
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, kalian semua orang tua anak-anak badung ini??" tanya salah satu bodyguard pada keempat pasang suami istri yang lemas menunggui anak-anaknya di kantor kepolisian. Dhea pun ikut bersama mereka memberi kesaksian dan bukti pada polisi.
"I-iya, benar."
"Kalo kalian nggak bisa mendidik anak-anak ini, kirim mereka untuk dididik di asrama yang ketat! Manusia macam mereka ini bisa membahayakan!"
Bodyguard itu mewakili Tuan Bhanu untuk bicara. Tuan Bhanu di rumah hanya memberikan instruksi pada para bawahannya yang sudah sangat memahami apa yang harus dilakukan.
Mereka mengangguk lemas. Menunggu beberapa hari ke depan untuk proses persidangan, sementara keempat anak itu akan ditahan.
Nantinya akan ada tayangan dengan mengenakan baju tahanan dengan khas warna orange, mereka berempat disorot kamera dengan seorang polisi yang menerangkan kejadian.
Sekretaris Tuan Bhanu mendatangi kantor kepolisian dan menunjukkan surat penolakan kerjasama untuk keempat perusahaan para pengusaha itu. Mereka pasrah. Pada akhirnya, perusahaan mereka entah akan bagaimana akhirnya.
Sementara itu di dalam gedung yang masih berjalan meriah pesta besar Nona Muda, Putra mendekati Yuki.
"Hai, Ki ... Yuki."
Yuki mengerutkan dahi merasa aneh akan kedatangan lelaki itu.
Dia hanya melengos.
"Aku tau kamu marah banget atas perlakuanku dulu, tapi kumohon maafkan aku. Aku hanya menjalani perintah kedua orang tuaku untuk menjauhi gadis yang tak setara denganku."
"Oh, gitu, ya bagus lah!"
Yuki meminum air soda dalam gelasnya, tak begitu perduli dengan perkataan lelaki itu.
"Bolehkah aku mengulang kembali kebersamaan kita? Aku mengagumimu sejak lama, tapi hanya terhambat oleh status. Jika kedua orang tuaku tau siapa kamu, maka mereka akan setuju!"
Putra berbinar mengatakannya. Yuki memandang soda yang akan habis di gelasnya.
"Kamu di bawah dikte orang tua. Di rumahku, jika kamu datang, aku akan mendikte orang tuaku untuk menolak pengkhianat sepertimu."
Yuki menatap tajam lelaki itu, tersenyum penuh kemenangan dan menghabiskan minumnya hingga tak tersisa setetes pun, kemudian meninggalkan Putra yang kecewa karena tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia kaget saat Yuki menengok dan berbicara dengannya.
"Oh ya, jangan pernah pikir kamu akan mudah mendapatkanku, aku bisa membeli mukamu itu dengan uang yang kumiliki!" ujar Yuki sambil tertawa.
Lelaki itu mengerutkan dahi, kesal pada gadis itu.
__ADS_1
"Sial!"
*
Seorang lelaki menjalankan mobilnya di sepanjang jalan, mencari seseorang yang begitu dia harapkan. Dia menepikan mobil lalu memeriksa ponselnya kembali. Kemudian melanjutkan perjalanan. Tuxedo-nya telah dilepas dan tak perduli lagi dia hanya memakai kemeja lengan panjang warna putih.
"Kemana sih, kamu?" gumamnya.
Rangga memarkir mobil. Lalu turun dan masuk ke sebuah cafe untuk menghilangkan rasa hausnya setelah satu jam dia mengitari kota dan hampir akan memasuki desa.
Setelah memesan segelas jus, tiba-tiba sorot matanya tertarik pada tayangan infotainment di layar. Dia terkejut, mengerutkan dahinya dan terbelalak melihat gadis yang dia cari sedang berdiri di panggung pesta ulang tahun, dikenalkan sebagai anak pengusaha nomor satu itu.
"Anak Tuan Bhanu ternyata cantik ya, Kak!"
Seorang pelayan cafe membawakan pesanannya sambil mengomentari berita di televisi yang baru menjadi trending topic saat itu.
Rangga tak melepas pandangannya dari layar meski komentar itu pun dia dengar.
