
"Ki! Ini uang dari Bu Astin!"
Wanita tambun itu berlari-lari dan berteriak pada Yuki. Gadis itu menerima uang dengan sangat senang.
"Disimpan! Kemungkinan besok kita akan dapat orderan lagi karena yang pertama sudah memuaskan!" Bu Yayah masuk ke toko meninggalkan Yuki yang makin senang dengan perkataan Bu Yayah yang mulai melunak sikapnya pada gadis itu.
*
Keesokan harinya, setelah beberapa hari tanpa Rangga dan Yuki mulai menata semua kegiatannya yang mulai banyak. Dia melangkah dengan cepat ke kampus. Tugas Pak Frans hari ini harus disampaikan ke ruang semester lima.
Sampai di ruang itu, Ferry sudah menghadangnya. Menunjukkan pada semua teman-temannya bahwa dia dekat dengan gadis cantik itu.
"Kak Ferry, minggir dong! Aku mau nulis tugas di papan!" ujar Yuki kesal. Walau sudah beberapa hari dia memiliki status berpacaran dengan lelaki itu, tapi tak ada sedikit pun benih cinta yang tumbuh. Entahlah.
"Huuuu ...." Seluruh mahasiswa di ruangan itu menyoraki Ferry yang gagal mendekati pacarnya.
Tak terkecuali Candra, "Hahaha, mau kukasih uangnya, tapi hubungan kalian meragukan!"
"Sialan!" umpat Ferry.
Selesai menulis tugas di papan untuk semester lima, Yuki segera keluar dari ruangan tanpa diperdulikan oleh Ferry lagi.
Dia melangkah ke ruangan kuliahnya sendiri, lalu mendapati Nana sedang duduk sembari menatap ke layar ponselnya. Sesekali ia mengetik sesuatu lalu mengirimkannya entah kepada siapa di dalam nomor kontak.
"Hey! Pasti lagi chat sama ...."
"Sok tau, deh!" potong Nana manyun.
Yuki tak kalah mengerucutkan bibirnya melihat sahabatnya yang sewot itu, pasti dia ngambeg karena Mas Rangga nggak dekat lagi dengannya.
Dhea datang dengan wajah agak cerah, tak seperti kemarin-kemarin saat dia datang pertama kali. Namun, dia masih duduk agak menjauh dari Nana dan Yuki.
Sorotan mata Queensya dan geng padanya masih terasa menakutkan. Ancaman mereka tak main-main. Dhea mencari celah untuk dapat menceritakan apa yang dia dengar di belakang kampus waktu itu pada Yuki.
Dhea punya ide. Dia menarik secarik kertas notes lalu menulis sesuatu di atasnya, kemudian melipat dan melempar ke arah Yuki.
Kertas itu tepat mengenai lengan Yuki. Gadis itu memungutnya lalu menengok ke kanannya, mencari siapa yang melemparnya dengan kertas, tapi tak ada tanda siapapun yang melempar.
Dia membuka kertas itu.
'Kiki, aku mau bicara denganmu, empat mata di Cafe Dream, nanti sore. Jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia. Dhea.'
Yuki membacanya dengan cermat, lalu menatap ke arah Dhea sedang asyik membaca buku. Dia tau, Dhea cuma pura-pura membaca, tapi senyumnya mengembang saat tau gadis itu mau juga menemuinya.
__ADS_1
Sembari mengikuti kuliah, Yuki tak sabar ingin bertemu dengan Dhea dan penasaran tentang apa yang akan dia bicarakan.
"Dhea, awas aja kalo kamu berani buka rahasia kami malam itu," ancam Anggi pada gadis itu saat kelas telah kosong.
"Jika kamu berani, papa Queensya bisa membuat perusahaan ayahmu bangkrut!" ancam Anggi lagi.
"I-iya," jawab Dhea. Dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan pada Yuki tentang kejadian malam itu dan berniat akan menutupinya.
Sore hari setelah Yuki selesai mengepel lantai dan menyiapkan masakan, dia berpamitan pada Bu Yayah untuk menemui temannya di Cafe Dream.
"Bu Yayah, saya ijin ya?" ujar Yuki memilin bajunya. Dia agak takut untuk meminta ijin pergi di sore hari pada majikannya itu.
"Cafe?? Ketemuan sama cowok??" tanya wanita itu.
"Bukan, Bu!"
Benar kan yang kutakutkan!
"Trus mau ngapain di cafe?"
"Ketemu temen aja," jawab Yuki.
"Hmm, ya sudah! Jangan kelewat jam lima sore!" Bu Yayah melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah empat sore.
