
Yuki mengayunkan langkah di sebuah perusahaan besar milik orang tuanya setelah turun dari mobil suaminya yang mengantar sampai di depan gedung bertingkat itu. Dia sampai di dalam, memandangi seluruh ruangan. Sudah lama dia tak mengunjungi perusahaan itu setelah menjadi mahasiswi sebuah universitas.
Perusahaan itu menjadi impian para pencari kerja. Selain tempatnya yang sangat mewah, bersih, disiplin tinggi dan tentu saja, gaji dan tunjangan yang memuaskan.
Sedikit cerita, Tuan Bhanu memiliki dua perusahaan. Yaitu Perusahaan Tungga Jaya yang menjamin kemurnian bahan bakar yang mereka pasok ke pom-pom bensin di seluruh wilayah. Kepercayaan konsumen dinomorsatukan. Itulah mengapa semua kalangan selalu mantap untuk membeli bahan bakar, dari kalangan bawah hingga atas.
Selain itu, Perusahaan Moon Jaya sebuah perusahaan kosmetik ternama yang dulu didirikan setelah Nyonya Marlina Moon mendapati dirinya alergi terhadap sebuah bahan kosmetik, membuat Tuan Bhanu memiliki ide untuk mendirikan pabrik kosmetik berbahan dasar air yang lolos uji klinik dan cocok bagi semua orang dari berbagai kalangan. Harga agak sedikit mahal, tapi jaminan kualitas nomor satu.
Yuki memilih untuk memulai langkahnya di perusahaan kosmetik. Dia melangkah masuk. Semua mata yang memandangnya segera membungkuk pada gadis itu. Bukannya bangga dan sombong, tapi dia malah merasa sungkan. Namun, sikap tegas pun diperlukan untuk memimpin sebuah perusahaan.
Setengah tahun setelah pernikahan, dia ditugasi oleh papinya untuk menjalankan salah satu perusahaan. Semua perusahaan milik keluarga, nantinya akan menjadi miliknya. Satu-satunya anak dalam keluarga itu, selain bakery dan catering yang dia miliki. Rumah catering pun telah berhasil dia bangun di samping toko rotinya. Bukan menyewa lagi, sekarang dia berhasil menjadikannya hak milik.
Wanita itu memeriksa seluruh ruangan dan berdecak kagum dengan peningkatan yang bagus setiap tahunnya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir dia menginjakkan kakinya di sana hanya untuk bermain-main saja, tapi dia bisa menilai peningkatan keadaan perusahaan. Papinya bukan orang sembarangan. Beberapa target harus dicapai untuk memacu seluruh karyawan. Bukan memperbudak, tapi demi menjaga kualitas dan kuantitas.
Ruang dengan nama CEO telah disediakan untuknya. Suasana nyaman terasa di dalam ruangan itu, hingga mau berlama-lama di sana pun masih akan terasa nyaman. Semua fasilitas terjamin. Bukan hanya di ruang CEO saja, tapi juga di ruang-ruang lain. Tak heran, puluhan ribu orang berlomba untuk menempati posisi di perusahaan itu jika ada beberapa lowongan kerja.
Bahkan untuk menjadi karyawan paling bawah pun, mereka berebut. Itulah yang Yuki pelajari dari papinya.
"Mbak Fani, nanti kita adakan rapat. Aku akan memperkenalkan diriku di hadapan perwakilan karyawan, meski mereka telah mengetahui, tapi tak ada salahnya jika aku mendekatkan diri pada mereka," ujar Yuki pada sekertarisnya.
"Baik, Nona Yuki."
Fani segera menyusun jadwal rapat pagi itu. Dia menghubungi seluruh divisi agar hadir di ruang rapat.
__ADS_1
Setelah melakukan beberapa persiapan dan semua hadir, Yuki keluar dari ruangan CEO bersama sekertarisnya untuk menuju ke ruang rapat.
Ruang rapat berada di lantai dua. Mereka harus memakai lift untuk turun ke sana.
Kedua orang itu masuk ke dalam lift. Hanya ada seorang pria memakai baju office boy berwajah pucat pasi saat melihat siapa yang masuk memakai baju formal dengan tampilan yang elegan. Namun, sebuah masker menyelamatkan wajah piasnya.