Dia segera beranjak, meletakkan uang seratus ribu di atas meja untuk jus seharga dua puluh lima ribu rupiah yang belum dia minum.
Rangga masuk ke mobil dan melaju ke tujuan yang sekarang jelas untuk dituju.
*
Saat melihat Yuki mendekat, mereka seolah melihat hantu. Takut, cemas dan tak tau harus bagaimana.
"Om John Lee, Tante Selly, apa kabar?"
Yuki mengulurkan tangannya. Kedua orang itu menyambut uluran tangan gadis yang sedang tersenyum manis itu.
Mereka pun memaksakan senyum yang sebenarnya tak ingin muncul karena rasa malu. Bagai ingin tenggelam ke bumi.
"B-baik, Nona Kiki ... maaf, Yuki."
Keduanya menatap gadis itu dengan rasa canggung. Penolakan mereka waktu lalu masih terbayang di pikiran mereka sendiri. Sementara Yuki tak begitu mempermasalahkan hal itu.
"Kenapa harus pake 'nona', Om?"
Yuki tergelak. Namun wajah pias masih menghiasi kedua orang itu, meski Yuki ingin mencairkannya.
__ADS_1
"Mas Rangga di mana, Tante?" tanya Yuki sambil mengedarkan bola matanya ke sekitar, mencari orang yang dimaksud.
"Dia ... menunggu anda, emm tepatnya menunggu ponsel anda aktif."
Yuki menepuk jidatnya, "Oh, iya!"
"Om, Tante silakan menikmati dulu hidangannya. Saya ke kamar dulu ambil ponsel," ujarnya sopan.
"Buat apa kamu cari ponselmu?" tanya seorang lelaki di belakang Yuki.
Gadis itu menghentikan langkahnya mendengar suara yang begitu dia kenal.
Dia berbalik dan menatap ke lelaki yang tak lagi memakai baju rapi. Rambutnya acak-acakan. Namun, tak mengurangi tingkat kerennya sedikit pun.
"Mas Rangga ...."
Ragu-ragu Yuki mendekati lelaki itu. Bau khas parfumnya sedikit membuai gadis itu. Yuki menelan ludah. Kali ini dia takut akan reaksi lelaki itu.
Nyonya Marlina menatap anaknya dengan kebingungan, akhirnya dia bertanya pada Nana.
"Siapa anak lelaki itu?"
"Dia Kak Rangga, Tante, kekasih Yuki. Anak ...."
Belum selesai Nana mengatakan kalimatnya, Nyonya Selly terlihat mendekati Rangga dan Yuki.
"Nona Yuki, maafkan kami yang telah salah menilai anda. Kami kira anda bukan dari keluarga baik-baik, kami tidak bermaksud untuk memisahkan kalian. Namun, sebagai orang tua kami hanya ingin yang terbaik untuk anak kami saja. Bukan bermaksud apa-apa."
Isak tangis Nyonya Selly membuat Yuki hanya mengangguk, merasa iba. Dia tak bisa berkata apa-apa. Drama itu menjadi tontonan seluruh tamu undangan.
"Tolong, jangan diliput. Ini masalah pribadi," ujar Yuki pada wartawan.
Entah mereka akan mencuri berita atau tidak, Yuki akan bertindak jika privacy-nya terusik.
Yuki mengangguk pada Nyonya Selly dan menarik tangan Rangga ke kebun belakang rumah yang terhubung oleh halaman belakang gedung. Di sana tempat yang sepi untuk berbincang, menarik diri dari keramaian itu. Mereka berdiri di sebuah taman belakang rumah yang bersih, indah dan sepi.
"Mas Rangga, maafkan aku, selama ini aku telah menutupi identitasku ...." ujar Yuki.
"Kiki ... aku mengenalmu sebagai Kiki. Kiki yang cantik dan sederhana. Kiki yang berani, bangkit dari hinaan. Kiki yang rajin dan mau berusaha sendiri. Kiki yang pintar, cerdas dengan bakat bisnis yang baik. Kiki dengan mata jelinya menemukan tindak kecurangan di sekitar. Aku nggak percaya kamu sebagai Yuki Amaranggana, gadis yang kutolak untuk dijodohkan denganku," ujar Rangga menunduk, memejamkan mata dan mencubiti dahinya sendiri.
__ADS_1