Nona Muda Pura-pura Miskin

Nona Muda Pura-pura Miskin
Kesan Queensya di Bakery


__ADS_3

Saat itu setelah memulai pembukaan bakery, satu tahun sudah Yuki berkutat dengan buku tebal di fakultas, peralatan dapur sekaligus managemen usahanya.


Tiga hal yang rutin dia lakukan dalam usaha maupun doa, hingga hari ini dia berhasil mencapai kemajuan pesat.


"Satu tahun lagi aku lulus kuliah. Semoga aku bisa lebih fokus mengembangkan usaha ini," gumamnya pada malam ketika semua orang telah terlelap.


*


"Ki, nampaknya kita bisa menghadap ke kedua orang tuaku," bujuk Rangga setelah sekian lama Yuki menolak bila diajak ke rumahnya lagi sebelum berhasil.


"Mas Rangga, aku belum mencapai puncak. Apa mereka nggak akan menolakku lagi?"


"Kita belum tahu kalo nggak mencobanya kan, Ki?"


Rangga memegang jemari tangan gadis cantiknya.


"Oke, setelah aku ujian semester ya, Mas? Biar aku fokus dulu pada ujian."


"Oke, Sayang!"


*


Kampus terasa sangat ramai dengan para mahasiswa yang duduk memenuhi halaman dengan membawa modul dan sebagian hanya berbincang sebelum ujian akhir semester.


Yuki berjalan memasuki gerbang kampus dengan mantap. Seperti biasa, dia mempelajari mata kuliah dengan sangat baik.


Salah satu Geng Queensya menjulurkan kakinya, saat Yuki melewati mereka, membuat gadis itu tersandung dan terjatuh.


"Hahaha!"


Mereka berempat tertawa dengan terjatuhnya Yuki.


"Oh, gadis miskin, aku merindukanmu. Rindu membuatmu malu dan segera pergi dari kampus ini. Oh iya, kampus ini sebentar lagi setara dengan kampus elit dan tak ada lagi gadis miskin sepertimu!" ujar Queensya berkecak pinggang.


Yuki berdiri, memunguti buku-bukunya dan menghela napas.


"Maaf ya, aku nggak ada waktu meladeni kalian. Kalian memang kaya, tapi otak kalian hanya dipenuhi oleh kekayaan. Kalian itu seperti pohon pisang. Punya jantung, tapi nggak punya hati. Permisi."


Yuki berjalan cepat meninggalkan keempatnya, menuju ke ruang kuliah. Dia tak ingin membuat ulah untuk membalas perlakuan gadis-gadis jahat itu. Dia hanya ingin menjalani ujian dengan lancar. Kalau melayani, dia akan diskors dan tentunya tak bisa menjalani ujian.


Tak semua emosi bisa menyelesaikan masalah.


"Pohon pisang katanya?? Uughh!! Awas ya, aku undang dia ke pesta ulang tahunku untuk mempermalukan dia di depan umum!" ujar Queensya kesal.


Ujian berjalan lancar.


"Kiki, semoga kita dapat index prestasi yang bagus lagi ya dalam ujian ini! Sumpah, sebelum mengenalmu aku belum pernah merasa sesemangat ini!" seru Nana.


"Hahaha, itu kan juga semangat kalian. Bukan hanya aku!" jawab Yuki.


"Iya, Kiki apa kita tak membiarkan geng Queensya mengetahui usaha apa yang sedang kamu jalani untuk membungkam mulut jelek mereka itu??" ujar Nana lagi.

__ADS_1


"Biarkan aja, mereka tak akan ada habisnya mengolokku. Suatu saat mereka akan membungkam mulut mereka sendiri," jawab Yuki.


Dhea menunduk, dia merasa bangga akan sahabatnya itu, tapi juga merasa bersalah akan kejadian tiga tahun yang lalu.


"Janji ya, kita akan lulus tepat pada waktunya! Saling support!" ujar Nana.


"Iya!" jawab Yuki bersemangat.


"Dhea?" lanjut Yuki menatap ke Dhea yang masih menunduk tak memperhatikan dan asyik dengan pikirannya sendiri.


"I-iya!" jawabnya gugup.


*


Seminggu kemudian, beredarlah undangan ulang tahun dari Queesya.


"Kiki, Nenek Sihir itu berulang tahun. Aku malas datang!" ujar Nana.


"Jangan gitu, dia udah undang kita. Mungkin dia akan berbaik hati," jawab Yuki.


"Kapan dia berubah, aku bakal buatin bubur merah kalo dia berubah!" sewot Nana.


"Ya ... kita lihat aja, Na. Yang penting, kita menanggapi undangan itu jika kita bisa. Ya kan, Dhea?" ujar Yuki.


