
🌺 Assalamu'alaikum 🌺
Ujian praktek untuk kelas 12 semakin dekat. Persiapan terus di permatang sebelum hari nya tiba. Pukul dua siang Yoon jin Valen dan Deha masih berkutat dengan tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kebetulan atau takdir mereka bertiga jadi satu kelompok. Mereka di berikan tugas untuk menyusun membuat drama.
Mulai dari skenario,pemain, properti,dan lainnya.
Lebih dari dua jam mereka mengeluarkan pendapat. Yoon jin yang tak mahir dalam urusan drama seperti ini hanya diam mengikuti alur Deha dan Valen.
"Jadi gimana ? fiks nya mau pakai judul apa ?" Yoon jin memastikan.
"Menurut lo bagus enggak judul nya Batu Menangis ?"
"Bagus- bagus aja sih,udah lah ini aja capek gue mau pulang."
Raut wajah Deha tampak letih,ia segera mengemas buku-bukunya bersiap pulang.
"Lo pikir lo doang yang capek. Gue juga capek." Valen bertitah dengan wajah masam.
Tiga remaja berseragam putih abu-abu berjalan lurus menelusuri lorong sekolah. Jalan menuju parkiran bertepatan dengan jalan menuju ruang eskul tata boga. Dahi Yoon jin berkerut saat tatapan nya tepat mengenai wajah Yura dan Yoon so yang baru saja keluar dari ruang eskul tata boga.
"Eh !" Deha ikut berhenti,ini pertama kali nya ia melihat Yoon so dan Yura pulang jam dua siang.
"Hai ." Yoon so menyapa ramah tiga Kakak kelasnya itu.
"Belajar masak lagi ?" Yoon jin bertanya dengan wajah datar. Wajah datar yang selama beberapa hari terakhir tak pernah ia tunjukkan di depan Yura kembali ia tunjukkan.
Mungkin karena kelelahan Yoon jin kembali berwajah datar seperti dulu.
"Ya."Jawab Yoon so singkat.
"Berduaan lagi ya,"Valen menaikan sudut bibir kanannya tersenyum remeh ke arah Yura.
"Y-ya.." Yoon so mengiyakan dengan ragu.
"Besok belajar lagi,hari ini udah lumayan. Gue pulang duluan."
Yura menatap wajah Yoon jin sekilas sebelum pergi meninggalkan mereka semua.
Semua mata masih terus menatap kepergian Yura sampai tubuh mungilnya perlahan tak terlihat.
"Gue jadi keinget pas awal-awal Yura masuk sekolah."
Mata ketiga orang yang berada di samping nya refleks menoleh ke arah Deha meminta penjelasan dari pernyataan nya barusan.
"Itu dulu pas Yoon jin bilang kalau Yura pacar nya. Gue pengen ngakak kalau ingat kejadian itu."
Dengan raut wajah kesal Valen berkata "Pacaran konon."
"Jangan di ingat ! lo pada tahu kan kalau itu bohong."
Yoon jin merasa malu mengingat kejadian dulu. Ia tak pernah menyangka akan berada pada posisi itu.
"Lo kenapa bohong soal itu. Gue tahu lo enggak suka sama gue. Tapi lo udah mempermalukan gue di depan semua orang."
__ADS_1
"Gue aja lupa kalau pernah ngomong gitu sama lo."
Wajah Valen merah padam mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Sial !! gara-gara tuh cewek nama gue jadi tercoreng." Valen terus memasang wajah kesal sepanjang jalan.
Yoon jin sebagai pelaku masa bodoh dengan kekesalan Valen.
Suasana canggung menyelimuti empat remaja yang sedang berjalan menuju parkiran.
Deha diam tak berkutik, ia lah oknum dari suasana canggung ini terjadi. Kalau saja ia tak mengingat kejadian waktu itu Valen tak mungkin
kesal seperti saat ini.
Di parkiran Deha memainkan pegas motornya.
Entah kenapa anak-anak remaja khususnya yang pria sangat hobi memainkan pegas motornya. Berbeda dengan Yoon jin dan Yoon so. Keduanya sama-sama tak suka mengendarai motor. Mereka lebih suka mengendarai mobil. Entah apa alasannya hanya mereka berdua yang tahu.
Dengan kecepatan sedang Yoon jin terus fokus menyetir. Sama-sama merasa lelah, membuat mereka saling diam tak bicara sepatah kata pun.
Ckit !!