"Iya! Kurang? Bawa pulang makanannya, makan di rumah!" Bu Yayah kembali mengipaskan selembar sobekan kardus ke wajahnya. Keringat wanita itu menetes sejagung-jagung.
"Ya, Bu. Baiklah, makasih, Bu!" ujar Yuki bergegas masuk ke kamar, tak ingin melewatkan kesempatan dan kehabisan banyak waktu.
Usai berganti baju, dia berlari ke depan, "Bu, saya pergi dulu ya??" teriaknya lagi.
"Iya! Ingat sebelum jam lima sore!!" Bu Yayah menengok ke teras yang kosong. Rupanya yang diajak bicara udah terburu ngacir jauh.
Yuki terburu-buru berjalan, meski Cafe Dream berada di sekitar kampus, tapi percakapan dengan sahabatnya akan memakan waktu lama. Dia berjalan sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
[Dhea, udah sampai? Aku nggak ada banyak waktu. Kamu segera ke Cafe Dream, ya?]
Hmmm, nggak punya banyak waktu. Udah kayak bos aja aku ini, padahal asisten rumah tangga, hahaha.
Yuki telah sampai di pelataran Cafe. Dia memilih tempat duduk yang strategis. Seorang pelayan membawakan menu untuknya. Bersamaan dengan itu, Dhea datang dengan kacamata dan rambut yang dikuncir.
"Dhea!"
"Kiki!"
__ADS_1
Mereka selayaknya dua sahabat yang telah lama tak berjumpa. Keduanya memesan makanan dan minuman. Setelah itu, Yuki mulai membuka percakapan. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan di kepalanya tentang Dhea. Namun, ia tak akan memaksanya sore itu untuk menjelaskan semua.
"Dhea, kenapa kamu mengajakku ke Cafe ini? Maaf aku nggak punya banyak waktu karena majikanku hanya mengijinkan sebentar," ujar Yuki.
"Kiki, aku mau tanya dulu, apakah kamu benar-benar menyukai Kak Ferry??" tanya Dhea, menambah rasa penasaran Yuki.
"Emmm, kenapa sih? Katakan saja," ujar Yuki.
"Bilang jujur Kiki, apa kamu suka?" tanya Dhea membulatkan matanya. Sebenarnya gadis itu cukup manis jika diperhatikan, tapi sayang dia tak cukup menonjol di kampus, apalagi terlihat culun penampilan dan dengan kacamata tebalnya itu.
Yuki menggelengkan kepalanya, lalu meletakkan telunjuknya di bibir. Dia tak ingin kejujuran hatinya bocor kemana-mana. Namun, kejujurannya membuat Dhea malah senang dan bersemangat untuk menceritakan apa yang dia dengar di belakang kampus.
"Kiki, saat aku duduk di belakang kampus, tak sengaja aku mendengar semua pembicaraan Kak Ferry dan Kak Candra. Ternyata mereka berdua bertaruh untuk mendapatkanmu!"
"Hah?? Bertaruh? Maksudnya?" tanya Yuki melotot.
Pelayan membawakan pesanan mereka. Sebentar percakapan mereka terhenti.
"Iya, mereka bertaruh lima juta rupiah jika ada salah satu yang menjadikanmu sebagai pacar."
"Kurang ajar!!" geram Yuki.
"Lebih baik kamu putuskan Kak Ferry itu, Ki. Aku nggak rela jika kamu jadi bahan taruhan seperti itu," pinta Dhea.
"Iya, pasti, Dhea. Makasih karena kamu telah memberiku informasi ini, aku sangat terbantu."
Yuki memegang tangan Dhea.
"Kiki, aku juga minta maaf saat malam itu, aku ...."
"Oh, iya, kenapa malam itu kamu minta aku ke hutan pinus, Dhea?" Rasa penasaran Yuki masih menaungi pikirannya.
"Soal itu, aku hanya bercanda. Maafkan aku, Kiki ...." ujar Dhea dengan penuh penyesalan.
Maaf kan aku, Kiki. Aku nggak bisa mengatakan yang sebenarnya. Perusahaan papaku akan bangkrut jika aku mengatakannya.
"Oh, baiklah, Dhea."
Yuki memandang curiga pada gerak-gerik sahabatnya itu.
Hmm, ada yang dia sembunyikan. Masa sih dia bercanda? Namun, aku tunggu saja. Dia sudah mau berbicara denganku. Aku mencoba sabar, jika tidak, dia akan menjauh lagi ....
*****
__ADS_1
Maaf gaess baru bisa update....