
Yuki kembali ke ruang makan. Kedua orang tuanya sudah menunggu di sana. Nyonya Marlina Moon menjalin jemarinya dengan siku di atas meja. Wanita itu tak dapat menutupi rasa bangga terhadap anak perempuan satu-satunya itu.
Sementara Tuan Bhanu masih melipat tangannya, menunggu Yuki menyerahkan uang.
"Ini, Papi ...."
Yuki meletakkan tiga gepok uang yang dia bungkus plastik. Mirip nasabah bank yang berasal dari pasar.
"Hitung!" perintah pria cinta pertama Yuki itu.
Yuki bersemangat untuk menghitung uang yang telah dia kumpulkan itu di hadapan kedua orang tuanya. Dia menghitung dengan tepat lembar uang terakhir sebesar misinya.
"Ini, Pi. Lalu, ini bunganya dua belas juta," ujar Yuki meletakkan uang yang dia dapat di atas meja, tepat di depan papinya.
Senyum puas pria di depan Yuki terukir jelas, menyiratkan kebanggaan tersendiri sebagai seorang ayah yang memiliki anak perempuan tangguh.
"Bagus, anakku. Itu bukan uang palsu, kan?"
"Papi! Cek aja pake pendeteksi uang!" sewot gadis itu.
Masa, usaha selama dua tahun dikira sindikat uang palsu??
Gelak tawa pria paruh baya itu menggelegar memenuhi ruang makan. Semua menjadi mencair setelahnya.
"Selamat datang kembali ke rumah, Nak!" sambut Tuan Bhanu yang lupa mandi setelah pulang dari perusahaannya karena mendapati anak gadisnya telah sampai di rumah.
"Syukurlah. Makasih, Papi ...."
Yuki berdiri lalu memeluk pria itu dengan erat. Nyonya Marlina memandang mereka dengan haru. Dia memilih untuk diam agar kedua orang itu menuntaskan kerinduan mereka.
Pria itu, pria yang menyayangi Yuki, yang sebenarnya tak tega jika melepas anaknya ke kehidupan luar, tapi karena sebuah alasan agar anaknya menjadi wanita yang tangguh dan kuat untuk hidup gadis itu sendiri, akhirnya jalan itu yang dia pilih dan ternyata anak manjanya itu telah bermetamorfosis menjadi wanita yang kuat melebihi ekpektasinya.
"Papi mandi dulu, ya? Abis itu kita makan malam bersama. Papi mau ngobrol tentang apa saja yang kamu lakukan selama menjalankan misi," ujar Tuan Bhanu.
Tiba-tiba Yuki beranjak dari duduk dan segera keluar dari ruang makan itu.
"Biar aku yang menyiapkan makan malam!" teriaknya seraya berjalan ke dapur.
Kedua orang tua itu terbengong memandang anak gadisnya.
"Papi, kenapa dia jadi rajin sekali?"
"Iya, perubahannya besar sekali," decak Tuan Bhanu melihat anaknya.
__ADS_1
*
"Bik Sar, mau masak apa?" tanya Yuki di dapur.
Ruangan dapur itu selalu dalam penanganan Bik Sar, Mbak Koneng dan Cici. Selain mereka, pelayan lain bertugas membersihkan seluruh isi rumah, kolam renang dan kebun.
"Mau masak ikan goreng, sambal mangga muda, sama ca kangkung, Non! Nona kenapa ke dapur? Mau minum atau butuh cemilan? Biar Cici yang siapin!" ujar Bik Sar hampir akan memanggil Cici yang sedang menyiapkan bumbu dan bahan masakan.
"Nggak, Bik. Mm ... aku aja yang masak!" ujar Yuki.
"Eh, Nona nggak boleh pegang pisau, kalo kena tangan, nanti berdarah dan perih!" tegur wanita paruh baya yang mengabdi di rumah itu sejak Yuki bayi.
"Halah, kalo kena pisau kan ada plester! Sini, biar aku aja yang siapin semua, Bik! Bik Sar duduk aja, duduk!"
Yuki mendorong dan mendudukkan pelan wanita itu ke kursi dapur. Bik Sar terlihat sangat bingung, tapi menurut juga pada nona mudanya. Sementara, Mbak Koneng dan Cici menatap Nonanya kuatir.
"Nona nggak sakit, kan?" bisik mereka.
