
"Bu Yayah, jangan begitu! Kami datang malah untuk berterima kasih!" ujar Yuki dan Nyonya Marlina.
"B-berterima kasih u-untuk apa, Nyonya, Nona?" Dia menghentikan sendiri tepukannya.
"Saya, Nyonya Marlina mewakili keluarga, karena suami saya, Tuan Bhanu tak bisa ikut datang, mengucapkan beribu terima kasih karena telah mendidik, menjaga, memberi tumpangan dan pekerjaan pada anak kami, Yuki selama menjalankan misinya."
"Itu pun saya tak tau kalo Nona Yuki yang datang, kalo tau saya belikan tempat tidur yang empuk, maaf saya kurang dalam memberikan fasilitas untuk Nona!"
Bu Yayah berkali-kali menunduk.
"Tak masalah, Bu. Selama anak kami terjaga kesehatannya dan kehormatannya sebagai perempuan dan karena didikan Anda pula, anak saya dapat mencapai kesuksesannya sendiri. Kalo saya, nggak tega, tapi malah dia akan jadi anak manja, Bu!"
"Maaf saya terlalu keras mengajari Nona, Nyonya!!"
"Nggak, Bu. Tak ada kekerasan fisik pada anak saya. Oh ya, waktu saya sedikit. Bu Yayah, kami tau anda nggak punya rekening karena telah tutup buku kan, kemarin? Ini sedikit tanda kasih kami untuk anda karena telah membantu kami mendidik anak manja ini," ujarnya sambil menyuruh Yuki memanggil seorang bodyguard yang masih ada di mobil untuk masuk.
"Saya tak menuliskan cek karena permintaan Yuki. Maaf, ini hanya sedikit ya, Bu?"
Yuki berkata pada Nyonya Marlina agar hadiah itu tak membebani Bu Yayah dan keluarga untuk mencairkan uang di bank karena pekerjaan mereka setiap hari tak akan membuat sempat untuk mengurusnya di bank. Di samping itu Yuki ingin membahagiakan Bu Yayah dengan melihat yang asli saja.
Sebuah brangkas dengan nomor yang tertera di bawah kotak untuk membuka kunci diserahkan ke wanita tambun itu. Dia dengan gugup menerimanya. Dia kira enteng, ternyata cukup berat juga.
"Ini apa, Nyonya?"
Sekedar rasa tali kasih kami, Bu Yayah. Juga upah untuk ibu-ibu kemarin, ini."
Nyonya Marlina menyerahkan sebuah amplop berisi uang sepuluh juta rupiah untuk lima orang ibu-ibu yang datang.
"B-baik, Nyonya. Amanat ini akan saya sampaikan."
"Itu saja, kami permisi dulu, Bu Yayah. Semoga bisnis Yuki dan anda selalu sukses."
Ketiganya lalu berpamitan pulang setelah Yuki memeriksa catatan pemasukan dan pengeluaran pemesanan nasi box.
Usai kepulangan ketiga orang itu, Bu Yayah menatap ke kotak brangkas berwarna hitam yang diberikan oleh Nyonya Marlina Moon. Dia akan menunggu suaminya pulang untuk membukanya. Disimpannya kotak itu di dalam kamar.
Bu Yayah keluar kamar dan melewati kamar Yuki. Sejenak dia berhenti dan mencoba membuka pintu, ternyata tak dikunci. Dia masuk dan duduk di kasur bawah yang benar-benar tak layak untuk seorang nona muda. Wanita itu memukuli dahinya dengan telapak tangan berkali-kali.
"Yayah ... Yayah! Kenapa nggak sadar kalo iti anak konglomerat! Kasur keras dan kamar sempit seperti ini kan nggak pantas!" desisnya menyesali dirinya sendiri. Dia tertarik pada sebuah buku diary yang ditulis oleh Yuki.
Wanita itu menariknya dari rak, kemudian membaca pelan-pelan isinya.
Tentang awal datang ke rumah itu dan kaget atas perlakuan majikan, juga tentang perasaan gadis itu terhadap Rangga.
__ADS_1
"Ternyata Nona Yuki telah jatuh cinta pada Rangga sejak kedatangannya pertama kali ke rumah ini."
Di dalam itu Yuki mengeluhkan pekerjaan yang berat namun lama-lama di lembar terakhir dia menuliskan kalimat yang membuat Bu Yayah trenyuh.