Dugh !!
"Aduh !" Yoon so meng-aduh saat kepala nya terbentur ke kaca jendela mobil di samping nya.
"Maaf-maaf lo dari tadi lo tidur ?" Kilah Yoon jin merasa tak enak.
"Ahh pura-pura enggak tahu.Sshh !!"Yoon so menggosok-gosok kepalanya yang terasa sakit.
"Tau ah !" Dengan kasar Yoon so membuka sabuk pengaman yang ia kenakan.
"Tas lo ketinggalan !!" Yoon jin berteriak dari dalam mobil saat Yoon so menutup kasar pintu mobil.
Dengan wajah masam Yoon so kembali membuka pintu. Mengambil tas yang Yoon jin sodorkan.
"Enggak ada yang ketinggalan lagi."
Brak !!
Malas merespon Hyung nya,Yoon so menutup kasar pintu mobil. Yoon jin mengulas senyum melihat gelagat Yoon so yang terlihat lucu.
Di ruang tamu Appa (panggilan ayah dalam bahasa Korea) sedang duduk santai menonton televisi.
Yoon so dengan wajah masam nyelonong masuk ke dalam kamar melewati Appa tanpa berbasa-basi. Tak lama berselang Yoon jin menyusul di belakang Yoon so. Appa tak heran dengan perangai Yoon jin yang memang tak pernah berbasa-basi apapun kondisinya.
"Jin !" suara Appa berhasil menghentikan langkah panjang Yoon jin. Yoon jin membalikkan badannya menghadap Appa yang menatap nya serius.
"Kemari."
Dengan wajah datar Yoon jin duduk di depan Appa nya.
Appa meneguk secangkir kopi sebelum berbincang dengan Yoon jin.
__ADS_1
"Kapan ujian nasional ?"
"Dua minggu lagi."
"Sekarang lagi sibuk ujian praktek ?"
"Ya."
Appa mengangguk-angguk kan kepalanya.
Jawaban singkat dari Yoon jin berhasil membuat Appa bingung mencari topik lain yang hendak di bahasnya.
"Udah ?" Yoon jin bertanya saat Appa tak lagi bicara.
Hufh !
Appa membuang nafas panjang,"Sebenarnya banyak yang ingin Appa bicarakan. Apalagi sekarang kamu sudah mau tamat SMA."
Appa kembali meneguk nikmat kopinya. "Apa rencana kamu selanjutnya ?"
Di balik pintu kamar Yoon so menguping pembicaraan dua pria beda generasi yang di selimuti suasana tegang di antara keduanya.
"Anak sama Bapak sama--sama dingin." Yoon so bermonolog di balik pintu kamar.
"Aku ingin melamar seseorang."
Puahh !!
Semburan air kopi yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Appa berhasil membasahi wajah Yoon jin yang spontan terpejam tanpa sempat menghindar.
Yoon so yang masih setia menguping menutup mulutnya tak percaya.
"Ampun Jin Hyung,"Yoon so menggeleng-gelengkan kepalanya tak kalah terkejut.
"Kamu !!" Appa mengelap kasar mulut nya dengan sapu tangan yang ada di sakunya.
Dengan mata terpejam Yoon jin mengelap wajah dengan tangan kanan.
Appa menyodorkan tisu di dekatnya.
"Lap dulu wajah mu."
Dengan sedikit kesal Yoon jin mengelap wajahnya. Appa tak tahu dengan ekspresi datar Yoon jin saat ini entah dia kesal atau tidak usai tak sengaja di sembur. Sebab apapun yang terjadi ekspresinya tetap saja seperti itu.
"Becanda mu kelewatan,gadis mana yang mau di pinang oleh lelaki bau kencur yang baru lulus SMA. Mau makan batu ?"
"Hanya melamar,aku akan mengejar mimpi ku. Aku akan segera menyelesaikan kuliah dengan cepat. Kembali dengan kesuksesan dan menikahinya."
Appa terpaku pada penuturan Yoon jin. Tapi tetap saja ia tak setuju.
"Kenapa tidak di lamar saat sudah sukses. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang."
"Aku tak mau dia dimiliki orang lain. Jadi akan ku lamar dulu."
__ADS_1
Wajah Yoon jin tampak serius,ia tak terlihat sedang bercanda. "Buktikan dengan juara 1 seluruh Sekolah. Appa akan merestui mu."
Yoon jin mengangguk mantap mendengar penuturan Appa.