Yuki menatap ke arah pria itu sembari mengerutkan dahi. Dia seperti tidak asing padanya.
"Mas, udah lama kerja di sini?" tanya Yuki.
Pria itu hanya menunduk dan menggeleng.
"Apa dia tak bisa bicara?" bisik Yuki pada sekertarisnya.
"Bisa, Nona. Namanya Ferry. Dia baru dua bulan kerja di sini."
Rapat dimulai. Yuki sedang memperkenalkan dirinya dan mengutarakan inovasi-inovasi barunya.
Ketika itu sang office boy mengerutkan dahi sambil menelepon sahabatnya.
"Heh! Kamu nggak bilang ini perusahaan kosmetik milik Kiki, eh Yuki!!" ujarnya kesal.
Berbagai perusahaan menolak kemampuannya. Hanya satu perusahaan ini yang memerlukan seorang office boy. Akhirnya dia mau masuk karena kepepet.
__ADS_1
"Aku nggak tau kalo Tuan Bhanu pun memiliki perusahaan kosmetik! Yang kutau hanya bahan bakar terbesar!" jawab suara di seberang sana.
"Makanya, kamu itu anak pengusaha tapi nggak gaul! Sial! Malu aku, Ndra!" omelnya.
Pria itu malu karena begitu mengetahui siapa Kiki dan saat itu dia telah lulus mendahului gadis itu, dia kemudian menghindar lalu mencari kerja, karena ayah ibunya bukan pengusaha. Namun, mendapatkan pekerjaan pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga akhirnya apapun pekerjaan dia mau melakukannya demi uang dan ternyata, dia masuk ke jurang malunya sendiri. Dia belum pernah bertemu dengan si pemilik perusahaan itu selama dua bulan ini. Baru kali ini dia tau dan membuat kadar malunya meningkat drastis.
Sore itu ketika karyawan mendapatkan gaji mereka, karena ini adalah awal bulan yang menyenangkan, Ferry membuka amplopnya dan mendapati uang tambahan senilai lima ratus ribu rupiah. Dahinya berkerut mengingat uang bonus atau apa itu.
"Kata Nona Yuki, CEO cantik itu, dia bilang itu bayar utangnya sama kamu, lunas katanya."
Manager keuangan berbicara tanpa melihat ke arahnya. Hanya meliriknya yang sedang kebingungan.
Dia menunduk dan mengangkat kepala saat melihat wanita anggun yang pernah dia jadikan bahan taruhan sebesar lima juta rupiah dan membohongi bahwa telah menyelamatkan dari hutan pinus, keluar dari lift. Wanita itu tersenyum lebar pada seorang pria yang benar-benar menyelamatkannya dahulu, yang sekarang sedang menunggu di depan mobil mewah terparkir di depan gedung. Pria tampan itu mencium pipi kanan dan kiri. Pemandangan yang membuat iri setiap orang yang melihat kemesraan mereka. Begitu pun Ferry. Dia hanya bisa berandai-andai saja sekarang.
Lima juta rupiah, terlalu murah untuk gadis tak ternilai seperti itu. Jika saja dia tahu siapa Kiki yang dikenalnya, dia takkan berani menjadikannya mainan. Wajahnya kembali memanas mengingat semua yang pernah dilakukan. Kepalang malu.
Ferry memandang sepasang suami istri yang saling menyayangi itu hingga masuk ke mobil dan berlalu dari depan gedung.
Pria office boy itu kemudian mengemasi peralatan kebersihan dan mengambil topi dan tasnya lalu bergegas menaiki sepeda motornya, karena mobil yang dia pakai dulu telah diambil oleh pamannya, dia menyalakan sepeda motor berlalu menuju jalan pulang dan bertekad untuk tak akan kembali lagi ke perusahaan itu.
Kesuksesan berawal dari sebuah langkah kecil. Berjalanlah tanpa merendahkan orang lain, siapapun itu, karena kita tak akan tahu potensi apa yang ada dalam diri orang yang kita hadapi.
END
__ADS_1
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta