
🌺 Assalamu'alaikum 🌺
Cuit~Cuit~
Burung bertubuh kecil bertengger riang di atas pohon tak henti-hentinya berkicau ria seolah memberi tahu kalau suasana hari ini sangat cerah. Berbeda dengan suasana hati anak gadis yang sedang sibuk bercermin merapikan hiasan simpel di wajah nya.
Sejak semalam perasaan nya begitu kacau. Diri nya di buat tak bisa tidur. Tak nafsu makan,dan yang semakin membuat nya kesal, chat yang di kirim pada Yoon jin tak di baca walau sudah tercentang dua.
"Yoon jin enggak berakhlak!!"
Begitulah teriakan Yura saat ia melihat pesan yang ia kirim sudah lebih dari tiga jam terabaikan begitu saja. Yura bahkan berpikir Yoon jin sok sibuk. Memangnya apa yang ia lakukan sampai tak sempat membaca pesan yang Yura kirim kan.
Belum reda amarah nya, ponsel yang ia lempar bergetar pelan menandakan pesan masuk. Ia mengambil kembali ponsel tertera jelas nama Yoon jin di layarnya. Yura yang terlanjur kesal tak menanggapi pesan Yoon jin. Di bacapun tidak, ia kembali melempar ponselnya cukup jauh di atas bantal. Membiarkan Yoon jin menunggu balasan darinya. Ia tak ingin hanya dia yang menunggu lama balasan Yoon jin. Sebenarnya Yura tak mengerti dengan dirinya sendiri. Seharusnya ia bersikap tak acuh dengan kehidupan Yoon jin. Entah sejak kapan ia mulai sering memperhatikan Yoon jin. Dan bahkan saling mengirim pesan akhir-akhir ini.
Ponsel Yura tak henti-henti nya berdering sampai deringan panjang mengharuskan Yura berjalan meraih ponselnya di sana. Siapa lagi kalau bukan Yoon jin, kakak kelas satu tingkat berwajah dingin sok keren bagi Yura. Yang akhir-akhir ini berhasil menghangatkan hati Yura. Meski Yura berusaha menolak kenyataan itu.
Tut!
Yura mengangkat telepon, "Halo." terdengar suara dari ponsel yang Yura genggam. Suara berat yang lama tak ia dengar memberi getaran aneh di telinga Yura menjalar hingga kehati. Yura bungkam tak bersuara.
__ADS_1
"Assalamualaikum Yur, maaf," ucap pria itu melanjutkan kalimatnya.
Di sini Yura masih terdiam cukup lama terpaku dengan suara berat Yoon jin yang membuat nya hilang akal.
Dari dalam telepon Yoon jin tak henti-henti nya menyerukan nama Yura yang tak merespon nya dari tadi. Merasa tak ada respon, Yoon jin memutuskan sambungan merasa bingung dengan Yura yang mengangkat telepon tapi tak bersuara sepatah kata pun.
Yura melotot seketika, sadar akan hal bodoh yang baru saja ia lakukan. Sambil melempar ponselnya ia berteriak, "Apa-apaan ini! bodohnya aku!!"
Otak kecilnya mulai menduga-duga hal negatif yang di pikirkan Yoon jin. Ia mengira Yoon jin akan menganggap nya bodoh karena mengangkat telepon tapi tak berbicara apapun. Padahal itu hanya pikiran jeleknya saja terhadap Yoon jin yang ganteng dan baik hati.
Yura kembali meraih ponsel yang ia lempar entah yang ke berapa kalinya. Gadis itu tampak bingung harus melakukan apa. Dia memeriksa kontak ponselnya mencari nama Yoon jin di sana. Dengan ragu-ragu tapi pasti jari telunjuk itu hendak menekan simbol telepon di layar ponsel nya. Ia memejamkan matanya, benar-benar di buat gila dengan aksi bodoh nya. Akhirnya Yura memutuskan untuk mengirim kan pesan singkat pada Yoon jin.
Yura yang terus fokus memperhatikan ponsel nya. Tak menyadari kedatangan pria kutub perawakan tinggi tengah berdiri tegap menatap lurus wajahnya. Dengan jahil nya Yoon jin menarik pelan ponsel itu dari genggaman Yura. Yura refleks menarik kembali ponselnya sambil menatap tajam pelaku kurang ajar baginya.
Sorot mata tajam itu berubah tak kala beradu tatap dengan mata cokelat khas milik Yoon jin. Yoon jin tersenyum tipis mendapati reaksi panik Yura.
"Serius amat lo." Yoon jin duduk menarik kursi di depan Yura.
"Telat 15 menit, bayarin makanan gue." Yura ikut duduk dengan ekspresi datar nya.
__ADS_1
"Oke,take it easy."
Lama tak berjumpa, karena Yoon jin yang tengah sibuk dengan ujian akhirnya. Dan Yura yang libur dan hanya bersemayam di rumah tak ada kegiatan.
Dua makhluk kutub itu kembali di landa kecanggungan yang abadi. Padahal keduanya sempat akrab beberapa minggu lalu. Dan libur yang belum lama ini berhasil mengembalikan suasana canggung di tengah keramaian ini.
Yoon jin memesan dua minuman dingin yang cukup sulit untuk di lafalkan karena berbahasa asing. Tampak dari wajah Yura, ia sedang menahan dahaga yang seakan mencekik lehernya. Yoon jin mempersilahkan nona di depannya untuk menikmati minuman yang ia pesan. Sambil mengaduk-aduk minumannya Yoon jin berucap dengan percaya dirinya, "Lo kangen gue?"
Yura mencebikkan bibirnya, "Apaan dah ke-geer-an banget lo."
"Terus ?" Yoon jin mendesak Yura dengan pertanyaan yang harus dijawab.
Gadis itu tampak ragu-ragu ingin menyampaikan niat dan maksud nya. Namun rasa bersalah terus menghantuinya selagi buku diary itu masih di genggaman nya.
"Sebelum nya gue minta maaf ya."
Wajah datar Yoon jin tampak kebingungan dengan Yura yang meminta maaf padanya. Sorot matanya terus mengikuti gerakan tangan Yura. Yang perlahan mengeluarkan buku kecil yang luput dari pandangan nya selama beberapa hari ini.
Yoon jin refleks menarik buku itu menyembunyikan di bawah meja.
__ADS_1
"L-lo da-dapat dari mana nih buku." Yoon jin gelagapan salah tingkah di depan Yura. Kaget, bingung, malu entahlah ia bingung. Rasanya mau gila, buku itu seolah benda keramat baginya. Tak ada satu orangpun yang boleh menyentuh nya. Tapi bagaimana bisa, gadis yang baru saja mulai terbuka dengan nya dengan santainya menyentuh buku itu.