"Iya, kita datang barengan aja, aku jemput kalian-kalian, ya?" tawar Dhea.


"Okee ... siapa takut!" jawab Yuki dan Nana kompak.


*


"Mana sih yang tempat kamu inginkan, Honey?" tanya Putra setelah keempat kalinya mereka mengitari pusat kota.


"Sebentar, ada bakery baru yang katanya enak-enak kuenya, menandingi Bread Speak bakery di kota kita!" ujar Queensya sambil menatap ke depan dan mencari nama yang dia cari seraya menatap ke ponselnya.


"Kalo map bilangnya di sini, sih! Ah iya, depan itu! Tapi ... kok namanya Kiki's Bakery ya? Nyebelin!" sungut Queensya.


"Nama nggak penting, yang penting rasa dan kualitasnya, kan?" ujar Putra.


"Iya sih, ya deh pokoknya kalo kamu setuju, aku pun mau, Beb!" ujar Queensya manja.


Putra tersenyum mengangguk. Mobil Alphard putih itu menepi ke parkiran bakery.


Yuki yang sedang membantu pegawainya menata kue di dalam display case, kemudian dia berlari masuk karena menyadari mobil yang dia kenal mengikuti instruksi tukang parkir.


"Layani mereka dengan baik, ya!" pesan Yuki pada para pegawainya.


"Iya, Mbak."


Queesnya turun dengan anggun dari mobil dengan menenteng tas Gucci barunya seharga tiga puluh juta rupiah.


Dia menggandeng Putra dan masuk ke dalam bakery, mencium bau kue dan roti yang semerbak harum memenuhi ruangan.

__ADS_1


"Roti-roti itu kelihatan sangat enak!" seru Queensya.


Dia mengambil sebuah kue, lalu memasukkannya ke mulut. Kue itu lumer di mulutnya. Rasa yang belum pernah dia rasakan selama makan kue termahal dan terenak dimana pun.


Queensya memejamkan mata saking enaknya merasakan kue itu.


"Aroma vanillanya kuat, ini pasti bahannya pun berkualitas tinggi," gumamnya.


"Hey pelayan! Sini!" panggilnya.


Para pegawai Yuki mendengar suara cempreng yang angkuh ketika memanggil salah satu dari mereka. Wajah mereka terlihat kesal. Namun, mengingat kata-kata pemilik bakery untuk melayani pembeli seramah dan sebaik mungkin, para pegawai itu menahan diri untuk melayani wanita yang baru datang dengan kekasihnya.


"Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tawar salah satu pegawai ramah.


"Aku mau pesan kue kering dan snack-snack untuk pesta ulang tahunku. Ambilin menunya!Untuk harga tak masalah berapa pun kubayar, asal kualitas bagus!" ujarnya arogan.


"Baik, Nona."


Pegawai itu mundur dan mengambil sebuah kertas tebal berisi gambar, nama dan harga produk snack mereka.


"Kami selalu menomorsatukan kualitas, Nona. Ini daftar menunya."


Pegawai itu menyodorkannya pada Queensya.


"Oke, aku pesan roti manis keju, lumpia daging sapi, bagelen semir coklat, kroket kentang, dan nastar. Semua berjumlah seribu biji ya, nastar per toples, kan?"


"Iya, Nona. Saya buatkan nota pesanan dulu. Mau pake uang muka atau bayar lunas, Nona?" tawar pegawai itu.


"Lunas lah!" bentak Queensya.


"Baik, Nona. Mohon maaf saya hanya menawarkan pilihan. Silakan ke kasir."


Pegawai itu memohon diri, tapi tak menyangkal kekesalannya pada pembeli seperti itu.


Queensya mencomoti beberapa roti yang terpajang di display case lalu membawanya ke kasir.


"Hitung semuanya, sama ini!" ujarnya pada kasir.


" Baik, Nona."


Kasir menghitung cepat pesanan Queensya. Yuki mengambil pegawai yang bisa menghitung dengan cepat. Tentunya dengan gaji yang lumayan. Penghargaan terhadap pegawai menunjang kesetiaan dan kemajuan mereka.


"Semuanya tiga puluh delapan juta enam puluh ribu rupiah, Nona."


"Oh, ini!"


Queensya menyodorkan kartu kreditnya.


"Terima kasih, Nona. Mohon untuk mengisi nama dan alamat di kolom pengiriman ini, ya?"


"Catat aja! Queensya Putri Wijaya. Alamat High Green Land Regency nomor 1! Nomor HP 08123123XXXX!"

__ADS_1


"Baik, Nona!"


Cekatan juga! batin Queensya. Padahal dia mengucap nama dan alamat dengan lumayan cepat.


__ADS_2