
...🌺Assalamu'alaikum 🌺...
...{Welcome to my novel, terimakasih sudah memilih novel ini untuk di baca. Semoga suka dengan cerita nya. Ini novel pertama, banyak kesalahan dalam setiap kata maupun kalimat.}...
...Harap di maklumi❤️....
Hari ini SMA Turnagara sedang melakukan acara keagamaan dalam rangka perayaan Ulang Tahun Sekolah yang ke 10 tahun.
Mengawali perayaan ulang tahun sekolah, siswa-siswi mengadakan bakti sosial. Membagikan sembako pada orang-orang yang membutuhkan.
Meski sekolah bergengsi SMA Turnagara mewajibkan siswa-siswinya untuk berpartisipasi dalam bakti sosial ini.
Kelas Yura kebagian tugas mendatangi panti asuhan yang jaraknya tidak jauh dari sekolah.
Kini Yura dan teman--temanya sedang duduk manis di mobil menuju salah satu panti asuhan.
Ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka , membagikan makanan ke panti asuhan dalam rangka perayaan ulang tahun sekolah.
Sorot mata Yoon jin fokus menatap jalanan di hadapannya. Ia menyetir dengan kecepatan sedang.
Ada rasa senang bagi sebagian siswa-siswi yang senang menolong orang lain. Dan ada juga sebagian siswa-siswi yang merasa tak suka dengan kegiatan yang dianggapnya merepotkan.
Mobil Keluarga Kim berhenti tepat di depan panti asuhan yang bertuliskan Panti Asuhan Bekti.
Mereka semua turun menuju panti asuhan yang pintunya sedang tertutup rapat.
Mereka semua menoleh ke kanan-kiri mencari penghuni panti. Tak ada suara apapun yang terdengar dari luar.
"Ko horor ya."Fitri merinding.
"Ih lo jangan ngomong begitu ih,gue enggak suka."Oceh Arin.
"Diam."Ucap Yura datar.
Dua sahabatnya yang sedari tadi gelisah kini diam seribu bahasa.
Tok-tok-tokk,Yoon jin mengetuk pintu panti asuhan.
Brakkk, suara keras berasal dari dalam panti, membuat semua yang berada di luar panti saling menatap terkejut.
Yoon jin dan Yoon so langsung menatap wajah Yura yang juga sedang menatap wajah mereka bergantian.
Segera Yura mendorong keras pintu panti merasa khawatir dengan suara keras dari dalam.
Semua mengikuti Yura dari belakang khawatir dengan tindakan nekat Yura.
Pria sebaya dengannya terbaring lemah meringis kesakitan dengan kursi roda yang tergeletak di samping nya.
Yura segera menolong pria itu untuk duduk di kursi rodanya.
Semua mata tertuju pada Yura yang sedang membantu pria asing untuk duduk di kursi roda dengan sedikit kesusahan.
Yoon jin dan Yoon so segera membantu Yura yang kesusahan menaikkan badan tinggi pria asing ke kursi roda.
__ADS_1
"Eh,gue kaget Fit"Ucap Arin terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Ganteng ya."Sahut Fitri.
"Ih,lo ya.",Kesal dengan Fitri yang bercanda tak kenal situasi.
Kedatangan Yura dan teman--temanya dengan seragam yang tak asing baginya, membuat Pria yang sudah terduduk Santai di kursi rodanya tahu apa maksud dan tujuan mereka datang ke panti asuhan tempat tinggalnya.
"Kenapa bisa jatuh ?."Tanya Yura datar.
Nada datar yang keluar dari mulut Yura membuat pria yang terduduk lemah di kursinya diam enggan menjawab.
"Eh,gue kira lo bakal bertanya dengan lembut."Ucap Fitri santai.
"Kalau lo nanyanya begitu,mana mau dia ngejawab pertanyaan lo."Sahut Yoon jin datar.
"Kenapa kakak bisa terjatuh ?.'Tanya Yoon so lembut dengan senyum manis sudah terpasang di wajahnya.
"Aku ingin membuka pintu,tapi aku terjatuh karena terburu-buru."
"Baiklah,kami kemari ingin memberikan sedikit bantuan sembako."Ucap Yoon jin ramah.
"Kalau boleh tahu,nama kakak siapa ?."Tanya Fitri penasaran.
"Dhafir."
