
...🌺 Assalamualaikum 🌺...
...{Welcome to my novel, terimakasih sudah memilih novel ini untuk di baca. Semoga suka dengan cerita nya. Ini novel pertama, banyak kesalahan dalam setiap kata maupun kalimat.}...
...Harap di maklumi❤️....
Siang hari di bawah bangunan berdiri kokoh nan megah Yura tengah merengek meminta izin agar bisa membawa adik Arin ikut dengannya untuk makan bersama Yoon jin.
"Lah gue kira lo berdua aja sama Yoon jin.Kok malah bawa--bawa adik gue sih ?"
"Ya enggak bisa gitu dong bestie. Kita enggak boleh berdua--duaan dengan laki--laki yang bukan mahram."
"Dosa !"
"Tapi gini ya bestieku,hari ini adik gue enggak ada di rumah,"jawabnya nyengir kuda merasa bersalah.
Yura diam sejena, wajahnya tampak lebih datar menatap tajam Arin yang masih setia dengan sengiran kudanya.
Bugh!!
Yura melempar bantal kasar tepat ke wajah Arin.
"Dasar !! kenapa lo enggak bilang dari tadi.
"Ya maaf,lo juga tadi enggak kasih gue ruang buat ngomong,dari tadi lo maksa-maksa pengen bawa adik gue."
"Bawa keponakan Fitri aja."Saran Arin.
"Lo yang bujuk,capek gue."
"Tenang bestie, bujukin si Fitri enggak sulit kayak bujukin lo."
.
Yura dan Arin berdiri tepat di depan pintu mewah bewarna putih yang tertutup rapat.
Tok-tok-tokk !!
"Assalamu'alaikum."Salam Yura dan Fitri bersamaan.
"Waalaikumsalam,eh kak Alin ama kak Yula."Sahut Faaiza keponakan Fitri yang baru berusia 3 tahun.
"Ululu,sini kak Yula gendong dulu ya."
Yura mencubit gemas pipi chubby Faaiza.
"Auntie Fitri mana za?"Tanya Arin.
"Di kamal lagi bobok."
"Sama siapa dirumah cantik."Tanya Yura lembut.
"Ama ontie, Mama agi di utik(butik)."
__ADS_1
Yura dan Arin berjalan menuju kamar bewarna biru muda diselipi warna putih.
"Assalamu'alaikum,"ucap Arin mendorong pintu kamar yang bertuliskan Fitri.
"Nyenyak banget ya tidur siang nya lagi mimpi in siapa sih,"goda Arin yang memainkan telinga Fitri yang masih terlelap.
Yura mendekat kan ujung botol minyak kayu putih pada hidung Fitri. Fitri menggeliat mencium aroma menyengat dari bawah hidung nya.
Perlahan ia membuka matanya malas.Samar--samar ia melihat dua wanita yang tidak asing baginya.
Namun matanya enggan untuk terbuka.
"Bangun woi!!"teriak Yura melempar bantal tepat pada wajah Fitri.
"Ck,apaan sih ganggu aja." Fitri menggeliat dengan mata terpejam.
"Gue mau pinjam ponakan lo buat makan bareng Yoon jin."
"Bawa aja sana."Jawab Fitri dengan mata tetap terpejam.
"Telpon dulu Mamanya entar dicari."
Fitri tak berkutik matanya masih setia terpejam.
Geram dengan Fitri yang tak kunjung bangun.
Yura dan Arin menarik kedua tangan Fitri sampai ia terduduk.
"Bangun bentar kenapa sih !!"
"Nih,karma buat lo yang suka gangguin gue tidur."Sahut Yura.
"Cepat telpon udah jam dua ini,enggak sempat dandan entar Yura."Timpal Arin.
"Gue enggak dandan ya."
"iya--iya,bawel ah."Kesal Fitri.
Seperkian menit kemudian dengan berbagai macam halangan dan rintangan akhirnya Yura berhasil membawa pulang Faaiza yang sudah terdandan cantik dan imut.
