang nggak ada," ujar mereka serempak.


"Kelewatan mungkin, ya?"


Bu Yayah hanya menghela napas, merasa kasihan pada anak yang telah menemaninya sejak tiga tahun lebih itu. Dia kembali mengingat saat Yuki datang ke rumah dan sikapnya pada gadis itu.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku Kiki ... semoga kamu jadi orang yang sukses. Jika Tuan Bhanu tak mengundangmu, semoga kamu bisa lebih sukses dari Tuan Bhanu, hingga nanti aku merasa sangat bangga dan senang bisa mengenalmu," gumam Bu Yayah menitikkan air mata.


__ADS_2