"Kak Dhafir,di sini sama siapa ?."Tanya Yura datar.
"Ibu panti ?."
"Panti ini sudah lama tak beroperasi, semenjak kematian Ibu pengurus panti ini."
Semua saling menatap iba pada Dhafir.
"Aduh,air mata gue udah ngalir aja." Air mata Fitri mengalir begitu saja tanpa permisi.
"Bagaimana bisa kak Dhafir hidup sendirian dengan kondisi begini."Arin tak kuasa menahan tangis.
"Jangan nangis ya Rin,namanya juga kehidupan."Ucap Rachel menenangkan Arin yang tak kuasa menahan tangis.
"Yoon jin oppa,hibur aku dong."Pinta Fitri sembari mengelap kasar air mata yang membasahi pipinya.
Yura berjalan menuju pintu yang tertutup gorden dengan wajah serius seakan sedang mengahadapi ujian Matematika.
Tanpa rasa enggan dengan pemilik rumah,Yura membuka gorden penutup pintu yang hanya berisikan beberapa macam alat masak.
Tak ada satu orang pun yang berada di panti asuhan yang sudah usang ini.
"Huwa!!!,Yura kita harus bagaimana,aku enggak sanggup melihat keadaan Dhafir begini,dan juga tak ada seorang pun yang menemaninya."Ucap Yoon so sedih mengeluarkan air mata yang kini sudah membasahi pipinya.
"Yoon so jangan nangis,gue jadi makin sedih nih." Ucap Arin sedih.
"Gue juga bingung mau gimana."Sahut Yura terduduk sedih di sofa usang.
__ADS_1
"Ini kita ada sedikit rejeki untuk kamu semoga bermanfaat."Ucap Yoon jin datar meletakkan semua sembako di dapurnya.
Dengan sigap semua membantu Yoon jin membawa sembako dari bagasi mobil,dan menyusun rapi di dapur Dhafir.
Yura diam melamun di sofa cukup lama, bingung apa yang sebaiknya ia lakukan pada Dhafir.
Dhafir yang sedari tadi menundukkan kepalanya, berusaha mengangkat kepala nya ragu, perlahan menatap wajah datar Anaya yang terlihat elegan.
'Datar,tapi baik banget.'
'Cantik banget,gimana ya agar dia bisa suka sama aku yang lumpuh tak berdaya seperti ini.', Membatin bingung.
Yoon jin keluar dari dapur,sorot matanya langsung tertuju pada Yura dan Dhafir yang sedang duduk bersama namun tak berbicara sepatah kata pun.
'Dhafir, natap wajah Yura lekat banget.'Yoon jin membatin.
Jenuh dengan tatapan wajah Dhafir,membuat Yoon jin kesal.
"Ehemmm."Yoon jin berdehem.
Dhafir sadar dan langsung menatap ke sembarang arah.
"Apa kita ke rumah sakit aja." Saran Arin.
"Ayo!!!."Yura langsung setuju dengan saran Arin.
"Yoon so." Ucap Yura yang langsung diangguki Yoon so.
"Eh,Yoon so sama Yura ada kode apa nih."Tanya Arin penasaran.
"Masa di panggil nama aja langsung bertindak sih."Goda Fitri.
"Gue juga curiga."Timpal Rachel.
Yoon jin menatap wajah mereka datar, tak suka guyonan Fitri dan Arin.
"Lo mau ?."Tanya Yura pada Dhafir.
"Jangan-jangan."Jawab Dhafir segera.
"Jangan anggap ini beban."
Entah ada apa dengan Yura,setiap apa yang ia katakan pasti semua menurut enggan menolak,meski baru mengenal Yura.
"Kita ke rumah sakit dulu,"ucap Yura sembari mendorong kursi roda Dhafir, membuat jantung Dhafir berdetak heboh, bingung dengan apa yang sedang ia alami.
Dhafir hanya bisa diam, terduduk pasrah.
Yoon so dan Yoon jin berjalan cepat menuju Yura yang sedang mendorong pelan kursi roda.
"Biar aku/gue aja Yur."Ucap Yoon jin dan Yoon so bersamaan dengan tangan yang sudah menggenggam erat pegangan kursi roda Dhafir.
Yoon so dan Yoon jin saling pandang dengan sorot mata tajam,seakan sedang berkelahi hanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1