
✨ Assalamu'alaikum ✨
Selamat membaca readers semoga ceritanya enggak bikin bingung, puyeng,dan jenuh ya😆.
Jangan lupa like,komen,dan Vote nya❤️.
Bebas komen apa aja,biar enggak sepi 🤗.
"Maaf,gue enggak mau." Ucap Yura berlalu pergi. Namun Lee wei dengan sigap menarik tangan Yura kasar.
"Apa maksud lo,gue enggak mau ?"
Yura menghempas kan tangannya sampai terlepas dari cengkraman Lee wei.
"Masak gitu doang enggak ngerti,lo pakai bahasa apa biasanya,"jawab Yoon so kesal.
Lee wei tak menghiraukan Yoon so,netra nya terus menatap Yura dengan tatapan kesal. Tak pernah terbayang kalau ia akan di perlakukan seperti ini oleh wanita incaran nya.
Lee wei tak terima cara Yura menolak pernyataan cintanya. Apalagi semua orang tengah merekamnya.
"Sok suci sok cantik, lo pikir cuma lo cewek paling cantik di sini. Lo pikir gue tergila-gila sama lo. Cih,najis!!"
"Udah puas,kalau udah lo boleh pergi dari sini dengan hormat,gue udah biasa nerima cacian kayak lo, mending lo pergi sebelum tambah malu."
Lee wei berjalan ke arah Yura yang bersedekap dada membisikkan sesuatu di telinga Yura.
"Awas aja gue bakal mempermalukan lo seperti yang lo lakukan ke gue."
"Gue tunggu waktunya,kalau bisa jangan lama-lama."Yura ikut berbisik membuat Lee wei semakin kesal dengan keberanian Yura.
Lee wei pergi meninggalkan Aula Pertandingan basket menghempas kan cokelat yang tadi ia pegang.
"Lemah banget mental nya di tolak gitu doang langsung ngoceh kemana-mana." Oceh Arin yang kini berada di samping Yura.
"Lo enggak apa-apa ?",Tanya Yoon jin khawatir,hatinya begitu cemas melihat kejadian barusan.
"Enggak apa-apa."
"Tadi dia bisik-bisik apa sama kamu Yur ?"Tanya Yoon so penasaran.
"Ya biasa lah patah hati ngomongnya ngelantur enggak jelas."
"Udah ah enggak usah di bahas capek gue."Sambung Yura kesal.
Arin merangkul pundak Yura."Kita kan khawatir sama lo."
"Makasih bestie,udah khawatir sama gue."
...****************...
Dhafir
✉️ Asalamualaikum Yura,maaf aku mengganggu malam-malam
Yura
✉️ Kenapa ?
Dhafir
__ADS_1
✉️Tadi di sekolah ada masalah ?
Yura
✉️ Enggak
Dhafir
✉️ Tadi di sekolah ada laki-laki nyatakan cinta sama kamu ya ?
Yura
✉️ Hmm
Dhafir
✉️ Lee wei ?
Yura
✉️ Iya
"Dia temanku dulu."Yura membaca isi pesan Dhafir.
"Kok bisa,dari mana Dhafir bisa temenan sama anak berandal kayak begitu."
"Siapa yang berandal ?"Tanya Umi tiba-tiba datang.
"Astaghfirullah,kaget Yura."
"Serius banget main smartphone nya sampai Umi ucap salam enggak di jawab."
"Hmm."Jawab Umi singkat.
"Ayo siap-siap, katanya siap kapanpun."
"Kemana Umi ?"
"Rumah Dhafir,kemana lagi."
"Sekarang ?"
"Iya nak."
"Ya udah ayo, Yura mah siap-siap aja."
Pagi hari pukul delapan pagi keluarga Yura tiba di kediaman Dhafir. Saat ini Dhafir sedang belajar masak dari YouTube.
Yura memang tidak alang-alang menolong Dhafir. Selain Smartphone Yura juga memasangkan Wi-Fi di kediaman Dhafir.
"Asalamualaikum!!" Salam Keluarga Yura bersamaan. Tak berselang lama pintu terbuka lebar dengan sambutan senyum manis dari sang pemilik rumah.
Wajah yang tadinya tampak bahagia menyambut kedatangan Yura, langsung berubah bingung dengan kedatangan kedua orang tua Yura.