"Lucu banget sih,aku pengen punya adik kaya gini,"geram Yura mencubit, mencium pipi Faaiza.
"Atit Kak,"keluh Faaiza yang jengah di cubit dan dicium terus.
"Maaf ya,kita kerumah kakak yuk,"ajak Yura sambil menggendong tubuh mungil Faaiza.
"Woi !! makanya cepat nikah sama Yoon jin,biar anaknya imut kaya Yoon jin Oppa!!."Goda Fitri setengah berteriak.
"Sama Yoon so Oppa aja yang mukanya imut kalau sama Jin oppa mukanya bakal ganteng banget,terus sifat nya pasti dingin banget kaya Kutub Utara." Arin ikut berteriak.
"Hayo, Yur yang ganteng apa yang imut,"lanjut Fitri sambil terkekeh.
"Gue tampol ya lo berdua."Sahut Yura dari seberang rumah.
__ADS_1
Yura masuk ke dalam rumah tampak Abi dan Umi sedang duduk menikmati acara televisi.
"Kak Yula nanti Iza makan yang banyak ya."Pinta Faaiza polos.
"Iya dong harus."
Mendengar samar-samar obrolan anak kecil Abi dan Umi menoleh ke sumber suara.
Mereka sama-sama mengernyitkan dahi ketika melihat anak kecil yang berada di gendongan Yura.
"Siapa Yur ?"Tanya Umi Yahra.
"Ponakan si Fitri, Faaiza."
"Kirain siapa sini Iza duduk sama Nenek,"pinta Umi sembari menepuk pahanya.
Yura sangat menyukai anak kecil,saking dekatnya sama anak-anak,Yura sering di panggil Mama ketika sedang tidak ada ibunya.
Sekian lama bergulat dikamar, menggonta-ganti pakaian yang sedari tadi di rasa kurang cocok akhirnya Yura keluar dari kamar dengan fashion elegan membuat Abi dan Umi menatap Yura bingung.
"Mau kemana anak Abi udah cantik gini,"goda Abi sambil tersenyum.
"Mau jalan Abi, tapi enggak tahu jadi apa enggak."
"Mama Yula antek anget."Puji Faaiza polos.
"Oo jelas anak siapa dulu,"ucap Yura yang kini sudah duduk disamping Umi Yahra.
"Laki atau perempuan ?"Tanya Abi Yushiko.
"Nanti ya Abi ku sayang. Tunggu dulu kita kan udah shalat ashar.amatanya sesudah shalat ashar."Jelas Yura.
"Ini Faaiza di bawa juga ?"
"Iya Umi,udah dandan cantik gini masa enggak di bawa."
"Siapa--siapa aja yang ikut makan di restoran ?"
"Rencananya sih bertiga bareng Faaiza."
"Di traktir ?"Tanya Abi kembali.
"Pasti Yura mah enggak mau keluar uang buat makan,harus yang gratis."Jelas Yura sambil terkekeh.
"Umi jadi curiga,tumben Arin sama Fitri enggak ikutan."
Abi dan Yura menatap Umi sambil menaikkan sebelah alisnya bersamaan.
"Ya gitu deh,masa nempel mulu kaya perangko."
"Ya bukan gitu rasanya janggal kalau kamu keluar rumah tapi enggak bareng dua tetangga depan rumah itu."
"Tenang ya Umi Yura berteman milih--milih kok."
__ADS_1
"Yah,kalau si Yura mah bukan milih tapi emang enggak sembarangan bergaul,enggak nyapa kalau enggak di sapa, kecuali sama yang lebih tua."Ucap Abi dengan nada mengejek membuat Yura memanyunkan bibirnya kesal.
Jangan lupa tinggalkan jejak kedatangan kalian berupa like, dan komen mungkin ❤️sebagai dukungan untuk author.❤️❤️❤️