Yuki mengambil bumbu yang disiapkan oleh Cici. Dia telah dia hafal caranya di luar kepala dan mengiris bumbunya dengan sigap. Ketiga orang itu hanya termangu melihatnya.
"Benar yang dikatakan Nita tadi. Nona berubah, sangat berubah ...." desis Bik Sar pada kedua asistennya yang ketakutan melihat nonanya.
"Nona nggak kesurupan chef Juno ganteng kan, ya?" tukas Cici berbisik.
Dalam waktu singkat, seperti adegan memasak di televisi, Yuki telah menyiapkan tiga masakan sekaligus. Ketiga penonton hanya melongo dan bertepuk tangan melihatnya selesai.
"Hebat Nona, baunya semerbak luar biasa. Bisa-bisa Bik Sar tergeser ini!" celetuk Mbak Koneng.
"Ah, bisa aja Mbak, tapi tenang Bik Sar, aku nggak akan menggesermu. Baunya enak, tapi cicipin dulu deh, Mbak Koneng. Jangan-jangan rasanya nggak enak!" ujar Yuki menyodorkan masakannya.
Mbak Koneng pelan-pelan menyendok kuah, lalu membiarkan sebentar dan menyeruputnya, ditunggui oleh dua orang yang harap-harap cemas melihat ekspresi jujurnya.
Mbak Koneng menahan sebentar kuah ca itu di mulutnya lalu menelannya dengan terbelalak, tapi sebentar kemudian menyipitkan matanya dengan mulut menunjukkan kenikmatan.
"Delicious!" pujinya.
"Ah, palingan bohong! Coba ikan sama sambalnya!" suruh Yuki pada Bik Sar dan Cici.
Mereka mengambil sesendok sambal mangga dan secuil ikan.
"Iya, lho! Enak! Kayak di restoran-restoran! Eh tadi Non Yuki nggak lihat resep juga, kan?" ujar Cici pada Mbak Koneng dan Bik Sar yang juga sibuk mencicipi semua masakan.
"Ah iya, Non Yuki pin-...."
__ADS_1
"Lho, mana Nona?"
Gadis yang mereka cari sedang mencuci piring kotor, pisau, talenan, baskom hingga wajan yang tadi digunakan untuk memasak.
Bik Sar menepuk jidatnya, "Ayo, pada bantuin Nona!"
"I-iya, Bik!"
*
"Ini kamu yang masak?" tanya Tuan Bhanu pada anaknya saat mereka selesai menyantap semua hidangan itu.
"Iya, nggak enak, Pi?" tanya Yuki.
"Enak banget!" tukas Nyonya Marlina Moon.
"Iya lho, enak!" ujar Tuan Bhanu.
"Masa, sih?" tanya Yuki.
"Iya!" sahut Tuan Bhanu dan Nyonya Marlina bersamaan.
Keduanya tak menyangka anak gadisnya bisa mengolah masakan seenak itu. Bahkan sedikit lebih baik dari Bik Sar yang telah mereka pilih sebagai kepala dapur karena kemahiran wanita itu dalam memasak.
"Eh, apa aja yang kamu lakukan di luaran sana, Yuki?" tanya pria itu sambil mengambil lagi ca kangkung ke dalam piringnya.
"Banyak, Pi!"
Yuki menceritakan semua yang dia alami selama dua tahun itu. Pertemuan dengan Bu Yayah hingga Jatuh bangunnya merintis usaha. Dia tak menceritakan hal-hal yang membuat kedua orang tuanya kuatir, seperti kecelakaan di hutan pinus.
"Uang itu Papi kembalikan ke kamu, terserah mau kamu pakai buat apa," ujar pria itu mendengar jerih payah anaknya.
"Mau aku pakai untuk sewa tempat usaha dan beli peralatan dapur, Pi!" ujar Yuki bersemangat.
"Sewa?? Kan kamu bisa beli?" tanya maminya mengerutkan dahi.
"Mami, ini usahaku ya aku yang harus membangunnya sendiri. Nanti kalo aku nggak sanggup beli, baru aku pakai uang kalian."
Tuan Bhanu dan Nyonya Marlina Moon saling berpandangan dan mengangkat bahu.
"Udah kalian menonton aja, Pi, Mi!" ujar Yuki tertawa.
"Huh, terserah lah."
__ADS_1
Wanita itu menghela napas, menyadari anaknya sangat keras kepala jika menginginkan sesuatu.