"Eh.."
Semua menyunggingkan senyum ke arah Dhafir yang juga ikut tersenyum.
"Hai Kak,"Sapa Yura ramah mulai mendorong kursi roda Dhafir untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Entah kenapa Yura tak segan-segan menunjukkan sisi lembut nya kepada Dhafir.
"Silahkan duduk Om,tante. Minumnya apa,biar saya buatkan." Tawar Dhafir ramah.
"Enggak perlu Kak,Kakak duduk manis aja di sini."Sahut Yura
"Iya nak, enggak perlu."
"Kami datang ke sini ingin bersilaturahmi sama nak Dhafir. Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu nak Dhafir."Jelas Abi ramah.
"Tidak sama sekali Om,saya senang ada yang berkunjung ke rumah."
Abi,Umi dan Dhafir membicarakan banyak hal, sampai pada akhirnya Abi menawarkan Dhafir untuk mengobati kaki nya.
Dhafir segera menolak,ia merasa tak enak selalu merepotkan Yura,dan sekarang Abi dan Umi nya juga ikut ia repotkan.
Dengan halus Dhafir menolak.
"Maaf Om,Yura sudah terlalu banyak menolong saya,ada rasa tak enak di hati saya jika terus merepotkan keluarga Yura. Ini semua sudah cukup bagi saya."
"Kak Dhafir ingat kan kalau dulu Kak Dhafir pernah bilang mau mengikuti semua permintaan Yura. Dan permintaan Yura itu sama dengan Abi dan Umi,jangan di jadikan beban rejeki yang Allah berikan. InsyaAllah ini semua demi kebaikan Kak Dhafir untuk masa mendatang."Jelas Yura panjang lebar.
Dhafir terdiam, hatinya ingin kakinya sembuh dan segera beraktivitas normal. Tapi ragu untuk menerima bantuan yang kesekian kalinya dari Yura dan sekarang orang tua Yura juga menolong nya.
Suasana senyap cukup lama menunggu persetujuan Dhafir.
"Assalamu'alaikum."Salam seseorang dari pintu,sontak semua mata menuju ke sumber suara.
Ternyata yang datang tidak lain tidak bukan adalah Yoon jin dan Yoon so dengan tangan yang di penuhi barang-barang.
"Waalaikumsalam."
"Eh nak Yoon jin dan Yoon so,ada apa nih,kalian sering ke sini juga ?"Tanya Umi penasaran.
"Eh,iya Umi kita sering main bareng Kak Dhafir,"Yoon so dan Yoon jin mencium punggung tangan Abi.
"Wah bawa apa ini ?"Giliran Abi yang bertanya.
"Oh ini baju untuk Kak Dhafir,"Yoon so menyerahkan kantong plastik hitam yang terisi penuh.
"Maaf kalau hanya pakaian bekas,tapi masih bagus dan layak di pakai."Jelas Yoon Jin.
"Tidak apa-apa,terima kasih pakaian nya,aku enggak tahu harus bilang apa,beribu kali ku ucapkan, itu tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah kalian berikan pada ku,hanya Allah yang pantas membalas kebaikan hati kalian."
Sebenarnya itu bukan lah pakaian bekas, mereka terpaksa berbohong agar Dhafir tak keberatan untuk menerima pemberian mereka.
"Bagaimana Dhafir ?"Abi kembali bertanya.
Yura menjelaskan semua rencana Abi kepada Yoon jin dan Yoon so yang belum tahu topik pembicaraan.
"Sebaiknya Kak Dhafir terima niat baik Abi dan Umi,ini semua akan berpengaruh untuk masa depan kakak,ini rejeki dari Allah." Bujuk Yoon jin
Dhafir terdiam mendengar tuturan Yoon jin yang sama persis dengan yang Yura katakan.
'Bahkan kalimat Yura dan Yoon jin mirip, apa mereka benar-benar berjodoh.'
"Tidak baik menolak rejeki."Yoon so ikut meyakinkan.
"Baiklah aku mau mengobati kaki ku."Jawab Dhafir berusaha senyum menahan air matanya.
__ADS_1
'Dan aku tidak ingin merepotkan kalian lagi.'Dhafir membatin sedih.