
Waktu terasa begitu cepat bagi Yuki yang ingin memperlambat waktu. Hari sudah mulai petang saat mereka telah selesai melakukan kegiatan bersih diri dan makan malam.
"Kamu kenapa, Ki?" tanya Nana melihat Yuki gelisah.
"Nggak ada apa-apa, Na!" jawab Yuki sambil melempar senyum terpaksa.
"Ooh ...." Mulut Nana membulat, lalu dia kembali menatap ponselnya yang sedari tadi terus ia pantau.
"Eh, aku keluar sebentar, ya?" Tiba-tiba Nana beranjak dari duduknya.
Yuki yang sedang duduk dan Dhea yang baru saja keluar dari kamar mandi tak sempat menjawab ucapan Nana, hanya melongo melihat gadis itu telah menghilang di balik pintu kamar.
"Mau kemana dia, Ki? Hari udah mulai petang juga!" ujar Dhea sambil mengeringkan rambutnya.
"Eh, nggak tau, Dhea. Tiba-tiba dia berdiri dan pergi begitu aja!" jawab Yuki.
"Dhea, abis ini aku juga mau keluar sebentar, ya? Sebentar aja, kok!" lanjut Yuki.
"Ih, kalian ini kenapa sih?? Aku takut sendirian di kamar, tau?" ujar Dhea menatap sisi kanan kirinya, bergidik ketakutan.
"Bentar, kok! Sepuluh menit aja, nggak akan lama ...." janji Yuki.
"Huh, baiklah. Jangan lama-lama beneran, ya?" rengek Dhea.
"Iya. Bentar ya, Dhea?" Yuki mulai beranjak dari duduknya diiringi anggukan sahabatnya itu. Dia melangkah keluar kamar. Dhea mengikutinya sampai di ambang pintu.
"Beneran, nggak pake lama ...." pinta Dhea sekali lagi.
"Iya!"
Tawa Yuki hampir pecah melihat Dhea yang takut berada di kamar sendiri.
"Buka aja pintunya kalo takut!" teriak Yuki sebelum dia menghilang di balik tembok ujung ruangan. Dhea mengangguk lemah, dia menengok ke dalam kamar, menggigit bibirnya. Gadis itu memang penakut.
Tanpa mereka sadari, keempat gadis geng Queensya telah mengintai dari lantai atas. Mereka ber-tos ria. Tak perlu usaha keras, gadis culun incaran mereka telah dalam posisi sendirian.
*
Yuki berjalan melewati beberapa kakak semester hang menggodanya, seolah mereka tau apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Mau nge-date yaa ... kencan, kencan ...." seru mereka bersiul-siul.
"Hih, kenapa semua orang tau, sih?"
__ADS_1
Yuki berlari kecil menghindari serombongan mahasiswa tingkat atas itu. Dia berjalan cepat menyusuri lorong-lorong penginapan yang begitu luas, mencari keberadaan Ferry.
"Dia bilang di sebelah penginapan ...." desisnya.
Mata Yuki mencari-cari sosok Ferry. Namun, yang dia temukan malah sebuah pemandangan yang mencengangkannya. Gadis itu bersembunyi di balik tembok, memperhatikan dua orang di samping penginapan.
Si cowok memegang tangan si cewek begitu lama. Melihat itu sekilas saja, Yuki merasa lemas di sekujur tubuhnya. Hatinya sakit.
"Mas Rangga dan Nana ... ternyata mereka ketemuan di sana," desisnya seraya menjauh dari tempat itu. Kedua matanya menghangat, kemudian cairan bening menggenang di matanya. Dia ingin menumpahkan air mata, tapi ditahannya. Dia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, perlahan mencari Ferry.
"Lain kali hati-hati, ya? Untung aku bawa plester!" ujar Rangga pada Nana yang terkena pecahan kaca di samping penginapan karena terburu ingin menemui Rangga atas informasi keberadaan lelaki pujaannya itu dari temannya yang juga sepenginapan dengan Rangga, kampus elit.
"Makasih, Kak!"
"Ya," jawab Rangga.
Lelaki itu akan melangkah pergi, tapi tak jadi melangkahkan kakinya mendengar Nana kembali berbicara.
"Boleh kita ngobrol sebentar, Kak? Em ... namaku Nana, dari kampus X."
Gadis itu mengulurkan tangannya ke Rangga. Lelaki itu termangu sebentar, lalu terpaksa menyambut uluran tangan Nana.
"Rangga," jawabnya singkat lalu melepaskan jabatan tangannya.
