
🌺 Assalamu'alaikum 🌺
Yura dan Yoon so berjalan di bawah panas terik matahari. Wajah putih Yoon so sedikit memerah. Berbeda dengan kulit putih Yura yang anti sensitif. Yura dan Yoon so berjalan berdampingan di jalan cukup sempit yang berhasil mengikis jarak diantara keduanya. Yoon so merasa tak enak dengan lengan tangan yang hampir bersentuhan dengan Yura. Ia takut Yura merasa tak enak dengan kondisi saat ini.
Di lihatnya wajah Yura melalui ekor matanya.
Yura tampak biasa saja. Padahal saat ini jantung Yura berdebar-debar melihat gang kecil yang biasanya ramai entah kenapa sekarang sepi kosong tak ada orang yang duduk santai di teras rumah. Seperti nya para penghuni rumah sedang tidur siang.
"Hmm Yura jalan nya kecil ya." Yoon so memulai pembicaraan.
"Ya." Jawab Yura singkat dengan pandangan lurus kedepan.
"L-lo bilang tadi warung nya dekat kan."
"Tuh di depan,"Yura berujar dengan jari telunjuk menunjuk salah satu warung yang memang jaraknya tak jauh dari kaki mereka melangkah.
Yura dan Yoon so tiba di depan warung. Dengan wajah kesal Yura menghentak kaki nya sembari berdecak kesal.
__ADS_1
"Ck ! tutup lagi." Yura kesal bukan main.
"Gue enggak apa-apa kok kalau enggak ada masako. Ini aja udah enak. Banyak makan masako enggak baik untuk otak,"Yoon so berujar sembari menggigit buah jambu yang masih bulat.
Yura diam menatap Yoon so, memastikan apa benar Yoon so tak perlu masako.
"Noh enak banget kok."Yoon so kembali menggigit jambu itu meyakinkan Yura kalau ia benar-benar tak membutuhkan masako.
Yura mengangguk, keduanya kembali berjalan di gang kecil itu. Tapi kali ini posisinya berbeda. Kali ini Yoon so memimpin jalan. Sudah hakekat nya pria berjalan di depan sebagai pemimpin.
Empat penghuni teras rumah Arin asik bersenda gurau di selingi tawa bahagia. Fitri yang hobi memotret tak lupa mengabadikan momen berharga ini. Jarang-jarang bisa berkumpul di luar jam sekolah bersama Yoon so. Apalagi sekarang mereka sedang libur.
Cekrek! cekrek!
Fitri memotret berulang kali wajah tiga orang yang tidak menghiraukan Fitri. Sebenarnya mereka tidak suka terus-terusan di potret tanpa izin. Karena sudah hafal betul perangai Fitri yang kepala batu. Mereka malas menegur nya. Apalagi Fitri memotret dengan wajah berseri-seri merasa senang setiap kali berhasil mendapat hasil jepretan kamera nya yang luar biasa. Karena memang tak bisa di pungkiri bakat memotret yang melekat pada Fitri. Hasil jepretan nya memang sedap di pandang serta fokus yang akurat.
"Udah woi!! silau tahu enggak!" Arin berteriak merasa silau dengan cahaya blizt kamera ponsel Fitri.
__ADS_1
"Bentar deh sekali lagi ya." Fitri mengatur posisi sudut pengambilan foto ke arah Yoon so.
Cekrek !
Fitri terkejut melihat hasil jepretan nya. Wajah pria tampan yang lama tak muncul di hadapan nya tiba-tiba saja ikut terpotret. Fitri menatap ke depan memastikan bahwa ia sedang tak berhalusinasi.
"Huff!"Fitri membungkam mulut nya syok.
"Oppa !!"Fitri berteriak saat tahu ia sedang tak berhalusinasi.
Yoon jin menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah heboh Fitri.
"Assalamu'alaikum."Ujar Yoon jin ikut duduk di samping Yoon so yang terus menatap nya heran. Tak lama berselang pria blasteran Amerika menyusul dengan motor kesayan nya.
"Assalamu'alaikum!" ujar nya sambil membuka kaca helm di sertai senyum manis yang bersembunyi di balik helm ganda yang ia kenakan.
Empat orang yang tadi nya adem ayem duduk anteng, masih melongo menatap dua tamu tak diundang.
__ADS_1