'Aku menyayangi Bu Yayah seperti mamiku sendiri. Perhatiannya padaku melebihi mami. Sungguh aku merasa benar-benar dijaga oleh tangannya. Bu Yayah selalu memberiku pelajaran hidup, mengajariku untuk bertahan dan berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik. Meski dia galak, tapi di lubuk hatinya, dia adalah orang yang sabar. Saat mengajariku memasak dia tak sedikit pun mencela, meski aku tau terkadang masakanku terlalu asin atau malah hambar. Hingga masakanku lah ladang rejeki memulai usaha baru. Semoga Bu Yayah, Pak Hendra, Wildan dan Aurel selalu diberi keberkahan dalam hidup mereka. Sehatkan mereka Ya Tuhan, agar mereka bahagia bersama.'
Air mata Bu Yayah menitik membacanya. Dia menutup buku itu dan memeluk dalam dekapannya.
Aku pun telah menganggapnya anakku sendiri .... Sungguh sebenarnya aku tak terima saat kedua orang tua Rangga menolak kedatangannya, tapi saat itu aku bisa apa ....
Nona Yuki, doaku benar-benar terwujud untukmu. Kamu akan lebih sukses dari Tuan Bhanu, ayahmu itu.
Bu Yayah menyeka air matanya. Dia mengembalikan buku diary itu ke dalam rak, kemudian beranjak untuk memulai lagi kegiatannya.
Ibu-ibu telah mulai berdatangan dan masuk ke toko yang telah diubah menjadi tempat mengolah nasi box. Mereka mulai melipat kardus dan mengupas bawang.
Bu Yayah mengambil amplop coklat dari Nyonya Marlina kemudian menghitung jumlah uangnya.
"Sepuluh juta??"
Wanita itu kegirangan. Itu berarti setiap orang mendapatkan dua juta lima ratus ribu rupiah hanya untuk sehari mereka bekerja.
Dia segera membawanya ke empat ibu-ibu yang selalu membantunya.
Mereka terbelalak melihat uang yang dibagikan oleh Bu Yayah.
"Nggak salah, Bu Yayah??"
Bu Yayah menggeleng, "Ini juga baru aku buka, Bu! Jadi kubagi rata untuk empat orang!"
"Syukurlah ... inj gaji suamiku sebulan!"
Mereka bersuka cita berkipas-kipas dengan uang yang dibagi oleh Bu Yayah.
"Ibuuu ...." Suara Aurel datang dari depan, disusul oleh Wildan kemudian Pak Hendra.
Mereka langsung berganti baju dan mencuci tangan kemudian menyantap makan siang di ruang makan.
"Pak, tadi Nyonya Marlina dan Nona Yuki datang ke sini bersama Rangga."
"Oh ya, Bu??"
Pak Hendra membelalakkan mata. Pria itu pun masih belum percaya bahwa gadis yang menjadi asisten rumah tangga mereka ternyata kaya raya.
__ADS_1
"Iya, Pak!"
"Ibu nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, Pak. Kukira Nyonya Marlina akan memarahi aku karena telah menyuruh-nyuruh dan galak pada Nona Yuki, tapi ternyata mereka berterima kasih padaku dan memberi kita kotak. Aku nggak tau isinya apa!"
"Kotak mana, Bu?"
"Di dalam kamar."
"Yuk kita buka, penasaran aku!"
"Iya, Pak. Hati-hati ya, Pak!"
"Kenapa harus hati-hati?"
"Tadi bilangnya uang, tapi aku takut isinya bom!"
"Ah, Ibu jangan suka mengada-ada!"
Mereka berjalan masuk ke kamar. Bu Yayah mengambil kotak brangkas yang disimpannya di kolong tempat tidur.
"Ini, Pak. Kodenya di bawah kotak."
"Oh ya, 569126. Coba ya, Bu!"
Mereka berdebar-debar membuka kotak brangkas itu. Setelah terbuka, Bu Yayah dan Pak Hendra terbelalak.
Ada sepuluh keping emas batangan seratus gram dan uang sejumlah uang dengan tulisan sebanyak satu miliar rupiah dengan pesan terima kasih dari keluarga Tuan Bhanu Tungga Jaya.
"Pak!! Ya Allah Gustii!! Ini emas dan uang beneran, Pak?? Ini bukan mimpi kan, Pak??! Ya Allah Gustiii!!!
Bu Yayah ambruk di pelukan Pak Hendra yang untung saja bengong tapi refleksnya bagus, hingga bisa menangkap istrinya. Bu Yayah pingsan lagi.
******
Hai haluwers tingkat planet .... Maap kalo bab ini kehaluan, bikin author pen jadi Bu Yayah, hahaha ....
Makasih banyak di cerita ini readers zheyenk komentarnya sangat baik, apresiasinya bagus bangett .... Bikin semangit eh semangat. Pokoknya Love u always lah, pokoknya muach muach .... Pokoknya ....
Besok libur up dulu ye ...
Kabuuurrr....
__ADS_1