*
"Kiki, maaf membuatmu mencariku," sesal Ferry.
Gadis itu diam saja. Rasa sedih dan kesal sedang berkecamuk di hatinya, karena melihat Rangga dan Nana tadi. Dia menghela napasnya, dan mulai membuka mulut agar lelaki itu segera menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.
"Apa yang ingin kamu katakan, Kak?"
"Karena waktuku singkat, langsung aja ke point-nya, ya?" kata Ferry.
Ekspresi Yuki sangat datar. Namun, Ferry tak perduli karena waktu berjalan.
"Kiki, aku menyukaimu. Maukah kamu -...."
Drrrt ... drrrttt ... drrrttt ....
Ponsel Kiki bergetar, membuat gadis itu mengabaikan apa yang disampaikan Ferry.
Sial! Umpat Ferry dalam hati.
__ADS_1
"Halo," jawab Yuki menjawab panggilan di ponselnya sambil menjauh dari lelaki itu.
"Oh, ya! Tunggu! Aku akan ke sana! Kenapa kamu bisa sampai di sana-...." Ucapan Kiki terputus. Dia menatap sebentar ke layar ponsel jadulnya, lalu mendekat lagi ke Ferry.
"Kak Ferry, maaf aku harus pergi!"
"Eh, bagaimana jawaban - ...."
Tanpa menunggu kalimat Ferry, Yuki berlari menjauh dari lelaki yang memang ingin dihindarinya itu.
"Sial!" umpat Ferry sekali lagi.
Yuki berjalan pelan menuju ke belakang penginapan. Dia bergegas mencari Dhea, sahabatnya itu di hutan pinus. Suasana begitu sepi karena malam hari, semua orang memilih untuk beristirahat di depan penginapan maupun di dalam kamar masing-masing.
"Dhea bilang dia di sekitar hutan pinus. Ngapain dia di sini, ya?"
Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Udara dngin begitu terasa, menyusup ke pori-pori kulit. Kulitnya merinding. Begitu sepi, Yuki memanggil-manggil sahabatnya itu. Dia menyalakan senter di ponselnya, mengarahkam ke hutan.
"Dhea! Dhea!"
Namun tak ada jawaban. Yuki agak masuk ke hutan.
"Dhea itu penakut, kenapa dia sampai ke sini? Aneh. Lebih baik aku cari bantuan dulu."
Saat memutuskan untuk berbalik, tiba-tiba kakinya tergelincir tanah basah dan dia terperosok ke hutan yang turun dan agak dalam.
Sraakk!!! Bugh!!
"Aaaargh! Tolong!!" teriak Yuki berguling dari ketinggian. Kepalanya terantuk batu, Yuki merasa pusing dan lalu pingsan.
*
"Bagus! Gadis miskin itu pasti sekarang sedang kebingungan mencarimu. Awas ya, kalo kamu berani mengadu pada orang lain tentang hal ini! Taruhan nyawamu!" ancam Queensya pada Dhea yang memucat wajahnya karena ketakutan sekaligus merasa cemas akan keselamatan Yuki.
"Queensya, malam ini cegah seluruh mahasiswa untuk keluar ruangan! Pagi-pagi mereka harus bangun untuk kegiatan!" bujuk Wenny.
"Benar, jika gadis itu meminta pertolongan, tak akan ada yang mendengarnya!" ujar Anggi menyeringai, betapa puasnya dia membayangkan Yuki sedang pucat ketakutan di tengah hutan.
"Kalo dia dimakan harimau, gimana?" tanya Rachel bergidik ketakutan.
"Hutan itu tak ada binatang buas! Jika ada, hanya serangga-serangga beracun yang akan menyiksanya! Biarkan aja! Biar kapok!" jawab Queensya. Dia melirik ke arah Dhea yang terisak pelan.
"Cengeng dan penakut! Udah, sana! Balik ke kamarmu! Bilang ke semua orang bahwa sahabatmu itu pergi sendiri keluar kamar dan kamu nggak tau apa yang dia lakukan! Sana! Bawa wajah dukamu itu keluar dari ruangan cantikku ini!!" bentak Queensya ke Dhea.
__ADS_1
Gadis itu segera pergi dari kamar geng Queensya, menundukkan wajahnya penuh penyesalan. Sebentar kemudian, sampai di kamar, dengan jelas dia mendengar pengumuman dari Queensya bahwa semua mahasiswa harus berada di dalam kamarnya masing-masing. Nana pun sibuk dengan ponselnya, tak menyadari perubahan wajah Dhea yang murung dan tak bisa tidur.